Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#76 Rencana klara


__ADS_3

 


Sesampainya di bandara, Barack langsung memesan tiket untuk kembali ke indonesia.


 


Berharap dia bisa bertemu dengan Luna, dia pasti sudah tahu kalau mungkin kekaaihnya itu akan marah karena selama ini dia mengabaikan panggilannya.


Namun dia berharap Luna akan mengerti keadaan Barack kali ini.


Perjalanan memang membutuhkan waktu yang sedikit lama.


Kecemasan selalu melekat di wajah barack.


Sesampainya di indonesia dia langsung begegas pergi menemui Luna.


Namun ketika sampai di sana dia tidak bertemu dengannyaa.


Mbak ratmi bilang kalau sudah hampir tiga minggu Luna tidak pulang.


"Tapi waktu itu mbak Luna sempat pulang sebentar mas, namun hanya untuk membereskan baju bajunya saja. Dan dia pergi lagi sama Mbak Cici dan Mas Aryo kalau tidak salah" kata Mbak Ratmi kepada Barack yang sedang memaku bibirnya ketika mendengar perkataan Mbak Ratmi.


Dia tidak bergeming. Bahkan wajahnya semakin panik.


Kalau di hitung hitung tiga minggu dari sekarang itu berarti sejak keberangkatannya ke paris.


Nampak Barack seperti sedang memutar otaknya untuk berfikir.


Karena dia mencoba menghubungi Luna namun tidak bisa terhubung ke nomornya.


Kini Barack langsung pergi untuk menemui Cici.


Harapan satu satunya yang dia miliki saat ini hanya dia.


"Dia sudah pergi" Cici berucap seperti sedang memberi tahu barack kalau dia harus segera menemui Luna.


Mulai terlihat kerutan di kening Barack setelah mendengar kata kata yang keluar dari mulut sahabat Luna itu.


"Dia pergi ke tokyo, bersama Aryo" tambahnya.


Wajah Barack kini mulai putus asa.


Dia hanya diam mamaku bibirnya.


Menghela nafas panjang untuk sejenak memberikan oksigen di otaknya yang cukup untuk kembali berfikir.


Cici sengaja tidak menanyakan kenapa dia tidak memberi kabar kepada Luna.


Mungkin karena dia ingin fokus juga menangani perusahaannya itu.


"Ini alamat kantor Papahnya Aryo yang ada di Jepang, sekarang saatnya kamu mengejar kembali cintamu".


Cici menatap ke arah mata Barack dengan penuh keyakinan.


Tanpa mnunggu lama Barack pun kembali lagi ke bandara untuk segera menuju ke tokyo.


Entah apa yang dia rasakan, dalam dua hari bolak balik ke bandara untuk pergi ke sutu negara ke negara lain.


Dia hanya bisa tidur ketika berada di dalam pesawat itu pun kadang juga terganggu oleh Pramugari yang mencoba menawarkan makanan atau minuman.


Sesampainya di Tokyo Barack tidak memberi waktu untuk tubuhnya beristirahat sedikit pun.

__ADS_1


Dia langsung pergi ke kantor dimana Aryo barada.


"Dia sudah pergi".


kata yang sama, yang dia dengar dari mulut Cici.


Tubuh Barack melemas, dia membenamkan tubuhnya di dinding kursi.


Memejamkan matanya untuk dalam dalam.


"Kemana?" ucapnya seketika. Wajah barack sangat tidak sabar karena segera ingin menemui Luna.


"Kamu beristirahatlah dulu, wajahmu begitu berantakan Barack!" kata Aryo.


"Aku tidak ada waktu untuk itu" jawabnya dengan ketus.


Nada bicaranya terdengar tidak enak ketika harus berhadap hadapan dengan laki laki yang membawa pergi kekasihnya itu.


"Aku membawanya pergi karena aku ingin melihat senyumnya kembali" Aryo berbicara seperti dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Barack.


"Kamu harus istirahat dulu, sebelum kita bicarakan maslah Luna. Aku sebenarnya juga ingin membicarakan masalah invetasi di perusahaanmu" tambahnya.


Barack memaku wajahnya keningnya berkerut berusaha mencerna ucapan Aryo.


"Apa yang kamu bicarakan?" Barack bertanya tanya.


"Aku ingin menanam modal di perusahaanmu, aku melakukan ini karena sudah melihat riset perkambangan perusahaanmu yang sangat signifikan setiap bulannya, bahkan jarang sekali mengalami penurunan" jelasnya.


Barack hanya diam dan tidak menjawab tawaran Aryo.


"Jangan menolakku, , kita bicara masalah bisnis disini, aku tahu kamu masih membutuhkan dana yang sangat banyak bukan?".


