
Author pasti akan membuka kedok Adrian jika memang dia yang bersalah dalam hal ini. Itu pasti. Tapi author ingin cerita berjalan sesuai alurnya. Sekedar bocoran nanti juga akan ada Kedok Adrian yang terbongkar. Tapi bukan menyangkut tentang permasalahan Luna dan barack. Author juga akan pastikan mereka kembali bersatu. Tapi semua ada tahap tahapnya.
Dan lagi jika tidak bosan bacalah setiap perkalimat. Jangan ada yang dilewatkan. Author juga kadang gitu kalau malas baca pasti yang di baca cuma yang penting penting doangπππ
Tapi author berusaha membuat setiap kalimat dari setiap paragraf itu akan berhubungan dengan paragraf lainnya atau bab selanjutnya. Jadi nanti ketika di bab selanjutnya di jelaskan seperti ini gini, gitu, kalian bisa langsung menangkap ceritanya. bukan karena author malas mengulangi ceritanya atau membalas satu persatu komen kalian jika ada yang kurg paham, tetapi author berharap kalian bisa menikmati tanpa bingung dengan jalan ceritanya.
πππππ
Jangan lupa juga tinggalkan jempol kalian, bagi author itu sangat berarti. Ketimbang koin. Bukannya koin tidak penting tapi author lebih senang ketika like kalian berada di setiap bab πππ
Author tidak mempermasalahkan peringkat dengan koin terbanyak. Tetapi nggak tahu kenapa lebih suka melihat kalau banyak jempol di setiap babanya aaahhh!!! hahahah ada semangat tersendiri pokoknya.πππ
Maaf kalau author menyinggung kalian. Sebelumnya terima kasih dan selamat membaca kembaliπππππ
β‘β‘β‘
David, Luna dan Barack, mereka duduk di karpet bulu tebal. Suasana ruangan itu terasa sangat hangat bagi Luna. Entah karena penghangat ruangan atau karena tawa dua orang yang berada di depannya itu.
Barack sedang membantu David untuk merakit mobil barunya, sesekali matanya melirik ke arah Luna yang sedang duduk di samping Putranya. Mata mereka sempat bertemu sebelum akhirnya Luna mengalihkan pandangannya ke arah David.
"Apa ada yang perlu Mamah bantu??" ucap perempuan itu, dia mencoba membuat dirinya seolah sibuk ketika Barack sedang menatapanya.
David sedang melepas satu persatu skotlet untuk di pasang di mobil rakitannya nanti.
"Tolong berikan ini kepada Ayah" David memberikan dua buah roda kepada Luna.
Perempuan itu hanya berfikir, jarak dari David ke tempat Ayahnya jauh lebih dekat ketimbang darinya. Lalu kenapa David malah meminta dia untuk memberikan roda itu.
Luna menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya. Dia mengulurkan tangan, memberikan roda itu kepada Barack untuk segera di pasang.
Barack menatap mata Luna dengan lekat, ketika tangannya meraih roda dia sempat menggenggam tangan Luna dengan erat. Laki laki itu memperlihatkan ekspresi datar namun dia memainkan lidahnya di antara kedua bibirnya, bergerak perlahan dari satu ujung ke ujung lainnya. Dan diakhiri dengan menggigit bibir bawah dengan menaikkan salah satu alisnya dan dia telah berhasil menggoda Luna.
Jantung Luna berdebar ketika melihat Barack sengaja melakukan hal itu. Perempuan itu langsung menarik kembali tangannya.
Barack pun tersenyum kemudian.
β‘β‘β‘
David telah tertidur di dekapan Ayahnya. Beberapa kali anak iti meminta Luna untuk tidur bersama mereka. Namun Luna selalu mencari alasan.
Kini perempuan itu masih berdiri di balik tembok kaca. Ke dua tangannya merangkup secangkir coklat panas, sesekali dia menyesapnya sambil menatap keluar, melihat salju yang mulai menumpuk di taman.
Pandangan matanya kini tertuju pada kaca, di sana dia melihat bayangan Barack yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya ke gawang pintu. Laki laki itu mulai berjalan dan semakin mendekat ke arahnya Hingga membuat Luna salah tingkah.
