
Seorang laki laki paruh baya terlihat duduk di sofa tunggal, dengan penuh wibawa seakan memperlihatkan betapa dirinya memiliki kekuasaan di rumah itu.
Laura yang duduk di sisi lain juga terlihat diam dan tunduk, seperti tak bisa berulah sesuai dengan keinginan karena selalu harus menurut.
"Jadi, , kemarin kamu pergi menemani Marvel??" ucap laki laki itu dengan tenang.
"Dia menyukai apartement itu, aku pikir pendapatku tak terlalu penting di keluarga ini. Jadi aku hanya bisa menemaninya untuk melihat tempat itu" Laura hanya di anggap sebagai selingan oleh Ayahnya Marvel, dia tak berani berkutik dan hanya bisa patuh dengan Suaminya. Berbeda dengan Marvel yang selalu baik dan menghargai Laura sebagai Ibu sambungnya.
Laki laki itu menghela nafas panjang.
"Sebentar lagi aku akan pensiun dari perusahaanku. Dan akan memberikan semuanya kepada Marvel" dia menoleh manatap Laura dengan ekspres wajah tak terbaca.
"Dan kamu akan mendapatkan uang setiap bulan yang akan di kirim langsung ke rekeningmu dari perusahaan"
Laura nampak tak bergeming, pandangannya terlihat kosong ketika mendengar ucapan Suaminya. Tak seperti itu seharusnya, Laura ingin mendapatkan lebih dari apa yang Suaminya berikan.
Sejak lama dia bertahan menjadi seekor kelinci di rumah itu hanya untuk sebuah kekayaan yang nantinya saharusnya akan dia dapatkan. Tetapi seolah semua penantiannya selama ini tak membuahkan hasil sesuai dengan keinginannnya.
Laura meremas kuat roknya. Sebagai pelampiasan rasa kekecewaan yang teramat.
"Kamu kecewa??" laki laki itu tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Istrinya setelah melihat tangannya cengkeraman roknya dengan kuat.
Laura seketika mengalihkan pandangannya, senyum palsunya nampak terlihat lebar ketika menatap laki laki itu.
"Tidak Suamiku" ucapnya dengan sangat lembut, padahal dengan susah payah Laura mneyembunyikan rasa kekecewaan serta jengkel dan amarah yang besar di dalam dadanya.
"Aku sangat menghargai keputusanmu" tak sesuai harapan, seharusnya Laurs mendapakan beberapa persen saham di perusahan Suaminya sesuai perkiraannya, tetapi laki laki itu tak memberikannya sepeser pun.
"Tapi, , sebelum Marvel menikah. Aku tidak akan memberikan semua sahamku kepadanya. Hanya saja dia yang akan mewakiliku"
Laura seakan mendapatkan secerca harapan untuk madapatkan jalan lain menuju kesuksesannya sendiri setelah mendengar ucapan Suaminya. Seketika dia teringat dengan Bunga Putrinya.
"Jika memang Marvel harus menikah, aku akan pastikan dia menikah dengan wanita baik baik. Kamu bisa menyerahkan semuanya kepadaku. Kamu bisa mempercayaiku untuk hal ini" Laura tersenyum penuh arti. Dia seakan mendapatkan jalan lain untuk memperoleh seluruh aset kekayaan Suaminya. Beruntung Marvel selalu berada dipihaknya. Membuat Laura semakin bisa dengan leluasa nantinya untuk mendapatkan semua keinginannya.
__ADS_1
"Baiklah" laki laki itu beranjak berdiri dari kursi, melangkah mendekati Luara dan memaku langkahnya di sana sesaat.
"Aku yakin kamu bisa mengaturnya dengan baik" tangannya meraih pundak Laura, kemudian sedikit memberi tekanan ketika meremas punndaknya. Laki laki itu tahu kalau Laura sebenarnya hanya mengincar harta darinya sejak dari dulu. Dia mempertahankan Laura semata karena Marvel merasa nyaman di dekatnya.
♡♡♡
Bunga mendorong kuat tubuhnya agar menjauh. Wajahnya memerah karena malu bercampur amarah. Jengkel terhadap diri sendiri karena lemah.
"Jangan lakukan ini lagi Pres Dir!!" pandangannya terlihat tajam.
"Kamu tahu aku sangat lemah ketika kamu menciumku seperti ini!! Jangan pernah memperlakaukanku seenaknya lagi!" nafasnya terlihat memburu ketika berucap. Bunga tak bisa mengendalikan diri ketika Davien selalu berusaha mendekatinya.
"Salahku karena aku memintamu bersikap baik seperti halnya pegawai lain!, , tetapi saat ini sepertinya aku harus menarik ucapanku kembali!, , aku mohon menjauhlah dariku!!, , aku tidak ingin menarik perhatian orang lain karena kedekatan kita"
Davien terdiam, untuk sesaat dia merasa sakit karena Bunga menolaknya. Ya! awalnya Davien memang sangat membenci Bunga karena suatu alasan yang tak masuk akal. Hanya karena dalam dirinya ada hal yang akan menginngatkan tentang Essie. Tetapi semakin ke sini Davien menyadari bahwa mereka berdua sungguh sangat berbeda. Dia membutuhkan Bunga untuk bisa melupakan Essie. Entah itu sebuah pelampiasan atau karena dia memang menginginkan Bunga. Tetapi untuk saat ini Bunga bisa membuatnya lupa akan perempuan itu.
