Santri Famiglia

Santri Famiglia
Telur


__ADS_3

Jin dan rekan-rekannya pergi dari rumah Wongso setelah kelompok Sanubari pulang. Wongso merasa lega. Dia baru saja mendapatkan anugerah takternilai.


Keurungan Jin melanjutkan pembunuhan sudah seperti mukjizat bagi Wongso. Betapa bersyukurnya Wongso mendapatkan hal tersebut. Andai tidak, tragedi hampir satu dekade silam mungkin akan terulang. Dia bisa saja berakhir seperti ayahnya.


Namun, selamatnya nyawanya harus dibayar dengan kerugian besar. Penghentian pungutan biaya pemakaman berarti Wongso kehilangan sumber pemasukan. Kepalanya pening memikirkan itu. Isi rekeningnya baru saja dikuras akun tidak terdeteksi, lalu dia ketahuan menyimpan pungutan untuk diri sendiri.


Sebentar lagi, dia pasti akan mendapat pesan untuk mengembalikan nominal yang wajib disetor ke atas. Entah esok atau lusa, pesan tersebut tidak diragukan lagi kedatangannya. Pikirannya makin penuh dengan adanya gelimpangan mayat yang belum terurus.


Di mobil lain, Jin sama pusingnya. Sanubari seenaknya mengambil keputusan. Sementara posisi Jin menyulitkannya untuk menentang.


"Kenapa kau tidak menyelesaikan misi hanya karena Bocah Toilet tadi? Apa kata King nanti kalau sampai tahu?" ucap Bas.


"King akan kehilangan kepercayaan pada kita," timpal yang lain.


"Diamlah! Aku yang akan mempertanggungjawabkan semua ini. Kujamin kalian aman," cetus Jin. Dia sedang kesal dengan diri sendiri.


Masalah Sanubari, Jin yakin King akan memaklumi. Akan tetapi, ada masalah lain yang lebih besar. Yakni, penghilangan lahan pemasukan. Jika dibiarkan, penghasilan di sektor ini akan mandek untuk selamanya.


Dari perkataan Sanubari, Jin bisa menduga arah pergerakan Sanubari. Anak itu tidak akan berhenti di desa ini saja. Cepat atau lambat, Sanubari pasti akan mempengaruhi tempat lain, dan Jin tidak tahu bagaimana reaksi King bila berita ini sampai terdengar olehnya.


Dia tidak banyak bicara malam itu. Sesampainya di rumah, Jin langsung mandi, lalu merebahkan tubuh ke kasur.


"Apa yang harus kukatakan pada King nanti? Atau mungkin kulaporkan saja niat Sanu menginvasi negara ini pada Gafrillo?"


Jin menghela napas. Dia mulai memejamkan mata, meredam pikiran sejenak.


King dan Gafrillo beraliansi. Mereka sepakat untuk tidak saling mengusik teritorial masing-Masing. Masuknya Sanubari ke Indonesia berarti menyalahi kesepakatan.


Selagi gerakannya kecil, Jin tidajk akan ambil pusing. Dia akan menyarankan pada King untuk bernegosiasi pada Gafrillo bila keberadaan Sanubari terbukti mengganggu keseimbangan. Jin tersenyum dalam lelap.


Keesokan paginya, dia menerima pesan dari Sanubari. Anak itu ingin bertemu dengannya. Jin segera pergi ke tempat Sanubari tanpa senjata dan rekan yang menyertai.

__ADS_1


Sanubari telah menunggu di depan gerbang. Dia berjongkok, memutar-mutar ranting ke pusaran tanah untuk mencari undur-undur. Hewan abu-abu kecil muncul ketika deru mobil berhenti. Sanubari mengangkat kepala.


Jin turun dari mobil. "Ngapain main tanah? Kayak anak kecil saja."


"Hanya mengisi waktu daripada bosan." Sanubari berdiri. Dibuangnya ranting yang tidak dibutuhkan lagi. Dia melihat ke mobil.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Ini tentang seorang teman. Ayo ke kantor polisi! Hanya dia yang bisa menjelaskannya dengan lebih rinci."


Sanubari mengajak Jin ke penjara. Dia sudah berjanji pada teman satu sel untuk membantu sebelum dirinya keluar, dan yang bisa merealisasikan itu hanyalah Jin. Begitu pikir Sanubari.


Jin tidak menduga, Sanubari akan mengajaknya ke lapas. Mereka menjenguk seorang narapidana.


"Aku sangat menghargai niat baikmu, Sanu. Terima kasih. Tapi, kamu tidak perlu melakukannya lagi. Hukumanku telah ditetapkan."


"Kita masih bisa mengajukan banding untuk mendapatkan keringanan," kata Jin.


