Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#38 Makan Malam


__ADS_3

Tidak tahu mengapa kegelapan langit malam itu terlihat begitu indah di mata luna.


Entah karena kembalinya seorang teman masa kecilnya yang membuat perasaan nyaman di hati luna yang pernah hilang dulu, kini kembali lagi.


Atau perasaan bahagianya ketika dia akan kembali merebut perhatian orang yang dia cintai. Tapi yang pasti luna benar benar sangat senang malam itu.


Leo mengulurkan tangannya meraih pintu mobil dan membukakan untuk luna. Dia mempersilakan luna untuk naik ke mobilnya.


Dia pun kembali menutup pintu mobil itu. Kemudian dia berjalan ke arah berlawanan untuk membuka pintu mobil bagi dirinya, dan masuklah dia ke dalam mobil lalu kemudian menyalakan mesinnya.


Mobil sedan berwarna merah gelap itu mulai bergerak maju mengantar luna untuk memenuhi undangan makan malam klara, sekaligus merebut perhatian orang yang dia cintai.


Layaknya seperti kereta labuh yang mengantarkan cinderella untuk menemui pangerannya.


Cuaca malam itu sedang sangat bersahabat dengan luna. Luna membuka kaca pintu mobil dan mengeluarkan tangannya seakan akan dia ingin mencoba menggenggam udara malam itu, dia mengangkat kepalanya menatap langit dan terlihat bintang bintang sedang berebut menyinari langitnya yang terlihat gelap, seperti sedang mengiringi luna untuk pergi menemui pangerannya.


Kembali luna menyenderkan badannya ke kursi mobil. Diliriknya laki laki yang sedang menyetir di sebelahnya itu.


"Terima kasih" sepenggal kata keluar dari ujung mulut luna yang kemudian berganti dengan senyuman lebar di wajahnya.


leo memandang ke arah luna dengan tatapan yang sangat lembut.


"Buat apa" tanyanya.


"Semuanya" jawab luna pendek.


Terlihat leo sudah mengernyutkan dahinya.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan untuk kamu, sampai harus berterima kasih?" terlihat di wajah leo senyumnya mulai mengembang, dia mengucapkan itu seakan akan apa yang dia lakukan untuk luna memang tulus dari hatinya.


"Kamu memang selalu seperti itu, terlalu baik, tapi ngomong ngomong, kenapa sampai sekarang kamu belum punya pacar?, , atau jangan jangan kamu sudah menikah ya di sana?" luna melemparkan beberapa pertanyaan kepada leo.


Terlihat senyum leo seperti kuda yang sedang tersenyum, hanya mengambang di bagian sebelah pipinya, sambil terus melihat kearah jalan dan tetap fokus dengan setir berbentuk lingkaran yang ada di genggaman tangannya itu.


Diraihnya kepala luna dan di usap usap dengan pelan rambutnya.


"Tidak perlu memikirkan aku, aku datang kesini tidak untuk membahas itu" leo menarik tangannya kembali ke atas setir lingkaran itu.


"Lalu untuk apa?" luna bertanya lagi kepada leo.


Leo tidak menjawab, dia hanya melempar senyum penuh dengan tanda tanya.


luna tahu bahwa leo menyembunyikan sesuatu, namun dia tidak ingin terlalu ikut campur ke dalam urusannya.


Dari kejauhan terlihat keramaian orang orang sedang berada di dalam restoran, mereka sedang menikmati acara mereka masing masing, di tempat parkir leo sedang membukakan pintu untuk luna.


Kemudian di raihnya tangan luna kemudian digenggam tangannya sambil berjalan menuju ke arah dalam restoran.


Terdengar suara riuh orang orang berbicara, suara gelas yang beradu dengan gelas, dan suara gesekan antara sendok dengan piring di dalam restoran itu berbisik di rongga telinga luna.


Luna membuang pandangannya ke seluruh ruangan yang luas itu, namun dia tidak melihat luna dan barack berada di salah satu meja di dalam ruangan itu.


Datanglah seorang laki laki dengan berpakaian lengkap selayaknya seorang pelayan restoran menghampiri mereka.


"Maaf, apakah anda sudah melakukan reservasi?" tanya seorang pelayan itu.


Luna mengalihkan pandangannya ke arah pelayan yang telah berdiri di depannya.


