Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#147 Nampak tak asing


__ADS_3

"Apa rencanamu selanjutnya?" Helena berjalan menuju ke kursi di seberang meja kerja. Mereka berada di BS, perusahaan yang didirikan oleh Barack dan Satya.


Barack menutup map yang ada di depannya, matanya tertuju ke pada Helena yang sedang memperhatikannya.


"Kumpulkan semua pemegang saham tertinggi di Grub Dirga!, , aku ingin melobi mereka"


"Kamu yakin?, , kamu bisa menghancurkan Grub Dirga jika kamu melakukannya" Helena berucap seolah dia tahu isi pikiran Barack.


Barack bermaksud untuk membeli semua saham dari beberapa pemegang saham yang menurutnya akan membuat dirinya bisa menduduki tingkat tertinggi di Grub Dirga. Dengan begitu dia bisa memiliki penuh atas perusahaan milik Adrian.


"Itu yang aku inginkan, , seperti saat dia menghancurkan keluargaku!!" Barack menatap tajam ke arah depan. Matanya menyala seakan kobaran api sebuah balas dendam terlihat jelas di sana.


Tak ada yang bisa di lakukan Barack selain membuat laki laki itu bertekuk lutut di depannya. Karena sampai sekarang dia tak bisa membuktikan bahwa laki laki itu. bersalah.


Helena tersenyun kecut ketika mendengar Barack ingin sekali menghancurkan Adrian.


"Aku siap membantumu"


"Dan satu lagi!, , ada hal lain yang harus kamu lakukan"


"Apa itu?"


♡♡♡


Setelah sekian lama akhirnya Cici dan Aryo bisa menemui Luna. Mereka berdua sampai di Paris malam hari dan paginya mereka membuat janji dengan Luna di sebuah restoran.


Luna mengajak David dan Lilis ikut dengannya.


"Cici??" Luna berseru memanggil sahabatnya, ketika melihat perempuan itu dari arah pintu masuk.


Seketika Cici langsung mengalihkan pandangannya, dia beranjak dan berlari ke arah Luna. Memeluk erat sahabat yang sangat di rindukannya.


"Kenapa kamu jahat sekali denganku!!, , aku tidak pernah berbuat salah denganmu. Kenapa kamu juga menghukumku seperti ini??" Cici tak bisa mengontrol emosinya ketika melihat Luna. Dia menangis tersedu sedu di pelukan sahabatnya.


"Heei, , kita bertemu untuk bersenang senang. Kenapa kamu malah menangis?" Luna mengusap lembut pipi Cici yang Basah.


"Aku" ucapan Cici terputus ketika melihat Seorang anak laki laki berdiri di sebelah Luna.


"Dia" Cici menunjuk ke pada Anak laki laki itu.


"David, , dia Putraku"


"Oooh ya ampuuunnn, , sayangkuuu!!" Cici menekuk lututnya untuk mempermudah dirinya memeluk tubuh David.


David hanya diam, Cici pastilah seperti orang asing baginya.


"Kamu tampan sekali, mirip" ucapan Cici terhenti lagi ketika mulutnya hampir saja menyebut nama Barack.


Cici melirik ke arah Luna, dan seperti dugaannya perempuan itu sedang menatapnya dengan tajam.


Cici pun memperlihatkan senyum palsunya.


♡♡♡


Mereka berlima pun duduk di kursi masing masing, nampak Cici sangat menikmati kedekatannya dengan David. Seolah dia merasa sedang melayani Anaknya sendiri ketika sedang menyuapi David.

__ADS_1


"Anak tante tidak ikut?" David melemparkan pertanyaan kepada Cici.


Sementara Cici dan Aryo hanya saling lempar pandang.


"Mm, , sayang. Tante sama Om belum memiliki Anak" Cici nampak murung, dia hanya memamerkan senyum palsunya ke arah David.


"Pasti nanti kalau Tante sudah punya Anak, Anak itu akan sangat senang. Karena ada Om dan Tante di sampingnya" David berucap dengan penuh makanan di mulutnya.


Sementara Cici hanya melirik ke arah Luna yang nampak terdiam memaku wajahnya ketika mendengar ucapan dari David.


Aryo, Cici dan Lilis pun terlihat saling lempar pandang.


Cici berdehem untuk menetralkan suasana.


"Eee, David sekarang kelas berapa?" Cici berucap untuk mengalihkan pembicaraan.


