Santri Famiglia

Santri Famiglia
Telur Kucing


__ADS_3

"Ramai sekali. Kalian sedang apa?" ucap Sanubari.


"Sanu, ayo masuk! Mereka sedang melakukan percobaan aneh," kata Fukai. 


Anki berada di antara mereka. Para perempuan duduk mengitari telur ayam dalam kardus inkubasi. Juma ikut memperhatikan telur beralaskan tumpukan kapas.


"Ah, lihatlah, Anki! Telurnya bergerak-gerak. Sesuai perkiraan, ia pasti akan menetas hari ini," kata Petamana.


Dia tersenyum lebar. Hasrat penelitiannya akhirnya tersalurkan. Sejak ditangkap oleh Petahana, dia tidak memiliki kesempatan melakukan percobaan. Petahana menjauhkannya dari peralatan laboratorium. Saudara kembarnya itu juga melarang banyak hal.


Saat Petamana diberi tahu akan dibebaskan dari pengekangan karena harus mengobservasi kelainan pada Sanubari, dia sangat senang. Petamana membawa beberapa peralatan ke Indonesia. Ketika yang lain sibuk memikirkan pembebasan Sanubari dari penjara, dia jalan-jalan di desa. Dia membeli telur segar yang baru keluar dari ayam pada warga sekitar. Dia juga menangkap kucing liar dan dibawa pulang.


Petamana menyembunyikan kegiatannya itu dari Petahana. Namun, dia ketahuan oleh Petahana ketika sedang melakukan sesuatu pada kucing. Kendati demikian, dia selalu berkelit setiap kali Petahana menanyainya. Hingga hari ini tiba, hari di mana dia memutuskan untuk memberi tahu Anki dan Petahana.


Telur itu retak, tetapi belum pecah. Getaran sesekali terhenti. Retakan semakin banyak.


Mereka memperhatikannya dengan saksama. Perlahan-lahan, lendir merembes dari celah retakan. Telur pecah.


Anak kucing menciap lemah. Wujudnya aneh. Makhluk sebesar anak ayam baru menetas itu bersayap. Ekornya banyak dengan setiap ujung sepeRTI tulang bulu ayam berbulu halus. Anki mengernyit mengamatinya.


"Kok telur ayamnya jadi seperti itu, ya?" Anki menoleh heran pada Petahana.


Jin berdiri di belakangnya. Ketika perhatian semua orang tertuju pada binatang campuran, Jin melihat Anki. Keanehan si makhluk tidak mengalihkan ketertarikannya.


"Wow keren! Ini pertama kalinya aku melihat telur menetas jadi kucing bersayap," celetuk Sanubari.


"Rekayasa genetik sungguh luar biasa! Tapi, apa ia akan hidup?"

__ADS_1


Fukai tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Pemandangan di hadapannya seperti keajaiban. Dia penasaran bagaimana kucing setengah-setengagh itu akan terlihat setelah bulunya tumbuh sempurna.


"Tentu saja akan hidup bila dirawat dengan baik. Dari fiturnya, gen kucing sepertinya lebih dominan walau ditumbuhkan dalam telur ayam."


Petamana mengambil peralatan yang sudah disiapkan. Dia membersihkan bayi binatang itu, lalu menyuruh Petamana membersihkan kotak. Anki dengan senang hati membantu.


"Mau kubantu juga?" Jin menawarkan diri.


"Tidak perlu. Kami saja sudah cukup. Lagipula, ini hanya hal kecil."


Tolakan dari Anki disertai senyuman lembut. Jin semakin terpesona. Dia mengikuti Anki membuang kapuk. Ketika Anki hendak kembali, jalannya terhalang oleh Jin. Jin lekas minta maaf dan menggeser posisi.


Anki melewatinya sambil menunduk. Perhatian Jin terus mengikutinya. Anki kembali berkumpul bersama yang lain.


"Kak Penculik Baik Hati membawa banyak makanan, bagaimana kalau kita makan dulu?" ajak Sanubari. Aroma sate yang tercium sedari tadi, mempercepat rasa lapar Sanubari.


Eksperimen tidak biasa itu terlalu menyita perhatian semua orang, sampai aroma lezat makanan pun bisa terabaikan. Andai Sanubari tidak menyinggungnya, mereka mungkin akan tenggelam sedikit lebih lama dalam pengamatan.


Anki mengambil Magicom. Petahana membawa piring, sendok, dan wadah lain. Mereka berkumpul di ruang televisi. Kursi-kursi sengaja dipindahkan supaya lebih luas dan leluasa untuk duduk.


