Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
6 CEO: Love's Romance Cokelat


__ADS_3

Koyoko tengah sibuk membersihkan kaca mini market, tangannya yang sedang bergerak dengan cepat memutar dan naik turun pun terhenti ketika melihat sosok yang nampak tak asing baginya.


Ujung matanya mengerucut ke arah laki laki yang baru saja keluar dari mobil. Raut wajahnya berubah cerah seketika saat melihat Jacq, orang yang selama ini di idam idamkannya karena dia sering melihat dan kadang saling bertatap muka di tempat karaoke itu. Meskipun Koyoko sadar bahwa Jacq pasti tak akan menyadarinya. Laki laki itu melangkah masuk ke dalam mini market.


Koyoko berbenah membenarkan rambutnya yang sempat menutupi kening, dia berdiri di samping pintu untuk menyambut Jacq.


Perempuan itu terlihat menundukkan kepalanya saat Jacq telah masuk ke dalam.


Jacq berjalan melewati Koyoko begitu saja seolah tak melihat perempuan itu di sana. Namun beberapa langkah dari pintu Jacq memaku tubuhnya. Kemudian memalingkan wajahnya kearah Koyoko yang masih berdiri sambil menatapnya.


Laki laki itu sedikit menundukkan kepala kepada Koyoko sembari memamerkan senyum tipisnya. Setelah itu dia berjalan melewati lorong untuk menuju freezer untuk mengambil minuman.


Koyoko langsung berdiri di belakang meja kasir, seolah dia menyiapkan diri untuk menunggu Jacq.


Tak menunggu lama, laki laki itu berjalan ke kasir dengan membawa dua buah minuman kaleng.


Koyoko merasa sedikit gugub ketika melayani Jacq. Dia menyukai laki laki itu semenjak bekerja di tempat karaoke. Namun dia sadar tak mungkin bagi dirinya bisa dekat dengan Jacq si penghuni kelas VVIP ditempat dia bekerja.


Pandangan mata Jacq nampak menyelidik kearah wajah Koyoko. Dia ingat bahwa perempuan itu bekerja di tempat karaoke.


Sementara Koyoko sesekali mencuri pandang kearah laki laki didepannya hingga mata mereka bertemu dan membuat Koyoko jantungan seketika. Dia langsung mengalihkan pandangan matanya menatap kearah layar.


Jacq bergerak mendekati meja, menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja ntuk menyangga tubuhnya.


"Kamu, ,??" ucapnya kepada Koyoko.


"Ya?" Seketika Koyoko langsung melihat kearah Jacq.


"Kamu yang bekerja ditempat karaoke bukan?" Jacq terlihat sedikit ragu, namun dia sangat yakin kalau dia pernah melihatnya di tempat itu.


"Oooh ya ampuuunn!!, , dia mengingatku??, , aduuhhh. Aku benar benar sangat senang"


"Ya, , aku bekerja di sana" ucap Koyoko, ujung bibirnya nampak bergetar karena gugub. Dia mengambil uang milik jacq yang ada di atas meja.


Mata Jacq tak pernah beralih dari Koyoko, dia terus memperhatikan perempuan itu, hingga membuat Koyoko menjadi salah tingkah.


Tangannya bergerak meraih sebatang coklat dari rak yang ada di depannya.


"Tambah ini satu!" Jacq menyodorkan coklat itu kepada Koyoko.

__ADS_1


"Ya!" Koyoko menambah coklat dalam daftar belanjaan dan menjadikan satu struk dengan minuman itu.


"Sayang kenapa kamu lama sekalai??" ucap seorang perempuan yang baru saja masuk, dia langsung meraih lengan Jacq dan bertingkah manja kepada laki laki itu.


Koyoko sangat terkejut, dia berusaha untuk bersikap seolah tak terjadi apa apa dengan hatinya. Yang sebenarnya dia merasa kecewa melihat orang yang disukai ternyata sudah memiliki seorang kekasih. Kecewa?? iya pasti, tapi Koyoko sadar diri. Tak mungkin baginya untuk bisa berdiri di samping laki laki itu.


"Sebentar lagi" suara yang keluar dari mulut Jacq terdengar sangat rendah dan penuh kelembutan kepada perempuan itu. Membuat Koyoko yang mendengarnya semakin tak karuan.


Dia berusaha untuk tersenyum walau pun harus menelan kekecewaan yang teramat.


Jacq mengawasi perubahan ekspresi di wajah Koyoko, dia melihat guratan kekecewaan di wajah perempuan itu.


"Tunggulah di mobil, aku akan segera menyusulmu" ucap Jacq sembari mengusap lembut kepala perempuan itu. Namun pandangan matanya masih bertahan kepada Koyoko.


"Sudah" Koyoko memberikan dua buah kaleng minuman dan sebatang coklat itu kepada Jacq.


"Terima kasih" ucap Koyoko sembari menganggukkan kepalanya kearah Jacq.


