
Kening luna berkerut. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang sedang mengganggu otaknya.
Matanya tertuju pada laci kecil di bawah almari, tangannya bergerak cepat menarik untuk membuka laci itu dan dia mendapatkan sebotol obat serta sebuah foto perempuan, dan perempuan di foto itu adalah klara.
Bukannya mendapatkan sesuatu untuk membuktikan hubungan mereka, luna malah menemukan foto rivalnya di laci itu.
Luna mengusap pelan wajahnya yang terlihat sangat frustasi, menutup matanya dan mendongakkan kepalanya sambil menggerak gerakkan leher untuk merenggangkan otot di sekitar area lehernya agar terasa lebih nyaman.
Serta mempertahankan posisi kepalanya terus ke arah langit langit.
Saat membuka matanya, dia mendapati sebuah kotak berwarna hitam berbentuk segi empat jika di lihat dari arah bawah.
Dengan segera luna meraih kursi pendek untuk membantu menyangga tubuhnya ketika akan mengambil kotak di atas almari itu.
Di sisi lain barack membuka pintu kamar dengan perlahan maksut hati ingin melihat keadaan luna apakah sudah terlelap atau masih terjaga, namun dia malah tersenyum geli sambil menyenderkan tubuhnya ke samping di gawang pintu ketika melihat luna sedang bersusah payah meraih kotak di atas almari.
Sempat dia khawatir luna bisa mengambilnya, namun melihat posisi tangannya yang tidak bisa menjangkau kotak itu barack merasa lega.
Karena tubuhnya yang pendek bahkan berjinjit pun ujung jari tangan luna tak mampu meraih kotak itu.
Yang ada syaraf jempol dan telapak kaki luna kram hingga membuat tubuhnya terpontan panting dan jatuh ke arah belakang.
Barack bergerak dengan sigap menangkap tubuh luna sebelum sempat jatuh ke karpet bulu di atas lantai kamar.
Nafas luna terengah engah. Dia takut terjatuh hingga menutup wajah dengan ke dua tangannya namun ketika tahu ada yang manengkap tubuhnya, dengan pelan luna membuka wajahnya perlahan.
Barack tersenyum melihat wajah luna memerah.
"Apa senyum senyum" ucap luna dengan galak.
"Lucu ya!" tambahnya dengan sambil membulatkan mata ke arah barack.
Barack tidak bergeming dia lebih memilih diam dan menikmati kedekatan dengan istrinya.
"Turunkan aku!" ucap luna kemudian. Dia terus berontak agar barack mau menurunkan dirinya.
"Aduh" luna melenguh kesakitan merasakan kakinya yang kambali kram karena terus bergerak.
Barack mengalihkan pandangan ke arah kaki kanan luna yang sedang di peganginya.
Barack bergerak melangkahkan kaki mendekat ke ranjang untuk meletakkan tubuh luna agar duduk di bibir ranjang.
Barack berlutut meraih kaki luna yang kram.
"Jangan!" ucapnya lirih dengan ragu.
Barack memaku tangannya sebelum sempat menyentuh kaki luna.
__ADS_1
"Kenapa? sakit??" tanya barack sambil mengawasi wajah luna.
Dia menarik kembali tangannya.
"Mm" luna mengangguk pelan.
"Kamu akan menyentuh kakiku" ucap luna dengan datar.
Barack terkekeh ringan.
"Jangankan menyentuh kakimu, kamu memintaku bersujud untuk menerimaku kembali pun aku akan melakukannya" suara barack kali ini terdengar berat.
Luna menelan ludah dengan susah payah, mengetahui dirinya ternyata sangat berarti bagi hidup laki laki yang ada di depannya dan saat ini kini mulai menyentuh kakinya, memijat kecil membantu melemaskan otot kaki yang sempat kram.
Luna mendesis pelan ketika barack dengan tepat memijat bagian kakinya yang sakit.
Meringkuk meremas lututnya menahan rasa ngilu yang menjalar naik sampai ke pahanya.
"Sakit?" tanya barack dengan penuh rasa perhatian.
"Mm" luna mengangguk pelan. Matanya mulai menyapu wajah barack ketika barack kembali memijat kaki luna dengan lebih hati hati agar tidak membuat luna kesakitan lagi.
Tatapan mata luna memaku di bibir barack yang kini lukanya terlihat berubah warna menjadi sedikit menghitam.
Tangan luna bergerak meraih wajah barack yang ada di depannya, sementara ibu jarinya mengusap lembut luka di bibir laki laki yang mengaku telah sah menjadi suaminya itu.
