
Marvel mengulurkan tangannya ke arah Bunga ketika perempuan itu akan beranjak turun dari mobil. Dia tersenyum saat menunggu Bunga meraih tanganya.
Tanpa ragu dia membalas uluran tangannya dan tersenyum manis ke arah Marvel dan beranjak turun.
Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam restoran di mana Marvel dan temannya telah melakukan janji untuk bertemu.
Seorang pelayan telah berdiri di depan pintu
menyambut kedatangan mereka dengan senyum manisnya.
"Silahkan" pelayan itu menggerakkan tangannya nempersilakan Bunga dan Marvel masuk ke arah dalam.
"Reservasi atas nama Keiko" ucap Marvel kepada pelayan itu.
Bunga yang mendengarnya langsung terpaku. Seolah kakinya tak dapat bergerak dia terdiam mematung membuat Marvel ikut menghentikan langkahnya. Laki laki itu menoleh ke belakang melihat Bunga ketika perempuan itu hanya diam.
"Bunga?" Marvel memangggmilnya untuk membuat perempuan itu sadar dari lamunannya.
"Ee?" Bunga rersadar, mengalihkan pandangannya yang kosong ke arah marvel kemudian tersenyum getir.
"Iya" Bunga kembali melangkah. Mengikuti pelayan beriringan dengan Marvel menuju ke tempat di mana Keiko dan Davien sudah berada di sana sebelumnya.
Dari kejauhan Bunga melihat Keiko sedang membantu Davien membenarkan jasnya.
"Mereka sangat serasi"
Entah mengapa Bunga merasa sangat lemah.
"Tidak bisa seperti ini Bunga!, dia tidak boleh mempermainkanmu lagi!. Cukup!, , Jangan biarkan Davien menguasai dirimu"
Bunga menarik tangannya dari genggaman tangan Marvel. Dia kini melingkarkan tangannya di lengan laki laki itu kemudian tersenyum.
"Kalian menunggu lama?" ucap marvel.
Davien seketika mengalihkan pandangannya ke arah Marvel, kemudian menggerakkan bola matanya menatap perempuan yang berdiri di sampingnya. Pandangan mereka bertemu, Davien nampak terkejut saat melihat Bunga datang bersama dengan marvel terlebih lagi ketika melihat perempuan itu tengah bergelayut memeluk lengannya.
Davien termasuk orang yang pandai dalam mengendalikan perasaannya. Dan ketika merasa tidak suka melihat Bunga berada di dekat Marvel, dia pun sanggup memperlihatkan ekspresi wajahnya yang tak terbaca. Seolah tak terjadi apa apa dengannya.
"Kamu?" ucap Keiko kepada Bunga. Perempuan itu tersenyum tipis kemudian ujung matanya melirik ke arah Davien yang sedang menunduk menghindar untuk melihat pemandangan yang tak menyenangkan di depan matanya.
Bunga menganggukkan kepalanya ke Keiko memberi salam. Keiko pun membalasnya.
Marvel menarik kursi dan mempersilahkan Bunga untuk duduk.
"Terima kasih" ucap Bunga sembari duduk di kursi.
"Jadi kalian saling mengenal?" Keiko memulai pembicaraan.
"Iya" Marvel menoleh menatap Bunga dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Tepatnya beberapa tahun yang lalu. Aku bertemu dengannya di taman kota" dia tersenyum, dan bunga pun membalasnya.
"Aku sangat menyayanginya" Marvel mengusap ujung kepalanya, hal yang selalu dia lakukan setiap merasa gemas dengan Bunga.
"Kak marvel aku bukan anak kecil lagi" Bunga merasa malu ketika Marvel melakukan hal itu. Dia meraih tangannya memaksa Marvel untuk berhenti mengusap kepalanya.
"Tetapi sayang, Bunga belum mau membalasnya. Aku tidak tahu harus berapa lama lagi menunghu dia mau menerima perasaanku" Marvel menggenggam, mengecup punggung tangannya kemudian.
