Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
69. Menghindari Davien


__ADS_3

Namanya sangat asing, Bunga belum pernah mendengar Davien membahas orang itu. ‘Juliet Fladimer?? Seharusnya dia seorang perempuan kalau dilihat dari namanya. Tapi... apa hubungan Davien dengannya?’ wajahnya yang ditekuk seketika terangkat saat Bunga mengalihkan pandangan ke Davien.


Lelaki itu berdiri masih dengan tangan bersedekap menunggu reaksi Bunga setelah dia menyebut nama itu di depannya.


“Umm... ini sudah malam kita harus pulang!” Bunga memilih tak menghiraukannya, tapi nama perempuan itu bahkan terukir di liontin. Ck!!! Decaknya kesal disertai lirikan tajam.


“Eh, kenapa?” tanyanya seolah tak ada beban. “Kau tidak ingin tahu siapa itu–,”


“Tidak!!!” sahutnya cepat, Bunga tak mau mendengar siapa, kenapa dan apa hubungan mereka berdua.


“Kau cemburu karena aku menulis nama perempuan lain di liontin itu?”


“Tidak! Sama sekali tidak cemburu!” jelas sangat bertolak belakang dengan hatinya.


“Benarkah? Tapi yang aku lihat dari ekspresi wajahmu saat ini kau benar-benar cemburu dengan nama itu!”


“Tidak! Tidak! Tidak! Atau kau ingin aku melepaskan kalung ini? Kau ingin memberikan kalung ini pada perempuan itu?” Bunga telah mengambil ancang-ancang melepas kalungnya.


“Hei! Hei! Tunggu Bunga!! Kenapa kau mau melepaskannya?” Davien berhasil menahan tangannya. “Jelas-jelas kalung ini untukmu! Kalau kau melepaskannya, lalu akan kuberikan kepada siapa kalung itu?”


“Terserah!! Berikan saja pada si Juliet-Julietmu itu!” Bunga sempat merasa sangat senang, tapi Davien justru membuatnya kesal karena ukiran di liontin itu.


“Kau bilang tidak cemburu... tapi ternyata apa! Kau bahkan cemburu pada nama sebuah nama!”


“Juliet Fladimer!! Jelas-jelas itu nama perempuan. Kau bilang aku cemburu hanya pada sebuah nama??!” kedua alisnya terangkat secara bersamaan, seakan Bunga meminta penjelasan dari kalimat yang baru saja terucap dari mulutnya.


“Iya! Apa yang aku katakan memang benar! Kau cemburu pada sebuah nama, Juliet Fladimer!! Itu hanya sebuah nama, Bunga! Nama untuk anak kita, jika dia bayi perempuan nantinya!” ketika menjelaskan semuanya, raut wajah Davien bahkan tak memperlihatkan sedikit rasa menyesal karena dengan sengaja telah membuat Bunga salah sangka.


Kedua tangannya yang sempat ingin melepaskan kalung pun bergerak turun. Pipinya memerah malu. “Um, bayi? bagaimana bisa kau... kau sudah menyiapkan nama untuk bayimu sendiri! Kenapa tidak mengajakku berunding?” Bunga mendengus kesal dibuatnya. “Kau! Kau... Davien kau... MENYEBALKAN!!” serunya sembari menghadiahi lelaki itu pukulan bertubi-tubi di dadanya. “Iiih! Iiihhh! Kau pantas mendapatkannya!” Bunga sangat kesal meskipun pipinya merona, belum puas rasanya kalau belum membuat Davien memohon ampun.


Hahahaha.... Tawanya riang, Davien sangat bahagia bisa melihat reaksi Bunga saat sedang cemburu. Sebagai gantinya dia membiarkan Bunga memukuli dadanya tanpa melakukan perlawanan.


“Apanya yang lucu! Kau pikir ini menyenangkan?! Kau menyebalkan, Davien!!”


“Iya, iya aku minta maaf. Oke?” Davien meraih kedua tangannya menghentikan Bunga. “Jadi... malam ini kau ikut pulang denganku, kan?" Kini Davien mengangkat tangannya ke atas kemudian memberikan kecupan di punggung tangannya sebagai rasa menyesal karena telah menggodanya.


“Tidak! Aku tidak mau!!” sahutnya cepat.


“Ayolah! Aku sudah meminta maaf. Sebenarnya aku tidak membuatmu cemburu hanya saja kau langsung menelan mentah-mentah ucapanku tanpa menunggu kelanjutannya!” jelas sekali padahal Davien sengaja, tapi Bunga mudah sekali luluh.


