Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
46 CEO: Love's Romance Aku menyukaimu


__ADS_3

Jantung Aileen berdegub dengan kencang, dia merasa dangat malu terlabih lagi kini David semakin membungkuk memendam wajahnya di perpotongan leher Aileen, ketika perempan itu sedang menikmati lagu, David malah terhanyut dalam aroma tubuh Aileen yang membuat dirinya semakin ingin terus dan terus menikmatinya. Dia bahkan sempat menyingkirkan rambut Aileen yang menghalanginya ketika ingin mencium bagian kulit leher Aileen.


Tubub Aileen menegang, darahnya terasa memanas dari ujung kaki hingga ujung kepala saat hembusan nafas David menyapu bagian lehernya.


Aileen gugup dia merasa malu, apakah hanya dirinya yang merasa berdebar saat itu. Dan ternyata tidak, Aileen tersenyum tipis ketika dia juga merasakan debaran dada laki laki yang masih memeluknya dari arah belakang. Ternyata David juga sama dengannya. Sama sama jantungan saat itu.


♡♡♡


Di akhir acara pihak panitia sengaja menyalakan kembang api, untuk lebih memanjakan penonton. Lumayan cukup lama hampir seperempat jam lebih kembang api itu mewarnai langit yang gelap.


"Kamu menyukainya??" Teriak Kenzi kepada Iris. Dia masih setia menggenggam tangan perempuan itu.


"Ya, , aku sangat menyukaimu" Iris tersenyum, pandangannya tak pernah lepas dari wajah Kenzi.


Sementara laki laki itu langsung menoleh ketika menyadari Iris melihat kearahnya.


"Maksudku kembang apinya"


Seketika Iris langsung mengalihkan pandangannya kearah langit, pipinya bersemu karena malu.


"E, iya maksudku, aku juga menyukai kembang apinya!!"


Kenzi tersenyum kearah Iris, mengamati warna wajah perempuan yang berubah ubah karena terkena pentulan kembang api dari atas sana.


Dia merasa sangat yakin bahwa Iris memang menaruh hati kepadanya.


Senyum yang menghiasi bibir Kenzi semakin melebar saat itu.


Di sisi lain David dan Aileen juga sedang menatap langit.


David melepaskan pelukannya, memutar tubuh Aileen agar menghadap kearahnya.


Aileen terdiam, dia hanya berfikir apa yang akan di lakukan David setelah memaksa perempuan itu memutar tubuhnya.


David terlihat sedang memantap diri sebelum akhirnya dengan cepat dia berucap.


"..."


Tetapi Aileen malah mengerutkan dahinya. Matanya mengerucut kearah bibir David. Dia tak mendengar apa yang diucapkan oleh David. Karena laki laki itu berucap bersamaan dengan letusan kembang api yang menggema di udara hingga memenuhi rongga telinganya serta teriakan orang orang di sana membuat Aileen tak bisa mendengar suara David dengan baik.


Bahkan samar samar Aileen membaca gerakan bibir David karena gelap menyelingkupi mereka di sana.


"Apa??, , aku tidak bisa mendengarmu!!" teriak Aileen.


"Bodoh!!, ? kamu pasti sengaja melakukannya!!, , bahkan aku sudah berlatih ratusna kali di depan cermin untuk mengatakan itu di depanmu!!, , sial!! aku tidak akan mengulanginya lagi. Ini sangat memalukan!!


Aileen masih menunggu David untuk kembali mengucapkan kalimat yang sempat dia lontarkan kepadanya. Tetapi David malah memaksa memutar kembali tubuh Aileen untuk menghadap kearah depan.


Perempuan itu masih merasa penasaran, maka dari itu dia kembali berbalik menarik kerah jaket David agar laki laki itu mendekat kearahnya.


David membungkuk menyesuaikan dirinya sejajar dengan Aileen ketika perempuan itu ingin berteriak di telinganya.


"Aku tidak mendengarmu!!, , kamu tadi bilang apa??"


David masih bertahan di posisinya laki laki itu masih membungkuk, lemudiam menoleh kearah Aileen. Tanpa aba aba dan tanpa ijin dia langsung mengecup bibir Aleen. Dia tersenyum kemudian.


"Lupakan!, , " ucapnya.


Aileen membulatkan mata, dia merasa jengkel karena David selalu melakukan keinginannya sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain.


Melihat Aileen yang diam mematung David kemudian berbisik.


"Mau lagi??"


Seketika Aileen menahan senyum sambil menghujani pukulan di dada laki laki itu.

