
"Davien??" gumamnya dengan lirih.
Dengan tatapan penuh rasa bersalah ke arah Davien, Bunga melangkah mundur menjauh dari Marvel. Dadanya berdebar kencang ketika melihat Davien berdiri di tengah tengah pintu. Seolah laki laki itu sedang memergokinya sedang berduaan dengan Marvel.
Sesaat setelah Davien menatapnya dengan penuh rasa kecewa, laki laki itu tersenyum sinis. Hanya salah satu ujung bibirnya yang terangkat tipis.
Kemudian tertawa lirih, menertawai diri sendiri layaknya laki laki bodoh yang sedang menantikan cintanya yang takkan terbalaskan.
Davien sadar tak seharusnya berada di sana, setelah beberapa saat tertunduk menikmati rasa perih yang teramat di dalam hatinya, Davien akhirnya kembali mengangkat kepala menatap Bunga.
Marvel terdiam, masih bertahan berdiri di tempat semula. Tatapannya menyelidik ke arah Bunga dan Davien secawa bergantian. Mengamati apa yang sebebarnya terjadi di antara mereka berdua. Raut wajahnya yang semula terlihat riang gembira, kini nampak datar tanpa ekspresi sedikit pun.
Marvel menghela nafas perlahan, dengan mempelajari tatapan mata mereka berdua kini dia bisa menafsirkan sendiri apa yang terjadi di antara Bunga dan Davien.
Dret dret!!!
Davien menggerakkan tangannya meraih ponsel dari dalam saku jas. Mengalihkan pandangannya ke layar ponsel yang kini ada di tangannya. Dia melihat bahwa James sedang memanggilnya.
"Iya James?" ucapnya setelah ibu jarinya mengusap tombol warna hijau.
Kini pandangannya mulai teralihkan lagi kepada Bunga yang mulai bergerak melangkah mendekatinya.
Namun di saat yang bersamaan, Davien mengangkat salah satu tangannya ke arah Bunga. Meminta perempuan itu untuk tak mendekat dan tetap berada di tempatnya.
Bunga memaku langkahnya seketika, perasaan bersalah kepada Davien melingkupi tubuhnya. Bibirnya membeku tak dapat berucap sepatah kata pun. Raut wajahnya di penuhi rasa bersalah kebingungan, beberapa hari yang lalu dia meminta waktu kepada Davien memberinya waktu untuk memikirkan tentang perasaannya. Namun dengan apa yang sedang terjadi saat ini, seolah seperti sudah memberi jawaban kepada Davien Bahwa Bunga memang tak merespon perasannya.
"Aku mohon jangan mengambil keputusan sendiri Davien, setidaknya dengarkn aku terlebih dulu!"
Keningnya Berkerut ketika harus memikirkan apa yang selanjutnya akan Bunga lakukan untuk membuat Davien tak salah sangka dengan apa yang dilihatnya. Bunga mengusap wajahnya dengan kasar membersihkan sisa sisa krim kue yang masih menempel di beberapa permukaan kulit wajahnya.
__ADS_1
"Pres Dir?, , ini sudah waktunya kita harus pergi menuju ke Bandara" suara James terdengar lirih dari ujung ponselnya. Dia berucap mengingatkan kepada Davien agar laki laki itu segera menyelesaikan urusannya.
"Baikkah aku akan segera datang" Davien menjauhkan ponsel dari telinganya, memutuskan panggilan dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jas.
"Davien?" Bunga memanggil namanya dengan nada memohon. Meminta laki laki itu untuk tak pergi, agar tetap berada di sana mendengarkan penjelasan.
Dengan nada tenang dan ekpresi wajah yang tak terbaca Davien kemudian berucap.
"Maaf, sudah mengganggu waktu kalian berdua. Aku akan segera pergi. Lanjutkan saja apa yang sedang kalian lakukan"
Davien memutar tubuhnya, melangkah menjauh pergi menuju pintu untuk kemudian keluar.
"Davien?" ucapnya dengan nada setengah berteriak. Bunga menggerakkan kakinya melangkah, tetapi dengan cepat Marvel meraih tangannya menghentikan perempuan itu.
"Bunga!" ucap Marvel, meminta perempuan itu untuk tidak mengejar Davien.
"Kak?, lepas" Bunga mencoba menggerakkan tangannya ketika meminta Marvel melepaskan cengkeramannya.