“Entah!! Aku masih sangat kesal denganmu!!!” Bunga memalingkan wajahnya.


“Ayolaaah!” tingkah Davien saat ini benar-benar berbahaya jika ada orang lain yang melihatnya. Alisnya turun menggambarkan kesedihan, belum lagi bibirnya. Begitu juga dengan ekspresi sedih di wajahnya justru membuat Davien terlihat sangat imut akhirnya Bunga tak mampu menolak permintaan maafnya.


“Ah! Ya ampun! Aku tidak percaya kau bisa melakukannya! Semua orang akan tertawa melihatmu, Davien!”


Lelaki itu tersenyum lebar setelah berdamai dengannya. “Jadi!! Malam ini kau pulang denganku, kan?” pintanya lagi


“Umm, kalau soal itu... aku–,”


"Bungaaaa!!” rengeknya lagi. “Aku janji aku tidak akan melakukan apa pun kepadamu!" Davien berucap sambil menahan senyum.


Bunga memutar matanya berpikir keras. "Tapi... kenapa aku tidak yakin! Kau bahkan berucap sambil tersenyum. Memangnya apa yang lucu?”


"Siapa yang tersenyum? Aku tidak sedang tersenyum” Davien mengelaknya.


"Aku melihatnya, kau tersenyum seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kau sedang merencanakan sesuatu, kan?” tuduhnya.


"Jangan berpikir berlebihan, memangnya apa yang bisa aku lakukan kepadamu. Kau tahu sendiri malam itu aku mabuk, sedangkan saat ini aku tidak mabuk aku tidak mungkin melakukan hal itu denganmu" Davien masih berusaha terus menahan senyumnya, namun ujung bibirnya terlihat jelas nampak terangkat. Saat teringat sesuatu, Davien pun melanjutkan ucapannya. "Tunggu! Tunggu!! Memangnya... kau pikir aku akan melakukan apa denganmu?" tambahnya.

__ADS_1


Bunga merona, dia terlihat sangat malu entah apa yang ada di otaknya tetapi dia seakan berpikir kalau Davien pasti akan mencari kesempatan lagi untuk melakukannya. Karena bunga tahu sifat jeleknya seorang lelaki. Sekali dia melakukannya pasti akan ada kata lagi dan lagi di kemudian hari. "Tidak ada, Apa memangnya? Aku juga tidak tahu. Lupakan!" Bunga yang sudah terpojok tak mau membahasnya lagi. Dia sangat malu karena Davien seolah bisa membaca pikirannya.


"Jangan-jangan justru kau yang ingin melakukannya lagi denganku?" Davien dengan pikiran nakalnya pun mencoba menggodanya.


"Apa!! Ah!! Itu tidak mungkin! Memangnya melakukan apa coba?" Bunga membuang pandangannya kearah lain, mencoba menghindari Davien yang terus memandangnya dengan lekat. Membungkam bibirnya yang tak bisa menahan tersenyum dengan tangannya agar Davien tak melihat.


"Sebenarnya aku tidak ada pikiran untuk ke sana, tapi kenapa kau selalu mengingatkan aku seolah aku tidak boleh melakukan hal itu lagi. Padahal aku sama sekali tidak berpikir untuk melakukannya lagi denganmu, Bunga! Aku hanya ingin bersamamu titik! Menghabiskan waktu bersama! Aku ingin setiap apa pun yang aku lakukan harus selalu ada dirimu di sampingku!”


Bunga merasa bodoh, benar-benar sangat malu dengan pikiran mesumnya. "Lupakan! Lupakan! lupakan!” sahutnya.


Ketika mereka sedang beradu mulut sebuah bintang jatuh melintas di atas langit hingga mengalihkan perhatian mereka seketika.


"Woooaah..." Bunga menganga melihat keindahan panorama alam di langit gelap itu. Merasa sangat beruntung karena bintang jatuh itu menyelamatkan dirinya dari rasa malu.


Langit terlihat berwarna-warni dengan kilauan bintang yang tersebar di atas sana, terlebih lagi ketika melihat bintang jatuh yang kedua, Bunga sudah tak bisa lagi berucap. “Waaah! Satu bintang jatuh lagi dari langit menuju kearah utara!! Davien lihatlah!” Bunga menunjuk dengan jarinya yang diangkat tinggi-tinggi.


