Santri Famiglia

Santri Famiglia
Bulan Sabit Bersilang


__ADS_3

Di kantor Onyoudan.


Eiji berkutat pada laptopnya. Dia mengumpulkan data tentang Sanubari. Sekali lagi, dia membaca data kependudukan yang diperoleh sebelumnya.


Data tersebut berbunyi :


Nama : Sanum


Tempat, tanggal lahir : Blitar, 25 Desember xxx


Status : Istri


Kewarganegaraan : Indonesia


+


Nama : Bari


Tempat, tanggal lahir : Blitar, 14 Februari xxx


Status : Suami


Kewarganegaraan : Indonesia


+


Nama : Sanubari


Tempat, tanggal lahir : Blitar, 11 November xxx


Status : Anak

__ADS_1


+


dari data tertulis tersebut, tidak ada benang merah yang menghubungkan Sanubari dan Gafrillo. Eiji bahkan melakukan pemeriksaan silang dengan data Gafrillo. Pria bernama lengkap Aeneas Baldovino Gafrillo itu lahir di Italia, berkewarganegaraan Italia, dan berstatus belum menikah.


Namun, Eiji menyadari sesuatu yang menarik ketika menjajarkan foto Bari, Gafrillo, dan Sanubari. Dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari visualisasi dua pria pirang, dan seorang remaja berambut hitam legam. Ketiganya memiliki mata yang sama. Bahkan, wajah pun menyerupai satu sama lain.


"Apa hubungan Bari dan bos besar Gafrillo?" Eiji bertanya-tanya.


Dibilang kembar pun rasanya tidak mungkin. Kedua pria itu memiliki tanggal lahir berbeda.


"Mungkinkah hanya kebetulan wajah mereka sama?" gumam Eiji berpikir keras.


Dia kembali berselancar lebih dalam. Entah mengapa, identitas Sanubari begitu mengusiknya. Sayangnya, penyelidikannya selalu menemui titik buntu. Dia tidak bisa memperoleh data lebih banyak tentang Bari. Sama sekali tidak ada data tentang silsilah keluarga Bari.


Eiji juga sudah menelusuri riwayat perubahan nama dan kewarganegaraan. Hasilnya, nihil. Eiji memundurkan kursi kerjanya, menengadah, serta melakukan peregangan sesaat.


"Ah, untuk apa aku melakukan ini? Bukankah asal-usul tidak penting asalkan ada potensi?" Eiji termenung, heran sendiri dengan tindakannya, "walaupun ada untungnya juga andaikan Sanu benar-benar berhubungan dengan bos besar Gafrillo. Tetapi, tidak mungkin anak itu ada ikatan keluarga dengannya, bukan?"


*****


"Kak ABRI tambah pendek, ya? "Bukan aku yang bertambah pendek, tapi kau yang bertambah tinggi."


"Oh." Sanubari memegang puncak kepalanya sendiri.


Remaja itu menengadah, menatap langit tak berbintang. Bulan pun tidak menampakkan diri. Angin berembus sedikit dingin, membuat Sanubari bersin.


"Ah, sepertinya aku kebanyakan berendam hari ini." Sanubari menggosok-gosok lubang hidungnya dengan telunjuk tangan kanan.


"Sebaiknya kita mempercepat langkah. Ramalan cuaca tadi sepertinya benar."


Sebelum pulang dari rumah Anki, Abrizar mendapatkan peringatan badai dari ponselnya. Anki menawarkan pada mereka untuk menginap. Namun, Abrizar menolak. Sanubari terpaksa pulang mengikuti keputusan Abrizar.

__ADS_1


"Masakan Anki enak sekali. Seharusnya tadi kita menginap saja. Siapa tahu bisa sarapan dengan buatan Anki. Sesekali menginap tidak masalah, bukan? Mengapa malah memilih pulang sih?" cerocos Sanubari sambil terus berjalan beriringan bersama Abrizar.


"Dia perempuan sendirian di rumah. Sementara kita pria. Lebih baik pulang daripada terjadi apa-apa."


"Bukankah dengan ada di sana, kita malah bisa menjaganya?" balas Sanubari.


"Kau yakin tidak akan berbuat lebih dari itu?"


"Hm," Sanubari bersedekap, "mungkin kita bisa bantu-bantu beres-beres rumah pagi harinya, atau membantunya memasak."


Abrizar terdiam. Sepertinya, dia berpikir terlalu berlebihan. Faktanya, remaja yang bersamanya terdengar lugu, kendati selalu bertindak secara spontanitas dan agak ceroboh.


Tiba-tiba, Sanubari memalangkan tangan kiri pada Abrizar, membuat langkah pria itu terhenti. Abrizar mengernyit. Dia sedikit kesal. Aroma angin pertanda hujan makin kuat. Akan tetapi, Sanubari malah memperlambat langkah mereka.


"Kita sedang buru-buru. Mengapa malah berhenti?" tanya Abrizar yang tetap berusaha berjalan. Namun, Sanubari mencekalnya.


Sanubari memanyunkan bibir untuk mengeluarkan suara, "Sssst!"


Dia mendekatkan kepala ke telinga Abrizar, lalu lanjut berbisik, "Ada sesuatu di depan."


Sementara pandangannya tetap memandang lurus. Dia melihat lambang yang tak asing baginya. Bulan sabit merah bersilang emas berlari sepuluh meter dari mereka. Itu adalah logo seperti pada topeng perompak udara beberapa hari lalu.


Sanubari yakin tidak salah ingat. Entah dari mana, lelaki bertopeng dan berjaket hitam mendadak muncul, berlari memunggungi. Sanubari bisa melihat dengan jelas logo yang tergambar di punggung jaket. Manik mata Sanubari terus mengamati pergerakan pria yang kian menjauh.


"Memangnya ada apa?" tanya Abrizar yang tidak direspons Sanubari.


Sebab, Sanubari terburu berlari. Rasa penasaran membuatnya secara spontan mengejar pria yang berbelok jauh di depan.


"Sanu!" sergah Abrizar yang kemudian berdecak, "dasar bocah itu!"


Abrizar melipat tongkatnya. Dia ikut berlari. Telinga difokuskanya untuk mengikuti bunyi sepatu Sanubari.

__ADS_1


Ketika Sanubari berbelok, pria dengan logo bulan sabit merah bersilang emas tengah berjongkok di trotoar. Sejurus kemudian, pria itu menghilang ke bawah tanah.


"Apa?" Sanubari membelalakkan mata.


__ADS_2