
Mobil leo berhenti di tempat parkir yang sudah di penuhi oleh kendaraan para pengunjung.
Mereka semua sengaja datang untuk menyaksikan pesta kembang api nanti malam.
Para pengunjung yang datang terlihat sangat bahagia, bahkan senyum selalu menghiasi wajah mereka.
Luna masih terlihat murung, mungkin pengunjung yang sedang galau di tempat itu hanya dia saja.
Bagaimana tidak, raut mukanya sangat masam ketika turun dari mobil.
Leo melihat ke arah jam tangannya.
"Sudah jam 8 malam, satu jam lagi kembang apinya akan di mulai".
Leo menggandeng tangan klara sambil mengajaknya berjalan menuju ke jembatan.
klara langsung meraih tangan luna dan menggandengnya dengan satu tangan lainnya lagi sambil membuang senyum ke arah luna.
Di tengah tengah rerumunan orang mereka berhenti untuk menunggu pestanya di mulai.
"Kamu tunggu disini, aku akan membelikanmu minuman" klara mengajak leo untuk pergi meninggalkan luna sendirian di tepian jembatan.
Angin malam itu terasa sangat dingin menelusup ke tubuh luna melewati rongga kaoas yang di kenakannya tubuhnya nampak meringkup sambil melihati setiap gembok gembok yang terpasang di tepian dinding jembatan itu.
Datanglah sepasang kekasih ke tepian jembatan sambil membawa sepasang gembok yang akan di pasang di jmbatan itu.
Setelah berhasil memasangnya dilanjutkan dengan membuang kunci gembok ke arah danau.
Barharap cinta mereka selalu bersama seperti sepasang gembok yang saling berkaitan.
Nampak sepasang kekasih itu sangat bahagia.
Luna merasa cemburu ketika melihat ke sekeliling, karena setiap yang datang mereka selalu dengan pasangan mereka masing masing, sepertinya memang hanya luna yang sendiri.
Dari kejauhan klara mengambil foto luna dari arah belakang.
Sambil tersenyum kegelian dia segera mengirim foto itu kepada barack.
Leo merasa aneh dengan sikap klara, karena dia selalu senyum senyum sendiri ketika melihat ke arah layar ponsel miliknya.
"Kamu kenapa senyum senyum terus dari tadi?".
"He he he, , rahasia, kita lihat saja nanti" Klara menyimpan ponselnya kembali.
Di sisi lain barack sedang turun dari mobilnya.
Dia melihat ke arah sekitar untuk mencari keberadaan luna.
Orang orang berlalu lalang membuat barack merasa kesulitan untuk mencarinya, apa lagi posisinya sekarang sudah gelap.
Baru beberapa langkah meninggalkan mobil, tubuhnya tiba tiba memaku.
Dia tersenyum melihat seorang wanita berdiri di tepian jembatan sambil membelakinginya.
Barack berjalan mendekat ke arahnya.
"Luna" dia meraih pundak wanita itu dengan penuh semangat.
"Ha??" wanita itu membalikkan badanya.
Wajah barack terlihat kecewa ternyata wanita itu bukan kekasihnya.
dduuuuaaaarrrrr, , ,
Suara kembang api mulai saling bersaut sautan berbarengan dengan suara orang orang yang bersorak sorai ketika menikmati keindahannya.
Warna warni apinya terlihat menghiasi malam itu menjadi lebih indah.
__ADS_1
Barack masih belum berhasil menemukan luna, apa lagi ketika kembang apinya mulai di nyalakan orang orang semakin ramai memenuhi jembatan.
Barack menghentikan langkahnya ketika ponselnya bergetar.
Dilihatnya sebuah foto luna dari arah belakang yang di kirim oleh klara.
Dengan teliti barack memperhatikan sekeliling luna dari foto itu.
Dia langsung menyimpan ponselnya kembali dan bergerak lagi untuk mencari luna.
Berusaha mencari luna sesuai dengan petunjuk dari yang dikirim oleh klara tadi.
Sekuat tenaga berusaha melewati rerumunan orang yang semakin memadati jambatan itu.
Akhirnya dia melihat luna sedang memandangi langit malam yang penuh warna warni karena kembang api.
Sesekali wajahnya nampak berubah rubah warnanya sesuai dengan warna kembang api yang sedang menyala di gelapnya malam.
Tangannya menyelinap ke pinggang luna memeluk tubuhnya dari arah belakang dengan erat.
Tubuh luna melakukan sedikit gerakan karena kaget dan seperti berusaha menolak pelukan itu.
Sedikit mengarahkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang tiba tiba memeluknya. Di pikirnya tidak mungkin barack.
Namun, tiba tiba suara barack menyusuri rambut luna yang tergerai dan berusaha menggelitiki telinganya.
"Jangan bergerak, , biarkan seperti ini sebentar saja" suara barack terdengar lembut di telinganya.
Luna masih belum percaya, dengan barack yang sekarang ada di belakanya saat itu.
Dia berusaha membalikkan tubuhnya untuk lebih memastikan.
Menyentuh lengan barack yang masih melingkar di pinggangnya, tangannya menelusuri setiap jengkal tubuh barack.
Rasa ketidak percayaannya masih menyelimuti wajah luna.
Tangannya mulai bergerak naik ke arah wajahnya.
