
"Bagaimana ini?" Penembak jitu berhenti menembak. Apa yang terjadi di bawah di luar rencana mereka.
"Bilang saja kalau penculik organ itu berhasil meloloskan diri melalui jalur yang sulit dijangkau!"
"Benar. Ayo pergi!"
Helikopter putar haluan. Tanpa mereka sadari, satu lagi sesuatu yang tidak terlacak radar mereka terbang mendekat. Sesuatu itu berada pada ketinggian di atas helikopter. Jaraknya lumayan jauh dan berada pada titik buta pilot.
Sai melihat semua. Sesaat setelah mobil meledak, helikopter hancur berkeping-keping. Sementara helikopter lain terbang mendekat. Helikopter tersebut berputar-putar di sekitar area ledakan.
Sai bergeming sambil memegang stang motor. Bangkai ambulans tidak tampak berbentuk lagi, mungkin tercecer di mana-mana. Dengan daya ledak seperti itu, Sai tahu apa yang akan terjadi pada tubuh manusia.
"Sudah tidak ada harapan lagi," pikirnya. Sai berbalik arah.
Eiji yang begadang melotot di depan monitor. Dia terkejut dengan apa yang terjadi. Pasca ledakan, sinyal mendadak hilang. Dia sudah menngotak-atik supaya satelit pengintai kembali berfungsi di sekitar area tersebut. Namun, hasilnya nihil. Hanya jaringan komunikasi dengan Sai yang tetap terhubung meski sempat terputus. Itu pun setelah Sai bergerak menjauhi lokasi ledakan.
"Sai, apa yang terjadi?"
"Ambulansnya meledak." Sai terus menjauhi lokasi. Dia tidak memiliki tujuan lagi untuk menetap di negara ini. Jalanan selengang sebelumnya, tepat sekali bila dijuluki rute terlupakan. Sama sekali tidak ada pengguna yang memanfaatkan jalan, kecuali Sai dan satu mobil yang berpapasan dengannya.
"Bagaimana dengan Sanu?"
"Ledakan itu kurasa telah menghancurkannya."
"Kau melihatnya sendiri? Maksudku, kau sudah mencoba mencari jasadnya?" Eiji menuntut jawaban. Mereka baru saja mulai. Rasanya, terlalu cepat bila Sanubari menghilang dari mereka pada tahap seawal ini. Mereka belum apa-apa. Itu tidak seharusnya boleh terjadi.
"Tidak, tapi ambulans itu sudah tidak berbentuk. Puingnya tersebar ke mana-mana. Mustahil raga Sanu masih utuh bila dia memang dibawa dalam ambulans itu."
Mereka sama-sama hening selama beberapa menit. Sai sama sekali tidak menanyakan sesuatu. Dia fokus menyetir menuju bandara. Tujuannya saat ini adalah pulang ke Indonesia.
__ADS_1
Masalah tidak terduga ini membuatnya melenceng jauh dari misi awal. Sai sampai lupa dengan kasus Kyai Samad. Entah bagaimana perkembangan kasusnya saat ini. Tujuh hari lebih telah berlalu sejak misi itu diberikan. Semua yang Sai peroleh pun sudah dikirimkan pada Abrizar.
"Sai, jika kau berencana pulang, pergilah ke Italia! Kita akan memberitahukan ini secara langsung pada Gafrillo."
Eiji berdiri dari mejanya. Kematian Sanubari bukanlah harapan mereka. Meskipun begitu, mereka harus bertanggung jawab dan mengucapkan bela sungkawa secara langsung. Menurut Eiji, itu lebih baik daripada mengatakannya melalui telepon atau perpesanan. Dua hal tersebut tentu akan memberi kesan yang berbeda.
Dia membangunkan satu per satu rekannya yang tidur beralaskan karpet. Mereka berjajar seperti ikan pindang. Satu demi satu duduk karena mendengar suara Eji dan tubuhnya diguncangkan.
Juma menguap. Dia menggaruk kepala plontosnya yang baru dihinggapi nyamuk. Fukai menengok jam. Waktu masih menunjukkan pukul dua belas malam lebih sedikit.
"Kenapa membangunkan tengah malam begini?" tanya Fukai.
Renji mengerjakan mata sambil memutar pinggang. Tulang-tulangnya berkeretak.
"Kita ke Italia malam ini juga." Tidak ada nada semangat dari kalimat Eiji. Ekspresinya pun muram.
Semua orang menatap Eiji yang mengangguk. Mereka sama-sama mempertanyakan rencana mendadak ini.
"Sanu meninggal," kata Eiji tertunduk lesu. Dia sungguh menyesalkan peristiwa ini.
