
"Apa itu tidak berlebihan? Ini bukan lagi zamannya perang fisik." Naito menyandarkan punggungnya ke kursi.
Ini pilihan berat baginya. Bila dia menyanggupi permintaan tersebut, maka dia harus meninggalkan pekerjaannya. Bukannya ingin menolak, Naito hanya merasa tidak enak hati harus mengesampingkan kewajibannya sebagai dokter. Namun, dia sangat sadar bahwa tempat ini juga tidak akan aman untuknya bila peperangan benar-benar pecah.
Usai ucapannya itu, terdengar embusan napas kasar dari seberang. Senyap menemani mereka sesaat. Naito masih setia menunggu jawaban.
"Aku tahu itu. Kita lihat saja apa yang akan terjadi setelah ini. Aku tidak akan memulai apa pun selama mereka tidak memulai terlebih dahulu, tetapi aku akan memberi tahu yang lain untuk bersiaga."
"Dimengerti."
"Jangan biarkan mereka kembali sebelum kondisi di sini kondusif."
"Baik, Kakek Rai."
"Kutitipkan mereka padamu. Jaga Eiji dan Anki untukku!" dengan berat hati, Raiden mengatakan itu. Dia pun sejujurnya merasa sulit untuk melepas keduanya.
Seperti itulah yang dirasakan Raiden ketika Eiji atau Anki jauh darinya. Eiji memang sulit dia genggam. Pemuda itu sering pergi seenaknya. Ketika dia mencoba mengajaknya bicara, pemuda itu pun lekas pergi begitu saja.
Namun, keberadaan Anki di sekitarnya cukup menjadi penghibur baginya. Berbeda dari sang kakak, Anki lebih penurut. Sayang, sepertinya mereka akan terpisah dalam kurun waktu yang tidak bisa diperkirakan.
Panggilan berakhir. Fukai meletakkan ponselnya. Pria itu memandang langit-langit hampa.
"Ke mana aku harus mengajak mereka?" gumamnya dalam diam.
Lampu LED bersinar terang. Namun, sinarnya tidak memberi pencerahan sama sekali. Lelaki itu menganjur napas sambil perlahan memejamkan mata. Dia berpikir.
Di waktu yang sama, Eiji dan yang lain mendiskusikan hal serupa. Anki, Abrizar, Sai, Renji, serta Eiji memakai baju pasien. Mereka ikut-ikutan meminjam ketika Abrizar meminjam baju rumah sakit pada Fukai.
Tidak ada satu pun dari mereka yang membawa baju ganti. Sementara baju mereka telah kotor. Abrizar membutuhkan baju bersih untuk beribadah. Pun dengan Anki.
Alhasil, mereka menggunakan pakaian pinjaman seadanya. Anki bahkan memakai seprai sebagai pengganti mukenah. Dia juga meminta peniti.
__ADS_1
Kini, kelima anak manusia itu tampak seperti sekelompok pasien yang sedang berkumpul dan berdiskusi. Mereka duduk berhadapan. Anki di sebelah kakaknya. Sedangkan Abrizar, Renji, dan Sai duduk di satu sofa.
"Jadi, kita tidak bisa keluar dari Nagoya?" Eiji menuntut konfirmasi atas apa yang didengarnya dari Sai dan Renji.
Dia teringat kata-kata Sanubari dan pria bermasker tadi siang. Mereka pun mengatakan hal yang serupa. Mobilitas mereka benar-benar dibatasi. Andaikan Eiji tidak bertemu pria bermasker dan Damiyan, mungkin mustahil baginya membawa sang adik sampai sini.
"Sepertinya memang begitu." Renji memasukkan keripik kentang ke mulutnya. Bunyi kriuk itu sejenak menjadi satu-satunya peramai dalam kesunyian.
Semua orang diam. Mereka berdiskusi dalam pikiran masing-masing sejenak.
Dalam perenungan bersama itu, Anki lebih dahulu mengutarakan pertanyaan, "Mungkin tidak apa-apa kita tetap di sini untuk sementara waktu. Lagipula, kita tidak bisa bepergian dengan kondisi Sanu seperti itu, kan?"
Gadis itu memutar badannya ke belakang. Tatapan sayunya mengiba pada Sanubari yang menutup rapat kelopak matanya. Tiada pergerakan sedikit pun. Sangat tenang, seakan-akan pemuda tersebut sedang terlelap dalam alam mimpi.