__ADS_1


♡♡♡


Kenzi dan Iris terlihat berdiri depan stadion. Sengaja menunggu David dan Aileen di sana.


"Kenapa mereka lama sekali?" gumam Iris sambil melirik kearah ponselnya.


"Kamu sudah menghubungi mereka?" Kenzi meraih ponselnya dari dalam saku jaket.


"Iya aku sudah menghubungi Kakaku. Tapi dia tidak mengangkatnya!"


"Aku akan coba menghubungi Aileen" Kenzi bergerak mendekat kearah penjual minuman yang tak jauh darinya. Dia mengambil dua buah minuman dari dalam almari pendingin menggunakan satu tangannya.


Kini Kenzi menggunakan pundak untuk menahan ponsel yang masih menempel di telinganya, sementara tangannya mengeluarkan uang dari dalam dompet untuk membayar minuman itu.


Kenzi berjalan kembali mendekati Iris, memberikan satu minuman untuk perempuan itu. Ujung matanya tertuju kearah Iris yang sedang kesusahan membuka tutup botolnya.


Dia akhirnya menutup panggilan ketika Aileen tak mengangkat ponselnya.


Kenzi kembali meraih botol minuman itu dari tangan Iris.


"Tolong bawakan ponselku" dia lalu membantu Iris membuka tutup botolnya.


"Aileen tidak mengangkat panggilan darimu Kak?" ucap Iris sambil melirik kearah layar ponsel milik Kenzi.


"Minumlah" Kenzi memberikan botol itu setelah berhasil membukanya.


"Terima kasih" ucap Iris.


"Dia tidak mengangkatnya, , "Kenzi bergantian membuka tutup botolnya kemudian menegug isinya perlahan.


Saat itu hujan turun membasahi tubuh mereka. Kenzi menggenggam tangan Iris, membawa perempuan itu untuk berteduh.


"Kamu basah??" Kenzi kemudian melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Iris.


"Tidak perlu Kak"


Pipinya bersemu ketika mencium aroma harum dari jaket milik kenzi yang menyelingkupi tubuhnya. Merasa seperti sedang berada sangat dekat dengan laki laki itu walau hanya dengan sebuah jaket yang melekat di tubuhnya.


Tak lama sebuah mobil berhenti di depan mereka.


Iris melihat Aileen membuka pintu mobil itu.


"Iris!!, , berlarilah!" teriak Aileen.


Sementara David terlihat duduk di samping Aileen sambil sibuk memainkan ponselnya.


"Kamu yakin mau menerobos hujan??" Kenzi menatap wajah Iris untuk memastikan, karena hujan malam itu semakin deras.


"Tidak mungkin kita menunggu hujan reda kan Ka??" kebetulan mobil tak bisa mendekat karena ada pembatas di sana.


"Kita gunakan jaketmu" Iris melepas jaket milik Kenzi yang sempat membalut tubuhnya.


Kemudian Kenzi memakai itu untuk melindungi kepalanya dan kepala Iris dari hujan yang menghujam tubuh mereka.


Setelahnya mereka berlari menuju kearah mobil.


♡♡♡


"Senyum senyum terus dari tadi??, , kenapa?" Aileen yang baru saja keluar dari kamar mandi itu melirik kearah Iris yang sedang duduk di atas ranjang.


"Konsernya sudah lewat kamu masih senyum senyum!!, , berbayang terus yah itu wajah 7 orang di pikiranmu!" Aileen berjalan kearah nakas untuk mengambil hairdryer dan menggeringkan rambutnya.


"Sini aku akan membantumu!" Iris menyambar hairdryer dari tangan Aileen. Kemudian meminta perempuan itu untuk duduk di atas ranjang.


Kini Iris terlihat sedang membantu perempuan itu mengeringkan rambutnya yang basah.

__ADS_1


"Siapa bilang aku memikirkan konser tadi!!"


"Lalu kenapa kamu senyum senyum seperti orang gila??"


"Bukan urusanmu sayang??" Iris masih berusaha menahan senyumnya. Entah apa yang dia pikirkan hingga senyum itu tak pernah hilang dari wajahnya.


Tak sengaja saat iti tangan Aileen menarik tas milik Iris yang berada di sampingnya. Hingga isinya berserakan di lantai.


"Aileen, , !!" ucap Iris dengan mengahardik kearah perempuan yang tak sengaja menjatuhkan semua isi tasnya.


"Maaf, aku tidak sengaja!" Aileen pun menyuruh Iris untuk berhenti mengeringkan rambutnya. Dia berjongkok untuk membereskan barang barang milik Iris.


