
Televisi di depan kursi masing-masing penumpang mendadak berganti gambar, menyiarkan insiden ledakan yang baru saja terjadi. Sanubari tersentak. Dengan segera, ia menutup mata. Remaja itu tidak ingin memperhatikan pemandangan mengenaskan tersebut lagi.
"Bagaimana bisa mereka mendapatkan gambar sedetail itu?" gerutunya kesal.
Sesekali ia mengintip. Video tidak hanya ditampilkan dari satu sisi. Kamera terus bergerak, menyorot tempat kejadian perkara dari berbagai sudut.
"Tidak mustahil jika ada yang merekamnya, kan?" sahut Abrizar sambil mengetukkan tumit sepatu sekali.
Pendengaran dipertajam untuk mengamati sekitar. Begitu riuh. Mereka yang awalnya mengira ini hanyalah sandiwara mulai sadar. Penerbangan ini tidak aman. Banyak yang berdoa supaya bisa selamat sampai pesawat mendarat.
Terlepas dari itu semua, kondisi kabin kelas yang Abrizar tempati masih sama dengan waktu keberangkatan. Hanya beberapa kursi di seberangnya saja yang nampak berubah. Abrizar memejamkan mata, berkonsentrasi lebih dalam.
"Tidak ada yang terdengar seperti bom. Semoga saja pendengaranku benar. Semoga mereka bukan ******* bunuh diri," batin Abrizar terus menganalisa.
Sanubari menoleh, memastikan perkataan Abrizar. Ia sampai berdiri, walaupun dirinya merasa jijik melihat mayat yang belum terurus di tempat. Pandangannya menyapu ke sekeliling. Semua orang sudah kembali ke kursi masing-masing, sedangkan mereka yang kursinya di dekat korban memilih pindah. Mereka duduk di lajur jalan, membelakangi tempat insiden.
"Masalahnya, tidak ada seorang pun yang mendekati para korban." Buru-buru Sanubari duduk kembali, tubuhnya bergidik setiap kali matanya berpapasan dengan mayat.
"Mungkin ada kamera pengawas di sekitar sini. Coba saja perhatikan!" Abrizar memasang headset lalu menyalakan ponsel.
Suara pramugara bertopeng itu kembali terdengar. Ia berdecak beberapa kali tanpa menunjukkan wajah. Televisi masih menampilkan video sesaat sebelum sampai pasca ledakan yang diputar berulang.
"Baru dimulai, tetapi sudah ada yang berulah. Ini peringatan untuk kalian. Menurutlah jika ingin selamat sampai tujuan! Kalian sendiri yang menentukan nasib pesawat ini. Meledak di udara atau mendarat sempurna, itu sepenuhnya tergantung sikap kalian. Bagiku sih keduanya sama saja, tetapi aku akan berbaik hati. Silakan tentukan takdir kalian sendiri!"
Ucapan pramugara itu terdengar tanpa beban. Tawanya menggelegar setelahnya, membuat setiap penumpang merinding.
Mereka mendadak bungkam, pasrah setelah gagal mencoba menghubungi pihak luar. Ponsel semua orang sama sekali tidak bisa dipakai. Mau tidak mau, mereka harus mengikuti permainan para pembajak.
Abrizar tidak terlalu menghiraukannya. Ia sibuk dengan gumamnya sendiri. "Di sini ada kelas satu, eksklusif, bisnis, ekonomi premium, ekonomi, kabin barang, dapur, kopit. Sekurang-kurangnya aku butuh delapan kamera mata-mata untuk memeriksa semuanya."
__ADS_1
Abrizar mencoba menyambungkan koneksi dengan Aifka yang menempel di atap luar pesawat. Ia bersyukur sinyal mandiri yang dipancarkan Aifka tidak ikut terblokir. Sayang, kelegaannya segera memudar begitu mengingat ukuran Aifka yang tidak seberapa dibandingkan besarnya badan pesawat.
"Akan butuh waktu lama untuk menemukan jalan masuk." Abrizar mendadak lesu, tidak jadi mengirim kamera mata-mata.
"Kakak ini ngomong apa sih?" Sanubari menggaruk kepala yang mendadak gatal.
Rasa menggelitik itu seperti berjalan-jalan di balik jilbabnya. Sanubari semakin risih. Gatalnya bergerak memasuki telinga. Ia sampai mengorek-ngorek telinga dan mendesah kesal.
"Jangan korek telingamu, Sanu!"
Bisikan itu membuat Sanubari tersentak dan spontan berteriak. Kepalanya sampai terjedot jendela gara-gara terlonjak, membuatnya mendesis ngilu.
