
Atas permintaan Bunga akhirnya Antonio mengantar perempuan itu kembali ke desa. Meminta waktu untuk memikirkan semuanya.
Dalam perjalanan pulang keringat dingin membasahi keningnya. ‘Kenapa denganku?’ tubuhnya lemas dan selalu gelisah.
Setelah mengantar Bunga, Antonio pamit untuk kembali ke kota. "Mohon agar Nona untuk mempertimbangkan kembali keputusan Tuan Rodrigo, beliau benar-benar sangat membutuhkan Nona. Jika nanti Nona menerima mandat yang diberikan oleh Tuan Rodrigo, saya berjanji saya akan membantu Nona" ucap Antonio. Dalam arti jika Bunga bersedia menjadi presdir di perusahaan yang dimiliki oleh Rodrigo dengan segenap jiwa Antonio akan mengabdikan hidupnya untuk Bunga.
Bunga hanya diam tak tahu harus menjawab apa karena merasa sangat lemas otaknya tak bisa bekerja dengan baik. “Baiklah... nanti aku akan memberimu kabar!” kemudian Bunga mengantar kepergian Antonius menuju kembali ke kota.
***
Hari berganti hari hingga tak terasa 1 bulan sudah Davien menjalani hidupnya tanpa Bunga. Lelaki itu menghabiskan waktunya dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Dia sengaja ikut turun tangan untuk menangani proyek perumahan yang akan dibangun di desa. Sengaja menghabiskan waktu untuk menyibukkan diri agar tidak memikirkan Bunga.
Di ruang rapat Davien lebih memilih fokus ke map yang ada di depan mata sementara yang lain memperhatikan ke arah depan melihat pegawai mempresentasikan materinya.
Tampak beberapa kali Davien membolak-balik lembaran kertas yang ada di tangan. Keningnya berkerut kasar ujung matanya terlihat mengerucut dia akhirnya tau di mana proyek perumahan itu akan dibangun. ‘Ini... lokasi ini bukankah desa di mana bunga tinggal?’ gumamnya dalam hati.
Davien menoleh menatap serius ke arah James. Ternyata lelaki itu tahu tapi tak memberitahu Davien karena biasanya dia lebih memilih untuk menerima hasil bersih dari proyek-proyek yang sebelumnya.
Setelah selesai rapat Davien membicarakan hal itu dengannya. "Sebenarnya saya ingin memberitahu Anda presdir, tetapi karena Anda sedang banyak masalah, saya tidak berani untuk mengatakan hal ini. Saya sempat memberitahukan kepada presdir grup Wang untuk memindahkan lokasi tetapi beliau dan yang lain tidak menyetujuinya" James mencoba untuk menjelaskan bahwasanya rekan kerjanya tidak mau berpindah lokasi. Mereka tetap ingin proyek itu dibangun di desa yang sudah disepakati.
***
Bunga menerima tawaran dari Mr.Rodrigo tetapi dia harus menyelesaikan tugasnya di Amerika setidaknya selama 6 sampai 7 tahun. Setelah itu Bunga baru bisa mengurus perusahaan yang di paris.
Minggu pertama Bunga tinggal di Amerika semuanya berjalan dengan lancar, selama itu Marvel selalu membantunya mulai dari menyelesaikan berbagai masalah di perusahaan. Mengawasi para pegawainya, dia juga belajar bagaimana caranya menjadi pemimpin yang baik.
Walau pun Bunga bisa belajar dengan cepat tetapi perempuan itu tak mudah merasa puas. Setiap hari dia selalu belajar-belajar dan terus belajar banyak membaca buku banyak melakukan survei dan sering turun ke lapangan. Jika ada yang membuatnya tak paham terkadang dia tak malu untuk bertanya kepada Antonio mengenai permasalahan perusahaannya yang ada di Amerika.
"Aku yakin kau bisa melakukannya Bunga" ucapan yang keluar dari mulut Marvel seketika mengingatkan Bunga kepada Davien, lelaki itu dulu juga sering berkata seperti itu untuk memberinya semangat.
“Kau baik-baik saja? Apa kau butuh sesuatu?” Marvel tampak mengkhawatirkan keadaan Bunga, akhir-akhir ini dia sering kelelahan dan kurang istirahat.
