Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tersesat


__ADS_3

"Aeneas, kau tidak boleh melakukan itu!" Gafrillo meninggikan suara.


Kelana sedikit terkejut. Gafrillo yang sedari tadi tenang, tampak marah. Sorot matanya tajam menyorot Aeneas. Tatapan itu berbalas tatapan dengan aura serupa, membuat Kelana semakin bertanya-tanya ada apa dengan hubungan ayah dan anak ini.


"Lihat tanggal kadaluarsa!"


"Dia bisa bicara?" batin Kelana terkejut. Untuk pertama kalinya, Kelana mendengar suara Aeneas.


"Ada apa dengan tanggal kadaluarsa? Kalau memang tidak layak, mana mungkin tetap disimpan, kan? Yah, meski tempat ini memang aneh." Ekspresi Gafrillo kembali seperti semula.


"Lihat saja!" ulang Aeneas.


Gafrillo mengambil kotak susu. Dia membaca tulisan pada bungkus dengan seksama. Matanya membola seketika.


"2222? Orang seperti apa yang menyimpan barang setua ini?" Gafrillo menggeleng, "ini ... pabriknya pasti salah cetak!"


"Tidak." sahut Aeneas dengan muka datar.


Gafrillo meletakkan susu satu setengah liter. Dia bergegas bangkit, memeriksa semua makanan dan minuman kemasan yang bisa ditemukannya. Kelana meraih kotak susu lantaran penasaran.


"Kelana, sekarang tahun berapa?" tanya Gafrillo.

__ADS_1


"2444, Paman."


"Mustahil! Semua produk ini kadaluarsa tidak lebih dari tahun 2224. Mana mungkin kita baru makan daging berusia dua abad, kan? Jika itu benar ... oh, astaga, kita baru saja makan fosil!"


"Fosil? Apa itu fosil?"


"Semacam sisa makhluk hidup dari zaman dahulu yang terawetkan secara alami, tapi ini daging. Ah, sudahlah! Jangan dipikirkan!"


Kelana juga tidak mengira daging bisa diawetkan selama itu. Dari segi rasa, daging yang baru dimakannya mirip dengan daging segar yang dimasak ibunya atau restoran, sama sekali tidak ada tanda pembusukan.


"Terima kasih, Aeneas!" Kelana menunduk malu. Dia telah salah paham pada Aeneas. Setelah melihat tanggal Kadaluarsa, Kelana menjadi paham. Aeneas hanya ingin memperingatkannya, tapi tetap saja caranya aneh.


Mereka melanjutkan perjalanan. Tidak ada gunanya bertanya-tanya masalah tanggal. Tidak ada di antara mereka yang bisa menjawab. Entah benda itu memang peninggalan sejak zaman dahulu kala, sengaja dicetak demikian, atau sengaja disimpan.


Elevator pertama yang mereka temukan tidak berfungsi. Ketiganya kembali berjalan mencari tangga hingga tidak bisa lagi menemukan tangga naik. Gafrillo mencoba mendobrak sebuah pintu yang terkunci. Ketika pintu terbuka, Gafrillo sontak terjatuh karena semburan air berdebit besar. Kelana dan Aeneas sampai menghantam dinding karena terdorong air.


Di balik pintu, hanya ada perairan lepas tak berujung. Pintu tidak bisa ditutup kembali. Air terus mengalir, menyebar merata ke lantai-lantai yang lebih rendah. Gafrillo lekas mengajak dua bocah itu kembali turun, mencari jalan lain sebelum semua lantai terendam sepenuhnya.


"Paman, aku tidak melewati tempat seperti ini tadi." Kelana menghentikan Gafrillo.


Mereka sampai di sebuah tempat yang seperti aula. Iluminasi menyerupai bunga dan binatang mendekorasi tengah ruangan. Lantainya pun berpendar seolah hologram tertanam di sana. Ruangan dikelilingi dinding kaca. Di seberang kaca, tampak berjajar pertokoan dalam keremangan. Kuda-kuda laut berpendar kebiruan hilir mudik. Rumput laut setinggi lutut orang dewasa menenggelamkan sebagian dinding.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana? Maju atau kembali ke bawah?" Gafrillo menoleh ke depan dan belakang secara bergantian. Sebagian lantai telah tergenang air.


Kelana mengangkat bahu. Dia sendiri bingung harus pilih mana. Mereka tersesat semakin dalam. Kelana tidak menyangka tempat yang didatangi nya bisa begini luas. Entah bagaimana jadinya bila Gafrillo dan Aeneas tidak bersamanya. Jujur, Kelana mulai takut.


Saat keduanya sedang dilema, Aeneas berlari lurus. Mendengar derap kaki telanjang Aeneas, Gafrillo menoleh, lalu lekas menyusul.


"Aeneas! Aduh anak itu!" Gafrillo berdecak.


Kelana berlari di belakangnya. Mereka seperti sedang saling mengejar, menyeberangi aula maha luas. Mata Kelana bergerak gelisah. Di sisi kanan, ular raksasa sebesar nyiur berenang lambat. Tubuhnya memercikkan kilatan listrik. Sementara di sisi kiri, ada dua buaya tiga kali lipat panjangnya dari orang dewasa sedang bertarung. Mereka memiliki ekor sengat seperti kalajengking.


Ubur-ubur menjaga jarak, tersebar di sana-sini, menerangi kegelapan, layaknya lentera yang melayang dalam pekat malam. Uniknya, setiap fauna yang mereka jumpai selalu saja memiliki sumber cahaya sendiri. Rumput laut di luar bahkan bersinar seperti fosfor yang bercahaya dalam gelap.


Hati Kelana berdebar-debar. Dia khawatir hewan-hewan besar itu akan melihat mereka, lalu memecahkan dinding.


Aeneas terus berlari. Dia mendengarnya. Sesuatu Yang lebih besar sedang mengejar mereka, berenang di antara lantai-lantai yang tenggelam, menghancurkan sebagian dinding yang terlalu sempit untuk tubuh tambunnya.


Celakanya, makhluk itu lebih cepat dari laju lari mereka. Ia tepat berada di bawah lantai tempat mereka berlari. Lantai berguncang. Ketiganya terjatuh. Permukaan retak. Air merembes dari retakan, sementara ubin di depan Aeneas ambrol, seperti baru saja ditinju tangan maha besar.


Bunyinya memekakkan telinga, membuat jantung Kelana berdetak lebih kencang. Sesuatu melesat kilat dari celah retakan, menyeret Aeneas hingga menghilang dari pandangan Kelana dan Gafrillo.


"Aeneas!" Gafrillo berteriak, gagal meraih tubuh sang putra.

__ADS_1


__ADS_2