__ADS_1
Pipinya merona, seketika Bunga langsung menarik tangannya. Menunduk menyembunyikan wajahnya yang malu.
"Kalian sangat serasi, aku senang nelihatmu bahagia Marvel" Keiko tersenyum. Ujung matanya kini melirik ke arah Davien yang terdiam. Laki laki itu menatap gelas yang digenggamnya dengan erat. Ekspresi wajahnya pun terlihat datar. Tetapi Keiko tahu Davien merasa tak nyman dengan semua itu.
"Davien?" Keiko memanggilnya, tangannya bergerak meraih tangan Davien berusaha membuat laki laki itu sadar dari lamunannya.
Davien menoleh melihat ke arah Keiko.
"Bagaimana denganmu waktu di Amerika?" Davien mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin lagi mendengar cerita tentang Marvel dengan Bunga.
Keiko sangat bersemangat ketika menceritakan bagaimana dia mengikuti peragaan busana di sana. Dia ditunjuk sebagai model utama untuk memakai gaun rancangan desainar terkenal.
Marvel mengimbanginya, dia pun ikut berbincang.
Melihat mereka bertiga sangat akrab Bunga merasa sangat asing. Dia hanya tersenyum getir sembari sesekali menunduk karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"Situasi macam apa ini??, aku hanya ingin segera pulang!"
Davien menatapnya, dan saat itu juga Bunga mengangkat wajahnya hingga pandangan mereka bertemu.
Bunga dan Davien saling menatap ketika Marvel sibuk berbincang dengan Keiko.
Davien melirik ke Marvel sesaat kemudian mengangkat salah satu alisnya ke arah Bunga. Seolah bertanya 'sudah sejauh itukah hubungan kalian?'.
Davien kemudian menggelangkan kepala perlahan sembari tersenyum getir.
Bunga menunduk menghindari tatapan matanya. Tak lama kemudian beberapa hidangan yang sudah dipesan khusus oleh Keiko akhirnya datang.
Suasana di meja itu menjadi hening, semua sedang menikmati hidangan yang tersedia.
Davien sesekali mengarahkan pandangannya ke Bunga yang duduk tepat di seberang meja. Tetapi Bunga selalu menghindari tatapan matanya. Tak pernah mau membalas Davien yang terus melihat ke arahnya.
Keningnya berkerut ketika melihat Marvel membantu Bunga membersihkan sisa makanan yang menempel di bibirnya.
"Aku bisa melakukannya sendiri ka" ucap Bunga.
Marvel tersenyum namun tatapan matanya kini terus fokus kepada bibir Bunga yang masih sedikit membesar dan memerah.
"Kenapa dengan bibirmu?"
Seketika Davien terpaku, terdiam menunduk menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Bunga.
"Eee, , mm ini" Bunga terbata, bingung harus menjawab apa. Ujung matanya melihat Davien yang masih tertunduk. Dia kemudian menggigit bibir bawahnya.
"Sakit?" Marvel merasa khawatir, tangannya merapihkan rambut yang menutupi wajah Bunga dan menyimpannya ke belakang telinga.
"Tidak" jawabnya singkat.
Keiko melirik ke arah Davien yang masih terdiam, laki laki itu melamun.
"Kamu baik baik saja?" Keiko meraih pundaknya. Dia seolah tau dan merasakan apa yang sebenarnya terjadi di antara Davien dan Bunga.
Kemudian Keiko berucap untuk menarik perhatian Marvel agar tak selalu fokus dengan Bunga. Mereka kembali berbincang hangat seperti semula.
♡♡♡
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, mereka berempat akhirnya keluar dari restoran. Ketika Davien dan Marvel pergi mengambil mobil, Bunga dan Keiko menunggu di halamana depan.
__ADS_1
Mereka berdiri berdampingan, sesekali Bunga melirik ke Arah Keiko dan tersenyum kepadanya.
