Santri Famiglia

Santri Famiglia
Bertemu Jenius Buta


__ADS_3

Empat pria garang menghadang di depan. Jarak di antara Sanubari dan mereka hanya kurang dari sepuluh meter ketika remaja itu memutuskan untuk berhenti. Sebenarnya, Sanubari bisa saja menghadapi mereka semua jika mau.


Namun, Sanubari lebih memilih berlari daripada menyelesaikan konflik dengan adu fisik. Ia hanya akan berkelahi jika benar-benar terdesak saja. Sungguh pemikiran yang masih naif dari seorang bocah dalam masa pertumbuhan.


Helaan napas berat dilepaskan olehnya, insting Sanubari mengatakan bahwa lebih baik berbalik arah daripada harus menghadapi keempatnya. Menurutnya, berhadapan dengan dua orang sebelumnya lebih ringan daripada harus mengatasi lebih banyak orang.


Meskipun ia tidak tahu pasti mereka komplotan dua orang pengejarnya atau bukan, Sanubari merasa tetap perlu untuk waspada.


Benar saja firasatnya. Baru beberapa langkah Sanubari menjauh, tiba-tiba derap langkah terdengar. Spontan Sanubari berlari.


*****


Di lantai dasar sebuah gedung masjid minimalis tak berserambi, dua manusia lawan jenis duduk saling berhadapan dalam satu ruangan. Hanya ada meja panjang penuh dengan tumpukan kain terbungkus rapi. Seorang wanita membukakan salah satu bungkusan lalu menyerahkan isinya pada pria di hadapannya.


Pria itu mengelus kain di tangannya. Nampaknya mereka sedang melakukan kegiatan tawar menawar. Lelaki itu membandingkan kain satu dengan lainnya, sampai akhirnya pria bersorban mendatangi mereka.


(Untuk apa seorang pria memilih-milih kerudung? Kau tidak bermaksud menirukan penampilan perempuan, KAn?)


Lelaki itu mengangkat kepala.


(Masyaallah, Abi! Tentu tidak. Aku tahu berpenampilan seperti perempuan itu dosa. Mana mungkin aku berani melakukan itu.)


(Lalu untuk apa kau memilih kerudung?)


(Aku ingin memberikannya pada adik perempuanku. Minggu depan dia ulang tahun.)


Wanita bercadar yang menawarkan dagangan pun menyela,


(Ya ampun, mulia sekali hatimu, Bri! Hm, karena ini untuk hadiah, aku akan memberikan diskon dua puluh lima persen untuk semua produk. Jadi pilih mana?)


Lelaki bernama Abrizar tersenyum. Ia mengangkat sebuah gamis syar'i lalu berkata,


(Yang ini saja. Kainnya halus dan bagus. Sepertinya nyaman.)

__ADS_1


(Mau kubantu membungkusnya sebagai kado?)


Abrizar menggeleng.


(Tidak perlu. Aku berencana mengirimnya bersama paket lain.)


Mereka pun menuntaskan akad jual beli. Wanita itu membereskan barang-barangnya setelah menyerahkan gamis dan kerudung yang dibeli Abrizar.


(Abi Aljunaidi, jangan lupa bantu promosikan daganganku, ya! Hitung-hitung bisa jadi ladang pahala buat Abi.)


"Insyaallah," jawab singkat Aljunaidi sembari tersenyum.


Wanita itu kemudian berpamitan. Abrizar dan Aljunaidi berbincang sejenak tentang jadwal mengaji yang akan dimulai kembali di musim panas. Mereka sering bercakap dengan bahasa Arab jika berada dalam masjid, tetapi tidak saat di luar.


Aljunaidi adalah ustaz yang berasal dari Timur Tengah. Sudah tiga puluh tahun lebih dia menetap di Italia, mensyiarkan ajaran Ketuhanan pada penduduk sekitar. Gedung masjid dua lantai tempatnya berada, dibangun oleh sang kakek.


Aljunaidi hanya melanjutkan mengelola gedung dan kegiatannya bersama KMI (Komunitas Muslim Italia). Meskipun di Italia didominasi non muslim, organisasi KMI tetap ada dan bisa berjalan. Setiap tahunnya ada saja mualaf baru dari penduduk lokal.