"Aku datang untuk memenuhi undangan makan malam" jawab luna.


"Atasa nama?" pelayan itu bertanya sekali lagi.


"klara" luna hanya menjawab pendek.


"Silakan ikut saya" Pelayan itu menunjukkan jalan di mana klara sudah memesan meja untuk makan malam bersamanya.


Mereka berjalan ke luar menuju halaman belakang restoran itu, di sana juga terlihat meja meja yang sudah di penuhi dengan orang orang.


Di sisi lain klara tengah duduk sendiri di kursi, dia memakai balutan busana malamnya berwarna putih, dengan memperlihatkan bagian belahan dadanya sehingga membuat sebagian dadanya terlihat. Ditambah rambut panjangnya yang terurai di pundak dan punggungnya membuat klara terlihat sangat sexi.


Klara sedang melamun sambil melihat ke arah barack yang membelakanginya sambil berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Entah dengan siapa dia berbicara sampai sampai tidak memperhatikan sekitarnya.


Luna melihat klara sedang duduk sambil melihat ke arah lain, dia begitu tertegun melihat klara memakai gaun putih itu.


Seketika dia menghentikan lagkahnya dan kembali terlihat ragu untuk bertemu dengan klara, dia merasa minder melihat penampilan klara yang tampak sempurna di matanya malam itu.


Leo tahu kenapa luna menghentikan langkahnya, kemudian dia mengeratkan genggaman tangannya yang dari tadi masih menggenggam tangan luna.


Dia mengangguk pelan seakan akan berkata 'kamu pasti bisa'.


Luna mendapatkan lagi kepercayaan dirinya dengan cepat, kemudian dia melanjutkan langkahnya kembali untuk menghampiri klara.


"Maaf, , kamu menunggu lama ya?" sapa luna kepada klara.


Pandangan klara berpindah ke arah luna yang sudah berdiri di seberang meja yang ada di depannya.

__ADS_1


"Hai" klara menyapa luna, dan seketika pandangan matanya tertuju pada sesosok laki laki yang berdiri di samping luna sambil menggandeng tangan luna.


Wajah klara memaku, dan terus melihat ke arah leo yang berdiri di depannya.


Begitu juga dengan leo, tatapan matanya terlihat biasa saja dan wajahnya juga tanpa ekspresi, namun entah kenapa sangat penuh arti.


Luna menyadari hal itu, makanya dia mencoba menggerak gerakkan tangannya yang masih di genggam leo itu.


"Hei, , kamu kenapa?" luna berbisik kepada leo.


"tidak apa apa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu ayo duduk" sambil terus melempar senyum manis ke arah luna, kemudian ditariknya kursi yang masih pada tempatnya dan mempersilakan luna untuk duduk.


Di sisi lain barack telah mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang, dia mematikan telepon genggamnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas, kemudian barack membalikkan badannya dan dia melihat luna sudah berdiri didepannya dengan memakai gaun warna tosca gelap.


Luna terlihat sangat cantik malam itu, wajah barack mulai memerah saat luna melihat ke arahnya.


Luna masih terus menatap ke arah barack yang malam itu terlihat sangat tampan dengan memakai jas berwarna takhi atau sebut saja warna kulit.


Barack berjalan mendekati mejanya, sambil melirik ke arah leo yang sedang membantu luna membenarkan kursi yang luna duduki.


Diraihnya kursi di samping klara untuk menopang badannya yang tegap itu.


kemudian barack duduk di sebelah klara.


Luna merasa suasana di meja itu begitu dingin, entah karena barack yang menatapnya dengan tatapan tajam atau karena hembusan angin malam itu.


"Maaf membuat kalian menunggu lama" luna memecah keheningan di meja itu.


"Kita juga baru saja sampai kok" klara melayangkan pandangannya ke pada leo yang sejak tadi terus tersenyum kepada luna.


"lalu, , siapa laki laki yang bersamamu ini lun?" tatapan mata klara tak pernah berubah selalu tertuju kepada leo.


Mendengar pertanyaan klara, pandangan leo yang sedari tadi menikmati kecantikan luna di sampingnya itu seketika berpindah kearah mata klara.


Kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah klara.


"Leo" terdengar suara leo penuh dengan penekanan saat menyebut namanya.


