
Aryo meletakkan tubuh Cici di kursi, tangannya meraih sabuk pengaman untuk melindungi perempuan itu.
Laki laki itu mengemudikan mobilnya dengan perlahan, sesekali pandangan matanya tertuju pada perempuan yang ada di sampinya.
Cici membuka matanya, dia tidak sepenuhnya sadar saat itu. Kepalanya terasa berat. Dia melihat wajah Aryo berbayang di depan matanya.
"Kamu" ucapnya dengan nada datar, perempuan itu masih menyandarkan kepalanya di dinding kursi.
"Kenapa? wajahmu selalu menghantuiku seperti ini!" ucapnya, Cici berbicara dengan nada yang tidak beraturan karena mabuk.
"Kenapa?, , aku selalu berusaha membuang ingatanku tentangmu, , . Tapi kamu selalu ada di mana mana!"
Aryo berusaha menguasai perasaannya, tatapan matanya masih fokus ke jalan.
"Kenapa!!" perempuan itu menaikkan nada bicaranya.
"Kenapa kamu diam saja!!" teriaknya kemudian"
Aryo menhentikan mobilnya seketika, hingga membuat tubuh Cici hampir terpentok bagian dashboard jika tadi Aryo tidak memasang sabuk pengamannya ke tubuh petempuan itu.
Matanya melihat ke arah Cici yang sedang berusaha kembali ke posisi semula. Karena tubuhnya sempat terdorong ke arah depan.
"Kamu ingin, , membunuhku!!" Cici berucap dengan nada tinggi.
"Ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan untukmu. Tetapi kenapa kamu terlihat payah seperti ini" Aryo menatap lekat ke arah wajah Cici.
Perempuan itu terkekeh mendengar ucapan Aryo.
"Membahagiakan?" ke dua matanya semakin terasa berat saat itu.
"Ya! kamu benar. Ini hari yang membahagiakan buatku. Karena Rosa bilang besok kamu akan pergi ke Tokyo!" perempuan itu tertawa, sementara tangannya bergerak meraih kerah kemaja Aryo, menarik tubuh laki laki itu agar mendekat ke arahnya.
Dan dalam seketika raut wajahnya berubah kembali.
Matanya terlihat berkaca kaca kali ini.
"Kamu ingin pergi???" perempuan itu memastikan lagi. Nada bicaranya pun masih tak beraturan. Bau alkohol yang menyengat keluar dari mulut Cici dan memaksa menyeruak ke dalam hidung Aryo yang berada sangat dekat dengannya.
"Iya" jawab Aryo tanpa keraguan sedikit pun. Tatapan matanya pun nampak terlihat menajam.
"Kalau begitu, pergilah! Pergilah kemana pun kamu mau!!" Cici melepas kerah kemeja Aryo dan menarik kembali tangannya.
Perempuan itu kini menyandarkan punggungnya ke dinding kursi seperti semula.
Aryo masih bertahan di sana, masih menatap Cici dengan lekat.
"Kamu yakin? memintaku pergi?" suara Aryo terdengar rendah saat itu.
Cici mengubah arah duduknya. Kini perempuan itu memunggungi Aryo sembari menyandarkan kepalanya ke dinding sofa.
"Pergilah!!" ucapnya kemudian.
__ADS_1
Sementara Aryo pandangan matanya masih mengawasi ke arah tubuh Cici.
Ada rasa jengkel bercampur sedih di dalam hatinya yang dia rasakan kepada perempuan itu.
♡♡♡
Waktu menunjukkan pukul 10 siang, Cici masih terbaring di atas tempat tidur. Kini dia berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat. Dahinya berkerut ketika merasakan kepalanya seperti di hantam samsak hingga pening dan sangat sakit.
Perempuan itu merubah posisinya menjadi duduk, salah satu tangannya berusaha memijat kecil kepala, sementara matanya masih menyelidik di seluruh sudut ruang itu.
Ke dua matanya membulat penuh, ketika melihat ruangan itu sangat asing baginya.
"Ini?? kamar siapa?"
Perempuan itu memastikan sekali lagi dengan menggoyang goyangkan kepalanya untuk menyadarkan diri, agar oatak dan penglihatannya bekerja dengan baik.
"Hotel???"
Cici menemukan dirinya berada di sebuah kamar hotel.
Pikirannya mulai melayang jauh, ketika berusaha mengingat semua kejadian semalam.
Cici menelan ludahnya dengan susah payah, ingatan tentang dirinya saat beradu mulut dengan Aryo terlintas di benaknya.
Namun dia benar benar tidak mengingat kapan laki laki itu membawanya ke sebuah hotel.
Kedua tangannya kini meraba, memastikan seluruh tubuhnya masih tertutub rapih dengan bajunya.
Cici menghela nafas panjang seakan dia merasa lega bahwa semalam dia tidak berbuat aneh aneh dengan Aryo.
"Pergilah!"
Seketika Cici beranjak dari tempat tidur dan bergegas melangkah keluar dari kamar itu.