“Tidak apa-apa kak, aku baik-baik saja! Uhmmm... kita harus menyelesaikan pekerjaan malam ini juga!” tak sedikit pun Bunga patah semangat, tekadnya kuat untuk bisa menjadi lebih baik.
***
Hampir 7 tahun berlalu selama itu Davien menjalani hidupnya dengan baik walau pun semua orang tahu Davien seperti mayat hidup yang berkeliaran. Terlebih lagi ketika mengetahui Bunga memilih pergi meninggalkannya.
Bahkan semua proyek termasuk pembangunan perumahan di desa itu juga sempat mangkrak hampir empat tahun karena Davien dan beberapa rekan kerja lainnya berseteru tentang satu rumah yang tak ingin Davien musnahkan.
Rumah itu rumah milik Bunga. Karena Davien memiliki saham terbesar jadi dialah yang memutuskan segala sesuatunya.
Akhirnya Davien memulai kembali untuk membangun perumahan itu, dengan satu persyaratan dia tidak ingin rumah Bunga dihancurkan.
Lelaki itu terlihat mengenakan setelan jas berwarna takhi yang melekat indah dan pengaman topi yang melindungi kepalanya. Davien sedang melakukan pengecekan pada pembangunan.
Ketika sibuk melihat konstruksi yang tak jauh dari rumah milik Bunga, berjarak kurang lebih sekitar 100 meter pandangan Davien teralihkan kepada seorang anak kecil yang berdiri di depan rumah itu sembari memeluk boneka dan menatap bangunan yang menjulang tinggi di belakang Davien.
Dia sempat memastikan sekitar mengawasi apakah dia datang sendiri atau bersama kedua orang tuanya. “Apa masih ada warga desa yang akhir-akhir datang ke tempat ini?” ucapnya.
“Tidak presdir, semua sudah mendapat tempat tinggal yang lebih layak!”
Pikir Davien, lalu siapa anak kecil itu jika semua penduduk telah pergi. Saking penasaran Davien kemudian menghampirinya karena tempat itu berbahaya untuk anak kecil.
Langkahnya semakin dekat, semakin jelas juga Davien melihat wajahnya. Dia seorang anak perempuan, sangat cantik bermata coklat bulat dengan bulu mata lentik. Pandangannya kini tertuju pada boneka yang ada di pelukannya. Sempat terdiam karena boneka itu mengingatkan pada Bunga. Boneka matahari yang dibawa anak kecil itu berukuran besar.
Ghm! Davien berdehem sengaja karena anak itu tak menghiraukan kedatangannya. Dia selalu menatap gedung yang ada di depan sana.
Ini pertama kalinya Davien berinteraksi dengan anak kecil, terlihat bingung entah bagaimana harus memulai percakapan. “Apa yang kau lihat? Kau sepertinya sangat serius?” Davien menekuk kakinya agar tinggi badannya sejajar dengan anak itu.
“Tidak, aku hanya sedang melihat bagaimana cara mereka bisa membangun gedung setinggi itu. Aku pikir dulu mereka bisa terbang untuk bisa sampai ke atas sana.” Anak itu bercerita dengan sangat polos sampai membuat Davien terkekeh mendengarnya.
Davien heran karena anak itu bahkan tidak pernah melihat kearahnya. “Kau datang kemari sendirian?”
“Tidak, Ayah dan Ibu sedang berkunjung ke makam nenek.”
“Oh, oke... uhmmm kau tahu kalau ini tempat berbahaya anak kecil di larang mendekat. Aku takut... tapi sepertinya kau tahu kalau kau tidak boleh melewati batas itu! Kau mengerti?”
Anak itu tidak menjawab dia tetap fokus melihat alat berat yang sedang mengangkat besi di atas sana.
“Hai! Apa kau mendengarku? Ah! Sulit sekali ternyata berbicara pada anak kecil!” Davien ingat kalau harus kembali ke kantor tapi dia merasa khawatir dengan anak perempuan itu. “Hei! Kapan orang tuamu akan datang? Apakah masih lama?”
__ADS_1
“Entah!” jawabnya singkat.
Davien menghela nafas panjang frustasi dan akhirnya menyerah. “Oke, baiklah kalau begitu kau harus tetap di sini sampai orang tuamu datang. Kau mengerti?”
Anak kecil itu menghela nafas panjang. “Ah ya ampun! Kenapa paman berisik sekali?” akhirnya dia mengalihkan pandangannya ke Davien.