Klara terkejut saat leo mengulurkan tangannya, dia hanya diam dan terus memandangi tangan leo yang masih menunggunya membalas uluran tangan itu.


Seperti terasa berat sekali saat klara mengangkat tangannya, namun dia terus mencoba perlahan meraih tangan leo yang masih di depannya.


"Klara" suara klara terdengar sangat enggan sekali saat membalas perkenalannya dengan leo.


Kemudian klara menarik kembali tangannya yang masing di genggam erat oleh leo, dia terus mencoba menariknya namun leo semakin mengeratkan genggaman tangannya itu.


Luna menyadari akan hal itu makanya dia mencoba menarik lengan jas leo.


"leo" suara luna terdengar memasuki rongga telinga leo dengan lembut, seketika memecahkan pikiran leo saat itu.


Dia melepas genggaman tangannya kepada klara.


Terlihat wajah klara memerah, dan dia menjadi agak salah tingkah.


Barack tertawa geli, lebih terlihat kalau senyumnya itu meremehkan.


"Sudah memiliki pasangan tapi masih berani menggoda wanita lain?" kata barack kepada leo namun tatapan matanya tajam ke arah luna.


Luna kembali membalas tatapan barack yang tajam itu padanya, dengan berkata lirih ke pada barack.


"lalu bagaimana dengan lakai laki yang sudah memiliki calon istri namun dia masih berkencan dengan wanita lain?"


Barack hanya diam dan mencoba menghindari tatapan luna saat itu.


Leo mengalihkan pandangannya kepada luna, sambil membenarkan anak rambut luna yang mencoba menutupi matanya, leo menyilakkannya dengan terus melempar senyum ke arah luna tanpa henti.


Dipanggilnya seorang pelayan oleh klara.


"Kamu mau makan apa?" tanyanya kepada barack.


"Aku ikut kamu saja" jawab barack.


"Hm" klara menganggukakan kepalanya sambil melempar senyum ke arah barack.


"kalian mau pesan apa?" tanya klara kepada leo dan luna.


"Aku ikut kamu saja" saut leo. Pandangan matanya dan mata klara bertemu kembali saat leo mengatakan hal itu.


Luna merasa aneh saat leo menjawab pertanyaan klara, atau mungkin itu hanya perasaanya saja.


"Lalu, bagaimana dengan kamu luna?" tanya klara.


"Aku, , , " luna merasa bingung karena tidak tahu apa yang harus dia pesan.


"Dia suka makan apa saja!" barack dan leo berbicara dengan secara bersamaan.

__ADS_1


Seketika klara melirik ke arah barack.


"kamu begitu perhatian ya dengan sepupumu, , hmm, , aku jadi iri" katanya sambil tersenyum.


Sedangkan mata barack dan leo terus beradu saat itu.


Klara memesan beberapa makanan kepada pelayan yang sudah siap dengan buku dan alat tulisnya itu.


Kemudian pelayan itu pergi untuk menyiapkan makan yang sudah di pesan.


"Aku mengajakmu makan malam sekalian ingin memberitahumu, gaun yang sengaja aku buat untuk mu sudah selesai seratus persen, makanya besok kamu bisa tidak datang ke galeri untuk mencoba gaunnya, kan sebentar lagi acara fashion shownya juga akan di mulai" kata klara kepada luna.


"Mmm, , iya, besok aku akan ke galeri" kata luna.


"Aku akan mangantarmu" sahut leo dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.


Mendangar kata leo, barack kemudian membuang pandangannya ke arah lain, seolah olah tidak ingin mendengar hal itu.


Tidak lama pesanan mereka datang, Sembari menikmati santapan makan malamnya mereka terus berbincang.


"Owh iya, bagaimana kamu bisa mengenal leo?" tanya klara kepada luna dengan nada yang sangat tidak enak di dengar, dan matanya terus melekat ke arah leo.


Mendengar pertanyaan klara, leo menghentikan suapannya saat itu. Dia menatap ke arah mata klara dengan penuh arti 'kenapa kamu harus menanyakan hal itu'.


Dengan senang hati klara menceritakan bagaimana masa masa kecilnya dia habiskan bersma bersama leo, dimana leo selalu menolongnya saat luna membutuhkan bantuan, tanpa sadar dia selalu membanggakan leo di depan barack.


