
Seorang perempuan berambut coklat, bermata senada dengan rambutnya, bulu mata lentik serta hidung dan dagu yang lancip, tengah menangis sesunggukan di sebuah makam. Menangisi kepergian neneknya tepat satu bulan setelah kepergiannya. Seorang Nenek yang selalu menjadi teman hidupnya menjadi tempat bersandar di kala kegelisahan dan kesedihan melanda hatinya.
Bunga namanya, kata yang diambil dari salah satu bahasa Indonesia. Neneknya begitu sangat menyukai keanekaragaman serta budaya Indonesia, maka dari itu dia sengaja memberi nama cucunya dengan Bunga.
Matanya terus menitihkan air, bayangan seorang Nenek yang selalu menjaga hidupnya masih terbayang diingatannya dengan baik.
Bunga masih belum bisa meninggalkan Desa untuk terus melanjutkan hidup. Tidak tahu bagaimana dia akan menjalani hidup nanti ketika berada di kota tanpa orang yang selalu mengisi hari harinya.
Tempat di mana sekarang dia berpijak adalah tempat ternyaman baginya. Ya, berada di makam Neneknya adalah tempat ternyaman.
Tetapi Bunga sadar bahwa hidup harus terus berjalan.
"Bunga??" Suara laki laki dari arah belakang membuatnya sadar dari lamunan, Bunga seketika menyeka air mata kemudian beranjak berdiri, menoleh ke arah lai laki itu.
"Kak Marvel??" dengan cepat Bunga mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi.
Laki laki bertubuh tegap dengan hidung mancung dan bibir berisi itu berlari menghampirinya, matanya menyelidik ke wajah Bunga yang terlihat sembab.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini Kak??"
"Dimana lagi aku bisa menemukanmu??, , selain di sini??" senyumnya terlihat sangat manis, tetapi sayang tak mampu meluluhkan hati Bunga. Berkali kali Marvel mengutarakan isi hatinya semenjak pertamuan pertamanya di sebuah acara festival di taman kota.
Bunga pernah pergi ke sana dengan Neneknya sekedar untuk menghiburnya.
Tak ada orang lain lagi yang akan membuat Bunga merasa kehilangan selain Neneknya, bahkan Ibunya pun malah dengan sengaja meninggalkannya dan memilih pergi untuk menikah dengan laki laki kaya raya.
Bunga tak mau berurusan lagi dengan dengan perempuan itu, baginya menjalani kehidupan ini jauh lebih penting ketimbang harus memikirkan Ibunya.
Bunga dan Marvel masih berteman baik meski pun Bunga tak bisa membalas cintanya. Dia menganggap Marvel sudah seperti seorang Kakak yang selalu menjaganya dengan baik.
"Bersiap siaplah, , bukankah hari ini kamu ada jadwal interview?? aku akan mengantarmu"
"Tidak perlu kak Marvel, aku bisa naik bis dari sini" Bunga merasa tidak enak hati karena Marvel selalu berbuat baik kepadanya.
"Aku datang jauh dari kota sengaja untuk menjemputmu, dan sekarang ketika aku sampai di sini kamu malah menolakku??" Marvel mengerucutkan matanya melihat Bunga dengan raut wajah kecewa.
Perasaan bimbang bergelayut di hatinya, ingin menolek Marvel tetapi laki laki itu telah meluangkan waktunya untuk datang menjemput.
Dengan ragu Bunga kemudian berucap.
"Baiklah"
Jika mau Bunga bisa saja bekerja di perusahaan milik Ayahnya Marvel, tetapi Bunga tidak ingin masuk keperusahaannya karena sebuah koneksi.
__ADS_1
Bunga ingin semua apa yang dia perolah harus dengan jirih payahnya sendiri.
♡♡♡
Bunga sejenak berdiri di depan pintu, pandangannya menyapu setiap sisi rumah tua yang selalu menjadi tempat berlindung di kala hujan dan teriknya matahari.
Berusaha menyimpan kenangan bersama sang Nenek, kenangan setiap hari dimana dirinya harus membantu Nenek untuk menjual soto, bagaimana rasanya bersusah payah mencari uang receh setiap hari sedikit demi sedikit untuk bertahan hidup.
Beruntung Bunga anak yang mandiri tak selalu bergantung kepada Neneknya untuk bertahan hidup, diam diam dia bekerja setelah pulang sekolah.
Dan kini dia ingin ke kota untuk mengadu nasib.
Berharap bisa mendapat pekerjaan untuk menyambung hidup.
"Bunga??"
Mendengar suara Marvel Bunga mengusap air matanya, dia menoleh kemudian berjalan menuju ke mobil.
♡♡♡
"Aku sudah mencarikan tempat tinggal yang sesuai dengan keinginanmu, uang sewanya bisa kamu cicil dan itu tidak terlalu mahal"
"Terima kasih Kak, , aku menghargai bantuanmu yang seperti ini ketimbang membantuku dengan uang, aku memang membutuhkannya tetapi aku bisa mencarinya sendidiri" Bunga melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Melangkah turun dari mobil menuju ke bagasi.
Dia membantu Bunga mengeluarkan tas berisi pakaian dari dalam bagasi.