“Apa? Kau bilang aku berisik? Ya ampun! Andai wajahmu tidak imut mungkin aku sudah menggigitmu!” bisa-bisanya anak kecil itu membuatnya kesal. “Kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu?”
Anak perempuan itu sedang terpana menatap wajah Davien, layaknya seorang gadis dewasa dia jatuh cinta pada pandangan pertama. ‘Bukankah dia paman yang sering muncul di tv? Uhm... dia sering terlihat bersama model-model cantik!” dia ternyata sering melihat wajah Davien di acara tv, karena itu juga suatu saat nanti dia ingin menjadi artis serta model yang bisa berjalan berlenggak-lenggok di catwalk.
Melihat ekspresi yang berbeda dari wajahnya, Davien mulai bingung karena anak itu terus menatapnya. “Hei? Kau kenapa?”
Dengan sangat antusias anak itu mengulurkan tangannya. “Paman bisa memanggilku Juliet!”
“He?” Davien sempat bingung tapi akhirnya dia paham kalau anak kecil itu sedang memperkenalkan diri. “Ooh, oke. Jadi aku bisa memanggilmu Juliet?”
Dia mengangguk cepat bibirnya bahkan tersenyum lebar.
Davien masih bingung padahal tadi anak itu seperti tidak tertarik bicara dengannya tapi sekarang dia terlihat berbeda. Masih terus menatap wajahnya dan tersenyum. “Uhmm... kau bisa memanggilku paman Davien!”
“Baiklah paman Davien, senang berkenalan denganmu!” senyumnya tak pernah hilang sikapnya juga lebih ramah.
‘Ada apa dengan anak ini? Kenapa cepat sekali berubah!’ Davien dibuat bingung, tapi anak kecil itu masih terus tersenyum dan melihat kearahnya. ‘Ya ampun! Dia membuatku malu!’ Davien salah tingkah karena senyum dan mata Juliet sangat bersinar saat menatapnya. “Juliet, kau tidak apa-apa sendiri di sini menunggu orang tuamu? Paman tidak bisa menemanimu lebih lama karena harus kembali bekerja.”
“Kembali bekerja?” sahut Juliet secara cepat, seakan dia sangat antusias mendengar Davien akan kembali ke kantornya. ‘Pasti di sana banyak sekali model-model cantik. Bagaimana caranya agar aku bisa ikut dengannya?’
“Juliet maaf paman terburu-buru, kau harus tetap di sini jangan melewati garis itu oke!” Davien mengusap kepalanya kemudian melangkah menuju mobilnya.
“Aduh! Aduh! Aduuuh... bagaimana ini perutku sakit sekali. Sepertinya aku sangat lapar... ya ampuuun! Sepertinya Ibu dan Ayah juga akan datang terlambat!” Juliet pandai berakting seolah benar-benar tersiksa karena kelaparan. Padahal dia ingin sekali Davien mengajaknya.
Davien memaku langkahnya mendengar rintihan Juliet dia merasa tak tega meninggalkannya sendirian, tapi bagaimana jika orang tuanya nanti mencari Juliet. Sementara dia sudah tak ada waktu lagi dan harus kembali ke kota.
“Aduuuuuuh... perutku semakin meliliiiit. Tuhan! Tolong kirim seseorang untuk membawaku pergi dari sini aku ingin segera membeli makanan!” Juliet sempat melirik ke arah Davien memastikan apakah usahanya berhasil.
Davien kembali melangkah mendekatinya. “Juliet? Apa kau tinggal di kota?”
“Iya paman, kenapa?”
“Uhmmm... kau ingat alamat rumahmu?”
“Baiklah, kalau begitu apa kau mau ikut dengan paman unt–,” ucapnya terhenti, Davien terkejut melihat Juliet langsung jalan menuju ke mobilnya.
Anak itu masuk ke dalam mobil duduk di depan kemudian melambaikan tangan kearahnya. “Ayo paman, bukankah kau ingin mengajakku membeli makanan?”
Davien masih tak percaya anak itu dengan mudahnya naik ke mobil orang yang belum lama dikenal. “Apa anak itu tidak memiliki rasa takut?” Setelah masuk ke mobil Davien tak langsung menyalakan mesinnya. Kini dia lebih fokus dengan Juliet yang seakan terlihat bahagia.
