
"Mataku!" Sanubari berteriak syok. Bola mata itu sungguh melompat dan menggelinding, lalu menatap ke arahnya. Tatapan itu memicu debaran jantungnya mengencang, yang kemudian membuat jantung itu berhenti sejenak, menurunkan aliran darah secara drastis, lalu menyebabkan Sanubari pingsan seketika.
Mikki dan Lance masih terpaku. Mereka memperhatikan bola mata yang bergoyang lemah di atas geladak. Nalar mereka tidak sampai untuk membayangkan bagaimana kornea itu bisa terlontar seperti bola tenis yang dilemparkan dengan mesin penembak bola.
Mikki sedikit menyingkir, lalu berkata, "Lance, cepat urus dia!"
Lance pun bergerak. Dia membersihkan darah dari wajah Sanubari.
"Kalian juga," Mikki menunjuk anggotanya yang ada di sekitar sana, "jangan hanya berdiam diri! Bersihkan semua ini!"
"Baik!"
Mereka berlari mengambil perlengkapan kebersihan. Saat mereka kembali, Lance sedang memasang perban untuk melapisi kapas dan kasa yang menutup mata kiri Sanubari. Lapisannya sudah tebal, tetapi darah masih juga merembes ke lapisan terluar. Lance mendengkus. Dia menyerah mencoba menghentikan pendarahan dengan bebatan.
"Bodo amat! Mati pun tidak ada ruginya." Lance memotong plester untuk merekatkan perban.
Saat melihat perban Sanubari sekali lagi, seketika ide muncul. Mata itu bisa keluar dari rongga dan meninggalkan luka. Jadi, Lance berpikir kulit Sanubari mungkin tidak sekebal sebelumnya.
Lance pun mencoba menyuntikan cairan untuk menghentikan pendarahan. Namun, jarum suntiknya malah patah ketika lance sedikit memaksakan tenaga untuk menembus lapisan kulit terluar Sanubari.
Bahunya bergerak ke atas. Dia menghela dan membuang napas panjang, masih belum paham dengan kerapuhan sekaligus kekokohan tubuh Sanubari.
"Mata itu jangan dibuang! Aku ingin menelitinya," kata Lance ketika melihat seseorang memungutnya.
Dia mengambil bola mata dari tangan si pria, lalu pergi setelah berpesan untuk memindahkan Sanubari. Mereka mengepel geladak sampai wangi. Begitu selesai, mereka memapah Sanubari ke kabin tawanan. Sanubari kembali bersama dengan anak buah kapal asli kapal kargo BGA.
Mereka semua pingsan dalam keadaan kaki dan tangan terikat. Tidak ada pergerakan sedikit pun. Bius telah menaklukkan mereka. Sampai lima jam kemudian mereka tidak bangun.
Ketika sadar, Sai mencium bau anyir. Lagi-lagi, dia menemukan Sanubari dalam keadaan berdarah. Bahu Sanubari tampak bergetar.
__ADS_1
"Sanu, kau bangun?" tanya Sai pelan. Dia menggerakkan tubuh untuk mendekati Sanubari.
Yang lain juga sudah bangun. Mereka makan makanan yang sudah disediakan.
"Jangan melihat!" bentak Sanubari. Dia tengah menahan Isak. Mentalnya terguncang akibat peristiwa sebelumnya.
Sai terdiam sesaat sebelum berucap, "Bangunlah! Kau harus minum obat. Ambil obatmu di saku dalam kemejaku!"
"Untuk apa minum obat? Obat tidak bisa mengembalikan mataku," ujar Sanubari. Dipeganginya gundukan di mata kiri. Kepercayaan dirinya runtuh sejadi-jadinya. Kondisi fisik tak sempurna sama sekali tidak bisa diterima Sanubari.
"Memangnya kenapa dengan matamu?" Sai memiringkan kepala. Dia tidak melihat kejadian itu. Jadi, dia tidak tahu apa yang menjadi kekhawatiran Sanubari.
"Kak Sai, aku jelek. Mataku hilang sebelah. Mataku meloncat ...." Sanubari tergugu. Mata telah keluar dari rongganya, tetapi tempat itu masih berdenyut-denyut seolah ada yang bergerak di sana.
Perkataan Sanubari terdengar aneh dan itu membuat Sai berspekulasi buruk. Jika tidak dibutakan, kemungkinan mata Sanubari dicongkel. Hanya itu yang terlintas dalam pikiran Sai.
"Tapi, Kak Abri matanya lengkap," balas Sanubari masih enggan bangkit. Dia masih berbaring memunggungi Sai.
