Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#167 Sebuah permintaan


__ADS_3

"Keluar!!, , atau aku akan"


"Teriaklah" Adrian memotong pembicaraan. Tatapan matanya semakin menajam.


"Aku ke sini karena ingin memberikan sebuah tawaran padamu" Adrian kini duduk bibir ranjang.


Sementara Luna masih menatap Adrian dengan tatapan waspada.


"Apa lagi yang kamu inginkan!!, , belum cukupkah kamu menggangguku selama ini!!"


"Mengganggu??, , aku tidak merasa telah mengganggumu Luna!. Justru aku selalu menemanimu beberapa tahun ini" sejenak dia berhenti berucap untuk memberi waktu kepada Luna mencerna ucapannya.


"Kamu sakit Adrian!!" Luna berucap dengan nada penuh penekanan.


Adrian terkekeh licik ke arah Luna. Dia merasa bangga bisa membuat perempuan di depannya itu marah.


"Aku akan langsung saja, kenapa aku datang kemari menemuimu!, ," Adrian beranjak dari bibir ranjang, dia berdiri dan berjalan ke sisi lain.


"Kamu harus membujuk Barack untuk menghentikan semuanya!"


Kening Luna berkerut kasar hingga terlihat sangat dalam di sekitar area matanya.


"Apa yang sedang kamu bicarakan??, , aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan!!"


"Barack tidak memberi tahumu??? oh, , aku tidak percaya ini. Kalau begitu aku akan memberi tahumu. Saat ini Barack sedang mencari seseorang yang bernama Ernest. Dia adalah mantan sekretarisku, itu artinya dia sedang menggali lubang sumur untuk dirinya sendiri" ucapan Adeian membuat Luna membulatkan penuh matanya. Namun Adrian malah semakin senang dia sangat menikmati ekspresi wajah Luna yang tegang.


"Kamu harus membujuknya untuk menghentikan semua kegiatan yang berhubungan dengan Ernest. Atau aku, , ,"Adrian membungkuk lagi untuk mendekati Luna.


"Tidak akan pernah berhenti mengganggumu dan, , David!"


Luna seketika langsung bergerak mendekat ke arah Adrian yang tidak jauh berdiri di depannya. Dia meraih dan mencengkeram kemeja laki laki itu.


"Jangan pernah menyebut namanya!!, , dan jangan berani menyentuh Anakku bahkan seujung kukunya pun. Jangan sakiti dia!!" Luna berucap dengan nada rendah, kedua matanya memerah. Dia benar benar sangat menahan amarahnya ketika laki laki itu mengancam akan melukai David.


"Selama kamu mau membuat Barack berhenti untuk mencari tahu tentang Ernest. Aku berjanji, , , tidak akan mengganggu kalian"


"Ya, , aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Tetapi tidak dengan Barack!!!"


Adrian memerkan senyum palsunya di depan Luna.


Perempuan itu melepas kerah kemeja sambil mendorong kuat tubuh laki laki itu agar menjauh dari hadapannya.


♡♡♡


Barack menghentikan laju mobilnya, dia teringat bahwa ponsel miliknya tertinggal di laci meja nakas dekat ranjang.


Dia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


Setelah sampai, Barack melangkah cepat menuju lift, dan ketika pintu lift terbuka dia berjalan ke luar menuju ke kamar inap.


Anak buahnya mengangguk memberi hormat kepada Barack setelah melihat laki laki itu kembali.

__ADS_1


Barack membuka pintu, ujung matanya langsung tertuju ke arah Luna yang sedang tertunduk menyembunyikan wajahnya di antara sela sela lutut.


Dia bergerak mendekati Luna.


"Sayang kamu baik baik saja?" laki laki itu sangat khawatir ketika melihat Luna mengangkat kepalanya, matanya memerah, perempuan itu seperti sedang menangis.


"Ada apa denganmu?" Barack merangkup pipi perempuan itu dengan kedua tangannya. Ibu jarinya bergerak mengusap air matanya perlahan.


Luna memaku bibirnya, dia tak menjawab pertanyaan Barack karena dia lebih memilih untuk memeluk tubuh laki laki itu.


"Kenapa kamu diam saja??, , ceritakan padaku. Apa yang membuatmu tiba tiba menangis seperti ini?"


"Aku tidak apa apa, , aku ingin pulang!" rengeknya. Perempuan itu masih sesunggukan menahan tangisnya.


"Oke, kita akan pulang. Tapi janji jangan menangis lagi" Barack memilih untuk tidak membahasnya terlebih dulu, dia membiarkan Luna untuk menenangksn dirinya. Dan akan menanyakan permasalahan selanjutnya nanti setelah keadaan Luna membaik.


♡♡♡


Lilis membantu Luna turun dari mobil, Barack pun memenuhi keinginan perempuan itu untuk pulang ke rumah.


Sementara David nampak berlari dari arah pintu, dia menghampiri Barack untuk membantunya membawakan tas yang berisi pakaian kotor.


"Kamu bisa melakukannya,?" Barack terlihat ragu ketika ingin memberikan tas itu kepada David.


"Sepele Yah!! sambil merem juga bisa"


Barack terkekeh setelah melihat sikap Putranya.


"Mbak Luna habis menangis?"