"Itu terdengar mustahil. Aku divonis hukuman mati. Eksekusi akan dilaksanakan lusa."


Sanubari terkejut mendengar berita itu. Jin pun tidak bisa banyak berbuat bila waktunya sesingkat itu. Dia perlu mengumpulkan fakta-fakta, mempelajari kasus untuk menyusun argumen meyakinkan di hadapan hakim. Dan pekerjaan semacam itu bisa membuatnya begadang bila waktunya sangat singkat. Belum lagi, dia harus terjun ke lapangan. Yang pastinya, satu hari saja tidak cukup untuk menyelesaikannya.


Sanubari keluar dari kantor polisi dengan muka kusut. Dia tidak terima dengan hasil sidang. Dia sangat yakin bahwa tidak seharusnya hukuman tersebut dialamatkan pada Muktar.


"Kenapa hukum itu menyebalkan? Dikit-dikit hukuman mati."


Sanubari berani mengungkapkan itu setelah masuk mobil. Dia baru saja terbebas dari lapas. Kalau sembarangan berbicara, Sanubari khawatir akan dijebloskan lagi ke jeruji karena dianggap menghina aparat penegak hukum.


"Ada dua sudut pandang dalam hal ini. Pertama, menumpas penjahat dengan harapan kriminalitas menurun. Kedua, menutupi kejahatan lain. Dengan matinya tersangka, maka kasus akan dianggap berakhir. Kesalahan akan dianggap benar tanpa orang tahu kebenaran sesungguhnya."


"Jadi, menurut Kak Penculik Baik Hati, hakim itu penjahat?"

__ADS_1


"Bisa jadi mereka menerima suap untuk menutup kasus sesuai pesanan. Tapi, untuk kasus yang satu ini, aku belum tahu kebenarannya bagaimana," ujar Jin.


Sanubari diam, memikirkan perkataan Jin. Dia juga tidak tahu fakta sesungguhnya. Namun, dia tetap ingin percaya Muktar. Terlepas dari itu, Sanubari beranggapan bahwa mengakhiri nyawa seseorang merupakan tindakan tidak manusiawi.


"Ngomong-ngomong, apa makanan kesukaan Anki?" tanya Jin. Hening sejenak. Kemudian, Jin buru-buru menambahkan, "Mumpung di kota. Aku ingin membelikan sesuatu untuk Anki dan yang lain."


"Aku tidak pernah bertanya, tapi yang lain itu pemakan segala. Kalau teman-teman Pak Kora, aku tidak tahu."


Sanubari menjawab sambil berpikir. Setiap kali Sanubari bersama Sai, Renji, Eiji, dan Abrizar, mereka tidak pernah mengeluhkan makanan.


Akhirnya, mereka berhenti setiap kali ada gerobak makanan jalanan. Mulai dari tahu Sumedang, molen, cakwe, martabak telur, martabak manis, dan sate dibeli oleh Jin. Aroma makanan sampai memenuhi mobil.


Ketika sampai di rumah, orang-orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Eiji menggandakan baksil Sanubari. Itu adalah senjata praktis menurut Eiji. Tidak akan ada orang yang tahu bahwa itu adalah senjata karena bentuknya seperti ponsel. Benda itu bisa pula dioperasikan layaknya ponsel.


Sementara Sai mempelajari silet yang menjadi amunisi baksil. Benda pipih tajam nan kecil itu memiliki ketajaman lebih dari sebuah pedang.


Renji menonton televisi dengan santai. Sementara Abrizar duduk di depan laptop. Dia sedang mengerjakan sistem keamanan situs pesanan klien. Tidak ada perempuan di sana.


"Di mana Anki?" Mata Jin mencari-cari keberadaan gadis itu. Diletakkannya sebagian kantung plasti di meja depan Renji.


"Mungkin di rumah sebelum ini bersama yang lain," jawab Sanubari.


"Aku harus memberikan ini selagi hangat. Bisa kau tunjukkan tempatnya?"


"Tentu."


Mereka keluar rumah lagi. Keduanya berjalan ke selatan rumah yang sedang dibangun. Rumah besar itu sudah terlihat sekitar tujuh puluh persen selesai.


Tidak lebih dari dua menit, mereka sampai. Fukai membukakan pintu untuk mereka. Kipas angin dinyalakan karena udara sedikit panas. Para perempuan ramai berbincang.


"Kapan kamu mau berhenti melakukan percobaan aneh? Ini tidak akan berhasil," ucap Petahana.

__ADS_1


"Pasti berhasil! Ini seperti bayi tabung pada manusia, atau kawin suntik pada sapi," jawab Petamana.


"Tapi, yang kamu suntikkan itu ****** kucing, dan kamu menyuntikkannya ke dalam telur ayam." Dahi Petahana berkerut.


__ADS_2