Di sana dia tak sengaja melihat ponsel milik Kenzi yang jatuh dari dalam tas Iris..


"Ini bukannya milik kak Kenzi??" ujung mata Aileen tertuju kearah Iris.


Perempuan itu kini pipinya bersemu kerena malu. Dia teringat bahwa saat Kenzi menitipkan ponsel itu kepadanya, Iris malah memasukkan ponsel itu kedalam tas. Dan dia lupa mengembalikkannya kepada Kenzi.


"Tadi dia sempat menitipkannya kepadaku, hanya saja aku yang lupa mengembalikannya!"


"Cie cieeeee, , malam ini dia menitipkan ponsel kepadamu, besok besok pasti menitipkan hatinya untukmu!" tawa Aileen pecah seketika, hinhga memenuhi seluruh ruangan. Membuat Iris harus mengambil bantal dan melemparkannya kearah tubuh Aileen yang ternyata sudah bersiapa siaga untuk menghindar.


"Dasar!!, , tolong kembalikan itu kepadanya ya??" pinta Iris kemudian.


"Bukannya ini kesempatanmu untuk lebih dekat dengan kak Kenzi?? eeeaaaa" Aileen tertawa kembali, dia benar benar sangat menikmati bisa membuli perempuan itu.


"Aku malu!!" Iris turun dari ranjang, dia membereskan sisa barang miliknya yang masih berada di lantai.


"Kenapa??, , " Aileen bergerak mendekati Iris.


"Kamu tahu, tadi ketika kembang api sedang di nyalakan. Dia bertanya kepadaku, , apa aku menyukainya. Patinya dia bertanya tentang kembang api itu. Tapi kemudian aku malah menjawab, iya aku menyukaimu!"


"Hahahahahhahahah, , " Aileen benar benar sangat terhibur malam itu. Dia menghabiskan hampir separuh energinya hanya untuk tertawa terpingkal pingkal hingga perutnya terasa sakit. Bahkan dia sempat terbaring di lantai saat tak bisa mengontrol dirinya karena luapan kegembiraan di hatinya.


"Hentikan tawamu Aileen!!, , cepat kembalikn ponsel itu kepada Kak Kenzi!!, ,aku yakin dia pasti sedang mencari ponsel itu"


Sambil berusaha mereda tawanya, Aileen mencoba bangun dan duduk di lantai.


"Iya iya, , aku akan mengembalikannya" ucapnya masih di selingi tawa di tengah kalimat.


♡♡♡


David terlihat sedang menikmati secangkir kopi sambil berdiri di balkon di temani angin dingin sisa sisa hujan tadi.


Dia masih tak bisa melupakan momen di mana Aileen tak bisa mendengar ucapannya.


David selalu berfikir bahwa Aileen pasti mendengar ucapannya, tetapi perempuan itu sengaja berpura puta tidak mendengarnya.


David menyesap kopinya yang masih terasa panas. Dia hanya mengenakan sweater berwarna hitam dengan bagian leher panjang hingga menutup penuh bagian lehernya. Karena semakin merasa dingin dia membuka pintu kaca yang menghubungkan langsung ke kamar.


Tetapi seketika langkahnya terhenti, ketika mendengar suara dari arah balkon yang ada di sebelahnya. Kebetulan itu adalah kamar Kenzi.


"Aileen??, , kemarilah!!" suara Kenzi terdengar lembut ketika memanggil nama perempuan itu.


Membuat David yang mendengarnya langsung memerah wajahnya karena manahan amarah. Dia menjadi mudah tersulut emosi ketika bersangkutan dengan nama Aileen.


"Apa yang sedang Aileen lakukan di kamar laki laki itu!!"


David menyatukan alisnya, dia terlihat bersusah payah mengontrol emosi di dalam hatinya.


Dia bergerak menjauh dari pintu, kemudian mendekatkan tubuhnya, menyandarkan punggung hingga menempel di tembok pembatas yang menghalangi pandangannya. Di balik sana Kenzi sedang berdiri di balkon bersama Aileen.


Suara mereka terbang terbawa angin. Membuat David tak bisa mendengarnya dengan baik.


Namun ketika dia benar benar berkonsentrasi mengerahkan seluruh indra pendengarannya untuk mencuri dengan pembicaraan mereka. David mendengar kalimat yang membuat dadanya seperti tersambar petir, membakar semua isi di dalam dadanya hingga habis tak tersisa.

__ADS_1


"Aku menyukaimu!"


Hanya ucapan itu yang terdengar jelas di telinga David, ketika Kenzi berucap.


__ADS_2