"Kak!, , aku harus mengejarnya" Bunga berusaha terus memohon kepada Marvel.
Merasa bahwa Bunga benar benar merasa bersalah kepada laki laki itu, Marvel akhirnya melepaskan tangannya. Dia melihat kedua bola mata Bunga telah memerah dan berkaca kaca. Tak ingin membuat perempuan itu lebih bersedih, Marvel membiarkan Bunga pergi mengejar Davien.
Bunga berlari tanpa menghiraukan kondisi wajahnya yang berantakan. Bahkan tak sadar dia juga menginjak Bunga pemberian davien yang sudah jatuh teronggok di lantai ketika berlari keluar dari dapur.
Ketika berhasil keluar dari apartemennya Bunga segera berlari menuju lift, perasaan gelisah bercampur khawatir bercampur aduk menjadi satu di dalam hatinya. Setelah pintu terbuka Bunga bergegas masuk kemudian menekan tombol agar pintu lift segera tertutup kembali dan mengantarnya turun ke lantai bawah untuk menemui Davien.
Davien berjalan dengan perlahan melewati lobi, sengaja menunggu Bunga. Apakah perempuan itu akan mengejarnya untuk menahan dan memberikan penjelasan.
Namun tetapi, ketika langkahnya sampai di tengah tengah pintu lobi Bunga pun tak kunjung datang. dia bahkan sempat menoleh menatap pintu lift yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
Lumayan lama dia memandang ke arah sana, berharap pintu akan terbuka dan melihat Bunga keluar.
Davien menghela nafas panjang menetralkan perasaan. Seakan penantiannya tak akan berujung manis Davien kini mengarahkan pandangannya ke James.
Laki laki itu berdiri di samping mobilnya, dia telah membukakan pintu mempersilakan Davien untuk segera masuk ke dalam.
Davien akhirnya memilih untuk berjalan menuju ke mobil. Melangkah masuk duduk manis di sana. Pandangannya lurus kedepan, tak sekali pun dia menoleh ke pintu lobi untuk memastikan sekali lagi, apakah Bunga akan menemuinya atau tidak.
James bisa membaca apa yang terjadi dengan Davien ketika hanya membaca ekspresi wajahnya saja. Laki laki itu terlihat murung dan sangat kecewa. Tetapi Davien sangat pandai dalam mengendalikan diri untuk menyembunyikan segala sesuatu yang sedang dia rasakan.
Setelah menyalakan mesin, James mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Dia sengaja melakukannya karena menginginkan apa yang diinginkan oleh Davien terlaksana. James memberi waktu sedikit agar Bunga datang dan menemuinya.
Bunga berlari cepat setelah keluar dari lift, pandangannya menyelidik ke sekitar halaman lobi. Tetapi dia sudah tak mendapatkan Davien berada di sana. Ketika mengalihkan pandangannya ke arah lain dia melihat mobil Davien telah bergerak menjauh.
Bunga segera berlari mengejarnya.
"DAVIEN!!" teriaknya.
Dari arah dalam James melirik ke sepion, dia melihat bayangan Bunga sedang berlari mengejarnya. Setelahnya dia mengalihkan pandangannya ke sepion depan. Memastika Davien apakah laki laki itu tahu atau tidak jika Bunga sedang berusaha mengejarnya.
"Pres Dir?"
"Tetaplah fokus ke depan!!" ucapnya memperingatkan James agar tak menghiraukan Bunga. Dia tahu perempuan itu sedang berlari ke arahnya.
"Tapi Pres Dir, , Anda akan pergi ke Indonesia selama beberapa hari! ini tidak baik untuk kesehatan Anda!" James tahu benar bahwa Davien pasti akan terganggu dengan masalah ini. Selain tidak bisa tidur dengan tenang, Davien pasti juga tidak akan bisa berkonsentrasi dengan baik. Dia paham betul, bahwa Davien pasti akan terus memikirkan Bunga saat berada di Indonesia.
"Pres Dir? kita masih ada waktu 5 menit yang tersisa sebelum pergi ke Bandara" James berusaha memberi tahu kepada Davien bahwa dia memiliki waktu 5 menit untuk menemui Bunga.
"Hentikan mobilnya!" perintahnya dengan nada malas.
__ADS_1
James tersenyum tipis ketika Davien akhirnya merespon ucapannya dengan positif. Dia pun segera menghentikan laju kendaraannya.
♡♡♡