Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
8 CEO: Love's Romance Lebih dekat


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 8 malam, semalam itu juga Aileen masih tertidur pulas di sana.


Sementara David lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaan di meja kerjanya.


Sesekali laki laki itu nampak melirik kearah Aileen yang sama sekali tak bergerak.


"Apa dia masih hiduo??, , bagaimana bisa dia tertidur dengan posisi itu sejak dari tadi??" gumamnya. David beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Aileen untuk memastikan keadaan perempuan itu.


David menekuk salah satu lutut untuk menyangga tubuhnya yang bertumpu di atas karpet tebal.


Setelahnya dia mengawasi wajah Aileen dengan lekat. Dia meniup wajah Aileen dengan lembut hingga membuat perempuan itu mengerutkan kedua alisnya di saat kedua matanya masih tertutup.


Hal itu membuat David tersenyum, dia menikmati ekspresi wajah Aileen yang terlihat sangat lucu dan imut. Tidak tahu apakah dia ingin membangunkannya atau tidak, tetapi hari semakin larut.


David melirik kearah jam yang melingkar di tangannya. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk membangunkan Aileen dengan mengusap lembut pipinya.


Bukannya membangunkan perempaun itu, David malah terpesona dengan wajah Aileen yang benar benar terlihat sangat manis saat sedang tidur. Tangannya juga bergerak pelan mengusap pipi perempuan itu, hingga tanpa sadar jari telunjuknya bergerak kearah mata Aileen, menurun ke hidung dengan perlahan dan berhenti di ujung bibir perempuan itu. Laki laki itu kemudian teranyum lagi.


Ketika gerakan tangan David membuat Aileen terbangun dari tidurnya, David langsung beranjak berdiri dan menjauh dari Aileen. Dadanya hampir melompat keluar ketika perempuan itu membuka mata dan melihat kearahnya.


"Siapa kamu??" ucap Aileen, dia mengusap kasar matanya agar bisa melihat dengan jelas. Dia mengerjapkan mata sebelum melihat laki laki yang berdiri di depannya.


"Astaga!!, , kamu?" Aileen meneyelidik ruangan itu.


"Aku tertidur di sni??, , lalu di mana Iris??"


Aileen kembali mengarahkan pandangan matanya kepada David.


"Kamu kenapa bisa ada di sini??" Aileen mengubah posisinya menajdi duduk.


"Kenapa aku ada di sini??" David mengulangi pertanyaan Aileen.


"Ini ruang kerjaku, yang seharusnya bertanya kan aku??, , kenapa kamu tidur di sini?" David bersedekap, sambil memamerkan senyumnya.


"Ruang kerjamu??, , jadi, jadi si Iris"


"Dia Adikku!!" David memotong pembicaraan.


Luna terkejut, dia melirik ke arah tangannya yang sedang menggenggam mannequin.


"Iris??, , kenapa dia meninggalkanku? adduuuhhh!!!"


Aileen mengusap wajahnya gusar.


Dia menyimpan mannequin itu kedalam tas dan mengambil ponsel. Dia Membaca pesan singkat dari Iris.


Aileen menghela nafas panjang, dia hanya berfikir bagaimana bisa dia tertidur di tempat itu.


Ujung matanya kini melirik kearah David yang masih setia berdiri sambil menatapnya.

__ADS_1


Tiba tiba laki laki itu membungkuk mengunci tubuh Aileen dengan kedua tangannya yang berada di sandaran sofa, wajah mereka saling berdekatan hingga memaksa Aileen menarik kepalanya menjauh dari laki laki itu.


"Sengaja tidur di sini karena mau mengajakku kencan ya!" bisik david dengan nada lembut.


"Orang ini benar benar sudah kehilangan akal sehatnya!!, lebih baik aku pergi dari sini"


"Singkirkan tanganmu!!, , aku harus pergi!!" perintahnya.


David menarik kembali kedua tangannya dan mempersilakan Aileen pergi.


"Udah jam 9 malam, kira kira di luar masih ada orang tidak ya??, , gedung ini kan terkenal angker kalau malam" David berucap sambil tersenyum, dia mencoba menaku nakuti Aileen. Hingga perempuan itu akhirnya menghentikan langkah kakinya.


Senyum di wajah David menghilang ketika Aileen memutar tubuhnya.


"Kamu mau mencoba menakutiku??" pandangan mata Aileen terlihat waspada kearah David.


Laki laki itu merenggangkan otot lehernya, dia menahan senyum ketika melihat ada guratan ketakutan di wajah perempuan itu.


David melangkah kembali ke meja kerjanya.


"Aku tidak menakutimu, aku hanya memberitahumu kalau di gedung ini sering terdengar bunyi bunyi aneh di malam hari"


Aileen yang mendengarnya pun mulai menyentuh bulu kuduknya yang sempat merinding. Dia sebenarnya tidak ingin percaya dengan cerita laki laki itu. Tetapi melihat kondisi dimana saat itu mang sudah malam. Aileen mulai merasa sedikit menciut nyalinya.


David kembali tersenyum, dia kini melangkah menuju pintu.


"Kamu mau kemana?" Aileen berucap dengan nada rendah. Dia mencoba bersikap baik kepada David agar laki laki itu mau menemaninya sampai lantai bawah.


