
"Iiiiiiihhhh!!!" Aileen ingin menghentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil untuk melampiaskan kekesalannya kepada David, tetapi dia lupa bahwa kakinya itu terkilir.
"Aaaauuuu!!" perempuan itu meringis sambil meringkuk memeluk lututnya manahan kesakitan.
Tak lama dia mendorong tubuhnya kebelakang menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kemudian mendongak menyandarkan kepalanya di sana.
Aileen mengeluh kesal. Tidak percaya bahwa David akan pergi begitu saja setelah melihat dirinya terluka.
"Laki laki tidak berguna!!, , apa coba!! sudah tahu kakiku terluka malah pergi. Aku juga tidak bermaksud untuk benar benar mengursirnya! kenapa dia mengikuti ucapanku!!, , iiiihhh" Aileen mengoceh, memukuli sofa dengan kedua tangannya.
Sepertinya dia masih belum rela David pergi meninggalkan dirinya. Bahkan karena saking jengkel merasakan sikap David matanya sampai memerah dan berkaca kaca karena sangat kecewa dengan sikap David.
Tak lama dia mendengar suara mesin mobil, Aileen menyelidik suara mesin itu menggunakan telinganya. Dia yakin itu mobil milik David.
Perempuan yang masih menyandarkan kelapanya di sofa itu menoleh kearah pintu. dia melihat David kembali dengan membawa kantong paperbag berwarna coklat.
Aileen sedikit terkejut, dia mengangkat kepalanya seiringan dengan David yang berjalan mendet kearahnya.
Laki laki itu menekuk kedua lututnya kemudian tunduk di hadapan Aileen. Hening, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Membuat suasana menjadi dingin.
Perempuan itu tidak menyangka David akan kembali. Ternyata dia pergi ke Apotek membeli perlengkapan untuk luka di kakinya.
Aileen terus menatap kearah wajah David, sebagian rambut yang menutupi matanya dengan penutup kapala hoodie yang juga merangkup di kepal laki laki itu membuat David terlihat sangat lucu.
Laki laki yang biasanya terihat maco dan hot itu malam ini terlihat sangat menggemaskan. Ingin rasanya Aileen menyimpan David di almari berjejer dengan boneka boneka kesayanganya yang ada di kampung halaman sana.
Aileen menngerakkan tangannya meraih dagu David, sedikit memaksa laki laki itu untuk mengangkat kepalanya agar dia bisa melihat jelas wajah David.
David membiarkan Aileen menyentuh wajahnya dia juga sedikit mengangkat kelalanya seperti arahan tangan Aileen, tetapi dia tak mengalihkan pandangannya kearah perempuan itu. David masih sibuk membalut kaki perempuan yang di cintainya.
"Kamu masih marah?" Aileen memulai permbicaraan. Dia ingin memecah keheningan di antara mereka. Tangannya merapihkan rambut yang menghalangi mata David.
Laki laki itu sejenak terdiam, sebelum akhirnya menjawab dengan nada berat.
"Sepertinya kemarahanku tidak berpengaruh kepadamu. Aku sudah bilang. Aku tidak suka kamu melirik laki laki lain!"
"Aku tidak melakukan itu!" Aileen berusaha berucap dengan nada tenang, dia tidak ingin membuat suasana semakin memanas. Karena saat ini sepertinya David masih berusaha menahan amarahnya jika sedikit saja Aileen memancingnya, bisa saja amarah itu berubah menjadi bom waktu yang siap meldak kapan saja. Dia berusaha mengimbangi laki laki itu.
"Tadi dia hampir menabrakku!"
"Dia hampir menabrakmu!!" David langsung menyahut dengan cepat. Suaranya sedikit meninggi karena merasa khawatir ketika Aileen menceritakan hal itu. Pandangan matanya juga langsung teralihkan kearah wajah Aileen.
"Bagian mana lagi yang terluka?, , apa kita perlu kedokter untuk memeriksakan keadaanmu?" David meraih pundak kemudian lengan dan kini merangkup pipi Aileen untuk memastikan adakah bagian lain dari tubuh perempuan itu yang terluka.
Aileen tersenyum ketika melihat reaksi David yang begitu sangat mengkhawatirkannya.
