Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#44 Tunggu Aku


__ADS_3

Luna melihat ke arah barack saat klara sedang membantunya membenarkan jasnya.


Leo melihat ke arah klara yang saat itu terlihat dengan sengaja acuh kepadanya.


"Aku tinggal sebentar ya" kata leo kepada luna.


Dan pergi keluar dari ruangan itu.


Barack pun melihat ke arah luna yang masih melihatnya, lalu luna membuang pandangannya ke arah lain.


"Luna?, , aku sudah siapkan gaunnya" kata klara sambil mengambil gaun yang sudah di siapkan oleh klara.


"Kamu bantu dia memakainya ya" kata klara kepada pegawainya.


Dan klarapun mengandeng lengan barack lalu mengajaknya keluar dari ruangan itu.


Wajah luna terlihat bete sekali saat itu. Tapi dia mencoba mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, seolah olah kalau melakukan itu membuat hatinya merasa lebih baik.


Diraihnya pundak luna oleh cici.


"kamu baik baik saja kan?" kata cici memastikan.


"Mm" jawab luna sambil menganggukkan kepalanya.


Dilihatnya seorang pegawai yang masih menunggu luna sambil membawa gaun itu dan sebuah sepasang sepatu yang terlihat haknya lebih tinggi dari yang pernah dia pakai.


"Kamu tinggalkan semua itu disini, aku akan memakainya sendiri" kata luna kepada seorang pegawai itu.


"Baiklah" pegawai itu pun pergi meninggalkan luna dan cici di ruangan itu.


"Aku bantu kamu memakainya ya?" cici menawarkan bantuan kepada luna.


"Tidak usah, kamu juga tunggu aku di luar saja" kata luna.


Dan cici pun juga keluar dari ruangan itu meninggalkan luna sendirian.


Diraihnya gaun berwarna kulit dengan taburan swaroski di setiap bagian gaun itu.


Luna terus memandangi gaun itu sambil membuang tubuhnya di atas sofa, dan menyandarkan tubuhnya untuk mencari sedikit kenyamanan di ruangan itu.


Luna terus melamun dan diam saja sambil sesekali melirik ke arah gaun dan sepatu yang warnanya senada dengan gaun.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk luna memantapkan hatinya.


Dia bergegas berdiri membelakangi pintu dan membuka bajunya, kemudian menggantinya dengan gaun itu.


Di arahkannya lengan luna ke belakang tubuhnya untuk meraih lesreting gaun itu, namun dia tidak bisa menjangkaunya dengan sempurna, karena hanya sebagian lesreting yang bisa dia benarkan


"Ci, , cici, , bisa masuk sebentar?, bantu aku membenarkan lesretingnya" kata luna dengan manaikkan nada suaranya berharap cici mendengar sambil terus mencoba meraih lesreting itu.


Terdengar suara pintu sedang di buka, dan suara kaki melangkah yang semakin lama semakin mendekat ke arah nya.


"Ci, bantu aku membenarkannya" kata luna.


Lalu setelah dibenarakn akhirnya gaun luna menutup dan membalut tubuhnya dengan sempurna.


"Terima kasih" kata luna sambil membalikkan badannya.


Namun matanya terbelalak saat melihat barack berdiri di depannya.


"Ee, , aku menyuruh cici, k, , kenapa kamu yang datang?" kata luna dengan wajah yang memerah karena merasa malu.

__ADS_1


Barack tiba tiba menekuk satu lututnya dan mencoba meraih kaki luna.


Luna pun semakin kaget dan dia melangkahkan kakinya ke arah belakang menjauh dari barack yang sedang berlutut di depannya.


"Mau apa kamu?" kata luna.


"Duduk" kata barack kepada luna untuk menyuruhnya duduk di sofa yang ada di belakangnya.


"Kamu mau ngapain?" tanya luna yang masih terus berdiri.


"Aku bilang duduk" barack menyuruh luna lagi.


"Aku tanya, kamu mau ngapain?" kata luna dengan sedikit emosi.