Luna menahan diri untuk tidak memalingkan wajahnya karena Barack sekarang berada tepat di belakangnya.
"Apa yang sedang kamu lihat"
"Salju!!"
"Itu sama sepertimu!"
"Maksudmu?, , "
"Sama sama dingin, tetapi mudah mencair jika di beri kehangatan sedikit saja. Aku merindukan Lunaku yang dulu selalu mengejarku!, ,selalu ceria, walau pun aku tahu aku sering menyakitimu. Tetapi Luna tidak pernah patah semangat"
"Kamu yang mengubahku!, ,"
Seketika suasana hening melingkupi ruangan itu.
__ADS_1
Luna merasakan gerakan di bagian kepalanya, dan benar saja ketika Luna melihat bayangan dari arah kaca, Barack kini tengah mengecup rambutnya dari arah belakang.
Luna langsung membalikkan badannya. Dia mendongak untuk menatap wajah Barack yang jauh lebih tinggi darinya.
"Itu" Barack menunjuk bibir Luna menggunakan dagunya.
Luna menatap Barack dengan tatapan menyelidik, sementara tangannya bergerak menyentuh bibirnya sendiri. Dia berusaha mencerna ucapan Barack.
"Ada sisa coklat di sana" ucap Barack kemudian.
Luna berusaha membersihkan coklat yang menempel di bibirnya.
"Tidak bukan di situ!, , tapi di sisni" Barack menunjuk bagian bibirnya sendiri, seolah dia sedang memberitahu kepada Luna di mana sisa coklat itu berada.
Luna pun mengusap bagian bibir yang di maksud oleh Barack. Tetapi dia tidak mendapatkan sisa coklat yang tertinggal di sana.
Barack terkekeh kemudian.
"Kamu membohongiku??" Luna berucap dengan nada jengkel.
Seketika Barack langsung memasang wajah seriusnya.
"Tidak" Barack menggerakakn tangannya ke arah bibir Luna. Namun perempuan itu menarik kepalanya agar menjauh dari tangan Barack
"Aku akan membantumu membersihkannya" sambungnya.
Luna membiarkan Barack membersihkan sisa coklat itu, ibu jarinya bergerak mengusap bibir luna dengan sangat pelan, laki laki itu ingin menikmati ketika jarinya menyentuh bibir Luna.
Perempuan itu terdiam, dadanya selalu berdebar dengan kencang ketika berada di dekat Barack.
Barack memperlihatkan coklat yang menempel di ibu jarinya, seolah dia ingin memberitahu kepada Luna bahwa dirinya tidak berbohong. Barack pun ******* sisa coklat yang berasal dari bibir Luna.
Dreeet dreeettt!!!
Luna meraih ponsel yang ada di saku sweaternya. Matanya manatap ke arah layar kemudian beralih menatap Barack.
Laki laki itu seakan tahu siapa yang menghubungi Luna walau hanya dengan melihat ekspresi wajah perempuan itu.
Jari Luna mengusap layar ponselnya, dia mengangkat panggilan dari Adrian.
Namun belum sempat perempuan itu menjawab, Barack merebut ponsel dari tangan Luna.
"Kamu!!!"
Laki laki itu mematikan ponselnya.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menganggumu ketika sedang bersamaku!"
"Apa maksudmu!!" Luna menatap wajah Barack dengan penuh tanda tanya.
Barack menarik tangan Luna, membawa perempuan itu ke arah sofa dan memaksanya duduk di sana.
Dia menopang tubuhnya dengan salah satu lutut yang bertumpu di atas sofa dan satunya lagi masih bertahan di atas karpet.
Laki laki itu membungkuk mendekati wajah Luna, menggunakan kedua tangannya yang berada di samping kanan dan kiri tubuh perempuan itu, menguncinya agar tak bisa beranjak pergi.
Luna mendongak, dia menarik kepalanya menjauh dari Barack yang semakin dekat dengannya.
"Barack!!, , kenapa kamu selalu seperti ini?? selalu berbuat semamu sendiri!!"
