Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ambisi


__ADS_3

Naga besi terparkir di pemberhentian sementara. Beberapa orang keluar dari perutnya. Sementara beberapa lain mengantre, tidak sabar untuk segera naik.


Di peron lain, kereta melaju, mengangkut lusinan penumpang ke tujuan berikutnya. Bunyi khas kereta api bertenaga listrik meramaikan siang.


Dahulu, kereta api memang berbahan bakar batu bara yang disekop, lalu dimasukkan ke pembakaran untuk menghasilkan tenaga. Karena itulah, naga besi itu disebut kereta api. Anehnya, berpuluh-puluh tahun ketika bahan operasionalnya diganti dengan listrik, kereta tetap disebut kereta api. Tiga orang luar negeri membicarakan itu bersama pria pribumi tujuh puluh tahunan.


"Kenapa tidak diganti sekalian saja namanya, ya?" kata si plontos.


"Sudah terlanjur begitu. Kereta api yang diperbarui model dan bahan bakarnya akan tetap disebut kereta api. Hanya rintisan baru saja yang menyandang nama baru," jawab pak tua.


"Wah, jemputan kami sudah datang," kata pria berkewarganegaraan Jepang.


"Menyenangkan berbincang dengan kalian."


Pak Tua tersenyum. Rombongan empat orang itu memisahkan diri.


Di belakang mereka, seorang pemuda berjalan. Dia membawa tas pedang yang dipanggul. Ketika melewati rombongan orang asing yang sedang mengobrol, telinganya tanpa sengaja menangkap satu kata.


"Sanubari?"


Pemuda dengan penutup mata sebelah itu berhenti di anak tangga. Dia menoleh, mengedarkan pandangan ke ruang tunggu stasiun. Tidak banyak penumpang yang melewati peron maupun duduk di ruang terbuka itu.


"Tidak ada."


Dia masih ingat jelas bagaimana wajahnya. Meski hampir sepuluh tahun tidak pernah bertemu. Pemuda itu tidak akan pernah melupakan si mata hijau yang sudah membutakan mata kanannya.


 Segerombolan orang melewatinya. Di antara para pria asing itu, tidak satu pun bermata hijau.


"Mereka mungkin hanya turis yang ingin berwisata. Tidak mungkin mereka kenal Sanu. Ah, benar juga! Sanubari 'kan bahasa Indonesia dari hati. Andaipun ada yang menyebut-nyebut Sanubari, mungkin maksudnya bukan bocah itu," monolog nya dalam hati.


Dia masih tertegun. Pandangannya tidak lepas dari para orang luar negeri yang menuju sebuah mobil. Dua di antara mereka mirip orang Jepang.


Namun, perhatiannya terusik ketika seorang pria berlari menghampiri. Pria dengan potongan rambut mohawk memanggil namanya, "Aldin!"


Pemuda yang dipanggil Aldin mengalihkan pandangan. Dia tersenyum lebar.


"Paman Anton. Kupikir aku harus menunggu atau ngojek karena malas menunggu."


"Jadwal kereta itu pasti. Mana mungkin aku sengaja berlambat-lambat dan membiarkanmu menunggu? Aku sudah ada di sini sejak tiga puluh menit sebelum kereta tiba," kata pria mohawk yang dipanggil Anton.

__ADS_1


"Bagus karena aku benci menunggu." Aldin tertawa.


"Kalau begitu, ayo segera pulang! Si Bos pasti senang kau kembali," ajak Anton.


Mereka berjalan menuju area parkir. Mobilnya ternyata bersebelahan dengan Milik para turis tadi. Namun, tempat itu telah kosong ketika Aldin tiba di mobil jemputannya. Mereka telah keluar dari stasiun terlebih dahulu.


"Katanya, Kak Jin akan datang. Apa dia sudah tiba?" tanya Aldin sembari meletakkan barang di kursi tengah, lalu masuk ke kursi depan.


"Kau ini aneh, Din. Sejak kuliah, kau lebih sering berbahasa Indonesia. Lalu, sekarang, ketika si Bos ketar-ketir setiap orang itu datang, kau malah mengharapkan kehadirannya."


Anton geleng-geleng. Dia memundurkan mobil perlahan.


"Aku tidak peduli apa urusan Bapak dengan Kak Jin. Aku hanya ingin berlatih Kendo dengan Kak Jin. Dia guru terbaik. Sebentar lagi akan ada paralimpiade. Masukkannya selalu bisa membuatku memenangkan pertandingan."


Sejak melihat Sanubari menjadi juara anggar di televisi, Aldin berambisi untuk menyainginya. Dia meminta ayahnya untuk mendatangkan guru anggar. Namun, dia tidak pernah bisa memenangkan satu pertandingan pun.


