Santri Famiglia

Santri Famiglia
Sarung


__ADS_3

Goldenweek—di mana sebagian besar, perkantoran, sekolah seharusnya diliburkan. Hari di mana orang-orang bisa bersantai dari kepenatan pekerjaan, seorang remaja harus melompat dari lantai dua. Tanpa pengaman, tanpa alas kaki, dia melemparkan tubuhnya ke karpet rumput dengan tergesa.


Sarung yang dikenakannya untuk salat subuh bahkan belum dia lepas. Tak ada waktu untuk memikirkan itu. Waktu tanpa ampun mengejarnya. Dia harus serba cepat atau hukuman mungkin akan **********.


"Kenapa selalu seperti ini?" gerutunya.


Dia baru saja tidur dua jam ketika Abrizar membangunkannya untuk sembahyang. Bersamaan dengan itu, panggilan telepon dari Eiji masuk, memintanya untuk segera datang ke kantor tak lebih dari pukul setengah enam pagi.


"Ini penyiksaan!"


Jam istirahat hanyalah mitos baginya. Rasa lelah akibat insiden hari sebelumnya belum berpamitan, dia bahkan baru sampai ke kamarnya pukul tiga dini hari setelah berjalan kurang lebih satu jam. Tubuhnya benar-benar terasa bobrok. Untungnya, dia dan Abrizar menyempatkan diri untuk singgah makan malam. Meskipun hanya dengan udon instan, nasi makarel, sandwich, dan sebotol teh susu dari toserba, setidaknya itu cukup sebagai modal maraaton pagi ini.


Dia membuka ponsel sambil berlari. Memanfaatkan fitur peta, dia mencari tahu cara menuju stasiun Osu Kanon. Dia sudah berulang kali pulang pergi ke tempat itu. Namun, ketergantungannya pada navigasi digital belum bisa dihilangkan.


"Yang benar saja!" serunya dengan mata mendelik ketika mendapati kereta pertama baru akan berangkat pukul lima lebih tiga puluh empat menit.


Dia menggulirke atas, barang kali bisa menemukan jadwal keberangkatan lain. Alternatif yang ada hanyalah dengan taksi. Estimasinya sekitar empat belas sampai dua puluh menit.

__ADS_1


Akan tetapi, remaja itu menggelengkan kepala. Dia tidak ingin menghabiskan lebih dari dua ribu Yen untuk sekali jalan. Itu sepuluh kali lipat dari tarif kereta. Remaja itu beralih melihat jam dan mode jalan kaki.


"Sekarang jam lima lebih sepuluh menit. Jalan kaki butuh lima puluh tiga menit. Tapi, kalau aku berlari pasti bisa lebih singkat dari itu, kan?" pikirnya menimbang-nimbang.


Jika sama-sama terlambat, sepertinya jalur gratis lebih baik. Meraih headphone, pemuda itu memutuskan, "Oke, Peta! Carikan aku jalan tersingkat! Jangan berputar-putar!"


Dimasukkannya ponsel ke tas begitu navigasi suara diaktifkan. Remaja itu mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari kencang. Kakinya dengan sangat lincah mengendalikan laju saat harus berbelok.


Walaupun setengah mengantuk, tetap dipaksakan ya tubuh untuk tersadar. Yang terpenting bisa sampai tempat tujuan tepat waktu. Dia bisa tidur lagi setelah sampai. Terserah apa pun tugasnya nanti, dia tak peduli.


Dia ingin segera mengakhiri semua ini. Mungkin akan lebih baik jika organisasinya sendiri segera terbentuk. Dia bisa bekerja dan bersantai sesuka hatinya. Sepanjang jalan, dia terus memikirkan hal itu.


Pertokoan masih banyak yang tutup. Jalanan pun sangat lengang. Pemuda itu tak khawatir harus melanggar rambu-rambu lalu lintas.


Senyumnya merekah ketika gedung tujuannya telah terlihat. Dengan langkah gontai, dia mendorong pintu. Sepi. Hanya satu orang duduk di sofa lobi. Pria itu melihat remaja yang baru datang. Sang remaja melepaskan headphone seraya berjalan mendekat.


"Terlambat satu detik," katanya seraya melihhat jam tangan.

__ADS_1


"Ini tidak masuk akal. Mana ada kereta sepagi ini. Bisakah Kak Eiji memberikan waktu kerja yang lebih masuk akal lain kali?" Ucapannya patah-patah. Efek dari napas yang tersengal.


"Tapi kau berhasil sampai sini walau terlambat satu detik. Bukankah itu masuk akal?"


"Aku harus lari setengah mati untuk itu. Sangat melelahkan!" Dijatuhkannya pantat ke sofa panjang, lalu menyelolonjorkan kaki.


"Siapa suruh lari? Lagi pula, kau bisa memesan taksi kemari supaya tidak membuang-buang tenaga. Bukankah waktu yang kuberikan lebih dari cukup?"


"Aku harus beribadah dulu, dan lagi taksi itu mahal."


"Kenapa pakai rok? Apa kau ingin menjadi wanita, Sanu?"


Eiji memperhatikan penampilan Sanubari dari atas ke bawah. Kaos hitam lengan panjang dengan rok panjang kotak-kotak berwarna biru. "Selera fashion yang aneh," pikirnya.


Sanubari baru menyadari itu setelah Eiji mengatakannya. Namun, Sanubari terlalu malas untuk melepasnya sekarang. Remaja itu telah menemukan posisi nyamannya. Berbaring memejamkan mata di sofa, dia benar-benar ingin balas dendam dengan tidur sepuasnya.


Dengan malas, dia pun menjawab, "Ini bukan rok tapi sarung."

__ADS_1


__ADS_2