Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#61 Merasa bersalah


__ADS_3

 


 Seorang resepsionis membawa nampan berukuran sedang dengan dua cangkir berisi kopi di dalamnya. Cara berjalan dan bahasa tubuh yang sudah terlatih dengan bagus membuatnya terlihat berkelas seperti nama perusahaan yang menaunginya.


 


 Dia berjalan mendekat ke sebuah meja yang terletak di salah satu sudut lobi kantor.


Meletakkan salah satu cangkir di atas meja depan leo dan satunya lagi di depan barack.


Sebelum beranjak pergi perempuan itu memberi hormat dengan sedikit menundukkan kepalanya kepada dua laki laki yang sedang duduk di kursinya masing masing.


Seperti sedang mempersilakan mereka untuk berbincang kembali sambil menikmati minumannya.


Leo sengaja menemui barack sendiri karena dia memang ingin berbicara empat mata dengannya.


Dia berharap barack bisa membantunya untuk memenuhi keinginan perempuan yang pernah mengisi hari harinya itu.


Leo memang belum memberi tahu perihal kondisi klara yang sekarang ini, namun dia berharap penuh dengannya.


Ekspresi wajah barack memang tidak bisa di tebak, ketika dia tahu kalau leo ingin membicarakan suatu hal penting dengannya.


Suasana di antara mereka berdua terasa begitu dingin. Bukan karena masalah hubungan baiknya dengan luna atau dengan klara namun lebih ke hubungan mereka yang sejak awal memang bukanlah hubungan persahabatan.


Memang pertemuan ini bukan pertemuan untuk pertama kalinya. Sebelumnya mereka bertemu di saat saat di mana dia selalu membuatnya cemburu karena selalu berada di dekat luna.


Hanya saja ini kali pertama mereka bertemu untuk berbicara dan bertatap muka seintim ini.


Sebelumnya leo sempat menelponnya ketika dia sedang bersama dengan luna waktu itu.


Hanya saja leo menunda untuk membicarakannya karena suatu alasan yang barack sendiri tidak tahu.


Barack tidak menyangka kalau leo akan benar benar menemuinya kembali seperti yang sudah dia janjikan waktu itu.


Dilihat dari raut wajah leo yang terlihat tegang kali ini membuat barack ingin sekali mengetahui, ada masalah apa sampai membawanya ke sini hingga dengan sengaja menunggu kedatangannya.


"Ada masalah apa?" nada bicara barack terdengar berat di telinga leo kali ini.


Leo mengutarakan maksut kedatangannya menemui barack.


Dia mulai menceritakan kondisi klara yang sejak malam acara fashion show itu, hingga hari ini keadaannya semakin memburuk.


Barack memaku bibirnya, tidak sedikit pun kata keluar dari mulutnya setelah mendengar cerita dari leo.


Terlihat dia menutup ke dua matanya sejenak, sambil membenamkan punggungnya ke dinding sofa yang ada di belakanganya.


Dia memijat pelan keningnya dengan ke dua mata yang masih tertutup.


Wajah leo nampak terlihat terus berharap kepada barack, bola matanya tidak pernah dia alihkan ke arah lain selain ke arah barack yang terus masih saja diam tidak menjawab permohonannya.


Nampak dada barack terlihat naik turun mencoba mengatur nafas.


Pikirannya mulai berkecamuk cerita leo mulai menggerayangi otaknya.


Tidak bisa di pungkiri bahwa klara pernah menjadi seseorang yang berharga di hidupnya.


Namun dia kali ini sudah memilih untuk tidak berhubungan lagi denganya.


Bukan karena dia egois memikirkan diri sendiri namun alasannya karena dia sudah memilih luna.


Dia tidak ingin luna harus tersakiti lagi karenanya.


Dibukannya kembali ke dua matanya dan langsung menatap ke arah leo yang ada di depannya dan masih terus melihat ke arahnya.


Barack menggeser duduknya agak sedikit maju ke depan dan menarik kembali punggung yang sempat dia benamkan ke dinding sofa.


Ke dua tangannya bertemu dan bertautan satu sama lain sambil menutupi mulutnya.


Sebelumnya, terlihat dia sedang menghela nafas dengan pelan.


"Aku tidak bisa!" katanya.


Mendengar barack mengatakan penolakkannya untuk menemui klara, memaksa leo untuk menutup ke dua matanya serta memperlihatkan kerutan di sekitar kening dan area dekat wajahnya.


Usaha untuk menemui barack seolah sia sia saja.


