Santri Famiglia

Santri Famiglia
Gafrillo


__ADS_3

Sai mengeluarkan silet dari sepatu. Dia memotong ikatan sendiri. Benda pipih itu sangat berguna, mudah disembunyikan tanpa ketahuan. Sai mengagumi pemilihan senjata Sanubari. Ketika mayoritas orang dari dunia bawah menggunakan pistol sebagai senjata pribadi, Sanubari malah memilih silet sebagai senjata yang dibawa ke mana-mana. Kini, Sai semakin paham mengapa Eiji ingin menggandakan silet tajam Sanubari.


Untuk kedua kalinya, silet itu telah membebaskannya. Sai memotong tali yang mengikat Sanubari, lalu beralih ke yang lain.


"Akhirnya bebas juga!"


Sanubari berdiri, mengangkat tangan ke atas, meregangkan otot yang penat. Dia hanya diikat seperti itu selama beberapa jam, tetapi itu cukup melelahkan. Dia lantas berbalik badan, tersenyum lebar pada orang-orang yang menjadi rekan seruangan.


Orang-orang yang berterima kasih pada Sai seketika tersentak. Mata mereka melebar manakala melihat Sanubari.


"Tu-tuan Gafrillo?" kata seseorang setengah kurang yakin.


Yang lain pun memikirkan hal yang sama. Wajah pemuda di hadapan mereka tampak begitu persis dengan sang bos besar. Hanya dua hal yang tidak dimiliki pemuda itu dibandingkan sang bos yang mereka kenal. Yakni, rambut pirang dan wajah dewasa nan tegas yang senantiasa menampilkan keseriusan.


Kendati hampir genap 20 tahun, kontur wajah Sanubari masih bisa dibilang kekanakan. Rahangnha kalah tegas dengan sang ayah. Mungkin masih butuh beberapa tahun lagi untuk keduanya supaya terlihat sama persis.


"Mana mungkin ini Tuan Gafrillo! Lihatlah! Dia masih muda. Sedangkan Tuan Gafrillo sudah 40 atau 50 tahunan."


"Tapi, Tuan Gafrillo juga terlihat masih pertengahan 20 tahun. Aku ingat. Walau tidak setiap hari melihat, tapi aku yakin mengingatnya."


Mereka sekali lagi memperhatikan Sanubari dengan cermat. Sai hanya diam, sama sekali tidak berminat untuk ikut campur maupun mengungkap identitas Sanubari. Dia hanya fokus menjalankan tugas memotong ikatan setiap orang.


"Tuan Gafrillo lebih dewasa dan maskulin. Lagi pula, lihatlah rambutnya! Hitam legam."


Sangkalan kali ini datang dari Martinez. Dia sendiri sedikit khawatir dengan tebakan sendiri. Akan tetapi, warna rambut menjadi petunjuk jelas baginya.


Sedangkan Sanubari yang diperbincangkan malah cengar-cengir, lalu mengatakan, "Memangnya kenapa kalau aku bukan Gafrillo? Kalau aku Gafrillo pun kenapa?"


Itu pula yang dicemaskan para awak kapal. Mereka takut dipecat karena gagal mengenali bos sendiri. Orang-orang itu menelan ludah.

__ADS_1


"Kenapa diam?" tanya Sanubari lagi.


Para awak kapal sedang memikirkan jawaban yang aman untuk masing-masing. Pandangan mereka tak lepas dari Sanubari. Pemuda itu banyak tersenyum, berbeda dengan Gafrillo yang mereka kenal. Meskipun begitu, keraguan seolah maju-mundur memasuki hati mereka.


"Bagaimana bila ini adalah Tuan Gafrillo yang sedang menyamar dengan penampilan lebih muda?"


Pikiran semacam itu terlintas dalam benak mereka. Probabilitas-probabilitas semacam itu sulit dienyahkan. Segalanya mungkin dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada.


Salah satu dari mereka pun memberanikan diri untuk bertanya, "Jadi, kau ini Tuan Gafrillo atau bukan?"


"Ya, aku Gafrillo." Sanubari mengangguk enteng.


"Maafkan kami karena meragukanmu, Tuan!"


Mereka semua sontak bersujud. Permohonan supaya tidak dihukum mengudara dalam berbagai versi. Semua awak kapal merasa sangat bersalah. Selain tidak bisa mengenali bos sendiri, mereka telah membuat kapal pengangkut senjata yang mereka awaki disatroni perampok. Karena kelemahan mereka itu, BGA pastilah akan mengalami kerugian besar.


Sanubari terbahak. Dia menikmati reaksi mereka. Perlakuan itu baru pertama kali ini dialaminya.


Tanpa diminta, orang-orang dengan sendiri menghormatinya. Orang yang merundung, mengucilkan, memaki pun berkurang drastis. Setelah melihat mereka, Sanubari ingin lebih dewasa lebih cepat lagi. Dia berpikir, sepertinya enak disegani seperti itu. Dengan demikian, kehidupan damai yang diharapkannya bisa terwujud.


