Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
90. Akhir Cerita Mereka


__ADS_3

Itulah sebabnya Marvel tak bisa menolak ketika Keiko datang menemui dirinya.


“Kau... sahabat terbaik dalam hidupku!” jawab Keiko.


Marvel yang mendengar tersenyum sinis, mulai kesal dengan sikap Keiko. “Teman seperti yang meminta untuk membatalkan pertunangan? Adakah saling berciuman dalam hubungan pertemanan? Hubungan macam apa jika di antara teman ada yang menggoda dan ada yang menuruti ajakannya tidur dalam satu ranjang, lalau berhubungan bad–,”


Keiko menghentikan ucapannya dengan telunjuk yang dia lekatkan ke bibir Marvel. “Hentikan!” tangannya perlahan bergerak turun.” Itu semua salahku, anggap saja semua itu kesalahan yang tak perlu kau ingat. Maaf!”


“Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa kau tidak sadar sedang mempermainkan perasaanku?”


Sejatinya Keiko tahu tentang perasaan Marvel sejak dulu, tapi dia pura-pura tidak tahu dan lama-kelamaan berubah tak peduli sampai Keiko tidak sadar kalau dia sering menyakiti perasaan Marvel.


“Perasaanmu? Bukankah sebentar lagi kau dan Bunga bertunangan? Lalu yang sedang kau tanyakan padaku ini perasaan yang mana?”


“Kau?” Marvel tak sanggup lagi berkata, dia menghela nafas panjang melegakan dada.


“Acara pertunangan kalian besok malam, jadi fokus saja dengan hal itu!”


“Kau benar-benar ingin aku bertunangan dengan Bunga?”


“Iya! Kenapa tidak? Aku senang melihat kalian bahagia!”


“Tapi, matamu mengatakan hal yang berbeda! Kei!”


“Waktuku habis, lelang pasti sudah dimulai!” Keiko mengalihkan pembicaraan. “Lupakan apa yang terjadi di antara kita, semua itu tidak penting bagiku! Jadi jangan merasa hal itu akan mengganggu pikiranmu!” ucapnya dengan enteng, tak peduli perasaan Marvel dan mengenyampingkan hatinya. Keiko lalu melangkah pergi.


“Tapi bagaimana jika itu penting bagiku? Bagaimana jika kejadian malam itu tidak bisa aku lupakan?”


Sejenak langkah Keiko terhenti di tengah pintu kemudian menoleh ke samping, dengan tenang dia membalas ucapan Marvel. “Lalu... itu adalah masalahmu! Bukan urusanku lagi karena aku sudah memperingatkanmu!” Keiko melanjutkan langkahnya.


“Oke! Pergilah... lakukan apa pun sesuka hatimu tapi jangan pernah datang ataupun menghubungiku untuk menemuimu! Kau mengerti!” seru Marvel, nafasnya terengah-engah setelah melontarkan kalimat yang membuat dadanya lega. Perempuan itu menghilang di balik pintu tapi Marvel yakin kalau Keiko mendengar ucapannya. “Jika sampai kau menggangguku sekali lagi, aku pastikan aku tidak akan melepaskanmu lagi, Kei!! Aku akan membuatmu mengakui semuanya!!”


Jelas Keiko mendengar semua karena saat itu dia tengah bersembunyi di balik pintu.


***


“Paman Davien?” seru Juliet dari kejauhan.


“Juliet?” senyumnya lebar menyambut putrinya yang berlari mendekat. “Oh. Haha... paman merindukanmu Juliet!” Davien mendekapnya dalam pelukan.


“Baru beberapa jam yang lalu kita berpisah paman! Juliet pikir paman tidak akan datang ke pesta.” Juliet menggandeng tangannya mengajak Davien duduk di bangku taman.


“Kenapa? Ada yang aneh di wajah paman? Kenapa Juliet melihat paman sampai seperti itu?”


“Juliet mengkhawatirkan paman, benarkah paman baik-baik saja?” jelas sekali terlihat dari ekspresi wajah Juliet yang memang sangat mengkhawatirkan keadaan Davien.

__ADS_1


“Aah, paman sangat terharu... paman baik-baik saja sayang, paman bahagia untuk Ibumu dan juga Paman Marvel.” Davien menatap Juliet yang menundukkan kepala terlihat sangat murung. “Juliet? Sepertinya paman lihat justru kau yang sedang tidak baik-baik saja. Uhmm... apa kau masih bermimpi buruk?” tangannya mengusap kepala Juliet.


Anak kecil itu menggelengkan kepala. “Tidak paman. Juliet juga baik-baik saja!” jawabnya sembari mengangkat kepala dan memamerkan senyum manis ke Davien. Juliet memiliki keinginan yang tak mampu dia ucapkan di depan Davien maka dari itu dia memilih untuk menyimpannya rapat dalam hati.


