
"Ho un amico a Milano. Forse può trovarti un lavoro."
(Aku punya teman di Milan. Mungkin dia bisa memberimu pekerjaan.)
"Veramente?"
(Sungguh?)
"Sì, ci andremo domani. Adesso voglio prima restituire la scatola dei medicinali al vicino di casa."
(Iya, besok kita ke sana. Sekarang aku mau mengembalikan kotak obat ke tetangga sebelah dulu.)
Noka mengambil kotak obat di atas nakas lalu keluar. Ia merasa kasihan waktu melihat darah keluar dari dagu Sanubari. Ia ingin mengobatinya tetapi sama sekali tidak memiliki simpanan obat-obatan untuk berjaga-jaga. Oleh sebab itu, Noka meminjam kotak obat ke apartemen sebelahnya.
Keesokan paginya, mereka menuju Milan dengan bus. Mereka menempuh perjalanan selama empat jam-an dan sampai di Milan sekitar pukul sebelas siang. Mereka langsung menuju ke sebuah restoran yang ada di Corso Como.
Seorang pria tiga tahun lebih tua dari Noka langsung menyambut mereka begitu keduanya memasuki restoran. "Noka mio vecchio amico! È bello che tu venga a visitare il nostro umile ristorante."
(Noka sahabat lamaku! Senang rasanya kau mau mengunjungi restoran kecil kami.)
Dia adalah Moreno—teman Noka yang merekomendasikannya untuk bekerja di Infinity Heaven. Tujuh tahun yang lalu Moreno ingin berhenti menjadi host.
Namun, ada syarat tertentu yang harus ia penuhi untuk mendapat kebebasan dari Infinity Heaven. Yaitu, mencari host pengganti. Ia selalu berkeluh kesah tentang permasalahannya kepada Noka. Saat itulah Noka bersedia menggantikannya.
Moreno sangat berhutang budi kepada Noka. Ia berjanji akan membantu kapan pun Noka membutuhkan asal ia bisa. Karena ini pulalah, hari ini Noka mengajak Sanubari ke Milan.
Noka membalas rangkulannya sambil menepuk perut laparnya dan berjkata, "Sono qui per pranzare e chiedere aiuto."
(Aku kemari untuk makan siang sekaligus meminta bantuan.)
Moreno langsung mempersilakan mereka duduk dan menyiapkan makanan. Tidak ada pelanggan satu pun di sana sehingga mereka bisa mengobrol dengan leluasa. Noka juga mengutarakan maksud kedatangannya.
Moreno menatap Sanubari lalu dengan tidak enak hati berkata, "Non è che non voglio aiutare. Lo vedi tu stesso, no? Il mio ristorante sta vivendo un calo di fatturato. Non so quanto pagarlo se lo prendo."
(Bukannya aku tidak mau membantu. Kau lihat sendiri, bukan? Restoranku sedang mengalami penurunan omset. Aku tidak tahu harus membayarnya dengan apa jika menerimanya.)
Jika dilihat-lihat, kondisi restoran saat ini memang sangat sepi. Namun, restoran masih bisa beroperasi. Rasa makanannya pun tidak buruk.
__ADS_1
Noka berpikir bahwa restoran ini mungkin sepi karena belum dikenal. Noka melirik Sanubari yang sedang memakan piza. Sepintas ide muncul dalam kepala.
Sanubari mampu memikat Sweeta yang tidak pernah bisa ia taklukkan. Itu artinya Sanubari bisa dijadikan penggait pelanggan untuk membangkitkan restoran temannya.
Noka menelan spagetinya lalu memberi saran. "Non devi preoccuparti di questo. Puoi usare questo ragazzo per fare un video pubblicitario che attiri i clienti. Sai perché Infinity Heaven è sempre occupato, vero?"
(Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kau bisa memanfaatkan anak ini untuk membuat iklan video penarik pelanggan. Kau sendiri tahu mengapa Infinity Heaven selalu ramai pelanggan, bukan?)
"Ma questo non è un club ospitante".
(Tapi ini bukan host club.)
"Questa è solo una strategia di marketing. All'inizio potrebbero arrivare molte clienti donne, ma dopo aver dato buone recensioni su questo ristorante, penso che arriveranno clienti di ogni ceto sociale. Inoltre, il cibo qui è delizioso ."
(Ini hanya strategi pemasaran. Di awal mungkin pelanggan perempuan yang akan berdatangan, tetapi setela mereka memberikan review bagus tentang makanan di sini kurasa pelanggan dari berbagai kalangan akan berdatangan. Aku yakin itu. Lagi Pula makanan di sini enak-enak kok.)
Moreno menerima saran Noka. Sanubari diterima sebagai pramusaji. Iklan dadakan pun dibuat dengan bantuan mereka. Malam itu juga video disebarkan melalui berbagai media sosial.