"Untukmu" Jacq memberikan coklat yang dibelinya untuk Koyoko.


Koyoko hanya menatap ragu kearah cokkat itu. Dia hanya memeperlihatkan kapresi wajahnya yang tak terbaca.


"Semoga bisa mengembalikan senyum manismu" laki laki itu berucap sambil melangkah keluar.


Koyoko mengalihkan pandangan matanya kepada Jacq yang telah berjalan memunggunginya. Setelahnya dia berganti menatap coklat ditangannya. Dan senyum manisnya kembali terlihat.


♡♡♡


"Kakakku ada di ruangannya??" ucap Iris kepada reseptionis, dia dan Aileen baru saja sampai.


Aileen yang berdiri di samping Iris terlihat sangat mengantuk, dia sampai menyandarkan kepalanya dengan berbantalkan lengannya sendiri di meja reseptionis.


"Tuan David sedang ada meeting, nona Iris bisa menunggunya di ruang kerja" ucap salah seorang pegawai.


"Baiklah, Aileen ayo!" ucap Iris sambil berlalu, namun langkahnya terhenti ketika dia menyadari bahwa temannya itu masih berdiam diri di samping meja.


Iris memalingkan wajahnya kearah Aileen dan menghampirinya. Dia meraih pundak Aileen dan mendekatkan bibirnya ke telinga perempuan itu.


"Aileen!!, , bangun jangan tidur di sini!!" Iris mencoba membuat Aileen agar terjaga kembali, perempuan itu sempat tertidur sambil berdiri di meja reseptionis. Hingga membuat pegawai yang melihatnya pun tersenyum.

__ADS_1


"Eh, , maaf, , Iris, aku benar benar mengantuk" kelopak mata Aileen terlihat sedikit membesar, memeperlihatkan betapa dia sangat mengantuk. Sebenarnya dia ingin langsung kembali, namun merasa tidak enak untuk menolak ajakan Iris.


Sepanjang perjalanan menuju ke ruang kerja David, kakaknya Iris. Aileen selalu menguap entah berapa kali dia melakukan hal itu. Matanya pun sangat merah dan terasa berat.


"Kamu terlihat payah!, , apa semalam kamu kurang tidur?, ,coba lihat?" Iris sedikit menunduk untuk melihat wajah Aileen. Dia menarik dagu Aileen dan mengamati wajah Perempuan di depannya.


"Bawah matamu terlihat sedikit menghitam"


Tinggi mereka terlihat sangat jauh, Aileen hanya 160cm semenntara Iris tingginya mencapai 172cm, Iris terlihat sangat jangkung jika berdiri di sebelah Aileen.


"Ya, , semalam aku hanya tidur 2jam" Aileen mengusap usap kasar matanya.


"Bagus, buatlah penampilanmu menjadi seburuk mungkin di depan kakakku!" Iris bersedekap, dia merasa sangat senang dengan teman barunya itu.


"Apa yang sedang kamu bicarakan!, ," Aileen berucap sambil sesekali menutup matanya dalam keadaan berdiri di dalam lift. Hingga terbuka lagi matanya ketika kepalanya bergerak cepat seperti akan terjatuh karena tak kuat menahan kantuknya.


"Kakakku itu tampan, tapi dia sangat playboy. Setiap melihat perempuan cantik pasti akan langsung di kencaninya. Tapi" Iris melirik, menyelidik kearah tubuh Aileen.


"Kamu memang manis dan imut, tetapi untungnya tubuhmu tak masuk dalam kriteria kakaku" Iris terkekeh kemudian, setelah melihat Aileen yang benar benar tak bisa menahan rasa ngantuknya.


Setelah keluar dari lift, Iris menggandeng tangan Aileen menuju ke runag kerja David.


Mata Iris tampak menyapu setiap sudut ruangan yang sangat besar dan terang itu, karena sinar mata hari dapat menyeruak masuk menembus kaca kedalam ruang kerja David dengan sangat baik.


Aileen terlihat menutupi kedua matanya karena merasa silau dengan cahaya di ruang itu.


"Masuklah" Iris melirik kearah Aileen yang sedang berjalan sambil menyipitkan matanya.


"Maklum, kakakku tidak bisa tinggal di tempat gelap dan sempit" tambahnya sambil berjalan kearah meja kerja.


Aileen yang duduk di atas sofa pun, lebih memilih langsung membenamkan punggungnya ke sandaran sofa dan menyandarkan kepala menengadah kearah langit langit. Dia mencoba membuat dirinya senyaman mungkin di sana.


Sambil menatap ke atas, Aileen berucap.


"Kakakkmu fobia tempat tempat seperti itu?"


"Iya, , " Iris menekan tombol intercom yang langsung menghubungkan ke pantri.


"Bawakan dua cangkir susu dan kudapan ke ruang kerja PresDir" ucapnya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2