Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
64. Menyatu


__ADS_3

Sunyi, hanya suara nafas yang saling memburu terdengar kasar di kamar itu.


Beberapa kali Davien mendapat penolakan. Tetapi dia tak kehabisan akal. Tangannya berhas meraih pinggang sementara satu tangannya lagi telah berada di tengkuk perempuan itu. Davien memaksa Bunga mengikuti langkahnya menuju ke ranjang dengan bibir yang masih saling bertautan.


Sesampainya di tepi ranjang Davien memaksanya lagi agar berbaring di atas sana.


Bunga tidak bisa menahan beratnya dorongan tubuh Davien yang membuat punggungnya terdorong ke belakang hingga berbaring di atas ranjang. Bagaimana bisa Bunga yang tubuhnya mungil melawan Davien yang jangkung dan berbadan kekar seakan semua tubuhnya dipenuhi otot yang sudah terlatih, belum lagi perhatiannya pecah terbagi karena Davien sama sekali tak melepaskan ciumannya saat itu barang sedetikpun.


Bunga mencengkeram kedua lengannya yang keras saat Davien memaku kedua kakinya yang masih menyentuh lantai dengan memosisikan kaki Bunga berada di tengah sela kedua kakinya. Sehingga perempuan itu semakin tak bisa berkutik. Sementara bibirnya masih dinikmati oleh Davien habis-habisan.


Ciuman terhenti ketika Davien berganti mengecup pipinya, yang kemudian bergerak menuju ke rahang lalu menurun perlahan ke lehernya.


"Davien!!" Bunga berusaha berontak, namun sepertinya percuma.


Walau pun di bawah pengaruh alkohol ternyata lelaki itu terbilang cukup kuat mengendalikan diri sehingga efeknya tidak terlalu berpengaruh pada tubuhnya, Bunga yang dalam keadaan waras pun tak mampu melawannya.


Seperti seekor singa kelaparan yang sedang menikmati mangsanya setelah berhari-hari menjadi incaran. Dengan buas Davien memuaskan dahaganya. Lelaki itu mulai menjelajah setiap inci seluruh bagian tubuhnya dengan kecupan tanpa ada satu bagian pun yang terlewatkan.


Bunga memejamkan mata menggertakkan giginya kuat menahan kecewa, bersamaan dengan itu buliran air mulai mengalir dari ujung matanya mengalir ke pelipis kemudian menghilang saat melewati barisan rambutnya yang tebal. Berkali-kali mencoba melawan namun kekuatannya malah semakin melemah.


Otot yang menjadi kunci utama untuk bisa menggerakkan tubuhnya seketika mati rasa saat syaraf di seluruh tubuhnya merespons sentuhan yang dilakukan oleh Davien tepat pada bagian tubuh yang menjadi kelemahan seorang perempuan jika bagian itu tersentuh.


Contoh kecilnya saat Bunga merasakan Davien tengah menyimpan wajahnya tepat di pinggang bagian samping tubuhnya langsung menggeliat.


Padahal jelas terlihat tubuhnya masih terbungkus handuk namun nafas panas yang keluar dari mulut Davien menembus celah handuk dan saat uap panas itu menyentuh permukaan kulitnya menimbulkan sensasi geli yang membuatnya tak berdaya.


Hal sekecil itu mampu membuat seluruh syarafnya melemah. Tubuhnya seakan kehilangan banyak tenaga bahkan mengepalkan tangan, Bunga nyaris tak mampu melakukannya. Bunga hanya bisa pasrah karena jika melawan lagi tenaganya akan semakin habis tak tersisa.

__ADS_1


Lelaki itu berada di atas tubuhnya, menggunakan kedua tangan yang diletakkan di samping kanan dan kiri tubuhnya sebagai penyangga. Sepanjang lengan milik Davien sejauh itu pula jarak di antara tubuh mereka.


Bunga tak sanggup menatap kedua matanya, Davien seperti sudah kehilangan akal sehat. Terlebih lagi ketika lelaki itu dengan paksa menarik handuk yang membalut tubuhnya lalu membuangnya ke lantai teronggok begitu saja di sana.


Refleks Bunga meringkuk menutup dada dengan kedua tangan yang menyilang sementara kakinya ditekuk seolah ingin melindungi apa yang ada di bawah sana.


Posisi tubuhnya saat ini terbaring miring meringkuk di bawah kurungan tubuhnya Davien.


Melihat reaksinya terus berusaha menghindar, Davien langsung memendam wajahnya tepat di tengah perpotongan antara leher dan bahunya, kemudian lelaki itu bebisik mengucapkan sebuah kalimat peringatan namun Bunga yang mendengarnya tersirat akan sebuah ancaman. "Kau akan tahu, seserius apa aku ingin memilikimu. Setelah ini jangan berharap kau bisa menemuinya lagi di belakangku!"


Antara sedih, kecewa bercampur di hatinya. Bunga seakan bisa merasakan seperti ada sengatan listrik menyengat ke tubuhnya ketika lelaki itu berucap, karena uap panas yang keluar dari mulutnya menyapu permukaan lehernya.


Kembali Davin melancarkan aksinya, entah apa yang terjadi Davien mulai bersikap aneh setengah sadar seperti terbawa pengaruh alkohol dan emosi yang keduanya bercampur menjadi amarah di dadanya.


Kenyataannya Devien hanya tidak ingin Bunga menemui Marvel, tetapi mungkin karena efek mabuk membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih hanya itu cara dan jalan satu-satunya yang menurut Davien bisa membuat Bunga berhenti menemui Marvel.


"Kau yang memaksaku melakukan ini Bunga!" Davien menarik bahunya memaksa agar Bunga tidak menyembunyikan wajahnya, kemudian memaku kedua tangannya ke ranjang dengan cengkeraman kuat.