♡♡♡
Sebuah mobil taxi berhenti di terminal pemerbangan internasional bandara, Cici keluar dari mobil itu. Dia terlihat sangat berantakan rambut acak acakan, baju tidak rapih dan mascara yang menghitam di area matanya menambah penampilan perempuan itu semakin menyedihkan.
Cici berlari ke arah dalam, dia pergi mencari Aryo di setiap sudut.
Perempuan itu berdiri di depan tempat cek in, nafasnya pun memburu. Matanya mengawasi setiap orang yang berada di ruang tunggu dari balik kaca.
Dia tahu, kalau perasannya kepada Aryo sudah tidak bisa di bendung lagi. Dia berharap tidak terlambat untuk mengakui perasaannya.
"Pliss!!, , Aryo kamu di mana?" gumamnya dengan frustasi.
Cici mulai panik ketika dia tidak menemukan sosok Aryo berada di rerumunan orang itu.
Dia berusaha menerobos pintu masuk, namun penjaga di sana menahan perempuan itu dengan kuat.
"Tolong, biarkan aku masuk sebentar saja!" ucapnya dengan nada rendah. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk bisa menemui Aryo.
__ADS_1
"Maaf Nona! kamu tidak bisa masuk tanpa memperlihatkan tiket dan kartu identitasmu" ucap penjaga itu sembari mencengkeram lengan Cici yang masih berusaha menerobos pintu masuk.
"ARYOOO!!!, , JANGAN PERGI" teriaknya, Cici mengatur nafas yang terengah engah karena berusaha mereda perasaannya.
"Nona jaga sikapmu! ini tempat umum"
Penjaga itu melepas lengan Cici ketika tubuh perempuan itu sudah tidak melakukan perlawanan.
Ke dua kaki Cici melemas, dia menekuk lutut dan menumpunya di lantai untuk menopang tubuhnya.
Kemudian mengusap wajah gusarnya.
Pandangannya masih bertahan di sana, memastikan keberadaan Aryo sekali lagi.
Ketika mendengar panggilan melalui pengeras suara, agar semua penumpang segera memasuki pesawat. Cici segera berdiri dan sekali lagi dia berlari mendekat ke arah dinding kaca yang menjadi salah satu penghalang baginya untuk menemui Aryo.
Kedua bola matanya masih berlari kesana kemari mencari sosok Aryo dan itu entah untuk yang keberapa kalinya.
Perempuan itu semakin putus asa ketika semua penumpang sudah berjalan memasuki pintu masuk menuju ke pesawat hingga tak ada seorang pun yang berada di ruangan itu.
♡♡♡
Wajahnya lusuh, pandangan matanya terlihat kosong. Air mulai mengalir ketika perempuan itu memejamkan matanya.
Cici menyandarkan kepala ke kaca pintu mobil, seakan dia sedang menikmati rasa sakit di dalam hatinya karena telah membiarkan Aryo pergi tanpa memberi tahu perasaannya.
Ya, Cici sangat menyesal. Dia merasa telah menjadi perempuan yang paling naif di dunia ini.
Perempuan itu mengusap pipinya yang basah, tangannya bergerah meraih ponsel dari saku blazer yang di pakainya.
"Lun??, , bisakah kita bertemu?" ucapnya setelah Luna mengangkat panggilan darinya.
♡♡♡
Dua orang perempuan kini sedang duduk termenung di bangkunya masing masing. Dengan ditemani dua buah cangkir berisi coklat panas berada di atas meja. Luna menemui sahabatnya itu di sebuah kafe di pinggir jalan.
Matanya beralih menatap lembut ke arah Cici, mengawasi wajah perempuan yang terlihat sangat menyedihkan di depannya.
"Aku tidak pernah melihatmu seperti ini karena seorang laki laki!"
Cici selama ini selalu menjadi sahabat terbaik, teman, bahkan pembimbing, pendengar sekaligus pelindung bagi Luna.
Di mana ketika dia sedang terpuruk karena masalah percintaan maka Cicilah yang selalu akan berdiri paling depan membelanya.
Namun kali ini seakan semuanya berbanding terbalik.
"Aku memang buruk!" Cici mengumpat untuk dirinya sendiri. Tatapan matanya tertuju ke arah layar ponsel yang ada di atas meja.
"Di saat dia berada di dekatku, aku selalu menolaknya. Dan sekarang dia sudah pergi jauh" Cici menghela nafas untuk melegakan dadanya yang terasa sesak, sekali pun itu hanya untuk bernafas.
"Semua sudah terlambat! dan aku memang benar benar perempuan bodoh!!" ucapnya dengan tenang namun terdengar sekali bahwa perempuan itu menahan rasa emosi di nada bicaranya.
__ADS_1
"Memang apa yang ingin kamu bicarakan dengannya" mata Luna tertuju pada seseorang yang sedang berdiri di belakang sahabatnya itu.
"Jika, , anggab saja saat ini Aryo masih berada di sampingmu?" tambahnya.