"Mmm, , tidak. Aku tidak apa apa, berhentilah mengkhawatirkanku!" ucapnya sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


"Mbak Luna istirahat di sini ya, aku akan membuatkan teh hangat untukmu" Lilis berucap sambil melangkah menuju ke arah dapur.


Sementara Barack berjalan perlahan mendekati Luna dan duduk di sebelahnya.


Laki laki itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya mendaratkan pandangannya ke arah Luna. Perempuan itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Barack meraih tangannya dan menggenggamnya dengan lembut, memasukkan jari jari mungil milik Luna ke sela sela jarinya.


Hingga perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah Barack.


"Kamu mau cerita denganku, , apa sebenarnya yang sedang menggnggu pikiranmu?" Barack menuntun tangan Luna ke arah bibirnya dan mengecup punggung tangan perempuan itu.


"Apa kamu akan memenuhi semua keinginanku?" ucapnya dengan penuh harap.


Laki laki itu hanya tersenyum.


"Pasti, , aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan. Katakan, , kamu ingin apa dariku?"ucapnya dengan sangat antusias.


"Berhentilah mencari tahu tentang Ernest!" ucapan yang keluar dari mulut Luna seketika membuat kerutan di dahi Barack semakin terlihat dalam. Dia mengawasi wajah Luna dengan lekat.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya Ernest?" tambahnya.


Laki laki itu menatap tak percaya kepada Luna. Bagaimana dia bisa mengetahui tentang Ernest.


Dia memaku bibirnya, dia juga melepas tangan Luna dari genggamannya.


"Dari mana kamu tentang Ernest??" Barack semakin menajamkan matanya ke arah Luna.


Luna menelan ludahnya dengan susah payah, dia tidak mungkin menyebut nama Adrian di sana.


"Katakan Luna, dari mana kamu tahu tentang Ernest??, , apa dia menemuimu di rumah sakit?. Itukah penyebab kenapa kamu menangis saat aku kembali ke sana??" Barack beranjak dari sofa, dia berjalan menuju tengah tengah pintu yang langsung menghubungkan ke taman belakang, dia merasa yakin bahwa tebakannya itu benar.


Luna hanya berdiam diri, matanya nampak berkaca kaca.


"Kamu bilang akan memenuhi semua keinginanku! bisakah kamu berhenti untuk mencari orang itu!!" Luna sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Itu permintaan konyol Luna!!, , " Barack berdiri di sana sambil memunggungi perempuan itu.


"Kamu bilang akan memenuhi semua keinginanku!, , kenapa kamu tidak bisa melakukannya untuk hal yang satu ini??"


Barack memalingkan wajahnya ke arah Luna, sebelum akhirnya dia melangkah mendekat dan menekuk kedua lututnya di depan perempuan itu dan meraih pundaknya.


"Katakan apa lagi yang di ucapkan Adrian kepadamu?" ucapnya dengan nada menuntut.


"Tidak ada!, , dia hanya meminta agar aku menghentikanmu mencari laki laki yang bernama Ernest!"


Barack terkekeh kemudian.


"Aku tidak percaya dia tidak mengintimidasi kamu!!, , dia pasti melakukannya. Sayang dengarkan aku. Apa yang Adrian katakan padamu?, , beri tahu semuanya kepadaku!, ,"


Air mata Luna jatuh begitu saja, membuat laki laki yang sedang tertunduk di hadapannya itu menggerakkan tangannya mengusap pipi Luna.


"Dia , , akan mencelakai David!" tangis Luna seketika pecah, dia menyembunyikan wajahnya di dekapan Barack.


Laki laki itu mengusap lembut punggung Luna, mencoba memberi ketenangan di hatinya.


"Aku tidak akan membiarkan Adrian menyentuh kalian!"


"Tidak Barack!, , kamu harus berhenti mencari Ernest!!" Luna menarik tubuhnya menjauh dari Barack.


"Dia itu laki laki licik, ketika aku memenuhi keinginannya untuk berhenti mencari Ernest. Apakah dia akan memenuhi ucapannya juga untuk tidak menyakiti kalain???, , itu tidak akan terjadi Luna. Dia akan semakin mengganggu kalian, akan mengganggu keluarga kita! itukah yang kamu inginkan??"


"Aku tidak ingin Adrian melukai David!, " Luna semakin menaikkan nada bicaranya, hingga membuat Lilis memaku langkahnya ketika dia akan memberikan secankir teh hangat yang ada di tangannya kepada Luna.


Lilis mengurungkan niatnya untuk mendekati mereka, dia lebih memilih menemani David yang masih berada di kamarnya. Agar Anak kecil itu tidak keluar dari kamar hingga mendengar percakapan mereka.


"Dengarkan aku Luna!!, , aku tidak akan membiarkan Adrian melakukan hal itu. Jadi tenanglah" Barack terus berucap dengan nada berat, mencoba membuat perempuan di depannya itu untuk tetap tenang.


"Aku tidak bisa tenang sebelum kamu berjanji kepadaku untuk tidak mencari Ernest lagi!!" .teriaknya.


"Oke! oke!! aku akan berhenti mencari Ernest, , kamu mendapatkannya Luna, mendapatkan apa yang kamu inginkan" kini Barack menarik kepala Luna mendekap tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2