Santri Famiglia

Santri Famiglia
Para Agen


__ADS_3

Gemuruh kembali terdengar. Lantai yang mereka duduki bergetar.


"Apa tempat ini akan runtuh?" Sang dokter tercekat.


Mereka sudah terlalu lemas karena kekurangan oksigen. Semua orang itu tidak sanggup lagi bergerak untuk menyelamatkan diri. Rasa lelah yang teramat berat seolah menindih sekujur tubuh mereka.


Sang menteri memejamkan mata. Dia pasrah.


"Hei, lihat! Ada cahaya!" seru seorang perempuan tiba-tiba. Telunjuk kanannya teracung.


Semua orang menggunakan sisa-sisa tenaga untuk menggerakkan kepala, mencari cahaya yang dimaksud. Mereka berharap itu bukanlah ilusi menjelang ajal. Deru sesuatu semakin terdengar jelas bersama bunyi benda besar nan berat dilempar.


Semua orang refleks memejamkan mata kala sinar menyilaukan memenuhi tempat itu. Saat sang menteri mengintip, dia mendapati tangan raksasa sedang memegang bongkahan. Udara segar mengalir, menyegarkan paru-paru mereka yang nyaris kering.


"Kita selamat?" Sang menteri tertawa ragu. Ini seperti keajaiban baginya.


Helikopter meraung-raung di langit malam, menurunkan agen-agen terlatih dengan tali. Mereka berseragam lengkap seperti tentara yang siap bertempur. Orang-orang itu berlari, dengan lincah melompati, menuruni, menaiki puing. Salah satu dari mereka mengetuk pintu ekskavator, menyuruh Damiyan turun. Saat melakukan itu, dia melihat orang-orang yang tersorot lampu ekskavator.


Penampilan mereka tampak lusuh. Namun, mereka semua membuka mata walau berdarah-darah, kecuali satu orang.


"Ada korban selamat di sini. Di antaranya Pak Menteri," kata seorang agen.


Seorang agen lagi mengamati lokasi. Ekskavator memenuhi jalan, diapit bongkahan yang sulit dilalui orang terluka.


"Kau, singkirkan benda besar ini dulu! Buat jalan untuk mereka sebelum turun!" perintah seorang agen.


"Apa-apaan orang-orang tidak sopan ini? Seenaknya memerintah tanpa memperkenalkan diri," batin Damiyan kesal.


Tanpa diminta, sudah tentu ia akan melakukannya. Itulah yang sedang dia kerjakan sejak tadi. Meski tujuannya bukan untuk menyelamatkan semua orang, Damiyan harus melanjutkannya.


Begitu jalan terbuka, orang-orang berseragam itu merangsek, membantu Queenza dan yang lain keluar dari reruntuhan. Mereka juga mengambil alih Sanubari dari ajudan menteri.

__ADS_1


Damiyan yang sudah turun melihat Sanubari dibawa. Dia tidak bisa mengikutinya karena dua agen menghalangi.


"Pemuda ini akan pergi ke rumah sakit yang sama denganku," kata sang menteri.


"Kami mengerti."


Agen itu berkomunikasi dengan helikopter yang masih melayang di sekitar sana. Satu per satu dari mereka dinaikkan, meninggalkan beberapa agen dan Damiyan.


"Apa yang kau cari di sini?" selidik seorang agen.


"Aku mendapat sinyal SOS dari seseorang. Dia terdengar putus asa dan sangat ingin diselamatkan, tapi tak satu pun orang di sini mau membantunya. Jadi, aku ...." Damiyan sedikit memodifikasi fakta untuk beralasan.


"Kau tahu tempat ini berbahaya?"


Damiyan menoleh ke kanan dan kiri, berlagak bodoh. "Apanya yang bahaya dari reruntuhan?"


"Tempat ini baru saja diledakkan hingga menjadi seperti ini. Kau tidak tahu itu?"


"Bagiku ini hanyalah reruntuhan. Aku tidak pernah kemari. Jadi, aku tidak tahu ini baru saja diratakan. Kupikir, ini memang sudah menjadi reruntuhan sejak dulu, lalu ada seorang arkeolog yang terjebak akibat kecerobohannya sendiri."


Tidak ada yang mencurigakan dari Damiyan. Hanya rambut dan warna kulit sedikit berbeda dari orang barAat pada umumnya yang mencolok.


"Aku? Aku hanya operator ekskavator. Kebetulan kontraktor tempatku bekerja sedang ada proyek di sekitar sini." Damiyan tersenyum tanpa beban.


"Tidak mungkin tukang bangunan biasa diantar helikopter tempur Rusia. Benda yang kau operasikan itu pun milik Rusia."