Sementara Abrizar adalah tangan kanan Aljunaidi. Ia membantu untuk mengajari anak-anak yang ingin belajar mengaji. Dia juga yang berperan besar menyebarkan informasi keberadaan mereka melalui jejaring sosial.


Tiba-tiba saja seorang remaja menabrak Abrizar yang baru saja keluar, napasnya tak karuan, berulang kali ia menoleh ke belakang. Aljunaidi memperhatikan gelagat panik sang pemuda.


Tak menunggu lama, pemuda itu pun membuka mulut.


(Tolong, ada orang yang mengejarku.)


Di sekitar sana tidak ada orang sama sekali. Namun, sayup-sayup terdengar derap orang berlarian dari kejauhan. Aljunaidi langsung mengambil sesuatu dari kantung plastik Abrizar.


(Pinjam kerudungku dulu ya, Bri!)


Abrizar mengangguk pelan tanpa kata. Ia sepertinya mengerti maksud Aljunaidi. Menolong antar sesama memang dianjurkan dalam keyakinan yang dianutnya. Oleh karena itulah, Abrizar tidak keberatan Aljunaidi mengambil kerudungnya. Ia bisa membeli lagi nanti untuk adiknya.


Bergegas Aljunaidi memasangkan kerudung pada Sanubari. Kerudung besar menjuntai ke bawah, menutupi tubuh Sanubari sampai ke bawah lutut. Aljunaidi juga memasangkan cadar pada Sanubari.

__ADS_1


(Pinjam juga kacamatamu!)


Aljunaidi mengambil kacamata hitam Abrizar. Kini kacamata itu bertengger apik pada hidung Sanubari, menyembunyikan iris hijaunya. Sanubari hanya bisa terbengong ketika Aljunaidi mendandaninya.


(Anak muda, sebaiknya kau berdiri di sebelah ABRI, rangkul lengannya! Dan kau—Bri, sembunyikan tongkatmu!)


Aljunaidi membuat Sanubari merangkul mesra Abrizar seperti sepasang suami istri. Sesuai instruksi Aljunaidi, Abrizar segera memendekkan tongkat lalu menyimpannya di tas. Aljunaidi tak sempar mengambilkan sandal untuk Sanubari karena beberapa orang terburu muncul dari gang.


Mereka celingukan. Ada banyak cabang jalan yang berpotensi dijadikan jalur pelarian. Mereka kehilangan jejak.


"Bagaimana ini?"


"Kita berpencar."


"Di sana ada orang. Sebaiknya kita tanya saja supaya lebih efektif."


Mereka pun mendekati tiga orang yang berdiri di depan masjid yang tak nampak seperti masjid. Sanubari semakin mengeratkan pelukan pada lengan Abrizar. Kegugupan menguasai seluruh tubuhnya seiring semakin mendekatnya mereka. Permainan peran pun dimulai.


(Wah, kapan kalian akan punya momongan? Aku tidak sabar untuk menimangnya.)


(Kami tidak ingin buru-buru. Tetapi kami siap kapan pun Tuhan memberi.)


Abrizar tersenyum. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat natural. Siapa pun yang melihat, tidak ada yang menyadari bahwa mereka sedang berpura-pura. Hanya Abrizar dan Aljunaidi saja yang berbincang. Sanubari hanya terdiam, takut ketahuan.


Salah seorang pengejar Sanubari bertanya kepada mereka.


(Apakah kalian melihat remaja pria beriris mata hijau, rambut hitam lewat sini?)


Aljunaidi menjawab dengan tenang,


(Iya, tadi aku melihatnya.)


Sanubari membulatkan mata di balik kacamatanya. Ia tidak mengira pria bersorban yang mendandaninya menjawab dengan sangat jujur. Ia berharap mendapatkan perlindungan, tetapi sepertinya ia telah salah menilai dua orang ini.

__ADS_1


"Apakah orang-orang ini berniat menyerahkan ku pada mereka?" batin Sanubari semakin panik.


__ADS_2