Luna masih terdiam, dia seakan tahu apa maksud ucapan Putranya.


♡♡♡


Barack nampak mengendarai mobilnya bersama Helena yang duduk di kursi samping. Mereka keluar dari parkiran kantornya menuju ke jalan uatama. Tujuan mereka pergi ke Samnun, namun Barack sengaja melewati jalan menuju ke minimarket dimana biasanya dia bertemu dengan David.


Helena membuang pandangannya ke arah luar.


"Kenapa kita lewat sini?"ucap Helena karena dia merasa kebingungan.


Mata Barack memandang ke arah luar, tatapannya menyelidik di sana.


"Aku mencari seseorang" pipinya mengembang ketika melihat David sedang duduk di kursi depan mini market sambil menikmati coklat.


Helena menatap Barack dengan tatapan menyelidik, dia mengurutkan kemana arah pandangan laki laki itu. Dan dia menemukan seorang Anak laki laki di sana.


Barack melepas sabuk pengaman dan melompat keluar dari mobil, seolah dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan David. Helena pun mengikutinya dari arah belakang.


"David?" Barack berseru memanggil Anak itu.


David mengalihkan pandangannya ke arah Barack seketika. Dia menaruh coklat di atas meja dan berlari ke arah laki laki itu.


"Om??" teriaknya.


Barack merentangkan tangannya, seakan sengaja menunggu David memeluknya.


David melingkarkan kedua tangannya di leher Barack.


Laki laki itu menggendong, mendekap tubuh David. Mereka berdua nampak tersenyum bahagia.


Sementara Helena menatap mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Jadi Anak ini yang sedang kamu cari?"


David melirik ke arah Helena. Dia seolah tak suka melihat perempuan itu.


"Mm, , " Barack mengangguk.


"Dia siapa Om?" David melihat Helena dengan tatapan waspada.

__ADS_1


Barack menurunkan David dari gendongan.


"Dia Helena, teman Om"


David tak bergeming dia hanya diam dan berjalan kembali ke arah kursi sambil menggandeng tangan Barack.


"Hei!!, , ya ampuunn!!, , Barack. Kenapa dia melihatku sperti itu" Helena tek terima ketika David memperlakukannya seperti seorang pengganggu bagi mereka.


Barack terkekeh melihat tingkah Helena yang tak mendapat sambutan hangat dari David.


David tak menyukai perempuan itu dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Bagi David Helena seperti akan merebut Ayahnya dari sisinya.


"Hei Anak kecil. Tidak biskah bersikap sopan denganku?? aku juga lebih tua darimu. Bukan hanya Ommu ini saja!" Helena berucap dengan menaikkan nada bicaranya. Dan pastinya perempuan itu juga bercanda ketika mengucapkannya.


"Om?" David meraih lengan Barack seolah mencari perlindungan dari laki laki itu.


"Helena!!, , kamu menakutinya" Barack berucap dengan lembut agar perempuan itu sedikit bersikap manis.


"Iya maaf, , bercanda kali"


David kembali menikmati coklatnya. Sementara Barack beranjak dari kursi dan masuk ke dalam minimarket.


Mata Helena mengerucut ke arah David, anak kecil itu memalingkan wajahnya ketika Helena berusaha menatap ke arahnya. Perempaun itu seperti sedang menyelidiki wajah David dengan lekat.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahmu ya!" Ucapnya kemudian.


David bersikap seolah tak mendengar ucapan Helena.


Barack keluar dengan membawa tiga buah minuman kaleng di tangannya dan memberikan satu untuk Helena.


"Kamu menunggu supir?" ucap Barack, dia kembali duduk di samping David.


"Iya Om"


"Om antar yuk!"


"Tidak perlu Om, , nanti supir malah bingung mencariku"


"Kamu bisa menghubunginya terlebih dulu" Barack berucap dengan nada menuntut.


Helena yang duduk di seberang meja, terlihat tengah sibuk untuk membuka minuman kaleng.


"Kenapa kamu selalu menolak tawaran Om untuk mengantarmu pulang?"


"Karena mukamu mirip penjahat kali!!" celetuk Helena.


Ujung mata barack pun melirik ke arah perempuan itu.


"Ya ya, , aku cuma bercanda!"


Barack membuka pengait yang ada di bagian atas minuman kaleng dan memberikan minuman itu kepada David.


"Minumlah"


David meraih minuman itu dari tangan Barack dan menegugnya perlahan.

__ADS_1


__ADS_2