Karena luna tidak mendengarkan kata katanya, barack pun berdiri lagi dan mendekati luna, lalu barack meraih ke dua pundak luna dan mendorong pelan tubuh luna agar duduk di atas sofa.


"Duduk dan diam" kata barack sambil menekuk lututnya kembali.


Luna hanya diam dan masih merasa syok saat barack melakukan itu.


Terlihat tatapan mata luna dengan penuh pertanyaan dan kebingungan yang terus melekat ke arah barack yang sedang di depannya.


Barack meraih kaki luna dengan perlahan.


Dia mengambil plaster yang ada di saku jas sebelah kanan, dan membukanya lalu memasangkan plaster itu di bagian belakang tengkuk kaki luna.


Luna tahu kenapa barack melakukan itu, agar supaya kakinya tidak lecet, namun luna barharap lebih dari itu.


"Jangan pernah seperti ini lagi! , , jangan selalu membuatku salah sangka dengan sikapmu, , kamu pikir aku suka!! aku tidak mau kamu membuatku selalu salah sangka dengan sikapmu, mulai hari ini aku akan barhenti berharap ke" kata kata luna terhenti.


Karena dengan cepat barack meraih tengkuk leher luna dan ditariknya kepala luna lalu mencium bibirnya, di dorongnya kepala luna agar lebih dalam ciuamannya.


Mata luna terbelalak saat melihat wajah barack sangat begitu dekat dengan wajahnya bahkan saat menyadari kalau bibirnya telah menyentuh bibir barack. Nafas barack terasa di wajahnya, sampai membuat darah yang mengalir di tubuh luna terasa memanas.


Detak jantung luna semakin cepat detakkannya. Seperti detik bom waktu yang tinggal detik detik terakhir dan siap untuk meledak. Sampai sampai detakannya terdengar di rongga telinganya.


Aliran darahnya terasa semakin memanas dari ujung kaki sampai ke ujung kepalannya.


Barack terus mencium bibir luna, memaksa luna untuk menerima ciumannya, agar membuka sedikit mukutnua berharap luna membalas ciumannya, namun sebenarnya luna belum berpengalaman dengan perihal berciuman, karena saat itu bisa dibilang adalah ciuman pertamanya, dalam arti ciuman yang sesungguhnya bukan karena kecelakaan dan barack pun menyadari hal itu, Karena luna terlihat pasif dan penuh keraguan.


Barack membuka matanya sedikit untuk melihat wajah luna yang sudah menutup matanya.


Dia pun menutup matanya kembali dan masih meneruskan ciumannya.


Saat itu cici membuka pintu ruang ganti, dan melihat pemandangan di depannya yang membuat dia terperanjat kaget dan kemudian menutup pintunya kembali.


Dan di luar ruangan itu cici masih merasa syok, setengah tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat, saat melihat barack sedang mencium luna.


"Kamu kenapa? kok bengong di sini?" kata aryo yang baru saja datang untuk memenuhi undangan luna malam itu.


Suara aryo membuat cici tersadar.


Cici pun kaget dan membuang pandangannya ke arah aryo yang sudah berdiri di depannya.


"Tidak apa apa" kata cici yang masih terus meyakinkan dirinya.


"Luna ada di dalam kan?, akau akan menemuinya" kata aryo sambil meraih gagang pintu.


Dengan segera cici langsung menahan tangan aryo.


"Dia sedang mengganti bajunya, lebih baik kita cari minum yuk, aku kehausan, "kata cici sambil menarik paksa tangan aryo.

__ADS_1


Di dalam ruang ganti, barack melepaskan bibir luna yang sudah terlihat memerah dan sedikit membesar karena perbuatan barack.


Di usapnya bibir luna dengan lembut menggunakan ibu jarinya.


Luna mencoba mengatur nafasnya yang terengah engah karena sulit bernafas saat barack menciumnya.