Aileen pun berlari kecil kearah pintu, dia selalu berusaha berada di dekat David. Katika laki laki itu melangkah dengan langkah kaki yang panjang, dan membuat Aileen terlihat sedikit tertinggal di belakang. Akhirnya memaksa perempuan itu harus berlari mengejar ketertinggalannya.


Aileen pun memutuskan untuk menarik bagian belakang jas David dan menggenggamnya dengan erat. Sementara David tersenyum sambil sedikit memalingkan wajahnya kearah samping untuk memastikan keberadaan Aileen.


Perempuan itu tertunduk karena malu.


Ketika mereka berjalan melewati lift, Aileen terlihat kebingungan.


"Mm, , itu. Kenapa kita tidak lewat lift saja?"


David memaku langkah kakinya sejenak, dia terlihat berdiam diri sebelum menjawab pertanyaan Aileen. Wajahnya juga terlihat sedikit pucat saat itu.


"Lewat jam 8 malam, semua mesin sudah di matikan Jadi kita harus melewati tangga" ucapnya berusaha berbohong. David memang tak pernah lewat lift ketika ingin naik atau turun menuju ruang kerjanya. Dia selalu melewati tangga darurat selama ini.


"Aneh, , , Tunggu!!, , Iris bilang kakakknya takut tempat sempit dan gelap, , apa dia sebenarnya takut karen lift itu sempit??"


Perempuan itu menyeringai setelah mengingat ucapan Iris tentang kakaknya.


Tangan David bergerak membuka pintu yang langsung menuju ke tangga darurat.


Dia mempersilakan kepada Aileen untuk jalan terlebih dulu.

__ADS_1


"Tidak perlu, kamu saja duluan" Ailen melepaskan jas David yang sedari tadi digenggamnya.


Setelah David melangkah terlebih dulu melewati beberapa anak tangga, Aileen mulai usil. Matanya bergerak mencari saklar lampu di sana, dia pun sengaja menekan tombol saklar agar tempat itu gelap seketika.


"Heh!!!" David mulai panik, dia mencoba mengatur nafasnya yang tiba tiba saja memburu, bersamaan dengan itu detak jantung David semakin cepat hingga membuat keringat dingin keluar membasahi kening dan tubuhnya.


Sementara Aileen tertawa menikmati ketakutan yang di alami David, dia memang tidak bisa melihat dengan jelas namun teriakan laki laki itu sudah memprrjelas kalau dia memang benar benar takut dengan tempat gelap.


"Nyalakan lampunya!!!!" Teriak David. Dadanya terasa sesak, bayangan saat dirinya disekap ditempat yang sempit dan gelap dulu kembali meracau di otaknya.


Aileen tak menggubris, dia masih belum puas mengerjai laki laki itu. Hingga ketika mendengat suara bahwa David terjatuh dari tangga, akhirnya Aileen segera menyalan lampunya kembali.


"Ya ampun!!, , " Aileen membulatkan penuh matanya, ketika melihat David sudah terduduk di lantai bawah sambil memegangi kelapanya.


Aileen berlari menuruni anak tangga, dia langsung mendekat kearah David.


"Maaf, , kamu tidak apa apa?" Aileen membungkam mulut dengan tangannya ketika melihat kening laki laki itu berdarah.


"Keningmu terluka!!"


David ingin sekali marah dengan perempuan yang berada di depannya itu, matanya sempat menajam kearah Aileen, dia tahu kalau perempuan itu sengaja melakukannya.


Namun ketika melihat bahwa Aileen juga merasa ketakutan ketika melihat dirinya terluka. David pun mengurungkan niatnya.


Perempuan itu duduk di depan David, tangannya bergerak mengambil tisu basah dari dalam tasnya. Dia bermaksud ingin membantu David membersihkan lukanya.


Namun kepala David berada jauh di atas, sehingga Aileen kesusahan untuk menjangkau kening laki laki itu.


"Bisakah, kamu menunduk sedikit?, , aku terlalu pendek untuk menjangkau kepalamu"


David sedikit menunduk mendekatkan kepalanya kearah wajah Aileen hingga wajah mereka saling berdekatan. Seketika Aileen pun menarik tubuhnya sedikit kearah belakang.


Karena tentu saja hal itu membuat Aileen merasa tidak nyaman.


"Mm, , mundurlah sedikit ini terlalu dekat"


David berusaha menahan senyumnya.


Dia tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari wajah Aileen yang berada dekat di depannya.


Ailen sadar bahwa laki laki itu terus melihat kearahnya, entah kenapa ujung mata Aileen dengan sendirinya bergerak melihat kearah mata David. Padahal perempuan itu sudah berusaha keras menahan untuk tak melihat mata laki laki itu.


Hingga akhirnya mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain.


Aileen memaku tangannya di udara dia mulai kehilangan fukusnya saat itu.


Sementara David terlihat semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aileen. Hingga hidung mereka saling menempel dan akhirnya dia pun berbisik.


"Aku tidak akan memaafkanmu"

__ADS_1


"He??, , " Aileen terkejut, dia menyeret tubuhnya menjauh dari David.


__ADS_2