Percuma, seharusnya dia juga sudah tahu, barack termasuk laki laki yang keras kepala.


Dia harus berfikir dan memutar otak agar barack mau membantu klara, tidak sampai dia sembuh namun paling tidak sampai kondisinya kembali membaik.


Leo kembali menatap ke arah barack dengan penuh harap.


Wajahnya terlihat sangat putus asa, karena bisa dibilang dia lah salah satu penawar alami paling ampuh untuk memulihkan kembali kondisi klara saat ini.


"Pasti ada cara lain!" kata kata barack keluar begitu saja dari mulutnya seolah olah dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh leo.


Leo mengusap pelan wajah dengan ke dua tangannya, menunduk dan membenamkan kepalanya ke dalam tangan yang bertumpu di ke dua lututnya.


"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi" katanya sambil mengangkat kembali kepalanya, membuang pandangannya ke arah barack yang masih saja duduk terdiam di kursinya.


"Aku tidak memintamu untuk kembali kepadanya, hanya meminta sedikit waktumu untuk menemuinya, karena hanya kamulah yang bisa mengembalikan kondisinya seperti semula" sambungnya. leo teurs berusaha dengan keras.


Mata barack kembali menatap wajah leo dengan penuh keraguan.


"Apa kamu bisa menjamin, ketika dia bangun kembali, maka dia tidak akan mendekatiku lagi?" pertanyaannya seperti sedang memaksa leo untuk berfikir dua kali lagi ketika dia meminta barack untuk menemui klara.


"Setalah dia siuman, aku akan membawanya kembali ke paris bersamaku!" leo tidak menjawab pertanyaan barack saat itu. Dia hanya mencari pengalihan agar barack mau membantunya.


Terlihat wajah barack memamerkan senyumnya yang sangat tipis, tipis sekali, bahkan hampir senyum itu tidak terlihat ketika di pandang dengan sekilas.


"Kamu saja tidak bisa menjawab pertanyaan ku!, , lalu bagaimana nanti, apakah kamu bisa menjamin kalau itu tidak akan menyakiti perasaan luna?"


Sekali lagi wajah leo terlihat sangat frustasi.


Dia tidak tahu bagaimana lagi caranya memohon kepada barack.


Tapi yang di katakannya memang benar, kalau sampai luna tahu, pasti dia akan merasa tersakiti lagi.


Terlihat raut wajah barack nampak sedikit kebingungan, namun keputusan yang sudah di ambilnya, tidak akan dia tarik kembali.


"Apa aku harus berlutut di depanmu?" Leo berucap seperti sedang merendahkan dirinya sendiri memohon di depan barack.


Barack tidak bergeming, terlihat kembali dadanya naik turun mencoba mengatur nafas sembari menyangga kepalanya dengan malas di tangannya yang bertumpu di tepian sofa.


"Maaf tapi aku harus kembali bekerja!" barack bangkit dari sofa dan segera meninggalkan leo begitu saja.


Dia pergi meninggalkan leo yang masih berada di ruang lobi dengan melangkah pasti menujun ke arah lift.

__ADS_1


Mata leo di paksa membuka setelah mendengar perkataan barack barusan. Dia bangkit dari duduknya dan terus menatap ke arah barack yang sudah membelakanginya dengan penuh harap.


Berharap barack kembali dan merubah keputusannya.


Namun barack sudah menghilang di balik pintu lift yang baru saja tertutup.


Sebenarnya dia sudah tahu kalau barack pasti akan menolaknya.


Namun segala sesuatu memang harus di coaba. Walaupun dia sudah tahu kalau hasilnya akan tetap sama, nihil.


 


Senyum luna tidak pernah lepas dari wajahnya siang hari itu.


 


Bahkan saat dia mengikuti kelas di mana dosen sedang menjelaskan materi hari itu, senyumnya seperti tidak ingin meninggalkan wajahnya.


Tangannya selalu memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya itu.


"Oke kelas sampai di sini dulu" suara dosen menggema di ruang kelas hingga memecah lamunan luna yang sedari tadi terus terisi penuh dengan bayang bayang barack di benaknya.


Dia tersadar dan pandangan matanya mulai melihat ke arah sekitar, orang orang sudah mulai berdiri meninggalkan bangku mereka masing masing, mereka terlihat sedang berebut menuju ke arah pintu ke luar.


Luna melihat cici berjalan ke arahnya, dengan senyum yang mencurigakan.


Dia spertinya tahu apa maksut senyum di wajah cici itu.


