
Keesokan paginya Bunga menemui resepsionis entah apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya sangat penting.
Saat melihat resepsionis berdiri dengan pandangan tertuju ke pintu masuk seperti menunggu seseorang, Bunga pun memutar tubuhnya menatap ke arah pintu memastikan. Dia melihat Davien melangkah masuk ke dalam bersama James yang senantiasa berada di belakangnya.
Semua orang di lobi seketika menghentikan aktivitasnya. Mereka berdiri kemudian membungkukkan badan kearah Davien memberi hormat kepada Bos mereka.
Sejenak Davien menghentikan langkahnya tepat di depan Bunga lalu menoleh. Ekspresi wajahnya tak terbaca. Bunga tak mengatakan apa pun dia hanya menundukkan kepala memberi hormat setelahnya membiarkan Davien pergi melewatinya begitu saja.
Semua orang yang ada di dalam lobi bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Beberapa hari yang lalu Bunga dan Davien terlihat sangat mesra setiap pagi saat datang ke tempat kerja. Tapi hari ini, mereka melihat sepasang kekasih itu seperti orang asing.
***
Setelah menyelesaikan beberapa laporan Bunga menata map menjadi satu setelahnya beranjak berdiri dari kursi membawa map di tangannya. Bunga berjalan menuju ke ruang kerja Davien.
Tok tok tok!!!
Lumayan lama Bunga menunggu sahutan dari arah dalam, tetapi sepertinya Davien tak ada di ruang kerjanya. Melihat bahwa James juga tak ada di meja kerjanya maka Bunga memilih untuk membuka pintu kemudian masuk ke dalam.
Bunga melangkah perlahan pandangannya nampak menyelidik ke setiap ruangan namun dia tak menemukan Davien di dalam. "Ke mana perginya dia?" gumamnya dalam hati.
Bunga menghentikan langkahnya tepat di depan meja lalu meletakkan tumpukan map di atasnya. Pandangannya kini tertuju kepada sebuah bola kristal yang tertata rapi di sebuah almari hias. Semenjak awal bekerja di tempat itu sampai detik ini hiasan bola kristal masih tetap sama, berada di tempat semula tak pindah atau bergeser sedikit pun.
Bunga teringat Loria pernah berkata saat pertama kali dia bekerja masuk ke perusahaan D Entertainment, hal yang paling tidak boleh dilakukan Bunga ketika sedang berasa di ruangan itu adalah menyentuh bola kristal yang ada di ruang kerja Davien.
Bunga teringat dulu dia sempat pernah menyentuhnya tetapi saat itu Davien masuk ke ruangan dan menghentikannya. Bunga terdiam Loria juga pernah berkata bahwa bola kristal dengan sepasang boneka suami istri di dalamnya itu adalah pemberian dari Essie.
Bunga melangkahkan kakinya mendekati rak. Matanya menatap bola kristal, mengamati sepasang boneka lelaki dan perempuan di dalamnya. Sepasang suami istri yang sedang berdansa itu tampak tersenyum, bahkan boneka saja berhak bahagia.
Perempuan itu menghela nafas panjang merasa iri dengan patung suami istri yang terkurung di dalam bola kaca. Hanya melihatnya saja Bunga bisa merasakan bahwa mereka, Davien dan Essie sepertinya sangat bahagia. Refleks dia menggerakkan tangannya meraih hiasan bola kristal itu.
Sesaat dia terlihat ragu ingin menyentuhnya, tapi Bunga benar-benar sangat penasaran akan menjadi seperti apa jika dia memutar bolanya, akankah ada salju yang menghujani boneka itu, atau ada kejutan lain di balik itu.
Bola kristal itu sudah ada di tangannya, sekarang yang dilakukan Bunga adalah menatap ke arah dalam. Boneka itu seakan menghipnotis pikirannya. Bibirnya mengembang tersenyum. “Boneka lelakinya, mirip sekali dengan Davien!” gumamnya.
Bunga memutar bolanya melihat sisi bagian bawah dan benar seperti dugaannya, di bagian sana Bunga melihat ada ukiran nama Essie dan Davien tepat di tengahnya juga terdapat tanda hati .