Namun, bibir pucat dan wajahnya yang merona mengatakan bahwa pemuda itu tidak baik-baik saja. Keringat membasahi dahinya, mengalir ke samping.
Anki mendadak bangkit dari tempatnya. Dia berlari kecil, menyambar selembar tisu. Gadis itu duduk di kursi pinggir dipan, lalu mengelap mata air yang bersumber dari tubuh Sanubari.
"Panasnya belum turun." Monolog itu hanya disuarakan dalam hati Anki.
Mata Eiji mengikuti arah pergerakan sang adik, hingga badannya turut berputar. Yang dikatakan Anki memang benar. Namun, Eiji bermaksud membawa Anki ke tempat yang lebih aman, sedangkan Sanubari dibiarkan tetap di sini untuk sementara waktu.
"Apa aku ini egois?" batin Eiji bertanya pada dirinya sendiri.
Tempat ini tampak aman untuk Sanubari. Yang artinya aman juga untuk Eiji sendiri dan adiknya. Selama mereka tidak keluar, tidak akan ada yang tahu mereka di sini.
Akan tetapi, mustahil selamanya mereka bersembunyi di sini. Bagaimanapun, mereka adalah makhluk sosial. Mereka butuh interaksi dengan yang lain. Mereka butuh bekerja untuk makan. Mereka butuh melihat dunia luar.
"Bisa pun keluar, kurasa seluruh Jepang tidak lagi aman untuk kita."
Ucapan Sai itu menarik Eiji kembali dari lamunan. Dia menghadap ke depan kembali.
__ADS_1
Renji ikut menimpali, "Kau benar, Kawan. Setelah membuat asosiasi kehilangan lusinan prajurit, mana mungkin Onyoudan melepaskan kita begitu saja."
"Lusinan?" sentak Eiji terkejut. Dia tidak ada di sana ketika gelombang berikutnya datang. Tentu dia tidak tahu betapa mengerikannya kondisi waktu itu.
"Ya, seluruh jalan sepanjang kuil bahkan dipenuhi orang-orang Onyoudan. Aku tidak tahu pastinya berapa, tetapi untungnya kami berdua bisa menembus kerumunan," tambah Renji.
"Ingat juga bahwa kepolisian terlibat. Kemungkinan terburuk, kita akan dijadikan buronan atas kasus pembantaian," imbuh Abrizar.
"Ah, tapi kuharap polisi yang mendadak memihak kita bisa menaklukkan kepolisian," timpal Renji yang masih sibuk dengan keripik kentangnya.
Eiji benar-benar bingung. Ini kasus terbesar yang pernah menimpanya.
"Maaf gara-gara aku, kalian semua jadi terjebak dalam bahaya. Maaf sudah menyusahkan kalian semua. Maaf sudah merepotkan kalian semua."
Suara Anki bergetar. Tisu dalam genggaman pun menjadi bola lecek karena teremas.
Titik-titik air menetes lebih besar, menciptakan bunyi kemerasak di luar.
"Sebaiknya, kita pergi. Polisi mungkin akan menghampiri kita bila terlalu lama di sini," dari atas motor, pria itu mengatakannya.
Parkir sembarangan merupakan pelanggaran lalu lintas. Dia tahu itu.
"Tidak akan. Semua polisi berkumpul ke kuil. Kita bebas malam ini. Lagipula, mereka tidak akan berbuat apa-apa asal identitas kita perlihatkan pada mereka. Apa yang perlu dikhawatirkan?"
Dia berdiri mendongak, menikmati air yang seperti memijat wajahnya. Pria itu tersenyum. Hawa panas telah pergi, digantikan hawa dingin yang membuat gigil bersama petrikor yang menguar.
"Untuk apa lagi kita menunggu di bawah hujan? Bukalah matamu lebar-lebar, Jiro!"
"Aku membukanya." Jirou menurunkan kepala. Dia menoleh ke gerbang rumah sakit, "Mereka tidak keluar."
"Mereka sepertinya akan menginap di sana malam ini." Dia menyalakan mesin, "Terserah jika kau ingin tetap di sini. Aku akan meninggalkanmu bila kau tidak naik sekarang juga."
__ADS_1
"Tunggu aku, Tarou!" Jirou berbalik badan. Dia melompat ke boncengan, lalu memakai helm.
Motor sport itu meninggalkan jalanan di dekat rumah sakit. Deru mesinnya melebur dengan suara hujan yang kian menderas. Sesekali halilintar menggelegar, seakan-akan kekacauan di bumi malam ini sampai ke langit.