Tetapi dia sudah bersiap siap ketika cici akan mengganggu atau menggodanya kali ini. Bahkan dia sudah hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu.


"Cie cieeeeeeee, , senyum mulu dari tadi" kata kata yang keluar dari mulut luna memaksa cici harus menekuk wajahnya.


Sepertinya dia dengan benar menebak setiap kata yang akan keluar dari mulut cici.


"Yah, , tidak asik kamu lun" wajah cici terlihat murung karena merasa gagal menggoda luna.


Luna tersenyum penuh kemenangan ke arah cici. Dia kembali membereskan buku bukunya dan mengembalikan ke dalam tasnya.


"Pulang yuk, aku antar kamu".


Cici merasa heran, tumben tumbennya dia menawarkan dengan sendirinya.


"Barack tidak menjemputmu?" pertanyaan cici membuat luna harus menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Tidak harus setiap hari dia menjemputku kan?, , , semalam sebelum pulang dari acara pesta, dia sudah memberi tahuku kalau hari ini dia akan benar benar sibuk dengan pekerjaanya" luna beranjak dari bangkunya dan langkahnya terhenti ketika mengetahui kalau cici masih terdiam di bangkunya.


"Ayo, kamu mau pulang tidak?" tambahnya.


Cici pun beranjak dari bangkunya dan berjalan mengikuti luna ke arah parkiran mobil.


 


Luna mengendarai mobilnya keluar dari kampus.


 


Di tengah perjalanan dia menginjak rem mobil dengan pelan ketika melihat lampu rambu rambu berubah berwarna merah.


Ditariknya handrem untuk membuat mobil berhenti lebih aman tanpa harus terus kakinya menahan dan menginjak rem yang membuat rasa pegel ketika harus menahannya.


Cici duduk di bangku sebelah luna. Dia merenggangkan otot otot leher yang dirasanya sedikit kaku.


Terlihat dia mengernyutkan dahinya ketika melihat sebuah mobil yang nampak tidak asing baginya.


"Itu mobil leo bukan lun?" kata kata yang keluar dari mulut cici membuat luna harus membuang pandangannya ke arah keluar saat sedang serius menyalakan tape di dalam mobilnya.


"Mana?" luna di paksa melihat ke arah luar dari dalam mobilnya.


Dia mendapati mobil leo sedang di parkir di halaman rumah sakit.


luna menunduk namun ke dua matanya melihat ke atas seperti sedang mengamati gedung yang berdiri tinggi di depan matanya.


"Rumah sakit el******, , sedang apa dia di sni?" luna membaca tulisan besar yang terpampang di bagian atas gedung itu, wajah luna mulai terlihat seperti sedang kebingungan saat melihat leo berada di area rumah sakit.


Pasalnya leo tidak punya sanak famili yang tinggal di indonesia, karena semua keluarga ikut berpindah ke ausi waktu itu.


Cici mengalihkan pandangannya ke arah luna yang masih terus melihat ke arah mobil leo.


Kebetulan mobil leo baru saja sampai di tempat parkir rumah sakit itu.


Luna melihat leo keluar dari dalam mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit.


"Iya benar itu aryo" luna langsung mengemudikan mobilnya masuk ke dalam halaman rumah sakit itu.


Wajahnya terlihat panik ketika melihat leo masuk ke dalam rumah sakit.


Dia segera ke luar dari mobilnya dan bergegas pergi mengikuti leo.


Cici pun sama dia mengikuti luna dari arah belakangnya.


Luna membuang pandangannya menyapu seluruh ruangan yang terlihat sangat luas.


Wajahnya mulai khawatir ketika dia tidak menemukan leo di setiap sudut yang di lihatnya.


Tubuh luna memutar, melihat dan memastikan setiap wajah orang yang bejalan di sekitarnya bahkan mereka yang berjalan di lantai atas pun tak luput dari pandangannya.


Tubuh luna memaku setelah melihat orang yang di carinya terlihat sedang berjalan di ujung anak tangga menuju lantai dua.


Dia berjalan dengan cepat mengejar leo, ingin sekali mulutnya berteriak memanggil namanya, namun dia sadar bahwa keberadaannya tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu.


Dia berlari menaiki anak tangga dengan menahan gerakkannya agar tidak menarik perhatian orang yang ada di dalam rumah sakit itu.


Cici masih tertinggal di belakang luna, tetapi dia terus berusaha mengejar luna yang sudah terlebih berada jauh di depannya.