Lagi-lagi dadanya terasa sesak, sudah tahu kalau ini pasti akan membuatnya sakit hati tapi Bunga malah sengaja mencari penyakit. Bunga mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan bermaksud agar dadanya sedikit terasa lega. Tetapi ternyata tak ada yang berubah, masih tetap sama sesak dan kini bertambah sakit ketika melihat lagi.
Munafik jika Bunga tak sakit hati, tapi dia sama sekali tidak pernah menyalahkan Essie dengan apa yang terjadi. Yang Bunga sesalkan adalah sikap Davien yang seakan membuat dirinya tak berharga. Tetapi sekarang yang mengganggu pikirannya adalah hal yang tak masuk akal, dia cemburu kepada orang yang sudah meninggal tetapi itulah kenyataannya. Jika Davien mampu melepaskan perempuan itu, mungkin Bunga tidak akan merasa seperti ini.
Berat rasanya meninggalkan Davien setelah apa yang mereka lalui, tapi Bunga tidak bisa hidup dengannya jika Davien selalu membawa bayangan Essie.
Bunga terkekeh geli menertawakan diri sendiri yang hampir saja kehilangan akal sehatnya. Merasa sudah terlalu lama berada di dalam ruangan itu, Bunga pun mengembalikan hiasan bola kristal ke tempat semula namun tanpa sengaja bola kristal yang berat itu merosot lepas dari genggaman tangannya.
__ADS_1
“Eh!” Bunga berusaha menangkapnya, tapi bola itu terlalu berat sehingga meluncur ke bawah dengan lebih cepat.
Pyaar!!!
Bunga menganga, membulatkan mata nafasnya memburu seketika. Hiasan itu pecah menghantam lantai, air yang ada di dalamnya mencuat keluar menyebar ke sekitar sementara boneka sepasang suami istri itu hancur patah menjadi dua.
Jantungnya serasa telah meledak hingga menimbulkan rasa panas yang sangat luar biasa, tubuhnya kaku seakan tak bisa di gerakkan. Bunga merasa bersalah tapi bagaimana menjelaskan hal itu kepada Davien bahwa dia tak sengaja menjatuhkannya. Davien pasti akan marah besar jika melihat hiasan itu pecah.
“Bunga?” Davien telah berdiri di depan pintu.
Bunga gelisah menggenggam kedua tangannya erat namun tak lama Bunga menekuk ke dua lututnya berusaha mengumpulkan pecahan kaca yang berserakan di lantai satu per satu.
“Bunga apa yang sedang kau–,” Davien sempat bingung melihat Bunga berdiam diri seperti patung. Tetapi melihat perempuan itu membersihkan pecahan kaca dan lagi ada genangan air di sekitarnya, membuat Davien bertanya-tanya apa yang berserakan di sana. Tepat saat ingin melangkah mendekat ujung matanya melihat boneka yang ada di dalam bola kristal telah patah menjadi dua dan tergeletak di sisi lain.
Pandangannya langsung secara cepat beralih ke rak di mana biasanya bola kristal itu berada. Davien tak menemukan hiasan itu di sana.
Tubuhnya bergetar saking ketakutan Bunga nyaris tak bisa membersihkan pecahan itu. Dia berencana ingin membersihkannya dan meminta maaf kepada Davien tetapi semuanya terlambat.
Sepetinya Davien sedang berusaha keras menahan amarahnya agar tidak meluap.
“Berhenti!!” serunya.
Tubuhnya terenyak terkejut mamaku tangannya sementara pandangannya perlahan tertuju ke Davien yang sedang melangkah mendekat. "Maaf Davien aku tidak sengaja, aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak bermaksud ingin merusak hiasan ini... aku hanya... aku, aku akan membereskannya" melihat ekspresi wajahnya yang murka Bunga tak berani berucap lagi, dia kini sibuk memunguti pecahan kaca.