Di tahun berikutnya, dia melihat Jin berkunjung membawa dua benda panjang. Aldin sangat yakin itu pedang. Dia juga ingat Jin pernah masuk televisi bersama Sanubari. Pria itu memegang medali emas untuk olimpiade Kendo, anggar kategori Sabel, dan olahraga berpedang lainnya.


Aldin duduk di sebelah pintu yang tertutup, menunggu Jin dan dua rekannya keluar. Ruangan itu kedap suara. Aldin tidak bisa mendengar percakapan mereka. Dia hanya bisa duduk melamun sambil menyangga kepala bosan.


Bunyi pintu terbuka terdengar. Namun, tiga orang dewasa itu berlalu tanpa melihatnya, seolah dia tidak dianggap ada di sana. Aldin bergegas bangkit, mengejar.


Aldin kecil pernah mendengar dari televisi, Jin katanya berasal dari Jakarta. Dia tidak akan mengerti bila diajak bicara dengan bahasa Jawa. Akan tetapi, mereka tidak mengacuhkannya.


"Kak Jin!" panggilnya memegang tas pedang yang disandang jin di belakang punggung.


Barulah Jin berhenti. Dua orang lainnya pun ikut berhenti. Jin menoleh.


"Oh, Bocah Cilik, apa kita saling mengenal?" tanya Jin yang dibalas gelengan dari Aldin.


"Jadi, kau pasti mengenaliku dari acara televisi, ya?" lanjutnya menerka.


Aldin mengangguk. Dia ingin mengungkapkan niatnya, tetapi ada sedikit rasa takut yang membuatnya sulit berkata.


"Katakan apa perlumu memanggilku!"


Jin tersenyum. Dia tampak santai.


Setelah mendapat lampu hijau seperti itu, Aldin pun membuka mulut, "Ajari aku bermain anggar. Aku ingin Kak Jin menjadi guruku."

__ADS_1


"Maaf, Bocah! Aku tidak menerima murid. Cari saja orang lain jika butuh seorang guru!"


Jin mengusap kepala Aldin. Kemudian, dia berbalik badan, meninggalkan Aldin setelah mengucapkan kalimat perpisahan. Namun, Aldin tetap mengejar.


"Kak Jin, kumohon, jadikan aku muridmu!"


Mereka naik mobil. Aldin berjalan ke kursi yang diduduki Jin. Kacanya terbuka. Pemuda itu tersenyum.


"Sudah kubilang, aku tidak tertarik bermain guru dan murid."


"Aku tidak main-main. Aku serius. Aku ingin bisa anggar seperti Kak Jin."


Aldin menggebu-gebu. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan.


"Kau mengingatkanku pada seseorang." Jin tertawa, "Tahun lalu, ada juga bocah yang berkata ingin menjadi sepertiku. Tapi, dia berbeda darimu. Andai rumah kalian berdekatan, mungkin kalian bisa berlatih bersama. Kemampuannya lumayan sebagai pemula."


"Tapi, aku ingin guru seorang ahli seperti Kak Jin." Aldin masih bersikukuh.


Pengajarnya saat itu bahkan terlihat seperti rongsokan tidak berguna di mata Aldin kecil. Hanya karena dia tidak bisa membuat Aldin memenangkan perlombaan, Aldin menilainya seperti itu. Maka, ketika telah melihat batu mulia di depan mata, Aldin ingin menendang jauh rongsokan itu.


Dia juga tidak peduli siapa bocah lain yang dimaksud. Untuk apa belajar dari seorang amatir bila dia bisa belajar dari seorang profesional?" Begitulah pikirnya.


"Ya, kulihat sepertinya kau memang serius. Tapi, sekali lagi maaf. Aku tetap tidak bisa menjadi gurumu, Bocah."


Mesin telah dinyalakan. Jin pun sudah memasang sabuk pengaman.


"Jin, kita akan pergi sekarang. Apa kau masih perlu berbicara dengan anak itu?" tanya rekannya.


"Jalan saja!" jawab Jin masih menatap Aldin," Selamat tinggal sekali lagi, Bocah!"


Jin melambaikan tangan. Aldin sedikit mundur karena mobil bergerak. Dari arah berlawanan, seorang anak perempuan mengendarai sepeda.


Aldin menghadang. Anak itu pun menarik rem, berhenti di depan Aldin yang merentangkan tangan.


"Minggir!"


Aldin merebut paksa sepeda. Mengabaikan anak perempuan yang menangis, Aldin menaiki sepeda. Dia mengayuh sekuat tenaga, berbelok, menyusul mobil Jin.


Berbelok-belok terlewati, mobil berhenti di depan sebuah rumah dikelilingi pagar tinggi. Masih dalam satu desa. Seseorang membuka gerbang. Aldin memacu sepeda mini secepat yang dia bisa. Dia harus bisa melewati gerbang sebelum ditutup.

__ADS_1


__ADS_2