Kemudian barack kembali menekuk lututnya dan tunduk di hadapan luna. Setelah selesai memasang plaster di kedua kaki luna, barack meraih sepatu yang ada di sbelahnya.


Kemudian membantu luna memakai sepatu itu.


"Jangan pernah berani berkata bahwa kamu akan berhenti berharap kepadaku lagi, atau aku akan melakukan yang lebih dari itu!" kata barack sambil melihat ke arah luna.


Luna hanya diam saja dan tidak mengerti apa maksut barack mengatakan hal itu, mengatakan kalau dia akan melakukan hal yang lebih dari apa yang dia lakukan barusan.


Mata luna terbelalak lagi, dan pikirannya maracau kemana mana.


Barack pun berdiri kemudian menekuk salah satu lututnya lagi namun kali ini bukan di lantai tapi di sofa dekat dengan paha luna di mana dia sedang duduk.


Salah satu tangannya meraih dinding sofa yang ada di belakang punggung luna untuk menopang badannya.


Dan kemudian barack mendekati wajah luna, bahkan sangat dekat sampai sampai nafas barack kembali terasa panas saat mengenai wajah luna.


"Kamu tidak boleh berhenti menyukaiku!, , , , Tunggu aku" kata barack sambil berdiri dan meninggalkan luna sendiri di ruang ganti itu.


Jantung luna seperti terasa mau copot, tubuhnya sempoyongan karena seprti tidak punya tenaga, saat akan mencoba untuk berdiri.


Seakan akan tenaganya terserap habis saat barack menciumnya tadi,


Dia terus berusaha mengatur nafasnya dengan pelan.


Matanya terbelalak lagi saat mendengar bunyi suara pintu di buka, dipikiran luna merasa takut kalau yang datang lagi adalah barack, namun ternyata yang datang adalah pegawai klara yang membawa alat makeup untuk merias wajah luna.


Beberapa saat setelah itu luna sudah siap dengan gaun dan riasan di wajah yang membuatnya terlihat lebih fresh dan tentunya tambah cantik malam itu.


Cici membantu luna berjalan menuju beckstage sambil menggandeng tangannya.


Sesekali cici melirik ke arah luna yang terlihat di wajahnya seperti sedang menahan senyumnya.


"Ciiiieeee senyum senyum sendiri, ada yang sedang happy sepertinya?" kata cici mulai menggoda luna sambil tertawa.


"Apaan sih ci, memang benar aku merasa senang karena sebentar lagi rancangan ku akan di lihat oleh banyak orang, siapa yang tidak senang coba?" kata luna sambil memperlihatkan senyumnya yang sepertinya tidak akan habis malam itu.


Cici menghentikan langkahnya dan memandangi wajah luna.


"Tunggu, bibirmu terlihat sedikit bengkak, gimana itu?" kata cici.


"Ha??? masak? serius kamu?" kata luna sambil memegangi bibirnya itu.


"Ciiiieeeee ciiiieeee, , ha haaaa, , ternyata barack nakal ya" cici menggoda luna lagi.


"Apaan sih kamu" luna mencoba mengelak lagi.


Namun cici terus menyipitkan kedua matanya ke arah luna.


"Jangan bohong aku melihatnya waktu barack men" kata kata cici terpotong karena luna langsung menutup mulutnya dengan tangan luna.


"Ssssshhtttt, , jangan keras keras, nanti kalau ada yang mendengar ih" kata luna sambil menarik tangannya kembali.


"Lagi pula kenapa harus di tutup tutupin, aku ini kan sahabat kamu dasar" kata cici.


"Yaaaaaa, karena aku belum yakin, sampai dia belum mengatakan kalau dia menyukaikku, dia memintaku untuk menunggunya, tapi sejauh ini dia sudah lebih berani memperlihatkan perasaannya, ketimbang yang dulu dulu" kata luna.

__ADS_1


"Terserah kamu lah, yang terpenting kamu bahagia lun" kata cici sambil terus membantunya berjalan menuju ke backstage.


***


__ADS_2