
Sanubari menoleh sambil menahan rasa ngilu akibat ulahnya sendiri. Dia menatap pintu yang masih tertutup rapat. Di balik sana, Abrizar dan Anki memanggil-manggilnya.
"Aku baik-baik saja," sahut Sanubari kemudian. Lekas-lekas dipakainya celana sebelum mereka sungguh-sungguh memaksa masuk.
"Benarkah?" tanya Anki yang masih memegang gagang pintu, tetapi tidak lagi berusaha menariknya.
"Iya."
"Kau yakin? Lalu, suara apa tadi?" timpal Abrizar yang membuat Sanubari secara instan menyentuh kening.
"Aw." Jidatnya berdenyut-denyut nyeri ketika dia memberikan tekanan ringan, sepertinya Sanubari membenturkan keningnya terlalu keras.
Dia berbalik badan, melangkah ke depan kaca di atas wastafel. Dia mengamati wajahnya. Terutama bagian kening.
"Syukurlah tidak berbekas," gumamnya lirih.
Lalu, dia menyentuh lengan kiri. Sanubari mendesis ketika kain menyentuh kulitnya. Goresan misil belum sepenuhnya pulih. Akan tetapi, dia tidak perlu khawatir akan hal itu.
Mereka tidak akan tahu ada luka di sana karena Anki memberinya kaos lengan panjang. Namun kemudian, Sanubari teringat sesuatu. Saat akan mandi tadi, seluruh pakaiannya sudah diganti dengan pakaian bersih lain. Sejenak Sanubari terdiam, memikirkan siapa yang mengganti bajunya ketika dia dalam kondisi tidak sadar.
"Sanu!"
Panggilan Abrizar itu menyadarkan Sanubari dari lamunannya. "Ah, iya!"
"Cepat keluarlah jika sudah selesai! Jangan semedi di kamar mandi! Akan banyak setan menggodamu bila kau merenung terlalu lama di sana," nasihat Abrizar.
Sanubari tidak menanggapinya. Dia tidak percaya perkataan Abrizar yang terdengar seperti lelucon. Remaja itu menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dari mulut. Dia melakukannya secara berulang untuk menenangkan pikiran. Terlebih lagi, di luar sana ada Anki yang sedang menunggunya.
Dia harus bisa mengendalikan pikiran supaya bisa bersikap biasa. Jangan sampai citranya jatuh lebih buruk dari sebelumnya. Sudah cukup banyak keburukan yang dia tunjukkan hari ini.
"Sanu!" panggil Abrizar lagi karena remaja itu tak kunjung keluar.
Sanubari berjalan ke pintu. Dia membuka kuncian, lalu menarik pintu ke dalam. "Aku sudah selesai."
Setelah masing-masing dari mereka berwudhu, Anki mengambil alas untuk digelar di depan televisi. Ketiganya berjamaah di sana. Selepas salat, Abrizar dan Sanubari melanjutkan pembicaraan yang tertunda.
__ADS_1
Akhirnya, Sanubari membuka hatinya pada Abrizar. Dia menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi. Sanubari tertunduk dalam silanya. Anki mungkin mendengar ini dari Eiji, tetapi mengucapkan dari mulutnya sendiri rasanya membuat Sanubari kian kehilangan muka.
Abrizar menyimaknya dengan seksama. Dia harus berhati-hati memikirkan jawaban yang tepat. Sebab, responsnya mungkin akan berpengaruh terhadap bagaimana Sanubari memandang dunia setelah ini.
Usai mencerna semuanya, Abrizar melantunkan jawaban berupa ayat suci, "Wa mā kāna limu'minin ay yaqtula mu'minan illā khaṭa'ā, wa man qatala mu'minan khaṭa'an fa taḥrīru raqabatim mu'minatiw wa diyatum musallamatun ilā ahlihī illā ay yaṣṣaddaqū, fa in kāna min qwa mā kāna limu'minin ay yaqtula mu'minan illā khaṭa'ā, wa man qatala mu'minan khaṭa'an fa taḥrīru raqabatim mu'minatiw wa diyatum musallamatun ilā ahlihī illā ay yaṣṣaddaqū, fa in kāna min qaumin ‘aduwwil lakum wa huwa mu'minun fa taḥrīru raqabatim mu'minah, wa in kāna min qaumim bainakum wa bainahum mīṡāqun fa diyatum musallamatun ilā ahlihī wa taḥrīru raqabatim mu'minah, fa mal lam yajid fa ṣiyāmu syahraini mutatābi‘aini taubatam minallāh, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā."
Ayat kesembilan puluh dua surat An-Nisa itu mengudara sangat indah. Suara Abrizar begitu lembut, menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya. Anki sangat suka mendengar suara Abrizar saat mengaji.
Abrizar menyambungnya dengan arti dari surat tersebut, "Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja) ...."