"Menjauh dariku Pres Dir!!, , kita hanya sebatas karyawan dan atasan! jangan pernah melewati batas itu" Bunga tak ingin mengambil resiko dengan selalu memberi kesempatan kepada Davien untuk mendekatinya. Dia sadar posisinya tak pantas mendapatkan seorang laki laki kaya raya untuk menemani hidupnya. Bahkan Bunga tak berani untuk hanya membayangkan hal itu.
Di sisi lain Bunga sebenarnya selalu merasa takut jika dia menerima Davien, maka dia hanya akan selalu melihat Essie di mata laki laki itu.
"Tidak!, , " sahutnya dengan cepat memotong pembicaraan.
"Dari awal kamu yang memulai semua ini Pres Dir!!," Bunga sejenak terdiam mentralkan perasaannya.
"Jadi aku mohon bersikaplah seperti biasa!, , jangan mendekatiku lagi!! karena aku ingin hidup tenang" Beberapa hari ini memang semua karyawan di perusahaan sering mengguncing tentang Bunga, dan itu karena Olive telah menyebarkan berita bahwa Bunga telah menggodanya untuk mendapatkan Davien yang nantinya akan bisa menopang hidupnya. Hampir semua orang yang melihat Bunga memandangnya dengan tatapan sengit dan jijik. Bunga tak ingin hidupnya semakin susah karena kedekatannya dengan Davien. Jika bermusuhan itu membuatnya semakin lebih baik, maka Bunga akan melakukannya.
Davien tak bisa berfikir lagi, mendapatkan sebuah penolakan dari Bunga seolah telah kehilangan seseorang spesial untuk yang kedua kalinya.
Dia mengangguk perlahan.
"Baik. Kamu akan mendapatkan apa pun yang kamu inginkan!, , aku janji aku tidak akan mengganggumu lagi! maaf jika memang aku selalu membuatmu tidak nyaman!"
"Bunga?" Rolanda tiba tiba masuk ke dalam pantry, dia terpaku ketika melihat Davien berada di dalam sana.
__ADS_1
"E, , maaf Pres Dir" Roland menundukkan kepalanya. Dia terlihat kebingungan karena melihat Davien ada di pantry. Melihat Davien seolah sedang ada keperluan dengan bunga, akhirnya Roland memutuskan untuk pergi.
"Maaf, kalau menggangu anda Pres Dir, saya akan per"
"Tidak perlu!, ," Davien memtong pembicaraan, menatap sinis ke arah Bunga.
"Aku datang kemari hanya untuk memberi peringatan kepada perempuan ini!!" ucapnya merujuk kepada Bunga.
Kemudian Davien melangkah menuju pintu, mengehentikan langkahnya sesaat di depan Roland.
"Lakukan apa pun yang kamu inginkan!, ,aku akan pergi agar tidak menganggu waktu kalian berdua" Davien meraih menepuk pundaknya sebelum melanjutkan langkahnya keluar dari pantry.
Roland rerdiam menatap Bunga yang berdiri di depan sana. Perempuan itu terlihat hanya berdiam diri seolah sedang menikmati apa yang sedang dia rasakan saat ini.
♡♡♡
Davien terdiam duduk di kursinya, menunduk dengan kedua tangan di atas meja. Menautkan semua jari jemarinya menjadi satu kemudian meremasnya dengan kuat.
"Seharusnya tidak seperti ini!"
Davien menikmati rasa nyeri yang menjalar di dadanya hingga menimbulkan rasa sakit yang tak bertepi. Ketika ada seorang perempuan yang bisa membantu dirinya untuk membuka kembali hatinya perlahan, perempuan itu malah seolah menambah rasa sakit di dalam hatinya.
Tangannya bergerak membuka laci di bawah meja Setelahnya, pandangannya menatap boneka kecil berbentuk matahari.
Davien menggenggamnya dengan erat, teringat oleh kata kata gadis kecil yang sempat di temuinya dulu. Ketika sedang bersedih gadis kecil itu meminta Davien untuk menggenggam boneka itu. Dan Davien selalu melakukannya. Tetapi semakin lama semakin tak membuatnya nyaman. Karena ketika sedang terlelap maka boneka serta wajah gadis kecil itu selalu menghantui dalam mimpinya. Davien tak bisa selalu berada dalam posisi itu. Seakan merasa terikat dengan boneka serta gadis kecil itu, Davien akhirnya memilih untuk mengembalikan boneka itu kepada pemiliknya.
Davien beranjak berdiri dari kursi, kemudian melangkah menuju pintu dan keluar. Tubuhnya terpaku ketika berpapasan dengan Bunga di depan pintu.
Perempuan itu membawa nampan dengan secangkir teh hangat di atasnya.
"Pres Dir?"
"Bawa kembali tehnya, aku harus pergi!" Davien berucap sembari meninggalkan Bunga yang masih berdiri di depan ruang kerjanya.
__ADS_1
Seharusnya memang sikap acuh seperti itu yang dia inginkan. Tetapi melihat punggung Davien yang semakin menjauh Bunga merasa ada perasaan aneh yang menyelip ke dalam hatinya. Apakah ucapannya tadi terlalu kasar, yang pasti saat ini apa yang sedang di rasakan oleh Davien, Bunga pun juga merasakannya.
♡♡♡