Perempuan itu terdiam, tertunduk menatap tasnya.
"Ka, ini sudah lebih dari cukup. Kamu terlalu baik denganku. Aku sangat berterima kasih dengan segala semua bantuanmu selama ini" Kembali dia mengarahkan pandangannya kedepan menatap Marvel.
"Jangan berterima kasih, aku merasa senang bisa membantumu"
Bunga berdehem mencoba untuk mencairkan suasana yang semakin membuatnya merasabtidak nyaman, dia melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya. Dengan cepat kemudian dia berucap.
"Maaf Kak, sudah hampir waktunya aku interview. Kamu kembalilah bekerja, nanti aku pasti akan mengabarimu" Bunga pergi meninggalkan Marvel yang masih berdiri menatap kepergiannya.
♡♡♡
Davien menekuk kedua lututnya di sebuah makam, matanya memerah dan berkaca kaca saat menatap nama Essie terukir di sana. Nama perempuan yang selalu mengisi hari harinya dengan senyum dan perhatian. Essie mengidap Anemia Grafis semenjak lahir karena menurun dari Raina. Tetapi penyakit itu mulai menggerogoti tubuhnya semenjak Essie duduk di bangku SMA. Gejala itu sudah dia rasakan saat dia duduk di bangku kelas 3. Tak membutuhkan waktu lama hanya dua bulan penyakit itu menyerap habis darah yang ada di tubuh Essie, hampir setiap dua jam sekali dia harus mendapat donor darah. Upaya sebaik apa pun sudah di lakukan oleh David dan Aileen, tetapi penyakit itu terlalu ganas hingga merenggut nyawa Essie dari mereka
Hampir dua tahun lamanya Essie pergi meninggalkan mereka, tetapi Davien masih belum bisa melupakan Essie. Tidak bisa dan tidak akan pernah melupakannya. Namanya akan selalu tersimpan dengan baik di hatinya.
Davien yang dulu ceria kini menjadi laki laki pendiam. Tidak banyak bicara, dingin seperti hatinya yanh membeku setelah kepergian Essie.
__ADS_1
Karena dulu sempat ada masalah dengan kedua Orang tua mengenai hubungannya dengan Essie, Davien memilih untuk tinggal sendiri.
David sengaja membelikan rumah untuk Davien agar laki laki itu bisa menyendiri.
"PresDir??, , sudah waktunya" James, sekretarisnya itu mengingatkan bahwa setelah ini masih ada rapat penting.
Karena Grastistis yang di derita oleh David sering kambuh dan terkadang membuatnya sering absen, mau tidak tidak mau Davien harus mengambil alih D Entertaintment.
Dan kini perusahaan besar itu berada di bawah kendalinya.
♡♡♡
Bunga gagal dalam Interview kali ini, dia tidak mendapatkan pekerjaan yang selama ini dinginkannya. Menjadi miskin tidak lantas membuat Bunga malas. Dia selalu membaca buku dan terus belajar dari berbagai macam buku yang di berikan oleh Marvel. Banyak yang dia tahu tentang dunia bisnis, tetapi hanya dengan lulusan SMA membuatnya tak bisa mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan.
Bunga terlihat lesu, sembari berjalan perlahan dia terus melamun dan berfikir kemana lagi dia akan mencari pekerjaan. Sementara uang yang dia pegang hanya cukup untuk bertahan hidup sampai tengah bulan.
Tin tiiiiiinnnn!!!!!
Bunga terlonjak kaget, dirinya hampir terserempet mobil jika tak sigap menghindar.
Dadanya seperti mau meledak, jantungnya berdetak cepat hingga darahnya terasa memanas. Seketika membuat emosinya memuncak hingga sisi lain dari Bunga keluar begitu saja.
"Tidak punya mata ya!!, , brengsek!!" umpatnya dengan nada keras.
Mobil hitam itu berhenti tak jauh dari darinya, Bunga menelan ludahnya dengan susah payah ketika melihat seorang laki laki turun dan berjalan mendekat ke arahnya.
"******!!, , apa dia mendengar umpatanku!!"
Bunga melangkah mundur, ketika James berhasil mendekat.
"Maaf Nyonya, ,"
"Nyonya???" Bunga memotong pembicaraan dia merasa tidak terima dipanggil dengan sebutan itu.
"No Na!!" ucapnya seketika dengan lambat dan keras, sengaja agar James bisa mendengarnya dengan baik.
"Baiklah, , maaf Nona apa ada yang terluka di bagian tubuhmu?" pandangannya menyelidik ke tubuh Bunga, sepertinya perempuan itu nampak baik baik saja.
"Ada!!" dengan suara lantang dan tatapan tajam Bunga berucap.
"Jantungku!!, , nyaris saja meledak karena kamu menyetir dengan sembarangan!!" matanya semakin membulat, karena rasa jengkel serta dadanya yang berdetak dengan cepat masih terasa membuatnya tak mampu meredam emosinya dengan cepat.
"Kenapa kamu menyalahkan sekretarisku!!" suara berat itu terdengar dari arah belakang James, Davien melangkah turun dari mobil.
__ADS_1
Dia akhirnya turun tangan karena menunggu James yang tak kunjung cepat dalam menyelesaikan masalah sepele baginya.