Bunga tak bisa lagi melindungi tubuhnya. Kini lelaki itu bisa melihat semuanya, setiap detail bagian bentuk tubuhnya, Davien bisa melihat jelas.


Davien kembali mencuumbunya dengan kasar, dia membiarkan tubuhnya bergerak sesuai dengan nalurinya.


Ini adalah kali pertama untuk Bunga, dia berharap Davien tahu dan sadar, maka dengan begitu Davien akan menyesalinya di kemudian hari.


Tubuhnya telah dikuasai hasrat yang tak terbendung lagi. Tetapi Davien sempat terhenti ketika dia sadar bahwa ini juga pertama kali baginya. Namun tubuhnya yang sudah terbakar amarah seakan tak bisa lagi di hentikan.


Sepertinya dia tidak membutuhkan pemanasan karena otak dan tubuhnya telah panas oleh cemburu dan rasa kecewa terhadap Bunga. Tak perlu berlama-lama lagi Davien pun menyatukan tubuhnya dengan Bunga, dia tak terlihat beringas seperti sebelumnya saat sedang mencium bibirnya paksa.

__ADS_1


"Akh!" rintihnya, namun tangannya secara cepat membungkam mulutnya rapat. Pipinya merona, tapi kedua matanya berkaca. Bunga benar-benar malu bukan karena tersipu tapi merasa sedih karena tak seharusnya dia bereaksi seperti itu.


Bagian bawah sana seakan terasa penuh saat Davien berusaha menyatukan tubuh mereka. Seakan tak muat menerima Davien seutuhnya masuk ke bagian terdalam dari tubuhnya.


"Mh!" lagi, Bunga tak bermaksud melenguh. Tetapi suara itu refleks keluar dari mulutnya saat merasakan sedikit perih seperti sesuatu yang besar dipaksa masuk dan terus masuk lebih dalam lagi.


Hah! Haah! nafasnya kasar tak beraturan, Bunga bisa merasakan saat Davien akhirnya berhasil masuk seutuhnya.


Baru saja Bunga menghela nafas lega tapi sedetik berikutnya apa yang dilakukan Davien terhadap tubuhnya menimbulkan efek yang begitu mengerikan.


"Ah! Akh!" rintihan menahan kesakitan, untuk pertama kali tubuhnya bagian dalam rasanya seperti terkoyak. Bunga mengira bagian dalam tubuhnya telah rusak karena sempat merasa Davien memaksa masuk lagi tanpa ampun. Bunga sempat takut itu akan berubah sakit dan semakin perih, tapi setelah Davien melakukannya berulang-ulang anehnya perih itu berubah menjadi rasa yang tak mampu dijabarkan dengan kalimat.


Davien kali ini memperlakukan perempuan itu dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian kadang sesekali Davien terlihat menutup matanya. Mengerutkan dahi saat merasakan kepalanya pening seperti dihantam palu besar dari arah belakang. Kepalanya mulai terasa pening.


Semula Davien berencana hanya ingin melakukannya sekali, tapi tubuh perempuan itu seakan membuatnya tak bisa berpaling. Layaknya sebuah mantra mampu membuat Davien kecanduan dengan tubuhnya.


Untuk ke sekian kalinya Davien memaksa Bunga memenuhi hasratnya. Davien menarik lengannya yang sudah terkulai lemas, sekali lagi dia memaksa perempuan itu mengubah posisi yang tadinya terlentang kini berubah tengkurap di atas ranjang.


“Akh!” Bunga tersentak saat Davien mendorong tubuhnya secara tak sabar agar cepat kembali ke posisi siap.


Bunga berusaha menepis pikiran kotornya saat terbesit sebuah kata ‘nikmat’ melayang-layang di otaknya. Sialnya itu bukan makanan, tapi apa yang dilakukan oleh Davien nyatanya memang menimbulkan efek keenakan di bagian tubuhnya tertentu saat berulang kali sengaja disentuh oleh Davien dengan keras. “Ngh!” lagi-lagi Bunga tak mampu menahan suaranya. Hal itu memancing Davien semakin kuat mendorong tubuhnya tanpa ampun berulang kali hingga berujung pada sebuah kenikmatan yang tak berujung, semakin sering Davien menyentuhnya Bunga semakin menginginkannya lebih dari itu.


Namun setiap kali tubuh Davien mengentak kuat, memaksa masuk lebih dalam lagi dan akhirnya berhasil menyentuh jauh bagian terdalam lebih dalam dari sebelumnya seketika Bunga dibuat menjerit, melenguh tanpa henti.


Sebesar mungkin dia menahan suara itu keluar dari tenggorokannya, tapi percuma Bunga tak mampu menahannya. Tubuhnya menggila kala lenguhan yang terdengar semakin keras seperti menahan kesakitan itu justru membuat Davien semakin bersemangat lagi. Suara Bunga semakin membakar hasratnya.


Bunga bahkan sampai menggigit seprei yang mulai basah terkena keringat berharap itu akan membantunya menahan suara lenguhan agar tidak terdengar kencang ketika lagi-lagi Davien bergerak cepat dan berhasil menyentuh bagian terdalam tubuhnya berulang kali.

__ADS_1


Dorongan yang semakin kencang berirama dan terus menerus terjadi berulang-ulang menimbulkan sensasi yang sungguh luar biasa, sekujur tubuhnya bagian dalam seakan terasa gatal. Tepat di bagian sana Bunga ingin Davien membantunya menjangkau lebih dalam lagi dan lagi. Tentu saja keinginan hanya itu dia serukan di dalam pikirannya.


__ADS_2