"Orang ini jeli juga ternyata," batin Damiyan, "tapi tunggu dulu! Jika mereka tahu kedatanganku, itu artinya, ada yang memata-mataiku? Sial!"


Damiyan tetap mengumbar senyum. Namun, batinnya mulai waspada. Dia tidak tahu apakah pengintai ini akan berbahaya untuknya dan Sanubari. Selain itu, dia juga tidak tahu siapa orang-orang yang sedang mengintrogasinya ini.


Jika bisa, Damiyan sebenarnya ingin segera mengejar Sanubari. Entah organ apa yang akan diambil dari Sanubari bila dia sampai terlambat. Kalau mata, Damiyan bisa santai. Tapi kalau yang lain, Damiyan tidak tahu apa yang akan terjadi. Percakapan transaksi praledakan berputar-putar dalam kepala Damiyan.

__ADS_1


Dia dalam keadaan terdesak. Jika salah ambil langkah, Damiyan bisa saja menyeret Rusia dalam peperangan.


"Mereka hanya orang baik yang menolong. Kebetulan, aku memiliki kenalan pasukan khusus di Rusia. Saat kuhubungi dia, siapa sangka dia malah memberiku tumpangan dan pinjaman ekskavator menakjubkan itu." Damiyan mengacungkan jempol ke belakang, menunjuk kendaraan yang terparkir.


Para agen terus memandang waspada ke area sekitar. Mereka tampak gelisah.


Salah satu dari mereka berlari menghampiri agen yang bicara dengan Damiyan, lalu menyarankan, "Sebaiknya, kita juga segera pergi. Kurasa, berada di sini terlalu lama tidak akan aman."


Agen itu mengangguk. "Kau ikut kami! Masih ada banyak hal yang harus kau jelaskan."


Para agen itu tidak mempercayai perkataan Damiyan sepenuhnya. Damiyan dikawal dua agen, sementara yang lain mendiskusikan ke mana mereka akan membawa Damiyan.


"Ekskavator mu ini akan kami kembalikan setelah kami selesai denganmu," kata seorang agen. Dia mengambil alih kemudi.


Di Indonesia. Eiji dan Renji berhasil menyelesaikan satu mobil prototipe. Mobil yang ramah lingkungan, tidak memerlukan bahan bakar seperti mobil pada umumnya. Mobil tersebut dilengkapi teknologi untuk mengubah panas matahari menjadi energi penggerak. Pergerakan roda juga didesain supaya bisa menjadi energi cadangan yang bisa disimpan. Bagian depan pun dilengkapi kincir yang mampu menghasilkan listrik, yang kemudian dikonversikan pula sebagai sumber energi. Semua itu membuat mobil memiliki sumber energi tak terbatas.


Selain itu, terpasang pula sistem kecerdasan buatan yang mampu mengidentifikasi Medan magnet suatu wilayah, lalu memodifikasi kutub untuk memainkan gravitasi. Dengan kata lain, mobil bisa diterbangkan tanpa perlu baling-baling. Kendati demikian, itu tetap ditambahkan untuk alternatif energi pendorong saat dilayangkan.


Secara kasat mata, itu tampak seperti mobil biasa. Namun, body-nya menyimpan fitur-fitur rahasia kaya akan kemutakhiran.


"Tinggal uji coba. Jika ini sukses, kita tinggal membuat versi lebih sederhana untuk dipasarkan, kan?" tanya Renji. Dia berkacak pinggang, memandang mobil yang Beratus kali lebih elegan dan keren dari mobil termahal di dunia.


"Um, fitur khusus dan lengkap hanya untuk organisasi kita. Untuk dipasarkan, kita hanya akan memberikan fitur standard." Eiji mengusap peluh.


Mereka mendirikan bengkel dadakan di halaman depan rumah. Udara membuat mereka kegerahan. Sejak pagi, mereka tersorot matahari yang mulai merangkak dari timur. Tidak ada bangunan tinggi di depan rumah sehingga matahari bisa menyinari tanpa penghalang.


Abrizar duduk di teras. Laptop dibiarkannya menyala di meja tanpa tersentuh, sedangkan Abrizar sendiri menggunakan ponsel untuk mengusut lebih lanjut kasus Akbar.


Dia berpikir akan terlalu lama bila harus menunggu kembali Sanubari. Maka, setelah mendapatkan informasi dari Sai, Abrizar mulai bergerak sendiri. Dia mengumpulkan bukti untuk mengeksekusi Samad dengan cara yang dia bisa.


"Oi, ABRI, mau ikut mencoba mobil baru kita?" teriak Renji dari kursi kemudi.

__ADS_1


"Kalian saja!" balas Abrizar.


Saat Eiji hendak masuk, laptop Abrizar bersuara, "Sanubari ditemukan. Mode kamera diubah. Pencitraan berubah. Target dikunci ulang."


__ADS_2