"Ingat, kita bicara masalah bisnis, bukan masalah pribadi aku akan menutup semua kekurangan dana perusahaanmu." Aryo sekali lagi mencoba meyakinkan barack. Sementara tangannya bergerak untuk meminta berkas yang ada di tangan sekretarisnya.


"Kalau kamu setuju tanda tangani ini" Aryo menyodorkan sebuah map ke arah Barack.


Barack hanya melirik ke arah map itu, bahkan dia tidak menyentuhnya.


"Aku tahu kalau kamu akan datang kemari untuk menemui Luna, makanya aku sudah mempersiapkan ini jauh jauh hari" Aryo berucap lagi, seperti dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Barack.


Barack terus mamaku bibirnya.


Dia mulai membuka map itu dan menandatangani semua berkas barkas yang ada di dalamnya.


"Sekarang katakan di mana Luna?".


Aryo terkekeh mendengar pertanyaan barack.


"Kamu menandatangani itu tanpa membacanya?, , bagaimana kalau aku menipumu?" Aryo mencoba menguji kesabaran Barack.


Barack hanya menghela nafas dengan panjang.


"Lakukan apa semaumu, , sekarang katakan di mana dia" Barack berucap dengan nada rendah.


Sedari tadi dia terus mencoba menahan emosinya di depan Aryo.


"Kamu memang benar benar keras kepala!, , oke aku akan memberi tahumu dia pergi ke mana, tapi ingat satu hal, , , , jika nanti aku melihat dia menangis lagi karenamu, aku tidak akan segan segan merebutnya kembali dari sisimu!!!"


Aryo berhenti berucap seperti sedang memberi waktu kepada barack untuk berfikir.


"Paris, , , dia pergi ke sana untuk menemui klara sekitar satu minggu yang lalu".

__ADS_1


Mendengar Aryo mengatakan di mana keberadaan Luna.


Barack bergegas pergi lagi menuju bandara.


Dia seperti tidak punya rasa lelah ketika harus berusaha menemui Luna.


Rasa lelah, pikirannya terbagi bagi, capek, kurang tidur, kurang asupan gizi, semuanya menjadi satu saat itu.


Namun semua rasa lelah itu hilang ketika dia tahu kalau kali ini dia akan bertemu dengan Luna.


♡♡♡


 


Pagi itu Luna melihat ke arah keluar dari balik dinding kaca galeri Klara.


 


Dia terlihat murung, wajahnya juga sembab.


klara dan Leo merasa sangat sedih melihat Luna yang terus terusan seperti itu.


Apa lagi Leo, tak banyak yang bisa dia lakukan untuk menghibur Luna.


Pasalnya dia selalu menolak setiap kali dia mengajaknya pergi untuk sekedar menghiburnya.


"Lun, , nanti malam ada pesta kembang api di Pont des Arts. Kamu harus ikut ya, kali ini saja, , mumpung kamu di paris" kata Klara sambil memohon menangkupkan ke dua tangannya di depan Luna.


Pon des Arts adalah jembatan gembok khusus pejalan kaki di paris yang menghubungkan Institude de France dan Lauvre Museum.


Nanti malam di sana akan di adakan pesta kembang api tahunan.


Jadi ini kesempatan Klara mengajak Luna untuk melihatnya, paling tidak dia masih terus berusaha menghibur Luna.


Ponsel Klara bergetar, dia melihat ke arah layar ponselnya itu, dan membuka pesan singkat dari Barack.


"Luna ada bersamamu??" isi pesan itu.


Setelah membaca pesan dari Barack, Klara langsung mengarahkan pandangannya ke pada Luna yang masih berdiri di depannya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Luna.


"Mmm, , oh ya nanti malam pokoknya kamu harus ikut. Mau tidak mau aku akan memaksamu" kata Klara.


"Iya, aku akan ikut dengan mu" jawabnya.


Mereka bersiap siap untuk perjalanan ke jembatan Pons Des Arts.


karena dari tempat Klara untuk menuju ke jembatan itu membutuhkan waktu sekitar 2 jam.


Di perjalanan dia mencoba mengirim pesan singkat ke pada Barack.


"Kamu sedang chat ke siapa?" tanya Leo setelah melihat Klara selalu tersenyum sendiri ketika memandangi layar ponselnya.


"Ssssssttt" Klara mengacungkan jari telunjuknya ke depan bibirnya sendiri, menyuruh Leo untuk tidak berisik.


"Rahasia" tambahnya.


Sedangkan Luna hanya melamun menikmati pemandangan kota paris dari balik jendela kaca pintu mobil.


***

__ADS_1


__ADS_2