Renji langsung menyergah, "Hei-hei, tunggu dulu! Dari mana kau dapat kabar palsu itu? Bukannya Sai kemungkinan bersamanya sekarang bila mereka berhasil keluar dari rumah sakit itu?"
"Sai yang mengatakannya."
"Bagaimana bisa?" Bukannya Abri tadi siang meretas kamera pengawas rumah sakit dan perawat yang membawa Sanu bilang kalau dia masih hidup walau jantungnya diambil?" tanya Fanon.
"Fenomena macam apa lagi ini?" batin Fukai terbelalak. Seumur-umur, dia belum pernah melihat manusia yang bisa hidup tanpa jantung. Bayi kembar siam saja akan meninggal salah satu setelah operasi pemisahan bila jantungnya hanya satu. Dia sama sekali tidak diberi tahu tentang perkembangan kondisi Sanubari ini. Kecepatan penyembuhan Sanubari saja sudah sangat luar biasa bagi Fukai. Sekarang, ada lagi kabar Sanubari bisa hidup tanpa jantung.
Akan tetapi, pada akhirnya, Sanubari meninggal juga. Fukai dibuat penasaran dengan semua itu. Dia sangat ingin tahu apa yang bisa menyebabkan kematian pada tubuh di luar nalar tersebut.
__ADS_1
Lain halnya dengan Juma. Pria plontos itu terdiam sejenak untuk mencerna informasi, lalu tersenyum dan berkata dalam hati, "Aku harus mengatakan ini pada Mana!"
Petamana pernah mengatakan bahwa malpraktik yang mereka lakukan turut andil dalam evolusi DNA Sanubari. Bila perkembangannya sebagus ini, mereka harus memperbanyak serum yang waktu itu. Hasil di depan mata menunjukkan terobosan hebat dalam sains, sangat sayang bila eksperimennya dihentikan begitu saja.
"Dia memang sempat selamat, tapi mobil ambulans yang membawanya diserang, lalu meledak di tengah jalan. Aku juga melihatnya," jelas Eiji.
"Tapi, apa yang akan Gafrillo lakukan pada kita kalau tahu Sanu meninggal? Gafrillo seperti sosok ayah yang punya son complex berlebi," kata Renji menunduk.
"Aku yakin GGafrillo akan menghargai kedatangan kita," kata Eiji.
Malam itu, mereka menuju hanggar pesawat pribadi, kecuali Akbar, Juma, dan para perempuan. Mereka mengendarai mobil rakitan yang baru disempurnakan Eiji dan Renji.
Hari berikutnya, Abrizar Ascanius, Eiji Shiragami, Saiyuki Motohira, Renji Mitarai, Fukai Mori, serta Fanon Sangkara duduk dalam sebuah hotel di Bari. Dinding kaca mengelilingi tempat mereka. Kerlap-kerlip di sekitar lautan menjadi panorama penghibur selama menunggu. Sayangnya, tidak ada yang terhibur di antara mereka.
Mereka sempat berdebat tentang siapa yang harus menghubungi Aeneas untuk membuat janji temu. Akhirnya, Abrizar mengajukan diri. Sebenarnya, Abrizar ingin pertemuan dilakukan di rumah. Namun, Aeneas sedang ada urusan di Bari. Mereka diminta datang ke sana bila ingin bertemu.
Keenam pria itu berdiri ketika Aeneas masuk ditemani Kelana. Mereka melakukan penghormatan.
"Duduk!" perintah Aeneas, "kalian kenapa menemui ku dengan penampilan serba hitam seperti ini?"
Aeneas memperhatikan pakaian mereka dari atas ke bawah. Mereka sangat kompak. Di antara wajah-wajah itu, tidak ada Sanubari. Aeneas berpikir mereka mungkin hanya ingin melaporkan perkembangan organisasi yang mereka bentuk.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Aeneas. Mereka seolah diam untuk saling tunggu. Jeda yang sedikit lama membuat Abrizar merasa aneh. Oleh karena itu, dia membuka mulut.
"Maaf, kami gagal menjaga Sanu."
"Apa lagi yang dilakukan anak itu kali ini?" Aeneas tahu tingkah pecicilan Sanubari. Dia tidak akan heran bila anak itu kabur dari teman sendiri karena kesalahpahaman. Aeneas sendiri saja pernah ditinggalkan dan dibenci bertahun-tahun karena itu. Wajah muram mereka, Aeneas artikan demikian.
Abrizar berterus terang. "Sanu meninggal. Maaf, kami tidak bisa membawa jasadnya pulang karena sudah hancur."
__ADS_1