"Kamu sudah lama bekerja di perusahaan Davien?" Keiko memulai pembicaraan.
"Baru mau satu bulan"
"Ooh, , sebelumnya sudah lama mengenal dia?" Keiko kembali berucap, dia masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua. Karena Keiko yakin bahwa Davien menyembunyikan sesuatu darinya tentang hubungannya dengan Bunga.
"Tidak, , aku hanya mengenal dia sebagai atasanku di tempat kerja"
Tak lama Davien datang, dia melangkah turun dan membukakan pintu mobil untuk Keiko.
"Aku duluan" Keiko melangkah meninggalkan Bunga.
Bunga menunduk, kemudian melihat ke arah Davien yang tengah berdiri di seberang sana. Laki laki itu terdiam menatap lekat Bunga sebelum masuk ke dalam mobil.
"Lupakan dia Bunga!!, , apa yang sedang kamu pikirkan!!"
Bunga tersadar dari lamunanya ketika Marvel datang memghampiri.
"Ayo" Marvel membukakan pintu untuknya. kemudian berjalan ke sisi lain untuk masuk ke dalam mobil.
Saat itu Davien sengaja memperlambat laju kendaraannya, matanya berusaha mengawasi Bunga dari kaca sepion.
"Kamu tertarik dengannya" ucap Keiko seketika.
Davien langsung mengalihkan pandangannya ke depan.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan!" Davien segera melajukan mobilnya dengan cepat.
"Ayolah Davien!, , aku bukan perempuan bodoh. Caramu melihat perempuan itu sangat berbeda dengan saat melihatku. Aku melihat kecemburuan di matamu saat Marvel memperlakukannya seperti seorang kekasih. Bagaimana kalau mereka benar benar berhubungan?" Keiko terus mencoba menggali informasi yang dia inginkan. Dia sangat yakin bahwa Davien menyukai perempuan itu.
"Kamu sudah melupakannya?" tambahnya ketika Davien hanya diam tak bergeming.
"Aku tidak akan pernah melupakannya!" ucapnya merujuk kepada Essie. Suaranya terdengar lirih.
"Lalu, , , jangan pernah bermain api jika kamu tidak ingin terbakar. Jangan menyakitinya Davien. Jangan jadikan Bunga sebagai tempat pelampiasan"
Laki laki itu masih diam, mencoba mencerna ucapan Keiko.
"Kenapa harus Bunga?, , "
Davien masih terus fokus menatap ke depan, tetapi telinganya mendengar jelas apa yang di bicarakan okeh Keiko.
"Apa maksudmu?" ucapnya dengan tenang.
"Kenapa kamu menyukainya?, , kenapa bukan aku yang selama ini selalu ada di sampingmu?" Keiko berucap dengan lembut, dia sama sekali tak marah. Hanya saja merasa bingung dengan Davien yang selama ini tak pernah bisa melupakan Essie, tetapi kenapa hanya dalam sekejap dia bisa berubah saat Bunga datang dalam kehidupannya.
Laki laki itu menepikan mobilnya. Davien menghela nafas panjang. Sedari tadi pikirannya masih terpaut kepada Bunga yang sedang bersama dengan Marvel. Pikirannya meracau kemana mana, tetapi Keiko semakin menambah kacau otaknya.
"Keiko!, , aku sedang tidak ingin membahas ini. Aku tidak memiliki hubunggan apa pun dengannya, , ini kah jawaban yang ingin kamu dengar dari mulutku??"
"Satu lagi" sahutnya.
"Kamu, , menyukainya?" Keiko menatap tajam.
Davien terdiam, matanya sempat melihat ke arah Keiko. Kemudian laki laki itu mengalihkan pandangannya ke depan.
__ADS_1
"Tidak!" ucapnya sembari melajukan mobilnya perlahan.
"Kamu bohong Davien!, , kamu selalu menghindari tatapan mataku ketika kamu sedang berbohong!. Dan aku sangat yakin dengan hal itu!"