"Kenapa kamu malah tersenyum!!" David kembali menarik tangannya, dia bahkan juga memamerkan raut wajahnya yang dingin seperti semula. David kini memilih untuk meneruskan memasang perban elastis di kaki Aileen.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa!!, mobilnya berhenti tepat sebelum menyentuh tubuhku, tetapi karena aku panik, jadi ketika berlari mundur aku terjatuh dan kakiku terkilir lagi"
David merasa bersyukur karena Aileen tak terluka parah, tetapi dia masih tidak bisa terima jika laki laki itu mengantarnya pulang. Dia berfikir bahwa Aileen pasti akan berdekatan dengan laki laki itu di dalam mobilnya.
"Dan kamu sengaja membiarkan laki laki itu mengantarmu pulang!"
"Aku sudah menghubungi Koyoko untuk menjemputku. Tetapi dia bilang dia sudah ada janji dengan jacq"
Seketika David memaku tangannya ketika mengingat ucapan Jacq bahwa Koyoko akan datang ke rumahnya.
"Bukankah masih ada aku!!, , kamu bisa menghubungiku!!, , kenapa kamu tidak melakukannya. Kamu lebih suka kalau laki laki itu yang mengantarmu pulang?!" David menggerakkan bola matanya keatas melihat wajah Aileen dengan tajam.
"Aku rasa itu akan merepotkanmu, , aku pikir kamu sedang sibuk. Aku tidak ingin"
"Sesibuk apa pun. Kalau kamu membutuhkanku, aku akan tetap datang kepadamu" David memotong pembicaraan, laki laki itu mulai melembutkan tatapannya kepada Aileen. Dan tak lama matanya tertuju kepada bibir mungil dan berkilau karena sentuhan lipgloss di sana.
Tanpa aba aba David menggerakkan tubuhnya sedikit keatas untuk mempermudah dirinya mengecup bibir Aileen. Kali ini laki laki itu berusaha keras untuk tidak mencium perempuan itu. Karena dia yakin sedikit saja membuka mulutnya, David tak bisa menahan hasratnya.
David membuka matanya perlahan, dalam keadaan bibir mereka yang masih saling menempel laki laki itu kemudian berucap.
"Jangan pernah berani menggoda laki laki lain"
Perempuan itu membuka matanya, melihat wajah David yang tepat berada di depannya.
"Aku sangat sangat tidak menyukai itu. Kamu hanya milikku. Seorang!" bibir mereka saling bergesekan. David menyadari bahwa itu membuat dirinya semakin terangsang. Dia senganja mengecup Aileen sekali lagi, dan ketika melihat Aileen kembali menutup matanya David seolah telah mendapat signal untuk mencumbunya.
Parlahan mendorong tubuh perempuan itu kearah sanping agar bersandar di sofa.
Sebagian tubuh David menindih bagian tubuh atas Aileen. David masih paling aktif dalam pergulatan ciuman itu. Dia menggerakkan kepalanya dengan lincah ketika menikmati bibir Aileen yang terasa sangat manis.
Tubuh Aileen terasa memanas, jantungnya berdegub dengan sangat kencang. Ketika David memperlambat ritme ciuman mereka, tangan Aileen bergerak melingkar di leher laki laki itu hingga membuat penutup kepala hoodie yang sebelumnya merangkup di kepala David itu tertarik kebelakang dan sedikit memperlihatkan bagian rambutnya.
Seolah saat itu Aileen tidak ingin menyudahi ciumannya.
David telah berhasil membuat Aileen tergila gila dengan kelihaiannya dalam bercumbu. Hingga membuat Aileen ingin merasakan lebih dan lebih.
Ada guratan kebahagiaan di sekitar area mata David ketika merasakan Aileen membalas ciumanya. Selama ini perempuan itu hanya diam dan menikmati. Tetapi malam itu Aileen berani membalas, memainkan bibirnya, mencercap, menarik bahkan menggit kecil bibir David.
Laki laki itu tersenyum dan kali ini membiarkan Aileen mengambil alih atas ciuman itu. Sementara David menggerakkan tangannya perlahan menuju kearah kerah baju Aileen.
