Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#152 Bertunangan


__ADS_3

"Apa yang, , yang mau kamu"


"Aku hanya ingin membantumu melepas jaket, di sini terlalu hangat, ada beberapa penghangat yang aku nyalakan. Apa kamu tidak merasa kepanasan??" Barack mengusap keringat di pelipis Luna.


"Lihatlah kamu berkeringat" tambahnya sambil memperlihatkan jarinya yang basah karena keringat Luna.


Entah itu keringat karena Luna merasa kepanasan atau merasa gugub, dua duanya sampai tidak bisa dia bedakan.


"Tidak perlu, aku nyaman seperti ini" Luna merapatkan kembali jaketnya.


Mereka pun terdiam, seketika ruangan menjadi hening.


Ujung mata Barack nampak melirik ke arah Luna. Perempuan itu terlihat sangat manis. Di musim dingin ini membuat bibir perempuan itu terlihat memerah padam.


Barack menelan ludahnya dengan susah payah. Pikirannya tak bisa dia kendalikan dengan baik. Matanya selalu tertuju ke arah Luna yang ada di sampingnya.


Perempuan itu menyadari kalau barack sedang menatap ke arahnya. Namun dia bersikap seolah olah tak menyadarinya.


"Apa selama ini, , hidupmu berjalan dengan lancar?" Barack memulai pembicaraan. Dia mencoba memecah keheningan di antara mereka.


Luna meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja. Menyilangkan ke dua kakinya.


Jarinya saling bertautan dan menyangga salah satu lututnya. Dia duduk dengan membuat dirinya senyaman mungkin di sana.


"Baik, , bahkan lebih baik dari apa yang aku bayangkan sebelumnya" Luna berusaha memamerkan eksprasi wajah gembiranya. Dia seolah ingin terlihat bahagia walau pun hidup tanpa laki laki di sampingnya.


"Baguslah" Ucap Barack dengan lirih.


"Lalu, bagaimana denganmu??"


"Aku tidak pernah melewati sedetik pun tanpa memkirkanmu" ucapan Barack hampir membuat Luna tersedak ludahnya sendiri.


Perempuan itu kembali terlihat salah tingkah. Alih alih ingin membuat Barack jengkel, yang ada malah membuat laki laki itu semakin berani menampakkan perasaannya.


"Aku menghabiskan waktuku hanya tidur, dan duduk di balkon apartement untuk memikirkanmu. Bagiku satu detik terasa seperti satu hari. Membayangkan saja, bagaimana aku bisa melewati 24 jam setiap hari serasa mau mati" Barack berucap dengan terus menatap Luna.


Sementara perempuan itu, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tetapi, , aku bisa bertahan selama 7 tahun lebih. Dan itu untuk hari ini, , untuk hari di mana aku bisa bertemu denganmu lagi!"


"Aku pikir kamu hidup bahagia dengan perempuan itu" ucapnya merujuk pada Helena.

__ADS_1


Barack terkekeh sinis. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Malam itu aku tidak melakukan apa pun dengannya!"


Luna mengalihkan pandangannya ke pada Barack.


"Bahkan sampai saat ini kamu masih tidak mau mengakuinya!" ucap Luna dengan nada menunut.


"Itulah kebenarannya!!, ,bagaimana aku bisa mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan!!, , aku dan helena tidak pernah melakukan apa pun malam itu. Ada seseorang yang sengaja membuatku dan Helena berada di posisi seperti malam kejadian. Dia sengaja ingin membuat kita berdua salah sangka dan berpisah seperti sekarang" Barack berucap dengan nada datar. Dia sama sekali tak tersulut emosi.


"Dia??, , siapa maksudmu?"


"Kenapa kamu tidak bertanya dengannya langsung?, , dia selalu ada di sampingmu selama ini!!" Barack berucap dengan nada menuduh.


Laki laki itu menyeruput habis sisa coklat di cangkirnya.


Ujung mata luna mengerucut ke arah Barack.


"Maksudmu Adrian??, , dia tidak mungkin melakuknnya!"