Kata 'kecuali' memberikan sedikit kelegaan pada Sanubari. Dia tidak tahu apakah yang diserangnya tadi seorang muslim atau bukan, tetapi dia melukai pria itu murni karena ketidak sengajaan. Namun, kelegaan Sanubari tidak berlangsung lama. Sebab, Abrizar masih melanjutkan kalimat berikutnya.
"... dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah."
Anki dan Sanubari menyimak ucapan Abrizar tanpa menyela. Lanjutan makna ayat itu membuat Sanubari berpikir ulang. Dirinya memang tanpa sengaja mengenai bagian vital karena insting untuk melindungi diri.
"Bukankah itu sama saja aku sengaja melakukannya?" batin Sanubari risau karena pengertian niat yang rancu.
"Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman."
"Benar sekali. Baguslah kau paham tanpa kujelaskan lebih lanjut," balas Abrizar tersenyum.
"Lalu, apa itu diat dan hamba sahaya?" Mata Sanubari memancarkan harapan. Dia bersungguh-sungguh ingin melakukan penebusan dosa.
"Diat itu semacam denda. Sementara hamba sahaya itu budak."
"Dimana aku bisa mencari budak untuk dibebaskan?"
"Untuk yang satu ini, bisa kau tuntaskan dengan melenyapkan SM," tutur Abrizar.
Anki mulai tidak mengerti isi pembicaraan ini. Sementara Sanubari paham maksud Abrizar. SM adalah organisasi perbudakan. Yang artinya, dia bisa memerdekakan budak dengan menghancurkan SM.
"Kalau begitu, mari kita ke Korea setelah ini! Aku siap ******* mereka," ucap Sanubari antusias. Dia mendapatkan semangatnya kembali.
Begitu bersemangatnya, Sanubari sampai lupa dengan Anki yang duduk bersimpuh di belakangnya. Begitu tersadar, dia langsung memutar badan, menghadap pada Anki yang masih mengenakan mukenah.
__ADS_1
"Kuharap kau tidak salah paham setelah mendengar semua ini. Aku benar-benar tidak sengaja tadi pagi. Andaikan mereka tidak membawa senjata, mungkin aku tidak ...," jelas Sanubari sekali lagi.
"Aku mengerti," balas Anki singkat.
Sejenak tercipta kesunyian di antara mereka. Sanubari memperhatikan wajah Anki lekat-lekat, tidak ingin melewatkan perubahan air muka gadis itu barang sedetik pun. Anki memang tersenyum. Namun, seperti ada hal lain di balik senyumnya.
Gadis itu menatap, menembus kedalaman mata Sanubari. Dia kembali membuka mulut. "Sanu, bukankah kau ingin mengeluarkan kak Eiji dari Onyoudan? Mengapa kau malah masuk ke sana?"
"Ini caraku untuk mengeluarkannya. Aku janji, aku pasti akan membawa kak Eiji keluar dari Onyoudan," tegas Sanubari dengan mantap.
Anki menurunkan pandangan. "Tapi, dengan masuk ke sana, kau ...."
"Aku akan lebih berhati-hati."
"Hm, begitukah? Kau yakin tidak akan terjerumus dalam jurang yang sama dengan mereka? Lalu, apa maksudnya *******? Korea, SM, apa itu semua?" cecar Anki.
Tanpa sadar, Sanubari terpancing untuk berbicara lebih banyak. "SM itu mafia perbudakan. Karena itulah aku ingin menghentikan mereka. Aku ingin menciptakan perdamaian bagi semua orang."
Abrizar menginterupsi pembicaraan keduanya. "Sayangnya, aku tidak yakin akan ada yang seiman dengan kita di antara korban mereka."
Sanubari berbalik badan kembali. "Kita bisa menanyainya satu-satu. Itu tidak masalah. Jadi, bagaimana dengan dendanya? Berapa yang harus kubayar?"
"Seratus unta dengan rincian yang berbeda. Jika diuangkan mungkin sekitar tiga sampai empat miliar rupiah. Memangnya kau tahu keluarga orang itu?"
"Itu ...." Sanubari mendadak tertunduk lesu. Jangankan tahu keluarganya, kenal korbannya saja tidak. Ditambah lagi, dia tidak memegang uang sebanyak itu sekarang.
"Apa yang harus kulakukan?" sambung Sanubari putus asa.
"Kau belum mendengar akhir dari ayat yang kubacakan," Abrizar melanjutkan, "barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Sepertinya, Sanubari telah mendapatkan solusi atas permasalahannya. Namun, rasa was-was itu belum sepenuhnya hilang.
Dia pun kembali bertanya, "Apakah cukup hanya dengan begitu?"
"Asalkan kau berjanji tidak akan mengulanginya, insyaallah pasti dimaafkan. Seperti yang dijelaskan dalam surah An-Nisa ayat tujuh belas yang artinya, sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
__ADS_1