Teriakkan itu seperti sebuah tamparan keras dari Davien kepada Bunga karena telah merusak barang berharga miliknya. Matanya berkaca memerah karena tak bisa lagi menahan tangis, sangat sulit ketika tangisnya ingin pecah tapi dia dipaksa untuk menahannya. Dada terasa sesak hingga sakit seperti di tusuk-tusuk. Bahkan dia kesulitan untuk bernafas.
Dia terus menunduk karena tidak ingin Davien melihat air matanya. Akan terlihat sangat menyedihkan jika sampai lelaki itu melihatnya menangis. Bunga masih saja tetap bersikeras membersihkan pecahan kaca sehingga mengundang amarah Davien yang tak bisa lagi ditahan karena dia sudah berkali-kali memberinya peringatan.
Davien membungkuk kemudian merebut paksa kaca yang sempat digenggam oleh Bunga, tanpa sengaja pecahan kaca itu justru mengiris telapak tangannya hingga darah segar seketika mengucur keluar.
Karena amarahnya, Davien tak sadar telah melukai tangannya.
Bunga memejamkan mata rapat sampai terlihat kerut di sekitarnya, mengepalkan kuat tangannya yang terluka agar darah berhenti mengalir.
Davien menegakkan tubuhnya, dengan kesal dia berucap. "Sudah aku bilang berhenti! Tapi kau tidak mendengarkanku!! Kau tidak perlu membersihkan ini!" Davien mengalihkan pandangannya ke lantai, melihat hiasan bola kristal pemberian Essie telah hancur berkeping-keping. "Orang yang kau sudah tidak adabdi dunia ini!!” ucapnya seketika.
“He? Tidak! Tidak Davien bukan seperti itu... aku sama sekali tidak membenci Essie.” Bunga berusaha membela diri bahwa apa yang di tuduhkan terhadapnya itu tidak benar.
“Aku tidak tahu kau membenci Essie atau tidak, karena yang tahu isi hatimu hanya kau sendiri! Tapi... kenapa kau harus sampai merusak barang pemberian darinya?”
"Sudah aku bilang aku tidak sengaja!! Aku tidak bermaksud merusak hiasan ini. Aku–," ucapannya terputus kala melihat tatapan Davien yang di tujukan padanya terlihat sangat mengerikan, sinis penuh kebencian. Hal itu seakan mengingatkan Bunga pada beberapa bulan yang lalu waktu pertama kali mereka bertemu. Tatapan inilah yang digunakan Davien untuk menatapnya. Tatapan penuh kebencian.
Darah menetes berkali-kali ke lantai namun rasa perih yang ada di tangannya tak seberapa dibandingkan rasa sakit yang ada di dalam dadanya. Matanya semakin memerah air mata terus mengalir tapu Bunga tak bisa menangis di hadapan Davien.
__ADS_1
"Kau harusnya paham Essie sudah menjadi bagian dari hidupku! Jika kau ingin membenci orang, oranh yang harusnya kau benci adalah aku. Bukan Essie!" Davien menggeram marah.
"Harus berapa kali aku bilang, Aku tidak sengaja melakukannya, Davien, aku... aku" ucapannya semakin melemah di akhir kalimat, Bunga berpikir bahwasanya pembelaan apa pun sepertinya tak akan mengubah pikirannya. Bunga pun menyerah. "Ya! Anggap saja aku memang sengaja merusak hiasan ini!" matanya semakin basah.
Bunga kemudian memilih pergi dari ruangan itu. Setelah mendengar bunyi pintu ditutup dengan kencang Davien menghela nafas panjang dan kasar. Setelahnya membanting serpihan kaca yang dia rampas dari tangan Bunga.
Davien mencoba menenangkan diri masalah yang kemarin belum selesai kini timbul masalah baru lagi. “Bukankah kau meminta waktu untuk menyendiri? Lalu kenapa kau harus masuk ke ruangan ini!!” gumamnya. Pikir Davien jika Bunga tidak masuk ke ruangannya mungkin bola kristal itu tidak akan pecah dan dia tidak semarah ini kepada Bunga. “SIIAL!!” umpatnya. Davien menekuk kakinya mengambil boneka yang telah patah dan tergeletak di lantai.