__ADS_1
"Tetapi kamu menyukainya. Menyukai perlakuanku yang seenaknya saja"
Pipi Luna semakin memerah, laki laki di depannya seolah tahu isi pikiran dari Luna.
Barack tak bergeming, dia semakin mendekatkan dirinya kepada Luna. Hingga dari mereka saling menempel.
Luna menatap bibir Barack yang berada tepat di depannya. Ujung hidung mereka pun saling bertemu.
Barack menempelkan bibirnya ke bibir Luna dan berucap di sana hingga bibir mereka saling bergesekan.
"Kenapa?" ucapnya dengan menggerakkan kepalanya, memainkan hidung Luna dengan hidungnya sambil sesekali di selipi kecupan lembut di bibir perempuan itu untuk menggodanya. Sekali lagi Luna tidka menolak. Dan itu semakin membuat Barack berani menyentuhnya.
Dadananya naik turun dengan sangat cepat seolah memperlihatkan bagaimana Luna dengan bersusah payah mengontrol nafasnya yang memburu.
"Barack!!" bisiknya. Matanya kini terpejam menikmati sensasi sentuhan lembut yang di berikan oleh bibir Barack.
Barack menatap dalam mata Luna yang sudah tertutup, dia tersenyum kemudian.
Dia merasa telah berhasil membangunkan gairah perempuan itu. Tangannya mulai bergerak menelusupi pinggang Luna, meraba dengan lembut di sana.
Tak munafik Luna memang sangat menginginkan tubuh laki laki itu, kini tangannya bergerak menyentuh dada Barack, perlahan bergerak naik dan melingkar di leher laki laki itu.
Dia ingin menghabiskan waktu semalaman bersamanya. Laki laki yang teramat dirindukan. Namun rasa sakit di hatinya juga tak kalah hebat.
Seketika bayangan Barack dan seorang perempuan yang sedang berada di kamar hotel saat kejadian malam itu terlintas di benaknya kembali.
Luna membuka matanya lebar lebar, menarik, menyinpan tangannya dari leher Barack.
Barack sedikit terkejut.
"Kenapa melihatku seperti itu?" suara Barack terdengar sangat rendah.
"Kamu menghalangi jalanku!, , maaf aku harus kembali ke kamar" Luna mendorong tubuh Barack agar menjauh dari pandangannya, dia melangkah melewati laki laki itu begitu saja dan berjalan dengan pasti menuju ke arah dalam kamar.
Barack menatap punggung Luna hingga akhirnya wanita itu menghilang di balik pintu.
Laki laki itu menghela nafas panjanh untuk menetralkan perasannya. Dia tahu tidak mudah mengobati luka di hati wanita yang sangat dicintai.
Luna bergerak naik ke atas ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Flash back on
"Adrian sudah menghapus rekaman itu, bahkan dia memgambil copian CDnya, kenapa kamu tidak menanyakan hal itu dengannya!, , bukankah kalian sudah bertunangan??" Barack menatap Luna dengan tatapan menyelidik.
"Seharusnya dengan mudah kamu bisa menyelinap ke ruang kerjanya, atau, , kekamarnya untuk mencari bukti itu"
Flash back off
"Aku tahu betapa besar rasa cintamu, tetapi, , aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin mempercayai ucapanmu, , bolehkah aku melakukannya??, , bolehkah aku mencari buktinya sendiri?"
Tatapan Luna terlihat kosong, dia sempat memikirkan ucapan Barack sebelum akhirnya menutup kedua matanya.
β‘β‘β‘
"Kamu akan membawa semua map ini ke ruang kerja Pak Adrian?" Luna berucap setelah melihat sekretaris Adrian berjalan ke arah ruang kerja laki laki itu, dengan membawa beberapa map ditangannya.
"Iya"
"Bolehkah aku yang melakukannya??, , kamu bisa langsung istirahat. Ini juga sudah waktunya jam makan siang bukan?" Luna berharap sekretaris Adrian mau memberikan semua map itu padanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku minta tolong letakkan ini di meja Pak Adrian" Sekretaris itu akhirnya beranjak pergi.