“Kenapa paman?”
“Tunggu, kau... apa kedua orang tuamu tidak pernah bilang kalau harus selalu hati-hati dengan orang yang baru kau kenal? Kau tidak takut paman akan menculikmu?”
“Tidak! Wajah Paman terlalu tampan untuk menjadi seorang penculik.”
Davien terkekeh lagi-lagi dia dibuat malu dengan Anak itu. “Berapa umurmu?”
“Uhmmm... 17 tahun!”
“Haaa???! 17 tahun?” Davien hari ini dibuat stres karena anak perempuan itu.
“Maksudku nanti ketika umurku 17 tahun aku ingin menjadi seorang model!” Juliet tersenyum seolah berhasil membuat Davien terkejut.
Lelaki itu menghela nafas panjang melegakan dada, baru saja dia bertemu dengan Juliet tapi anak itu bersikap santai seolah mereka sudah mengenal lama. “Kau masih kecil tapi cara bicaramu seperti orang dewasa, aku jadi penasaran dengan orang tuamu. Apa yang mereka ajarkan selama ini!” Davien mulai mengemudikan mobilnya.
“Aku tinggal di Amerika selama 5 tahun, saat itu Ibuku lebih sering banyak bekerja pulang pergi dari Amerika ke Paris.”
Davien mulai fokus mendengar ceritanya sembari menyetir menuju ke kota.
“Dulu aku lebih sering menghabiskan waktuku di sekolah, tapi sekarang aku senang karena di Paris Ibuku memiliki banyak waktu luang bermain denganku, paman!” Juliet tersenyum lebar saat bercerita dengannya.
Davien mulai bertanya-tanya anak seumuran Juliet tak memiliki rasa takut sedikit pun saat berada di sekat orang dewasa yang baru saja dia kenal, bahkan sepertinya Juliet juga sangat nyaman.
Perjalanan memakan waktu lama Juliet tak kuat menahan rasa mengantuk yang mulai datang dia pun akhirnya tertidur pulas.
__ADS_1
Davien fokus dengan jalan di depan, saat merasa suasana di mobil berubah sepi Davien baru tersadar kalau Juliet ternyata sudah tertidur. ‘Dasar... anak ini!’ Davien tersenyum saat mengingat tingkahnya yang aktif.
Dalam perjalanan Davien mendapat panggilan dari James bahwa semua orang sudah menunggu, akhirnya James tak ada waktu untuk mengajak Juliet makan. Dia membawa Juliet ke tempat kerja dan meminta James menyiapkan makanan.
***
Melihat Davien turun dari mobil, James yang menunggu kedatangannya langsung menyambut. “Presdir?” James mengambil alih berkas dari tangan Davien. Tapi seketika pandangannya tertuju ke Davien yang tengah sibuk di kursi sebelah. James melihat Davien tengah berusaha membangunkan seorang anak perempuan. “Anak siapa itu?” gumamnya.
“Juliet? Hei... Juliet kau mendengar suaraku?” dengan suara lembut dan tangan yang menyentuh pipinya, Davien mencoba membangunkan Juliet. Sebenarnya dia tidak tega karena anak itu tidur dengan nyenyak. Tetapi dia lebih tidak tega jika meninggalkan Juliet sendirian di mobil. “Juliet?” lagi Davien membangunkannya. Sesaat dia sempat terdiam memandangi wajah polos Juliet yang menggemaskan. Bibirnya tersenyum kemudian. “Anak ini manis sekali, yaah walaupun sempat membuatku kesal!”
Juliet akhirnya bangun, matanya yang belum terbuka sempurna melihat sosok lelaki di depan matanya. Wajahnya tak begitu jelas tapi Juliet merasa pernah bermimpi hal yang sama. “Ayah?!” Juliet tersenyum kemudian memeluknya.
Davien terkejut mendengar Juliet memanggilnya Ayah terlebih lagi ketika anak itu memeluk dirinya. Tak mungkin Davien mendorong tubuhnya, yang dilakukan Davien saat ini mengusap kepalanya dengan lembut. “Kau sudah bangun?”
Juliet tersadar bahwa yang dia peluk adalah orang lain. “O.ow maaf paman, aku pikir tadi–,”
“Tidak apa-apa, maaf paman tidak bisa memenuhi janji mengajakmu makan di luar. Tapi paman James sudah menyiapkan makanan di ruang kerjaku. Apa kau keberatan makan di sana sembari menunggu paman selesai kerja?”