"Siapa? Siapa yang berbicara?" tanya Sanubari terbata-bata, kepalanya celingukan mencari sosok yang mengajaknya bicara.
"Kau kenapa, Sanu? Bikin kaget saja Abrizar menoleh ke kanan.
"Itu aku," sahut suara itu.
"Siapa kau?" Pori-pori Sanubari mendadak menciut.
Sudah lama dia tidak merasakan perasaan seperti ini. Ia pikir dirinya sudah sembuh dari sindrom ketakutan yang disebut dihantui. Akan tetapi, berbicara dengan sosok tak terlihat ternyata bisa memicu rasa yang pernah hilang.
"Aku ... mm ... penjaga perkasamu," jawab suara itu dalam telinga Sanubari.
Abrizar melepaskan headset-nya. Ia mendekatkan telinga ke telinga kiri Sanubari, merasa sumber suara lirih berasal dari dalam telinga remaja itu. Ia sendiri tidak tahu mengapa bisa ada suara dari sana, tetapi ia ingin mendengar.
"Apa?" Sanubari mencondongkan posisi menjauh.
"Kau pakai headset?"
__ADS_1
"Tidak. Kakak juga mendengarnya?" bisik Sanubari yang kembali mendekat.
"Um." Abrizar meletakkan jari telunjuk ke depan bibir, mengisyaratkan untuk diam.
"Jangan berisik! Katakan pada rekanmu, jika dia butuh memeriksa seisi pesawat, aku akan melakukan untuknya. Ingat! Jangan mengorek telinga apa pun yang kau rasa! Kau bisa tanpa sengaja menggencetku. Sebisa mungkin tahan!" sela suara itu.
"Tergencet?" Sanubari mengangkat alis tidak paham, rasa takutnya terhadap hantu yang terus berbicara ini meluntur. Apa lagi si hantu mengaku sebagai penjaga perkasanya.
"Satu lagi. Jika ada nyamuk mendekat, jangan ditabok!"
"Oh, jadi kau ini nyamuk?"
"Bisa dibilang begitu," Penjaga Perkasa tertawa kecil, "aku akan mulai sekarang dan segera kembali. Bye!"
Sanubari merasa telinganya geli lagi, tetapi tidak boleh menggaruknya. Sanubari sampai bergidik dibuatnya. Beruntung, rasa itu hanya terjadi beberapa detik. Ia menghela napas lega ketika rasa itu hilang.
Hari ini Sanubari dikejutkan dengan satu hal baru lagi. Berjumpa dengan seekor nyamuk yang bisa berbicara, suatu hal mustahil yang menurutnya hanya ada di negeri dongeng. Imajinasinya pun menjadi liar.
Penjaga Perkasa dengan susah payah mencari jalan keluar dari jilbab Sanubari. Ia bergerak cepat, mengitari kelas ekonomi premium. Hanya dalam lima menit, ia Kembali menghampiri Sanubari dan Abrizar. Nyamuk kecil itu mendarat di penghubung headset dan ponsel Abrizar. Sulurnya memanjang, menyentuh ujung penghubung headset yang masih menancap, melalui satu sisi headset yang masih menempel di telinga kiri Abrizar, ia menyampaikan pesan.
"Khusus kabin ini aman. Tidak ada kamera pengawas. Mereka hanya mengirim dua mata-mata kecil yang merupakan bagian dari Aifka, tetapi sudah pergi sekarang. Aku akan memeriksa Ruangan lain. Sampai jumpa lagi!"
Penjaga Perkasa kembali terbang meninggalkan mereka. Semetara itu, pramugara bertopeng terus berceloteh. Perhatian Abrizar terbagi menjadi dua.
Inti dari pidato panjang tersebut adalah penumpang dilarang membawa apa pun, kecuali paspor dan kartu identitas saat keluar dari pesawat. Semua bagasi tidak akan diturunkan. Mereka dilarang melepas kalung dan jam tangan sebelum keluar dari bandara. Benda tersebut akan meledak jika peraturan dilanggar.
"Sebentar lagi petugas pengepul barang akan mendatangi kalian satu per satu. Mohon kerjasamanya! Ada pula petugas yang akan membereskan kekacauan supaya kalian bisa beristirahat dengan nyaman. Selamat menikmati penerbangan kalian!" pungkas suara pramugara bertopeng.
Televisi kembali normal. Tidak ada lagi tayangan menjijikkan. Semua orang kehilangan selera untuk mencari hiburan. Mereka membiarkan monitor tersebut tak tersentuh. Hati siapa yang bisa tenang terjebak dalam penerbangan meresahkan.
__ADS_1