Walaupun begitu dia masih bisa melihat ke arah mana luna pergi.


Luna sampai di lantai dua, pandangan matanya terus fokus ke pada aryo yang sudah jauh meninggalkannya. Dia terus mengikuti kemana leo berjalan.


Hingga akhirnya dia melihat leo memasuki sebuah ruangan, terdapat tulisan di sebuah papan yang menempel di atas pintu ruang itu.


'Dokter dalam'


Luna menghentikan langkahnya ketika leo berhasil masuk ke dalam.


Luna mendekat, dia berhenti di balik pintu kaca yang langsung menghubungkan ke arah dalam, nampak sebagian pintu kaca itu tertutup oleh gorden berwarna hijau tosca senada dengan gorden yang menutupi setiap ruangan di dalam rumah sakit itu.


Luna masih bisa melihat di sebagian pintu kaca yang tidak tertutup gorden. Dilihatnya sesosok lelaki paruh baya memakai jas barwarna putih dengan kemeja yang senada dengan jas dan sedang duduk di seberang meja kerjanya.

__ADS_1


Dari pakaian yang di kenakannya serta stetoskop yang masih menggantung di lehernya itu membuat orang bisa dengan sangat mudah menebaknya bahkan anak kecil pun tahu kalau dia adalah seorang dokter.


 


Pintu kaca ruang dokter di buat seperti pintu masuk yang bisa di buka tutup dari dua arah, baik arah dalam mau pun luar.


 


Dengan sedikit sentuhan dengan mudah luna bisa membuka sedikit pintu itu hingga terdapat cela dimana luna bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.


Nampak cici dari arah belakang berjalan mendekati luna dengan nafas yang masih terengah engah.


Cici meraih pundak luna, nafasnya masih terdengar kasar di telinga luna.


Luna menempelkan jari telunjuk ke mulutnya sendiri untuk memberi isyarat kepada cici agar tetap tenang dan jangan menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian dari arah dalam ruangan.


Cici hanya mengangguk pelan sambil terus mengatur nafasnya.


Sayup sayup terdengar suara leo dari arah dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan klara dok?".


Seketika wajah luna memaku mendengar leo membicarakan keadaan klara kepada dokter.


"Klara sedang sakit kah" terbesit sebuah pertanyaan di benak luna.


Terlihat dia sedikit mendorong kepalanya agar lebih mendekat ke arah pintu kaca itu.


Terus berusaha konsentrasi mengumpulkan tenaganya ke bagian telinganya agar bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang di bicarakan mereka.


"Kondisinya semakin menurun, mau tidak mau kamu harus bisa membawa laki laki yang bernama barack itu menemui klara" dokter berucap seakan akan dia memaksa kalau leo harus bisa membawa barack untuk menemui klara.


Luna di paksa melebarkan matanya mendengar kalimat yang barusan di ucapkan oleh dokter.


Apakah kondisinya seburuk itu sampai sampai harus menyinggung nama calon suaminya, bahkan harus memaksanya untuk menemui klara. Luna hanya mencoba menangkap dari apa yang sedang di bicarakan ke dua orang itu.


Luna memantapkan hatinya untuk kembali menguping pembicaraan mereka.


Namun nafasnya mulai tidak beraturan ketika mendengar dokter menyebut nama calon suaminya tadi.


"Sepertinya aku tidak bisa membawa barack untuk menemui klara" suara leo terdengar kembali menggema di telinga luna.


"Harus, , kalau kamu ingin melihat kondisinya membaik, kamu harus membawanya untuk bertemu dengan klara! biarkan dia mendengar suaranya! biarkan dia merasakan ke datangannya!" nada bicara dokter kali ini di penuhi dengan penekanan di setiap kata katanya.


"Dia menolak untuk bertemu dengan klara, dia sudah bertunangan dengan perempuan lain makanya ada hati yang harus dia jaga dok".


Dokter hanya menudukkan kepalanya. Dia juga tidka bisa berbuat apa apa lagi.


Dada luna seperti tersambar petir, panas, panas sekali bahkan sampai terasa sakit di setiap detakkannya, bahkan rasa sakitnya seperti sampai menyentuh jantung bagian terdalamnya, setelah mendengar leo mengatakan hal itu.


Entah apa yang terjadi dengan klara kenapa harus sampai mereka membawa barack masuk ke dalam ranah permasalahan kesehatan klara.


Air mata luna memaksa keluar dari kelopak matanya, dia mencoba menahan sampai terasa nyeri di bagian pangkal hidung di tengah tengah antara ke dua matanya.