Membuka satu kancing bajunya, David masih mengawasi wajah Aileen. Ingin melihat akan bereaksi seperti apa perempuan itu. Tangannya bergerak turun dan dua kancing kemejanya telah terbuka.
Saat itu David menarik tubuhnya melepas ciuman itu ketika Aileen membuka matanya lebar.
Laki laki itu terkekeh, dia tahu Aileen pasti akan bereaksi seperti itu.
Dengan cepat Aileen bangkit dan duduk, perempuan itu menunduk melihat kearah kancing bajunya yang sudah terbuka. Ketika tangannya bergerak ingin membenarkan kancingnya. David menahan tangan Aileen.
__ADS_1
"Biar aku yang melakukannya" David kemudian membantu Aileen mengancingkan kemejanya kembali.
"Aku tidak akan menyentuh tubuhmu, jika kamu tidak menginjinkannya. Aku juga tidak akan memaksamu untuk melakukan itu" seperti kebanyakan pria, David berucap seolah ingin membuat Aileen merasa bersalah. Itu adalah jurus kesekian kali yang dia gunakan untuk menarik perhatian Aileen.
Setelah selesai mengancingkan kemejenya. David mengalihkan pandangannya kearah lain.
Sementara Aileen mulai menatap kearah wajah David. Pandanganya bergerak mulai dari mata, hidung kemudian turun hingga ke bibir laki laki itu.
"Bibirmu?" Aileen menyentuh bibir David yang terlihat membengkak.
David menoleh kearah Aileen, kemudian tersenyum.
"Kamu yang melakukannya!"
"Benarkah??, , apa karena aku tadi terlalu keras melakukannya?" Aileen masih mengusap lembut bibir David dengan ibu jarinya.
"Apakah sakit?" tambahnya.
"Mmm, , tidak!" David menggelengkan kepalanya. Mendekatkan bibirnya ketelinga Aileen.
"Kalau pun terasa sakit, aku menginginkannya lagi" dia sengaja menempelkan bibirnya, bahkan menghembuskan nafas hangatnya ke sana untuk menggoda Aileen.
Perempuan itu bergidik kemudian sedikit menjauhi David. Dan mengahadiahi laki laki itu sebuah pukulan di lengannya.
"Kanapa memukulku!!" David tersenyum setelah mendapat pukulan dari Aileen.
"Geli tahu!!" gumamnya.
"Tapi kamu menyukainya kan??" David memeluk tubuh Aileen dari arah samping. Menarik perempuan itu kedalam dekapannya. Kemudian menyandarkan kepalanya di kepala Aileen, menghirup aroma shampo bercampur keringat dari rambut perempuan itu, David sangat menyukai aromanya. Segala apa pun yang melekat di tubuh Aileen David sangat menyukainya tanpa terkecuali.
David menarik tubuh Aileen agar bersandar di dekapannya, Seolah tak cukup ciuman tadi sebagai pengobat rasa rindunya karena hampir seharian ini David sibuk dengan pekerjaannya. David menghujani kening Aileen dengan kecupan bertubi tubi.
"Katakan padaku, siapa nama laki laki itu??, , kalian pasti sudah sempat berkenalan" David masih tak bisa melepas bayang bayang laki laki yang mengantar Aileen.
"Kami tidak sempat berkenalan, , oh ya" Aileen menarik tubuhnya menjauh dari David, dia menyelidik kearah lantai untuk mencari kartu nama yang sempat Abell berikan.
"Dia sempat memberiku kartu nama"
David melihat kearah mana Aileen menyelidik, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke lantai.
David bergerak untuk mencari kartu nama itu. Ujung matanya menemukan sebuah kartu berwarna hitam yang nampak tak asing baginya. David mengambil kemudian menyelidik ke kartu hitam yang ada di tangannya.
"Abell!!" gumamnya.
"Kamu mengenalnya?" ucap Aileen setelah melihat David terdiam sambil mengamati kartu itu.
"Dia sahabatku!" laki laki itu masih terdiam dan kini malah terduduk di lantai. Dia mengingat kembali ucapan Abell yang mengatakan ingin meminta Aileen ketika taruhan itu selesai. David menghela nafas, kemudian mengalihkan pandangannya kearah Aileen.
__ADS_1