Santri Famiglia

Santri Famiglia
Manekin Hidup


__ADS_3

"Guarda altrove!"


(Cari di tempat lain saja!)


Para lelaki bersenjata meninggalkan toko. Sanubari akhirnya merasa lega, tetapi ia masih belum berani membuka masker, takut jika orang-orang itu masih berada di sekitar sana lalu mengenalinya. Lagi pula dirinya sudah menerima pekerjaan sebagai manekin, mau tak mau Sanubari harues tetap berdiri di tempat yang sama dalam kurun waktu yang tidak ia ketahui.


Tiga jam berlalu, beberapa orang lalu lalang di depan Sanubari. Ada yang sekadar lewat, ada pula yang berhenti sejenak, memperhatikan setelan pakaian yang melekat pada tubuh Sanubari. Karya desainer nomor satu ini sepertinya memang banyak mencuri perhatian.


Beberapa kali Sanubari mendengar negosiasi harga yang dilakukan oleh calon pembeli dan karyawan yang tadi memberinya pekerjaan. Harganya cukup mencengangkan bagi Sanubari. Hanya satu kemeja, kaos dan celana jin saja total harganya bisa mencapai tiga belas ribu euro. Itu pun jika belinya satu set langsung. Apabila belinya hanya satu-satu maka harganya bisa mencapai dua puluh ribu euro jika dijumlahkan.


Sanubari belum pernah memegang uang sebanyak itu. Andaikan ia bisa mendapatkannya, mungkin ia bisa pulang ke Indonesia dengan uang itu. Sanubari hanya bisa berangan-angan.

__ADS_1


Dari sekian orang yang menawar, hanya dua orang yang keluar dengan membawa tas kertas yang terlihat mewah. Sepertinya sebagian besar tidak sanggup membayar harganya. Pekerjaan menjadi patung ternyata cukup melelahkan. Tugasnya memang hanya berdiri dan diam, tetapi Sanubari mulai letih hanya mematung. Selain itu, pekerjaannya terasa membosankan. Ia lebih baik lelah karena banyak bergerak daripada hanya berdiam diri.


"Sampai kapan aku harus seperti ini? Sepertinya aku tidak berbakat menjadi manekin," gumam Sanubari menghela napas sambil membuka masker, "semoga aku tidak dipecat gara-gara melanggar hukum alam sebagai patung boneka."


Sanubari tidak betah memakai masker terlalu lama. Ia risih karena ada sesuatu yang menempel pada wajahnya. Ia juga tidak bisa bernapas dengan bebas. Memakai masker Sama sekali tidak praktis.


Pun jua dengan kacamata. Lama kelamaan telinga Sanubari terasa sakit karena harus menahan gagang kacamata. Dilepasnya kacamata hitam yang menyembunyikan iris zamrud lalu sedikit melakukan sedikit peregangan otot leher.


Gara-gara ulahnya itu, ada anak kecil yang menunjuknya sambil berteriak, "Mamma, i manichini possono muoversi."


(Mama, manekinnya bisa bergerak.)

__ADS_1


Sanubari terkesiap. Ia menghentikan gerakannya lalu tersenyum ramah. Gadis kecil di bawah lima tahun itu tetap memandangnya. Namun, sang ibu tidak percaya karena Sanubari telah kembali diam begitu wanita itu menoleh.


Ibu gadis kecil itu kembali melanjutkan transaksi, sedangkan gadis kecil tersebut masih enggan memalingkan pandangan.Sejurus kemudian, gadis kecil itu berlari, memeluk kaki Sanubari.


"Papa! Papa!" seru gadis itu lantang.


Gadis itu menarik-narik kaki Sanubari, mengajaknya bermain. Di saat seperti ini, Sanubari tidak tahu harus berhenti menjadi patung atau lanjut berpura-pura menjadi manekin.


Sanubari dilema. Ia tidak tega mendengar gadis kecil yang merengek di kakinya. Nurani Sanubari menggerakkan tubuhnya untuk mengangkat anak kecil itu. Ia menggendong gadis cilik itu lalu melompat turun dari podium tempatnya berdiri.


Dari kejauhan, ada seseorang yang mengabadikan momen itu lalu mengunggahnya ke media sosial. Sanubari mengajak gadis kecil itu berbicara.

__ADS_1


__ADS_2