Barack terdiam, di henggamnya tangan luna dengan erat.
"Maafmu sudah tidak berguna" ucap barack dengan lembut sambil tersenyum manis ke arah luna.
Kening luna berkerut, seolah dia tidak merasa asing dengan ucapan barack barusan.
"Apa sebelumnya aku sering meminta maaf padamu?" ucapnya kemudian.
"Mm" barack menggeleng. Dia menuntun tangan luna ke arah bibirnya dan mencium telapak tangannya dengan lembut.
"Aku lah yang sering meminta maaf padamu, karena aku lah yang sering melukaimu"
Nafas barack terasa hangat di telapak tangan luna, namun ketika ingin mengecup telapak tangannya lagi luna terlanjur menarik tangannya kembali. Seketika barack memandang ke arah luna yang wajahnya mulai muram, barack mengikuti kemana arah pandangan luna jika di urutkan maka yang sedang dilihatnya adalah karpet bulu di mana obat dan foto tergeletak di sana.
Mata luna menatap tajam foto itu, dengan cepat luna menarik tangannya kembali.
Dia beranjak dari ranjang berjalan sedikit pincang melewati barack untuk mengambil foto itu.
"Kamu bilang kita sudah menikah?, , tapi kamu masih menyimpan foto perempuan ini!!" ucap luna dengan sengit sambil mengarahkan foto ke arah barack.
Barack nampak terkejut pasalnya dia sendiri tidak ingat kalau masih menyimpan foto klara di dalam laci.
__ADS_1
"Aku juga sama sekali tidak menemukan sehelai bajuku di dalam almarimu!!, , lalu bagai mana aku bisa percaya kalau kita sudah menikah"
Barack mengusap kasar wajahnya.
"Luna" ucap barack dengan lembut sambil meraih pundak luna untuk menenangkannya.
"Aku minta maaf soal foto itu, tapi aku juga tidak tahu kalau foto itu masih ada di dalam laci" Barack berucap dengan tenang dia sendiri juga berusaha menguasai dadanya yang bergemuruh yang kini mulai tarasa memanas.
"Kamu ingin lihat bukti kalau kita sudah menikah kan?" ucapnya dengan lembut.
Barack membuka laci tersembunyi yang tertutup oleh jas kerjanya yang menggantung di dalam almarinya. Dia mengambil surat nikah dan memberikannya ke pada luna.
Beberapan hari yang lalu barack sempat pulang ke apartementnya untuk menyimpan barang barang berharganya di sana.
Dia harus meninggalakan luna di rumah dakit beberapa jam untuk menyimpan semua berkas pentingnya.
Luna menatap lekat ke arah buku kecil yang kini ada di tangannya, membuka perlahan dan memaku wajahnya ketika melihat foto dirinya dan barack ada di halaman buku itu.
Matanya beralih mengawasi barack yang sedang melihatnya.
"Lalu kenapa"
"Setelah menikah kita belum pernah tinggal di sini, jadi mana mungkin ada bajumu di apartement ini" barack memotong ucapan luna seolah bisa membaca isi pikirannya.
Luna terdiam, mulutnya membisu matanya kini beralih ke arah kotak di atas almari yang belum sempat di ambilnya tadi.
Barack terlihat pucat ketika luna kembali melihat ke arah kotak hitam itu.
Memaksanya untuk menelan ludah dengan susah payah
"Itu isinya berkas berkas kerjaku" ucapnya kemudian.
Mendengar ucapan barack, luna mengurungkan niatnya untuk mengambil kotak itu.
Luna masih belum sepenuhnya percaya dengan semua ini namun melihat buku nikah itu seolah mematahkan pikiran jelek luna kepada sahabat dan laki laki yang berdiri di depannya.
Barack meraih tangan luna dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di punggung tangannya.
"Aku tidak memaksamu untuk mengingat semuanya, tapi bisakah kamu tidak menolakku?" ucapan barack terdengar sangat frustasi.
"Aku tidak yakin" sejenak luna berhenti berucap seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Aku"
Ke dua tangan barack menelusup ke pinggang luna dan melingkar di sana. Menarik tubuh luna agar mendekat ke tubuhnya, matanya memandang ke bawah ke arah dada luna, darahnya berdesir ketika melihat belahan yang membuatnya harus mengontrol dirinya dengan kuat.
Luna merasa malu ketika matanya bertemu dengan mata barack, apa lagi setelah tahu barack melihat ke arah dadanya yang terbuka luas seolah memang di persilahkan untuk di nikmati oleh barak.
__ADS_1