
Ketika peserta lelang lain sudah menyerah dan tinggal dua kursi saja yang bersaing ketat, sangkar Sanubari diangkat naik. Di saat yang bersamaan, kursi nomor delapan puluh delapan yang menjadi peringkat ke tiga dalam peringkat penawaran pun diminta oleh interpreter untuk segera meninggalkan ruangan jika ingin mendapat penawaran bagus.
Mereka berdua disambut oleh salah seorang panitia setelah keluar. Kemudian, mereka dibawa ke salah satu atap bangunan. Di sana disediakan sebuah helikopter. Mereka berdua naik ke helikopter dan meninggalkan tempat pelelangan.
Tim inteligen Aeneas menyaksikannya ketika helikopter tersebut terbang di sekitar tempat pelelangan. Namun, mereka mengabaikannya. Sebab, personil tim inteligen yang mengintai di sekitar tempat Sanubari berada mengatakan bahwa tidak ada pergerakan.
Lima menit kemudian, helikopter mendarat di sebuah hotel kelas atas. Ada seorang pria yang sudah menunggu kehadiran Barnabas dan ke dua pemilik kursi nomor delapan puluh delapan. Lelaki itu membawa mereka ke sebuah kamar luksuri. Tanpa basa-basi, Barnabas langsung menyetujui harga yang mereka tawarkan meskipun mereka tidak memenangkan lelang.
Begitu kesepakatan dicapai, sekretaris Barnabas menghubungi dua anak buah yang siap siaga di tempat lelang.
Sanubari pun dibawa keluar. Intel yang sedang mengintai itu menyampaikan pesan ke seluruh rekannya. Helikopter yang tadi tinggal landas telah kembali parkir ke tempat semula. Sanubari dibawa pergi dengan menggunakan helikopter.
Salah seorang menerbangkan pelacak nano ke baju Sanubari. Meskipun mereka bisa saja mengimbangi kecepatan helikopter dengan sepeda motor yang sudah didesain khusus. Akan tetapi, mereka paham bahwa mustahil mengejar helikopter. Sebab, medan darat berbeda dengan jalur udara.
Sayangnya, di helikopter baju Sanubari diganti. Tim inteligen mengikuti target yang salah. Sedangkan Sanubari dibawa berpindah melalui jalur darat dengan taksi. Kedua orang yang membawa Sanubari adalah Marco dan Maria.
Maria mencoba berkomunikasi dengan Sanubari. Ia bertanya, "Do you understand English?"
(Apa kau mengerti bahasa Inggris?)
Sanubari mengangguk. "Yes."
(Ya.)
"Okay. We'll take you back home to your parents. But don't make a lot of noise during the trip! We don't want to get in trouble because of you."
(Baiklah, kami akan mengantarmu kembali kepada orang tuamu. Tetapi, kamu harus tenang selama perjalanan karena kami tidak ingin terkena masalah.)
"You know my parents?"
(Kalian mengenal orang tuaku?)
"Of course, Gafrillo is one of our close friends."
(Tentu. Gafrillo adalah teman dekat kami.)
"What does Gafrillo have to do with my parents?"
__ADS_1
(Apa hubungannya Gafrillo dengan orang tuaku?)
Mendengar itu, Maria dan Marco saling pandang. Tidak mungkin Barnabas menipu mereka. Keduanya akan sangat rugi jika Sanubari ternyata hanyalah anak biasa. Apalagi mereka sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk mendapatkan Sanubari.
Marco pun bertanya, "Gafrillo is your father. isn't he?"
(Bukankah Gafrillo adalah ayahmu?)
"No. My father's name is Aeneas."
(Bukan. Nama papaku adalah Aeneas.)
Maria dan Marco tertawa. Ternyata mereka hanya berselisih paham gara-gara keluguan sang Bocah. Mereka bersyukur tidak terkena penipuan.
"Oh, Dear. It's true that Gafrillo is ypour father. His name is Aeneas Baldovino Gafrillo. It's been a long time since the last time we meet."
(Ya ampun, Sayang. Gafrillo itu memang ayahmu. Namanya Aeneas Baldovino Gafrillo. Suda lama kami tidak berjumpa.)
"That's true. You don't need to be afraid of us. We Will bring you back home."