“Ha? Apa sekarang aku berada di D Entertainment?” Juliet melompat turun dari mobil, ekspresinya sangat gembira ketika tahu dia ada di tempat impiannya.
Daviem tersenyum melihat Juliet tertawa gembira. Tapi seketika senyumnya perlahan menghilang. “Dari mana dia tahu kalau ini D Entertainment?” gumamnya.
“Paman? Bolehlah aku masuk ke dalam?” pintanya.
“Tentu, masuklah!” Davien dibuat terkejut ketika melihat Juliet mendekat lalu menggandeng tangannya.
“Ayo paman, kita masuk!” ajaknya.
Davien seakan terhipnotis anak itu membuatnya menurut. Sebelumnya dia yang tak pernah dekat dengan anak kecil kini saat dia bersama dengan Juliet bergandengan tangan berjalan melewati lobi menarik perhatian semua orang. Aura gelap serta raut wajah suram yang biasa mereka lihat seakan menghilang, Davien terlihat gembira, senyum yang sudah bertahun-tahun hilang itu tiba-tiba terlihat kembali menghiasi bibirnya. Tampak aura kebahagiaan mengelilingi tubuhnya.
Banyak menimbulkan opini ketika semua orang melihat mereka berdua.
“Siapa anak itu?”
“Akhirnya setelah sekian lama aku bisa melihat presdir tersenyum lagi.”
“Aura presdir terlihat sangat berbeda, siapa anak perempuan yang bersamanya?”
“Wah... mereka terlihat seperti ayah dan anak! Aku jadi membayangkan bagaimana rasanya memiliki suami seperti presdir. Pasti aku dan anakku akan diperlakukan seperti seorang ratu dan putri!”
“Siapa anak perempuan itu? Tapi... kalau dilihat-lihat wajah mereka hampir mirip!”
***
Saat di dalam lift Juliet bersenandung, walaupun tidak jelas lagu apa yang dia nyanyikan. Melihat anak itu selalu ceria dan tersenyum Davien seperti menemukan sesuatu yang baru dalam hidupnya.
Davien menunduk saat tangan Juliet yang begitu terasa mungil mulai bergerak mengayunkan tangannya ke depan dan ke belakang. Entah kenapa Davien menurut dan mengikuti keinginannya tanpa protes.
James yang berdiri di belakang tersenyum tipis melihat pemandangan langka, ini kali pertama dia akhirnya melihat Davien tersenyum setelah sekian tahun lamanya.
Lift terbuka Davien membawanya ke ruang kerja. Saat sampai di sana Juliet histeris melompat kegirangan. Melihat banyak makanan yang tersaji di meja.
“Wwooooohhh... banyak sekali makanannya paman, apakah semuanya boleh aku malan paman?”
“Hmm, ya semua ini milikmu. Kau boleh menghabiskannya itu pun kalau perutmu muat” Davien tersenyum melihat tingkahnya.
Juliet naik ke sofa kemudian melompat-lompat. “Asyik! Asyik! Juliet boleh makan semuanya!”
Davien melarang James yang ingin berusaha menghentikan Juliet ketika naik ke sofa. “Biarkan dia melakukan apa pun yang dia inginkan!”
“Baik Tuan”
“Kau pergilah ke ruang rapat, sebentar lagi aku akan menyusul!” perintahnya.
“Iya, Presdir.” James melangkah keluar dari ruangan.
Setelahnya Davien meminta Juliet untuk tetap berada di ruangan itu sampai dia kembali. “Kau menyukai makanannya?”
“Iya, paman! Paman James sangat baik karena membeli banyak coklat untukku, tidak seperti Ibu dia membeli coklat hanya setelah aku makan sayur!”
Davien tersenyum melihat ekspresi wajah Juliet yang lucu ketika bercerita. “Ingat kata paman, Juliet tidak boleh keluar dari ruangan ini, oke?”
__ADS_1
“Uhm! Iya paman, tolong sampaikan pada paman James terima kasih untuk coklatnya! Besok Juliet akan membawakan hadiah untuk paman James.”
“Iya, iya... paman ada pekerjaan lain, Juliet tunggu di sini, oke?” Davien sempat mengusap kepalanya sebelum keluar.