
"Kalau kau coba ganti dengan fungsi ini, maka efek yang ditimbulkan akan lebih efektif dan kuat ...."
Jari jemari Sai dengan lihai memainkan papan ketik dan tetikus, memindahkan kursor ke sana-sini, menghapus dan mengetik ulang dengan mata lurus menatap monitor. Dia sedang memberi contoh secara manual pada Sanubari.
Kepala Sanubari seperti mau meledak. Bahasa alien yang tertangkap retina bagaikan racun bagi logus opsipitalnya. Dia tidak tahu lagi apa yang sedang dilihatnya.
Remaja itu menggeram frustasi. "Argh! Aku tidak tahu lagi. Mengapa harus ada bahasa yang begitu rumit di dunia ini? Masa Bodoh dengan apa itu yang namanya pemrograman, pengkodean, atau apalah itu. Aku tidak tahan lagi!"
Catatan dan pensil mekanik yang dipegang Sanubari terlepas dari genghgaman, menghantam lantai. Sanubari menjatuhkan kepala ke papan ketik, membuat tombol-tombol tertekan secara acak dan berkelanjutan. Sama halnya dengan kepala Sanubari.
Sudah satu Minggu ini dahinya berkerut-kerut menerima pelajaran dari Eiji, Sai, dan Renji. Dia yang tumbuh tanpa mengenal pendidikan akademik, kini digembleng menjadi seorang teknisi. Tak pelak, tubuhnya terasa seperti ditimpa gunung besar. Sanubari bahkan menyuarakan lantang isi perasaannya itu.
"Aku merasa seperti Sun Wu Kong yang terjebak di bawah gunung. Berat, sesak, tidak bisa ke mana-mana. Huh!"
Sampai hari ini, tidak sedikit pun yang bisa Sanubari pahami. Sai tersenyum melihat Sanubari yang merajuk. Sertiap hari, remaja beriris hijau itu mengeluhkan hl yang sama. Lisannya mungkin berkata ingin menyerah, tetapi dia tetap berusaha untuk mempelajari kembali apa yang telah diperolehnya.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja! Kau pasti akan segera bisa," nasihat Sai untuk menyemangati Sanubari.
"Konnichiwa!"
Ucapan ceria selamat siang dari seorang gadis itu membuat Sai menoleh. Sanubari ikut bangkit. Hidungnya mengendus-endus, mencium aroma wangi dan sedap.
"Sepi sekali. Di mana kak Eiji dan kak Ren?" tanya Anki yang telah membuka pintu dan masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Anki!" seru Sanubari riang yang lantas memutar kursi menghadap pada sang gadis, "apa yang kau bawa? Sepertinya enak?"
"Asyik makan bersama! Oh, ada kak ABRI juga. Hai, Kak!"
Abrizar hanya tersenyum menanggapi sapaan Sanubari. Sementara Anki berjalan ke meja di salah satu sisi ruangan dan meletakkan bawaan ke atasnya. Abrizar mengekor. Anki mengambil barang yang dibawa lelaki itu, lalu meletakkannya juga ke atas meja.
"Aku sengaja mengajak kak ABRI ke sini untuk merayakan ulang tahun kak Eiji," ungkap Anki menghadap pada Sanubari.
__ADS_1
"Oh. Jadi, hari ini ulang tahun kak Eiji?" tanya Sanubari.
Anki mengangguk. "Um."
Gadis itu mengedarkan pandangan. Dia tidak bisa melihat sosok Eiji. Matanya beralih ke jam digital yang menempel pada dinding.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh dua menit sore. Seharusnya, Eiji sudah pulang dari Yamata dan berada di sini. Namun, hanya ada Sai dan Sanubari di ruangan ini.
"Jangan bilang kalau dia ada misi di luar?" batin Anki sedikit kesal.
Hari sebelumnya, Anki sudah menyuruh Eiji untuk pulang ke rumah saja. Akan tetapi, lelaki itu tidak mengindahkan permintaan sang adik. Setiap tahun selalu saja seperti ini, dan pada akhirnya Ankilah yang harus mendatangi kantor Onyoudan untuk merayakan ulang tahun bersama.
Eiji hanya mau mengambil libur penuh dan berada di rumah di hari ulang tahun Anki. Pada satu hari itu, waktu Eiji sepenuhnya milik Anki. Dia bahkan mengabaikan urusan lainnya. Anki ingin melakukan hal yang sama di hari ulang tahun sang kakak.
Sayangnya, tidak sekali pun Eiji menjawab harapan Anki. Lelaki itu selalu sok sibuk. Sulit sekali membuatnya diam pada satu tempat. Anki harus puas dengan hanya bisa makan malam bersama di kantor Onyoudan dengan anggota tim Eiji.3
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, di mana kak Eiji?" ulang Anki karena belum mendapatkan jawaban.