Apakah kisah cintanya dengan Bunga juga akan berakhir seperti ini? Apakah dia akan kembali kehilangan seseorang untuk kedua kalinya?
Setelah menyimpan boneka itu, Davien Mulai mengumpulkan pecahan kaca. Namun tangannya terpaku ketika pandangannya tertuju pada noda merah yang berceceran di lantai. Davien teringat ketika dia merebut secara paksa pecahan kaca dari tangan Bunga, dia sempat melihat ekspresi wajah Bunga saat itu seperti sedang menahan sakit sampai terlihat kerutan dahinya.
Davien terdiam sejenak dia baru sadar bahwa apa yang dia lakukan tadi ternyata melukai Bunga. Davien beranjak berdiri mempercepat langkahnya keluar dari ruangan.
Dia berlari menuju pantri mengambil kotak P3K, setelah mendapatkannya dia berlari lagi menuju ke ruang kerjanya Bunga. "Bunga!" teriaknya. Sayang sekali perempuan itu tidak ada di sana.
"Presdir Anda mencari Bunga?" ucap salah satu pegawai yang sedang melintas.
"Kau melihatnya? Ke mana dia pergi?" Davien terlihat sangat khawatir dia bahkan merasa bersalah karena sudah melukai tangannya.
"Saya sempat melihat Bunga keluar dari luft, dia... mmm, menangis sambil berlari keluar dari lobi sepertinya –," ucapannya terputus karena Davien lebih memilih pergi setelah mendengar penjelasan dari salah satu pegawai.
Davien berlari sekencang mungkin pandangannya menyelidik ke sekitar tapi dia tak menemukan Bunga di halaman. Davien kembali berlari berharap bisa segera menemukan Bunga dan membantu perempuan itu mengobati lukanya.
Tak jauh dari kantornya, Davin melihat Bunga duduk di bangku di bawah pohon sebuah taman. Merasa lega akhirnya bisa menemukan Bunga, tetapi masih ada rasa khawatir karena dia yakin saat ini Bunga pasti semakin membencinya.
Belum sempat melangkah, dari kejauhan Davien melihat Marvel turun dari mobil dengan membawa sebuah kotak P3K. Davien pun menunduk menatap ke kotak yang ada di tangannya.
Sesaat terdiam ekspresi wajahnya terlihat kecewa namun dia sadar semua ini memang karena kesalahannya.
***
Marvel duduk di samping Bunga, matanya melihat telapak tangannya yang dibungkus dengan tisu. Namun sayang tisu yang tadinya berwarna putih itu sudah berubah warna menjadi merah karena darah.
"Apa yang terjadi dengan tanganmu, kau menghubungiku sambil menangis memintaku membawa kotak P3K! Apa kau terluka? Biarkan aku memeriksa tanganmu” Marvel sangat khawatir melihat luka di tangannya.
Mendengar Marvel berucap Bunga malah menangis, seketika tangisnya pun pecah. Fefleks Marvel meraih kepalanya meminta Bunga bersandar di bahu. "Menangislah jika itu membuatmu tenang, jika kau sudah merasa lebih baik, aku siap mendengarkan ceritamu" ucap Marvel dengan lembut.
***
Davien tak ingin lagi melihat pemandangan di depan matanya. Dia lebih memilih pergi meninggalkan Bunga, setidaknya sudah ada Marvel yang akan menjaga.
Marvel mengusap lembut ujung kepalanya mencoba menenangkan perempuan itu. Setelah tangisnya mereda, dia membantu Bunga membersihkan dan mengobati lukanya. "Kenapa kau bisa terluka sampai seperti ini?”
__ADS_1
Mengingat kembali bahwa Davien yang melukai tangannya, Bunga menangis lagi. Dengan suaranya yang sengau karena tangisannya, Bunga berucap meminta sebuah permohonan kepada Marvel. "Kak... antar aku pulang ke rumah” tangisnya serasa tak mau berhenti, sakit sesakit-sakitnya inilah yang sedang di rasakan oleh Bunga.