“Lalu... sekarang maukah Juliet membantu paman?”


Anak itu mengangguk cepat. “Ya, paman! Katakan apa yang bisa Juliet bantu?”


“Uhmmm, bisa beritahu kepada paman di mana Ibumu berada? Ada sesuatu yang ingin paman bicarakan dengannya!”


Juliet meminta Davien mendekat lalu berbisik di telinganya.


Davien melangkah menuju danau yang tak jauh dari taman belakang rumah Tuan.Rodrigo di mana pesta pertunangan di adakan. Melewati jalan yang dihiasi pecahan batu lelaki itu menghampiri Bunga yang tengah berdiri di tepi danau. Kedua tangannya tersimpan di saku celana saat langkahnya terhenti sesaat, menatap Bunga dari belakang.


“Are you oke?” lelaki itu telah berdiri di samping Bunga.


“He? Oh... iya tentu saja. Di sana terlalu bising aku tidak nyaman. Danau ini terlihat tenang setidaknya masih ada tempat di mana aku ingin menyendiri.”


“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu. Kalau kau ingin menyendiri aku akan pergi.”


“Tidak! Aku tidak bermaksud mengusirmu, aku hanya–,”


“Aku mengerti, tenang saja Bunga... aku hanya ingin menggodamu” Davien berusaha mencairkan suasana yang canggung. “Bagaimana dengan Juliet? Apa dia masih bermimpi buruk?”


“Baguslah, aku senang mendengarnya. Merasa lega karena keadaan Juliet membaik. Lalu... bagaimana denganmu? Ini hari pertunangan kalian tapi kau tampak murung.” Davien bisa melihat kalau Bunga tidak baik-baik saja tapi mungkin itu hanya perasaannya.


“Banyak yang harus aku pikirkan, terutama Juliet” Bunga ragu saat hari pertunangan tiba, benarkah dia akan benar-benar menjalani kehidupan selanjutnya dengan Marvel meskipun jauh di dalam lubuk hati tak bisa dipungkiri kalau dia masih mengharapkan Davien.


“Aku yakin kau pasti bahagia dengan Marvel, lelaki yang selalu ada di sisimu di saat kau terpuruk!” sesaat hening Davien tanpa sengaja mengingatkan Bunga akan keegoisan yang telah membuat Davien tak bisa menemani sejak Juliet dalam kandungan. Ghm! “Aku juga yakin Juliet senang Marvel akan menjadi ayahnya nanti, terlepas dari itu... berjanjilah padaku kalau kau akan bahagia, Bunga! Sejak bertemu dengannya aku yakin Marvel orang yang baik meskipun pernah terjadi salah paham di antara kami, terlepas dari itu aku yakin dia akan membuatmu bahagia, jadi jangan murung lagi!” Davien mengusap kepala Bunga dengan lembut.


Pipinya merona, dadanya berdegup kencang saat tangan Davien menyentuh kepalanya. “Bagaimana denganmu? Bisakah kau bahagia tanpa diriku?” ups! ‘Pertanyaan konyol macam apa itu? Aku yakin Davien pasti berpikir aneh, kenapa aku tidak bisa menahan bibirku!’ Bunga mengutuk dirinya.


Davien tersenyum tipis dia paham apa yang dibicarakan oleh Bunga. “Jika kau bertanya apa aku bisa bahagia tanpa dirimu, maka jawabanku adalah... tidak bisa!”


Tak bisa dibohongi jawaban dari Davien membuat Bunga senang.


“Tapi aku tidak bisa membuatmu berada di sisiku, Bunga!”


Deg!! Perasaan bahagia beberapa detik yang lalu berubah seketika, Bunga merasakan sakit yang tiba-tiba muncul di dadanya.


“Aku terlalu takut membuatmu terluka seperti dulu.” Mungkin bisa dibilang Davien masih ketakutan jika tanpa sengaja melukai Bunga dan akan membuat perempuan itu pergi menjauh selama bertahun-tahun seperti yang lalu. “Sepertinya aku akan lebih tenang jika melihatmu bahagia bersama Marvel.” Bohong! Jika bisa Davien ingin hidup bersama Bunga sampai menua. Tapi rasa ketakutan dan kekhawatiran akan melukai hatinya lagi jauh lebih besar, sehingga meskipun berat Davien berusaha keras merelakannya. “Meskipun begitu aku tidak akan lepas tanggung jawab kepada Juliet. Mulai saat ini kita harus membesarkan putri kita bersama-sama. Itu janjiku padamu Bunga!” tentu saja sebagai rasa penyesalan karena tak menemani mereka berdua sejak Juliet dalam kandungan.


Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, Bunga hanya diam menunduk tak berani menatap wajah Davien.


“Sepertinya aku harus segera pergi” ucap Davien setelah melihat Marvel berjalan kearah mereka. “Aku akan membiarkan kalian berdua, mungkin sampai pesta selesai aku akan menemani Juliet!”

__ADS_1


“Apa aku mengganggu kalian? Kenapa kau malah pergi Davien?” ucap Marvel setelah melihat Davien beranjak menjauh dari Bunga.


“Kau ini bicara apa? Justru aku yang mengganggu waktu kalian berdua kalau tetap berada di sini!” haha... Davien dan Marvel tertawa lirih mencairkan suasana. “Kalau begitu, Marvel?! Bisakah kau berjanji padaku akan menjaga Bunga?”


“Tentu saja, aku bahkan sudah melakukannya sejak dulu!”


“Oh, pertanyaan bodoh... aku lupa kalau kau selalu berada di sisinya. Oke, aku percaya kau bisa melakukannya... nikmati waktu kalian berdua aku pergi dulu.” Tepat saat Davien memutar tubuhnya melangkah kembali ke pesta, raut wajahnya berubah datar. Berharap apa yang dia lakukan tidak akan pernah membuat dirinya menyesal. Bersamaan dengan itu pula sebuah bintang jatuh menghiasi langit malam itu.


“Oh, kau melihatnya Bunga?” ucap Marvel tertuju pada bintang jatuh yang baru saja melintas di depan mata.


“Ha? Uhm... iya aku melihatnya” Bunga semakin murung bahkan dia sampai lupa kalau sebentar lagi puncak acara pesta mereka akan dimulai.


“Kau tidak memohon sesuatu setelah melihat bintang jatuh?” Marvel memejamkan mata sambil tersenyum tipis, mengucapkan permohonan lewat pikirannya.


“Ah, iya... aku akan memohon sesuatu nanti.” Bunga teringat momen saat dia bersama Davien di bukit bintang waktu itu. Berharap dan memohon kepada bintang jatuh? Hal itu tidak akan pernah Bunga lakukan, setelah permohonannya waktu itu bersama Davien tak terwujud justru berujung menyedihkan. Semenjak itu Bunga tak akan pernah berharap dan memohon lagi pada bintang jatuh.


Hening, setelah Marvel membuka mata pandangannya tertuju pada Bunga yang tengah melamun. Sejak dia tiba di sana Bunga selalu murung dan sedih. Ghm! Lelaki itu berdehem mencairkan suasana. “Bunga? Apa kau memiliki pemikiran yang sama denganku?”


“Hm?? Apa itu?” Bunga menoleh menatap Marvel yang berdiri di sampingnya.


“Aku sempat berpikir kalau–,”


Dreeet!!


Ponselnya yang bergetar menghentikan ucapan Marvel. Setelah meraih ponselnya yang ada di dalam saku jas, Marvel menatap layarnya. Melihat pesan masuk dari Keiko seketika senyumnya menghilang. Marvel berusaha mengabaikan bahkan tak membaca pesan itu. Dia juga sempat ingin menyimpan ponselnya ke saku tapi Merval mendapat pesan kedua dari orang yang sama.


Setelah menghela nafas panjang, Marvel akhirnya membuka pesan dari Keiko.


‘Bodoh! Dasar Marvel bodoooooh! Kau sangat menyebalkan!!’


‘Kau pikir aku akan datang ke pesta pertunanganmu? Hah! Maaf tapi aku memiliki urusan yang lebih penting!’


Baru selesai membaca pesan kedua, Keiko mengirim sebuah gambar, di mana di dalam foto itu tampak Keiko bersama teman-temanya terlihat sedang berada di bar dengan penuh minuman di atas meja.


Bukannya marah Marvel justru tersenyum, dia pun membalas pesan dari Keiko. Hanya satu kalimat namun mampu membuat perempuan itu menangis tersedu.


“Selamat bersenang-senang, meskipun aku sedikit sedih kau tidak bisa datang ke pesta pertunanganku. Bye!”


Kalimat yang langsung menusuk ke dadanya, di seberang sana Keiko yang baru saja membaca pesan dari Marvel langsung menangis tersedu dalam kondisi yang sudah mabuk.


“Kau ingin bicara apa tadi? Hei... apa ada sesuatu yang lucu? Kau dari tadi tersenyum sendiri saat melihat ponselmu!”


“Oh, maaf Bunga aku hanya sedang memberi pelajaran pada seseorang. Kita lanjutkan pembicaraan kita yang sempat terhenti... Bunga? Menurutmu, haruskah kita melanjutkan pertunangan ini?”


“He?!!”

__ADS_1


__ADS_2