Tanpa sadar, Sanubari membayangkan ketika hari itu tiba. Para penjahat urung melaksanakan niat karena mendengar nama Sanubari, melihat foto, atau bahkan bertemu dengannya. Mereka semua tobat begitu mendengar ceramah Sanubari. Kejahatan pun musnah total dari muka bumi. Imajinasi seperti itu membuatnya terkikik sampai lelah tertawa.


"Sudah! Sudah! Maaf, aku hanya bercanda. Aku bukan tuan kalian," ungkapnya kemudian.


Gara-gara itu, ada di antara mereka yang salah paham. Orang itu lantas berkata, "Jangan pecat saya, Tuan! Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini!"


"Sudah kubilang, aku ini bukan Gafrillo tuan kalian." Sanubari garuk-garuk kepala sendiri.


Akibat lelucon isengnya, kesalahpahaman berlanjut. Sementara dia tidak membawa kartu identitas untuk membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang dimaksud. Dia menoleh pada Sai, meminta bantuan dengan tatapan.

__ADS_1


Seolah mengerti bahasa tubuh Sanubari, Sai mengangguk. Dalam keadaan seperti ini, dia hanya perlu mengalihkan topik. Tentunya topik yang perlu diprioritaskan supaya mereka tidak kembali ke topik awal.


"Tuan-tuan, sebaiknya kita bersiap untuk keluar!" kata Sai mengeraskan suara, "Jika seseorang membuka pintu, mari tarik orang itu ke sini, lalu kunci setelah kita semua keluar."


Sanubari buru-buru menimpali, "Ah, benar-benar! Kita harus siaga dan merencanakan pengambilalihan kapal ini daripada membahas hal tidak penting."


"Itu ide yang bagus! Mengunci perampok di sini lumayan untuk mengurangi jumlah musuh," sahut yang lain.


Yang lain lagi pun ikut menimpali, "Lalu, bagaimana cara kita bergerak? Berpencar untuk mencari mereka?"


"Bergerak sendiri-akan berisiko. Kita akan berkelompok lima-lima dan enam-enam, lalu berpencar. Target yang pasti adalah anjungan. Sisanya, kalian sisir tempat yang kemungkinan dijadikan persembunyian!" ujar Sai.


Sai terdengar yakin dan tenang, membuat mereka tidak meragukan spekulasi masing-masing. Desas-desus tentang Gafrillo yang memiliki beberapa konselor ahli dalam berbagai bidang tentu telah sampai ke telinga mereka. Maka, semakin yakinlah mereka bahwa Sanubari adalah Gafrillo yang ditemani sang konselor sekaligus asisten pribadi.


Sesuai rencana, mereka menunggu pintu dibuka. Begitu pintu didorong, Martines yang bersiaga di sebelah pintu langsung menariknya ke dalam. Perampok itu dikeroyok ramai-ramai hingga pingsan. Mereka mengambil senjata dan topeng.


Setelah berembuk, diputuskan Martinez Lah yang akan memakai topeng. Dia lantas melucuti pakaian perampok dan memakainya. Kunci juga dipegangnya.


"Kalian semua, ingat baik-baik bahwa yang satu ini ada dipihak kita!" pesan Sai menepuk pundak Martinez.


Dia menjelaskan rencana cadangan andai rencana awal mereka gagal. Martines disusupkan supaya peluang pembebasan berikutnya lebih besar. Sai sendiri sebenarnya hanya memikirkan keselamatan diri sendiri dan Sanubari. Untuk yang lain, dia tidak acuh. Toh, mereka hanyalah orang asing yang kebetulan mau bekerja sama. Cukuplah bagi Sai memberi sedikit petunjuk. Sisanya, biar mereka bergerak sendiri.


Mereka makan dan minum setelah mengikat si perampok. Kemudian, mereka keluar, bergerak ke tujuan masing-masing. Martines berjalan sendiri menuju anjungan. Dia melangkah santai di belakang empat orang yang berlari, sengaja membiarkan mereka mendahului.


Sementara itu di geladak atas, Mikki berdiri menghadap haluan. Dia melepas topeng, menikmati angin laut yang menerpa wajah. Lelaki itu tersenyum tanpa beban.


Matahari panas menyengat. Namun, embusan angin membuatnya terasa hangat. Pada saat itu keributan terjadi. Seseorang berteriak.


"Tawanan kabur!"

__ADS_1


Mikki lekas memakai topeng kembali. Dia lekas menunduk karena terdengar derap berlari ke arahnya. Diayunkannya kaki menyapu ke belakang, menjegal kaki lain yang mendekatinya.


Tak pelak, Sanubari yang memukul udara kosong pun terjerembab. Keningnya membentur geladak dengan keras. Dia mengerang, "Ugh!"


__ADS_2