Dia menarik kembali ke dua tangannya dari wajah barack dan mencoba membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya.
Matanya mulai barkaca kaca sepertinya dia sudah puas meyakinkan dirinya bahwa barack benar benar ada di depannya.
Barack tidak bergeming dia membiarkan luna memuaskan dirinya untuk menatapnya kali ini.
Matanya bergejolak akan rasa rindu yang menggebu gebu kepada wanita yang ada di hadapannya.
Bibirnya memaku, karena tak ada sepatah katapun yang bisa mewakili perasaan bahagianya kali ini.
"A, , aku" kata kata luna terbata bata.
"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak ingin aku dengar!" barack berucap seperti tahu kalau luna akan meminta maaf padanya.
Barack mendorong tubuh luna agar lebih mendekat ke tubuh barack.
Sekilas terlihat barack mengangkat kepalanya dengan cepat, seperti menanyakan sesuatu kepada luna.
Luna tidak mengerti apa maksut barack melakukan itu.
"Kenapa" dia bertanya untuk memastikan.
"Kenapa tanganmu di situ?".
Barack berusaha menyuruh luna untuk menyingkirkan ke dua tangannya yang sedang di peluknya sendiri.
Baginya itu sangat menggangu.
Luna merasa malu, tetapi dia tidak tahu apa yang harus di lakukan dengan ke dua tangannya itu.
Makanya dia langsung menurunkan ke dua tangannya itu seperti sikap siap dalam baris berbaris.
Barack pun terkekeh melihat luna melakukan hal itu.
__ADS_1
Dia menarik tangannya kembali yang sempat dilingkarkannya ke pinggang luna.
Meraih ke dua tangan luna dan menuntunnya ke leher barack.
Luna sangat malu, pipinya memerah.
Sesekali pandangan matanya di tundukkan ke arah bawah untuk menghindari tatapan mata barack yang membuatnya malu.
Kembali barack melingkarkan tangannya ke pinggang luna, kali ini pelukannya terasa lebih intim ke tubuh luna.
Barack menunggu luna untuk mengangkat kepalanya kembali.
Namun luna masih tetap terus melihat ke arah bawah.
Terpaksa barack menundukkan kepalanya lebih rendah lagi untuk menengadah agar bisa melihat wajah luna.
Tapi dia tetap menghindari pandangan mata barack.
Barack menangkupkan bibirnya untuk menahan senyumnya.
Luna dipaksa untuk mengangkat kepala dengan menggunakan keningnya barack.
Menampelkan hidungnya menggelengkan sedikit kepala untuk memudahkannya mencium bibir luna yang mungil itu.
Baru saja mengecupnya, luna sudah menarik kepalanya ke arah belakang karena merasa malu.
"Kenapa??, , coba lihat sekitramu" barack memberitahu luna bahwasannya semua pasangan kekasih di atas jembatan itu sedang saling berciuman.
Pipi luna semakin merona melihatnya.
Kembali barack melayangkan ciumannya ke bibir luna saat dia masih sibuk melihat ke arah sekitar.
Luna di paksa untuk kembali menerima ciuman dari barack itu.
Dia menutup matanya dan mengikuti alur ciuman barack.
Untuk memudahkan barack menciumnya lebih dalam.
Dari ke jauhan klara dan leo tersenyum melihat ke arah mereka.
Selesai pesta kembang api, barack menggandeng tangan luna untuk menemui klara dan leo yang sedang duduk di atas mobil karena sengaja menunggu mereka.
Melihat senyum luna telah kembali seperti biasanya, leo merasa sangat senang malam itu.
"Aku senang melihat kamu kembali seperti luna ku yang dulu" leo mengusap kepala luna dengan lembut.
"Terima kasih buat semuanya" nada bicara barack terdengar sedikit menahan rasa angkuhnya malam itu karena dia harus menerima bantuan sekali lagi dari leo.
"Maaf mu sudah tidak berguna!" nada bicara leo terdengar seperti sedang mengejek barack kali ini.
Luna dan klara pun terkekeh kekeh di butanya.
"Gimana kamu mau pulang bersamaku, , atau sama, , , barack??" klara berbicara sambil memelankan suaranya di akhir kalimatnya.
Luna hanya diam tersipu, nampak dia menggigit bibir bawahnya karena menahan malu.
Barack melihatnya ketika luna melakukan itu.
Sekilas dia langsung mengecup bibir luna di depan klara dan leo.
"Yaa ampunnn, , terang terangan banget kamu sekarang" klara tertawa terbahak bahak melihat barack semakin berani memperlihatkan kemesraannya.
Luna melebarkan matanya ke arah barack, seakan akan dia merasa jengkel kenapa harus menciumnya di depan mereka.
"Jangan pernah menggigit bibir bawah mu lagi di depan umun, karena aku tidak tahan melihatnya" bisik barack, namun klara dan leo masih bisa mendengarnya.
Leo pun menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan sikap barack.
Sedangkan klara terus terawa karena merasa puas melihat sikap keduanya begitu terbuka sekarang.
"Kalau pun dia menolak pulang dengan ku, , aku akan memaksa membawanya" ucapan barack tersirat akan sesuatu makna yang tidak bisa di cerna oleh kepala luna.
__ADS_1
***