Maria dan Marco terus merayu Sanubari supaya mau menurut. Sanubari pun mulai menganggap keduanya sebagai orang baik. Akan tetapi, kenyataannya mereka tidak sebaik kelihatannya.
Marco dan Maria sama saja seperti Barnabas. Mereka memiliki tujuan tersembunyi dengan Sanubari. Keduanya adalah pembuat konten video dewasa.
Keduanya ingin membuat sensasi baru dengan anak berstatus tidak biasa. Kemudian, memeras Aeneas dengan rencana tidak bermoral mereka itu.
Taksi yang mereka tumpangi akhirnya tiba di bandara Internasional. Ketiganya check in lalu memasuki ruang tunggu. Lma belas menit kemudian, mereka memasuki pesawat.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di bandara internasional Santiago. Sesampainya di Chile, Maria dan Marco membawa Sanubari ke tempat parkir.
Mereka mengendarai mobil yang sudah diparkir sejak tujuh hari lalu. Tiga jam awal perjalanan lancar. Namun, kelancaran mulai berkurang ketika mobil mereka memasuki ruta lima.
Kabut pekat menutupi jalanan, membuat jarak pandang semakin terbatas. Marco harus ekstra berhati-hati jika tidak ingin terjun bebas ke jurang.
Tiba-tiba saja, kaca depan mobil pecah, sebuah pisau menancap pada leher Marco. Seketika pria itu meregang nyawa. Setir di luar kendalinya, sedangkan kakinya menambah beban pada pedal gas sehingga mobil melaju dengan kecepatan maksimal.
"GYAAAAAA! What's going on?"
__ADS_1
(GYAAA! Apa yang terjadi?)
Maria histeris panik. Namun, teriakannya itu segera dibungkam dengan pisau sama seperti Marco. Sanubari bisa mendengar bunyi sesuatu pecah tetapi dia tidak tahu apa yang terjadi.
Kurang dari satu menit mobil menabrak pagar pembatas. Mobil terguling-guling ke dasar jurang. Sanubari yang duduk di kursi belakang pun terombang-ambing.
Pada ketinggian seribu kaki, sebuah helikopter meraung-raung di langit yang belum terang. Capung metal raksasa itu mempertahankan posisinya pada kisaran satu titik.
"****! I can't see at all. Lower the height again!"
(Sial! Sama sekali tidak kelihatan. Turunkan lagi ketinggiannya!(
"Sorry boss. I can't lower the helicopter any further. It's too risky."
(Maaf, Bos. Saya tidak bisa menurunkan ketinggian lebih rendah lagi. Terlalu riskan.)
[Emergency alert! Flying knife 001 lost from radar. Flying knife 005 lost from radar. Two flying knifes are out ofrange. Error! Error! Error! Red line is detectted. Activate auto return? Yes/No.]
Salah satu pria mengernyit ketika melihat jendela layar mengambang bermunculan di layar ponselnya. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sistem pelacak pada belati Aifka memiliki cakupan pada radius tidak terbatas, mampu menyesuaikan diri dalam berbagai medan serta tahan banting. Masuk ke dalam air pun tidak akan rusak.
Seharusnya memang begitu. Akan tetapi, layar pemberitahuan berkata lain. Belati cerdas tersebut lenyap. Pelacak pada remot kontrol pusat pun tidak bisa menunjukkan lokasi terakhir belati. Itu artinya dua belati itu telah rusak atau ada yang menghancurkannya.
"This is weird, Boss. Something's not right with this place. Looks like we should get out of here before anything bad happens."
(Ini aneh, Bos. Ada yang tidak beres dengan tempat ini. Sepertinya kita harus pergi sebelum hal buruk terjadi.)
"Are you kidding? Your job is to find out the existence of the boy and control Aifka. Just do your duty! Go or stay here I will be the one who decide it."
(Apa kau bercanda? Tugasmu adalah mencari tahu dimana mereka membawa bocah itu dan mengendalikan Aifka.)
"I di it, Boss. I also managed to kill those two perverted artists. However, Aifka's knife suddenly disappeared from the radar and couldn't be controlled from the control center. Even the hacked nano I sent also disappeared. Take a look at this!"
(Sudah. Aku bahkan berasil membunuh dua artis mesum itu tetapi belati dan nano retas yang kukirim mendadak menghilang dari radar dan tidak bisa dikendalikan dari pusat pengendali.)
"What?"
(Apa?)
__ADS_1