Untuk sementara waktu, Sanubari tinggal bersama Moreno dan istrinya. Hari berikutnya Noka pulang, Sanubari mulai bekerja. Usulan Noka benar-benar bekerja dengan baik. Dalam tiga hari, restoran menjadi ramai pengunjung.
Sanubari bagaikan maskot keberuntungan bagi restoran Moreno. Kehadirannya mampu menghidupkan restoran yang hampir mati. Para pengunjung puas dengan pelayanan Sanubari yang sangat ramah dan menu yang lezat. Semakin hari video Sanubari pun semakin viral. Rating restoran semakin naik seiring viralnya Sanubari.
(Selamat datang di restoran kami!)
Seperti biasa, Sanubari akan menyambut pelanggan yang baru masuk dengan senyuman hangat. Saat ini restoran memiliki karyawan lain sehingga Sanubari bisa senantiasa bisa menyambut pelanggan.
"Mi dispiace, il nostro ristorante è pieno. Potrebbe aspettare un momento per un tavolo vuoto o semplicemente ordinare qualcosa da asporto?"
(Mohon maaf, restoran kami sedang penuh. Apakah Tuan-tuan berkenan untuk menunggu sejenak atau memesan untuk dibawa pulang?)
Sanubari tetap mempertahankan senyumannya. Namun, sekelompok orang bermantel hitam sama sekali tidak menanggapi. Mereka langsung menyeret Sanubari keluar restoran tanpa kata. Sanubari kebingungan. Tiba-tiba saja dua orang mencekal lengannya dan menggiringnya ke mobil yang terparkir di luar.
"Scusate, signori, cosa volete? Non posso venire con voi. Sono al lavoro."
(Maaf, Tuan-tuan ini mau apa, ya? Saya sedang bekerja saat ini. Saya tidak bisa ikut kalian.)
Sanubari berusaha menjelaskan keadaannya. Namun, orang-orang bermantel dan bermasker hitam itu tetap tidak menggubrisnya. Salah satu dari mereka membuka pintu mobil.
__ADS_1
Sanubari membelot. Ia tidak mau dipaksa masuk mobil. "Lasciami andare! Dove mi stai portando?"
)Lepaskan! Kalian mau membawa saya kemana?)
"Sbrigati!"
(Cepat Masuk!)
"Non voglio!"
(Tidak mau!)
Sanubari menginjak kaki kedua orang yang mengapitnya secara bergantian. Kedua pria itu pun mengendurkan cengkeraman dan berteriak. Sanubari menyikut perut mereka hingga bisa melepaskan diri. Kemudian, ia berbalik badan, mengambil langkah besar untuk menjauh.
Namun, salah seorang mencekalnya. Pria itu mengacungkan pisau dari belakang sambil mengancam, "Non combattere se non vuoi che questo coltello ti tagli il collo!"
(Jangan melawan jika tidak ingin pisau ini menyembelih lehermu!)
Sanubari bisa merasakan mata pisau yang menyentuh kulit leher bagian samping. Namun, Sanubari tidak kehabisan akal. Tangan kanannya memang dikunci dari belakang, tetapi tangan kiri dan kedua kakinya masih bebas.
Sanubari mencekal tangan kanan pria yang memegang pisau, menekan sebuah titik hingga pisau terjatuh, menendang tempurung lutut pria di belakang lalu membantingnya.
"Chiedo scusa, zio! Non mi piace la violenza, ma insisti. Non ho altra scelta."
(Mohon maaf, Paman! Saya tidak suka kekerasan, tetapi Paman sendiri yang memaksa. Saya tidak punya pilihan lain.)
Sanubari masih bersikap sangat hormat. Bagaimanapun juga, saat ini ia sedang bekerja. Ia harus menunjukkan profesionalitas dan etika yang baik jika tidak ingin dipecat.
Pria yang berbaring masih berteriak-teriak kesakitan sambil memegangi pergelangan tangan. Entah bagian mana yang ditekan Sanubari, tetapi sepertinya Sanubari menekan dengan tenaga yang sangat kuat. Pria itu memandang Sanubari dengan jengkel. "Ragazzo insolente!"
(Dasar Bocah Kurang ajar!)
"Dannazione! Sembra che abbiamo sottovalutato troppo questo marmocchio"
(Sial! Sepertinya kita terlalu meremehkan bocah ini.)
Pria lainnya maju. Sanubari berputar sambil meluncurkan tendangan. Pria yang hendak menyerang itu pun terpental akibat tendangan Sanubari.
__ADS_1
Beberapa orang berjas hitam keluar dari mobil yang terparkir tak jauh dari tempat perkelahian. Salah seorang dari mereka menodongkan pistol. "Arrenditi o ti sparo!"
(Menyerahlah atau kutembak kau!)