"Kau tidak meminta sesuatu?" ucap Davien membuyarkan pikirannya.


Bunga menoleh cepat menatap wajah Davien dengan penuh tanda tanya. "Minta apa?" pikirannya kosong bahkan Bunga tak bisa berpikir apa pun saat melihat bintang jatuh.


"Kau bahkan sudah tahu Bunga, bukankah banyak orang bilang kalau ada bintang jatuh apa pun yang kau minta pasti akan terkabulkan?" Davien mencoba menjelaskan.


"Benar juga! Tapi... benarkah bintang jatuh bisa mengabulkan permintaan kita?" Tanyanya ragu.


“Ummm... entahlah! Aku juga tidak tahu. Bagaimana kalau kau buktikan sendiri?”


Bunga mengangguk pelan menyetujui saran dari Davien. “Baiklah!” dia memejamkan mata diiringi senyum manis di bibirnya.


Sementara Davien yang berdiri di sampingnya hanya diam mengawasi ekspresi wajah perempuan itu.


Tak lama Bunga membuka matanya kembali menoleh kearah Davien kemudian berucap. "Kau tidak meminta sesuatu?" ucapnya penasaran karena dia melihat lelaki itu justru sibuk memperhatikannya.


"Sudah" jawabnya singkat.


“Uhmm itu... rahasia! Suatu saat aku pasti akan memberi tahu padamu!”


"Hah!! Pelit, kenapa kau tidak memberitahuku sekarang! Apa bedanya Davien?”


“Bagaimana kalau kau memberi tahu padaku dulu, apa yang baru saja kau minta?”


"Adalah, nanti kalau sudah waktunya aku pasti akan memberitahu dirimu!" ucap Bunga membalikkan perkataan Davien.


Davien terkekeh gemas dengan sikapnya. "Baiklah! Jika sudah saatnya nanti... kita akan membicarakan ini bersama-sama dan mengatakan permintaan kita masing-masing!”


“Uhm!” Bunga mengangguk kemudian memejamkan mata sesaat ketika Davien mengecup keningnya.


“Jadi... malam ini kau pulang bersamaku, kan?" Untuk yang ke sekian kalinya, permintaan yang sama dari Davien.


Bunga sadar kalau lelaki itu tak akan menyerah sebelum mendapatkan jawaban, Iya! darinya. "Iya! Iya! Aku akan pulang bersamamu."


Wajahnya langsung terlihat ceria, membawa Bunga ke dalam pelukan hangat.


***


Sesampainya di rumah, Bunga selalu mencoba untuk mencari akal bagaimana menghindari Davien. Dia selalu melakukan pekerjaan yang menurut Davien sangat tidak masuk akal.


Contohnya seperti membersihkan kamar mandi di malam hari, membersihkan kamar tamu, menata ruang kerja miliknya. Padahal tiap ruangan yang dibersihkan oleh Bunga itu sudah terlihat rapi.


Setiap Bunga membersihkan ruangan, Davien selalu mengikutinya, dia akan berdiri di sisi lain sambil bersandar bersedekap memperhatikannya. Ketika pandangannya mulai terlihat tajam dan sangat intens, perempuan itu semakin gugup namun Bunga bersikap tenang seolah tak ada Davien di sana.

__ADS_1


Lelaki itu menghela nafas panjang, melegakan dadanya yang kesal melihat tingkahnya. "Jadi... kau mau menghabiskan waktumu untuk membereskan rumah?" ucap Davien saat Bunga sedang sibuk menata map di atas meja kerjanya.


"Tugasku di sini sebagai asisten pribadi untuk membersihkan rumahmu. Jadi kalau rumah ini masih terlihat kotor aku belum bisa istirahat. Sekarang lebih baik kau kembali ke kamar dan tidur" usahanya mengusir lelaki itu.


Namun Davien tak mengindahkan permintaannya. Dia justru terus mengikuti Bunga ke mana pun perempuan itu melangkah. "Ada apa dengan perempuan ini? Dia bisa membuatku gila!" ucapnya dalam hati.


Bunga terus mencoba mencari kesibukan untuk mengisi waktu berharap Davien akan pergi ke kamar dan tidur terlebih dulu.


"Jika kau belum tidur maka aku tidak akan tidur!” Davin masih mengawasinya, tangannya bergerak meraih gelas menuangkan air mineral ke dalam lalu meneguknya perlahan. Dia melangkah menuju kursi kemudian duduk sambil mengawasi Bunga yang terus sibuk membersihkan pantry. "Sepertinya kau lupa, kau bahkan sudah membersihkan meja itu 4 kali, kau tidak ingat?”