Barack menatap ke arah Luna, dan tersenyum kemudian. Senyumnya terlihat sangat menjengkelkan bagi Luna. Seolah dia tahu kalau Luna tak akan mempercayai ucapannya begitu saja.


"Aku sudah yakin kalau kamu akan lebih percaya dengannya!"


"Tidak Barack!! aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat!, , dan malam itu. Yang aku lihat adalah kamu tidur dengannya. Dengan perempuan itu"


Barack menghela nafas panjang, menetralkan perasaannya.


"Kamu melihat aku melakukan apa dengannya??" Barack menuntut Luna untuk menjelaskan apa yang dia lihat malam itu.


Luna terdiam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Barack.


"Luna?" Barack meraih tangan Luna dan menggenggamnya.


"Tidak bisakah kita mulai dari awal lagi?" ucapnya penuh harap.


Luna terkekeh sinis, dia menaraik tanganya.


"Tidak!" Luna memerkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Aku sudah bertunangan dengan Adrian"

__ADS_1


Barack menatap mata Luna dengan lekat. Dadanya seperti di sambar petir hingga terasa nyeri di bagian terdalam sana. Darahnya memanas, sekujur tuhnya terasa lemas. Namun laki laki itu bisa mengontrol emosi di dalam jiwanya.


Dai menunduk menyimpan wajahnya yang kecewa di balik rambut yang menutupi wajahnya.


Laki laki itu pandai dalam menetralkan perasaannya. Dia seakan tak sakit hati ketika mendengar ucapan Luna.


Dia mengangkat kembali kepalanya, mengalihkan pandangan ke arah Luna. Dan menatap wanita itu dengan lekat.


Dia meyakinkan dirinya bahwa perempuan itu sedang berbohong.


"Bisa aku pinjam cincinnya?"


"Maaf aku tidak bisa melepas dan meminjamkan cincin tunanganku ke sembarang orang!" ucapnya dengan nada menyepelekan.


Ujung mata Barack tertuju pada leher Luna. Dia melihat dua buah kalung pembriannya yang masih bertahan di sana sampai sekarang.


Tidak terlihat dengan jelas karena sebagian tertutup oleh kemeja yang di pakai oleh Luna. Namun Barack bisa mengetahui bahawa itu kalung pemberiannya.


Flash back on


"Apa pun yang terjadi, jangan pernah lepaskan kalung ini"


Flaah back off


Sepertinya Luna dengan baik menyimpan kalung pemberiannya. Bahkan perempuan itu masih memakainya sampai sekarang. Sesuai perintahnya, agar tak melepas kalung itu apa pun yang terjadi.


Ujung bibir Barack terangkat, dia tersenyum penuh misteri. Seakan dia tahu bahwa perempuan itu juga masih berharap akan dirinya.


"Kamu sudah melupakanku?" ucap laki laki itu kemudian, dia beranjak dari kursi.


"Kenapa? kamu pikir aku tidak bisa melakukannya?" Luna menarik tubuhnya ke arah belakang ketika Barack mulai berdiri menghadap ke arahnya, hingga tak bisa bergerak lagi karena terpentok meja di belakang tubuhnya.


"Lalu jika memang benar kamu sudah bertunangan dengannya, , " sejenak Barack berhenti berucap, dia semakin mendekati perempuan itu.


Sementara Luna menatap Barack dengan penuh waspada.


"Jika aku melakukan ini. Apa bisa, , ini juga di sebut dengan perselingkuhan?"


Luna menelan ludahnya dengan susah payah ketika Barack semakin dekat dengannya hingga memaksa ke dua kaki Luna membuka dan kaki Barack berada di sela sela kakinya.


Sementara kedua tangan Barak menyangga tubuhnya dengan bertumpu di bibir meja yang ada di belakang tubuh Luna dan mengunci tubuh perempuan itu.

__ADS_1


Jantung Luna serasa mau meledak. Dia merasa Barack bergerak melebihi batasnya.


"Melakukan apa??" ucapnya seketika.


__ADS_2