Barack mencoba meraih gelas berisi air putih di depannya, lalu dia menegugnya dengan cepat sampai habis, dan meletakkan kembali gelas itu di atas meja dengan sedikit tekanan sehingga gelas dan meja itu saling bertakupan dan mengeluarkan bunyi yang agak keras.


Berharap luna menghentikan ceritanya, karena apa yang keluar dari mulut luna saat itu membuat telinga barack memanas.


Luna menyadari akan hal itu, makanya dia membuang pandangan matanya ke arah barack yang masih memegangi gelas itu dengan sinis.


Entah kenapa luna megikuti keinginan barack itu, walaupun dia tidak bilang secara langsung namun luna paham apa maksut barack.


"Kenapa kamu tidak mengajak aryo?" tanya klara kepada luna.


"Kemaren dia sempat telepon aku, katanya dia akan pergi ke bali beberapa hari, ikut perjalanan bisnis papahnya, sebenarnya aku juga berharap dia bisa ikut makan malam bersama kita" kata luna sambil melirik ke arah barack.


Luna meraih gelas dengan menggunakan tangan kirinya karena jangkauan tangan kirinya lah yang lebih dekat dengan gelas itu.


Kebetulan gelas itu tidak jauh dari pandangan klara, saat luna mengambil gelasnya klara pun tidak sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis luna.


Klara langsung meraih tangan luna dan melihat ke arah cincin yang ada di depannya itu.


"Cincin ini?, , " kata klara mencoba menebak nebak.


Mata luna tebelalak saat mendengar klara menanyakan hal itu.


"Mmm , , bukan ini cincin dari mamah ku" jawab luna mencoba menutupi.


Klara terus melihat ke arah cincin yang melingkar di jari luna itu, dia melihat dengan tatapan penuh pertanyaan, sesakali dia melihat ke cincin milik barack yang di pakainya di jari telunjuk, untuk memastikan apakah dia salah lihat atau tidak karena cincin itu sama persis.


"Aku pikir itu cincin dari aryo, tapi kenapa cincinya sama dengan yang aku pakai ya?" kata klara sambil menunjukkan cincin yang melingkar jari telunjuknya.


Terlihat wajah barack begitu kebingungan, mendengar perkataan klara.


Saat itu wajah luna memaku, dia tidak habis pikir bagaimana bisa cincin itu ada di jari klara.


Luna membuang pandangannya ke arah barack dengan tajam.


Seakan akan dia meminta penjelasan tentang cincin itu.


Sedangkan barack menatap mata luna dengan penuh rasa bersalah, dia menggelengkan kepalanya dengan pelan seakan akan menjelaskan bahwa dia tidak memberikan cincin itu, namun klara mengambil paksa darinya.


Leo melihat ke arah barack dan luna secara bergantian, dia tahu dan mengerti maksut tatapan mereka itu.


Kemudian leo menatap ke arah mata klara yang masih tersenyum sambil melihat ke arah cincinya.


"kenapa juga kamu memakai cincin yang bukan milikmu?, , , semisal kalau ada laki laki yang memberimu cincin dengan tulus ikhlas, apakah kamu juga akan memakainya dengan senang hati!" pertanyaan leo kepada klara itu penuh dengan penekanan di setiap kata katanya.


Luna memalingkan wajahnya dari barack kepada leo.


Dia merasa ada yang aneh dengan leo saat itu.


"leo, kenapa nada bicaramu seperti itu, seolah olah kalian sudah mengenal lama, jangan seperti itu, kamu harus lebih sopan sedikit, kamu ini seperti bukan leo yang aku kenal" kata luna sambil meraih lengan leo dan memeluknya dari samping seperti sedang memeluk bantal guling.


Tatapannya mulai tajam ke arah barack seakan akan dia membalas barack atas apa yang sudah dia lakukan dengan cincinya itu.


"Iya, aku minta maaf" kata leo sambil mengacak acak pelan rambut luna.


"Aku sudah bukan anak kecil leo, jangan seperti itu" kata luna yang wajahnya mulai memerah.


Barack terus menatap adegan didepan matanya yang membuatnya jengkel dan tidak tahu harus berbuat apa.


Sedangkan klara, dia membuang pandangannya ke arah lain, seakan akan dia memang tidak ingin melihat itu.

__ADS_1


***


__ADS_2