Bunga terpaku kemudian mencari aktivitas lain. "Baguslah, semakin dibersihkan akan semakin tambah bersih" sudah kepalang basah Bunga tak bisa menghindar lagi.


"Bunga, kembali ke kamar sekarang atau aku akan menggendongmu!" perintahnya dengan nada lembut dipenuhi kasih sayang.


"Mmm... bagaimana kalau kau kembali ke kamar terlebih dulu? Nanti aku akan menyusul" Bunga mencoba menolaknya secara halus.


Davien tersenyum lebar, terlihat jelas kalau dia sedang merencanakan sesuatu di kepalanya. Saking gemasnya dengan Bunga yang selalu mencari cara untuk mengulur ulur waktu Davien pun menggendongnya membawa Bunga masuk ke dalam kamar.


Bunga berontak dia meminta turun tetapi Davien tak mengabulkan permintaannya. "Davien apa yang sedang kau lakukan!!”


"Ini sudah malam Bunga, kau seharusnya istirahat!" setelah sampai ke dalam kamar Davien membuang tubuhnya ke atas ranjang.


Perempuan itu terlihat nampak waspada matanya mengawasi Davien yang sedang berdiri mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.


Ketika Davien naik ke atas ranjang Bunga menarik tubuhnya menjauh sampai ke ujung. "Kau kenapa?" Davien kebingungan.


Bunga yang gugup berusaha bersikap santai. "Tidak, aku tidak apa-apa sudah malam ayo kita tidur" Bunga pun tidur memunggunginya.


Davien mendekatinya membuat Bunga terkejut dengan cepat menutup matanya rapat hingga terlihat kerutan tipis sekitar matanya. "Tenang, aku tidak akan melakukan apa pun kepadamu" Davien berucap sambil tersenyum reaksi Bunga yang lucu membuatnya gembira. Davien menarik selimut yang digunakan oleh Bunga dengan maksud berbagi selimut.


Sontak Bunga semakin terkejut kala Davien menyelusupkan tangan ke pinggangnya lalu menarik tubuh perempuan itu ke dalam dekapan. "Davien!! Apa yang kau lakukan!" ucapnya penuh waspada.


Lelaki itu berbisik dengan lembut. "Tenangkan dirimu, diamlah dan biarkan aku tidur seperti ini sampai pagi.”


“Tapi jangan terlalu dekat jua, kan? Aku merasa panas ini!”


“Tidak bisa! Aku mau kita tidur seperti ini!” Davien memejamkan mata meskipun sebenarnya susah terlelap.


Bunga masih saja terus berulah karena gelisah dan berusaha mencoba melepaskan diri dari Davien.


"Bungaaaaa” Davien berucap dengan nada mendayu. “Ayolah... kau hanya perlu diam. Biarkan aku memelukmu seperti ini, apa susahnya ha?”


Sebenarnya bukan masalah susah atau tidak, Cuma Bunga tak bisa menahan lehernya yang terasa geli hingga merinding sekujur tubuhnya saat nafas Davien menyembur ke sana.


“Kau bisa tenang, kan? Atau... kau lebih memilih terus berulah dan mencoba untuk membangunkannya?" Tambahnya.


Bunga membulatkan mata dia paham ke mana arah pembicaraan itu. Dia pun memilih diam dan membiarkan Davien tidur sambil memeluknya dari belakang.


Lelaki itu tersenyum setelahnya menghadiahi kecupan di belakang kepala.


***


Selesai menata map Bunga mulai disibukkan dengan berbagai pekerjaannya menyelesaikan laporan, kemudian ikut rapat bersama para pegawai dari divisi lain. Dia juga ikut pergi meeting di luar kantor bersama dengan Davien dan James.


Bunga terlihat percaya diri memang awalnya dia sedikit ragu tapi dengan kemampuan yang dia miliki, Bunga bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.


Setelah selesai meeting Davien menghampiri Bunga yang duduk di ujung meja. "Kau berdandanlah yang cantik malam ini.”


Bunga mengangkat wajahnya. “Memangnya kita akan pergi ke mana??”

__ADS_1


"Aku sudah berjanji pada Ibu kalau aku akan memperkenalkanmu dengannya."


“He??” Bunga terkejut mendengarnya.


__ADS_2