Hidungnya memerah karena dia terus memaksa menahan air matanya, namun dia tidak bisa membendung air matanya itu.


Sebagian bertahan di kelopak matanya namun sebagian lagi ada yang jatuh melewati pipinya.


Dibiarkannya air mata itu mengalir dengan sendirinya.


Dia menundukkan kepalanya untuk menahan nafasnya yang mulai sedikit terisak isak karena harus menahan rasa sakit di dadanya serta menahan emosinya yang mencoba meletub letub saat itu.


Cici meraih pundak luna dari arah belakang ketika melihat tubuh luna sedikit demi sedikit melemah dan terduduk di lantai berwarna putih dan terlihat sangat dingin itu.


"Lun, , kamu baik baik saja?" cici berbisik mencoba menanyakan ke adaan luna yang masih terus menangis.


Rasanya sakit sekali, ketika harus menangis tapi di paksa untuk menahan suaranya yang terus mencoba keluar dari tenggorokannya.


Hanya air mata serta nafas terisak isak yang di perlihatkan luna kepada cici.


Cici meraih kedua pundak luna, seperti sedikit memberi tenaga di badannya agar segera bangkit dari lantai.


Luna berusaha dengan keras agar ke dua kakinya mau menopang tubuhnya yang tidak berdaya itu.


Cici mencoba memapah luna berjalan ke arah kursi yang ada di depan ruang dokter.


"Apa yang kamu dengar sampai membuatmu menangis seperti ini?" tanyanya.


Cici berusaha meraih pipi luna dan menyeka air mata yang terus menghujani wajahnya.


Luna sendiri tidak tahu, bagaimana sebenarnya kondisi klara saat ini, namun ketika dia mendengar meraka menyebut nama barack dan di kait kaitkan dengan kondisi klara yang saat itu dokter sempat berkata kalau kondisinya semakin memburuk, dia merasa seperti orang jahat yang dengan sengaja merebut barack dari sisi klara.


"Aku kah penyebab, , , hingga klara kini memburuk kondisinya??? sebenarnya, apa yang terjadi dengannya sampai sampi dokter terus memaksa barack harus datang menemuinya???"


Pikiran luna di penuhi dengan rasa bersalah. Kalau sampai terjadi sesuatu dengannya, bagaimana dia bisa menebus semua kesalahannya.


Luna masih terus menangis, dia mencoba menutupi mulut dengan salah satu tangannya seperti sedang menahan agar suaranya saat menangis tidak keluar dari mulutnya.


"Tenangkan dirimu lun, , " cici mengelus punggung luna dengan penuh kelembutan, dia terus mencoba menenangkan luna, cici juga tidak tahu percakapan apa yang di dengar oleh luna sampai sampai dia harus menangis seperti ini.


Mata cici melihat ke arah pintu ruang dokter yang bergerak karena leo mencoba mendorongnya ke arah keluar, agar dia bisa keluar dari ruangan itu.


Leo melangkah keluar dengan kondisi tubuh serta raut wajah yang semakin lesu setiap mendengar kabar klara semakin memburuk.


Langkahnya terhenti ketika melihat luna duduk di kursi yang ada di depan ruang dokter.


Tubuhnya memaku saat melihat luna mencoba menyeka air matanya.


Luna mengalihkan pandangannya ke arah leo yang baru saja keluar dari ruang dokter.


Dia menghapus air mata di kedua pipinya.


Terlihat di kedua kelopak matanya yang membesar karena akibat luna terus menangis, matanya masih terus berkaca kaca hidungnya memerah terlihat cairan bening masih terus keluar dari dalam hidungnya.


Namun luna mencoba menyekanya.


"Maaf" entah apa yang terbesit di benaknya sampai dia harus melontarkan kata maaf kepada leo yang masih terpaku di depan ruangan dokter.


Leo menahan air matanya ketika dia harus melihat wanita yang sangat di sayanginya menangis tepat di depannya.


Apa lagi ketika dia melontarkan kata maaf, seketika air matanya langsung jatuh melewati pipinya.


Dia berharap luna tidak mendengar pembicaraannya dengan dokter.


Namun dilihat dari kondisi luna saat ini, dia pasti telah mendengar semua percakapannya.


Leo berjalan mendekat ke arah luna, menekuk ke dua lututnya ka lantai dan meraih tubuh luna ke dalam dekapannya.

__ADS_1


***


__ADS_2