"Memang. Tapi, kau masih bisa melihat, kan? Coba pikir enak mana antara bisa melihat atau tidak sama sekali!" Dari posisi duduk, Sai bisa melihat mata Sanubari yang mengedip. Mata tak berperban itu tampak baik-baik saja. Air tampak bercucuran dari sana.
"Ini demi kesehatanmu. Kau harus minum obat supaya pendarahanmu lekas berhenti," Sai menjeda kalimatnya sejenak, "atau lupakan saja impianmu! Jalan yang kautuju tidak cocok untuk orang cengeng sepertimu."
Sanubari tersentak. Disuruh berhenti dan dikatai seperti itu membuat hati Sanubari mendongkol. Dia secara spontan menyergah, "Siapa yang cengeng, hah? Kak Sai tidak pernah mengalami bagaimana kehilangan mata makanya bisa bilang seperti itu, kan?"
Suaranya setengah parau. Intonasinya cenderung meninggi karena dipenuhi kemarahan. Itu membuat rongga mata kiri Sanubari bertambah nyeri. Dia mendesis kesakitan.
"Kau memang cengeng, lemah, penakut, sama sekali tidak cocok terjun di dunia yang keras."
Sai malah tambah mengompori Sanubari. Wajahnya menunjukkan keapatisan seolah tidak peduli Sanubari akan sakit hati dengan kata-katanya.
__ADS_1
Sanubari tidak menyangka bahwa Sai yang lebih sering diam bisa mengatakan hal sepedas itu. Geraham Sanubari merapat, menahan emosi yang bergejolak.
"Tidak cocok katanya?" batin Sanubari tersinggung. Dia merasa terhina.
Orang-orang yang satu ruangan dengan mereka tampak kebingungan. Sanubari memperlihatkan sisi kekanakan di mata mereka, tidak seperti Gafrillo yang sudah banyak makan asam garam. Kesangsian mereka terhadap dugaan sebelumnya pun mulai lahir kembali. Mereka sekali lagi mempertanyakan siapa sebenarnya Sanubari dalam pikiran masing-masing.
Sementara itu, Sanubari berteriak lagi, "Aku memang belum berpengalaman seperti Kak Sai dan yang lain, lalu apa salahnya? Mentang-mentang sudah berpengalaman, Kak Sai seenaknya menghakimiku seperti itu!"
Sai menggeleng. "Bukan itu poin permasalahannya. Tapi, kau ini sungguh labil."
Sanubari ingin menulikan pendengaran dari Sai. Andai ada ponsel di dekatnya, musik keras pasti sudah Sanubari nyalakan. Pemuda itu ingin menenggelamkan ceramah Sai dengan kebisingan.
"Sebentar-sebentar, kau bisa sangat antusias terhadap sesuatu. Namun kemudian, kau bisa terpuruk seperti anak kecil baru jatuh dari sepeda."
"Berisik!"
Sanubari membentak. Akan tetapi, Sai tidak berhenti bicara.
"Mood naik-turun itu wajar. Tapi, jika ingin impianmu terwujud, kau harus menjadi seseorang yang berkarakter! Orang labil sepertimu tidak akan pernah bisa mencapai gol. Terlebih lagi bila harus berhadapan dengan penjahat seperti mereka sepanjang perjalanan, kau akan binasa sebelum mencapai tujuan dengan sikapmu itu."
Nasihat Sai menciptakan badai dalam pikiran Sanubari. Hatinya merutuki kesoktahuan Sai. Egonya terus-terusan menyangkal ucapan Sai. Kendati demikian, sisi kecil dalam diri Sanubari mempertanyakan kebenaran kalimat yang dianggapnya olokan itu.
"Ketika mengambil sebuah langkah, kau harus siap dengan konsekuensi yang menyertai! Entah itu kehilangan anggota badan, keluarga ...."
"Untuk apa aku melakukan ini bila harus kehilangan keluarga?" Suara Sanubari rendah, seakan enggan mengatakan itu.
"Untuk itu, latihlah pikiran dan kekuatan supaya risiko bisa diminimalisir! Kau harus bisa menjadi manajer andal bagi perasaan, pikiran, dan kekuatanmu sendiri, bersikap tenang dengan pikiran jernih supaya tidak kehilangan lebih besar! Kalau kau belum bisa seperti itu, sebaiknya berjualan singkong saja dan tidak usah melanjutkan impian muluk-mulukmu itu!"
Hanya itu yang bisa Sai sampaikan. Entah Sanubari bisa menerima atau tidak, Sai pasrah. Dia memang tidak pandai merangkai kata untuk mengajari seseorang. Andai Eiji atau Abrizar ada di sini, mereka mungkin bisa berbicara lebih baik darinya.
__ADS_1