"Bagaimana kau bisa membuat dua hal yang jelas berbeda melakukan pembuahan?" tanya Fukai sembari membuka bungkus makanan. Ada tujuh bungkus untuk setiap jenis. Jadi, masing-masing mendapat jatah satu bungkus.


"Itu rahasia. Petahana akan menghukum ku kalau aku mengajarkan itu pada orang lain.," kata Petamana mengerlingkan sebelah mata.


"Seharusnya, kau publikasikan hasil penelitianmu itu. Itu pasti sangat berharga untuk kemajuan ilmu pengetahuan!" ujar Fukai.


"Sayangnya, saudaraku tidak setuju. Jadi, itu hanya untuk konsumsi pribadi saja," balas Petamana.

__ADS_1


Mereka terus mengobrol. Anki memuji jin pandai memilih warung. Semua makanan yang dibawakannya enak.


"Jika mau, kita bisa pergi berdua besok, lusa, atau kapan pun kamu mau. Aku tahu banyak tempat makanan lezat di sini," kata Jin menanggapi pujian Anki.


"Itu ide yang bagus. Makan di tempat langsung, enak kali, ya? Seperti waktu itu." Anki menanggapinya dengan tangan terbuka. Dia suka jalan-jalan.


Yang lain sesekali menimpali. Namun, respons Jin lebih sering untuk Anki. Kebahagiaannya meledak-ledak ketika Anki juga sangat responsif pada tanggapannya. Dia merasa cocok mengobrol dengan Anki.


Makanan masih tersisa banyak. Para gadis menyimpannya untuk nanti. Usai membereskan perlengkapan, Anki berpamitan.


"Aku mau ke tempat Kak Eiji dulu. Kalau tidak diperhatikan, dia bisa seharian tidak makan bila terlanjur fokus pada pekerjaan," begitu katanya.


Sanubari dan Jin ikut pergi. Ketiganya menemukan Renji yang sedang menggigit cakwe, sedangkan tiga pria lain masih berkutat dengan pekerjaan.


Anki menyiapkan makanan, lalu menyuruh Sanubari mematikan sumber listrik. Seketika, peralatan elektronik mereka tidak berfungsi, kecuali laptop Abrizar. Anki memaksa kakaknya pinddah dari kursi kerja.


Itu hal yang tidak bisa Anki lakukan saat Eiji masih di Onyoudan. Dia senang dengan perubahan ini. Berkat Sanubari, Anki bisa menginterupsi sang kakak kapan pun.


Rasa suka Jin bertambah ketika melihat Anki sebagai sosok yang perhatian. Perhatiannya itu tampak tulus. Itu hal yang tidak pernah Jin lihat dari perempuan lain. Setiap tutur katanya, gerak-geriknya, ekspresinya menggetarkan hati Jin.


Ada ribuan gadiz yang memiliki kebaikan di luar sana. Jin pernah bertemu satu atau dua yang seperti itu. Akan tetapi, tidak ada yang membekas di benaknya. Mereka bahkan segera terlupakan. Anki seorang yang mampu membangkitkan rasa dalam dada Jin hingga pria itu rela mengesampingkan perintah King.


Beberapa saat kemudian, azan berkumandang. Anki pergi dari rumah itu. Abrizar dan Sanubari beribadah.


Jin mengamati kegiatan Sai dan Eiji. Renji menjelaskan apa yang mereka kerjakan ketika Jin bertanya. Renji bahkan mengambil satu silet, lalu memperagakan pemotongan pada Grendel pintu. Logam keras itu terpotong.


Dia juga mengambil benda seperti ponsel lipat. Benda itu bisa mengumpulkan silet yang tercecer. Konsep kerjanya mirip mini aifka. Saat itulah Jin memahami bahwa kelompok kecil Sanubari diisi orang-orang kompeten.

__ADS_1


Dia belum mengetahui keahlian semua anggota. Namun, Jin terbayang si tuna netra dan Renji yang bisa mengimbangi rekannya sampai Sanubari menginterupsinya semalam, lalu ilmuwan perempuan yang bisa menciptakan makhluk aneh, kemudian ahli elektronik yang sekarang satu ruangan dengannya. Itu fakta yang tidak bisa dipandang remeh untuk paket pemula, apalagi setelah mengetahui profesi Abrizar.


Jin merenungkan segalanya. Dia tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang tujuan Sanubari. Kekhawatirannya sedikit meningkat saat mengingat setiap ucapan Sanubari. Perkataannya memang terdengar kekanakan Di telinga Jin. Akan tetapi, kalau Sanubari serius, kalau Sanubari disertai para ahli dan menjadi besar, itu bisa saja menjadi ancaman.


__ADS_2