Santri Famiglia

Santri Famiglia
Penggeledahan


__ADS_3

Italia, 1 Mei, 00.02.


Dua mobil hitam terparkir tidak jauh dari rumah kosong. Seorang pria yang baru saja mengakhiri zikir malamnya, samar-samar bisa mendengar deru mesin sebelum sepenuhnya berhenti. Dia diam sejenak, merasa ada yang aneh.


Tidak biasanya ada kendaraan lewat tengah malam di sekitar perumahannya. Merasa curiga, pria berpeci putih itu pun bangkit dari sajadah. Dia melangkah ke ruang depan, menyibak sedikit gorden untuk mengintip.


"Siapa mereka?" Dahinya mengernyit ketika mendapati empat pria berjas hitam dan seorang pria memakai kemeja berdiri di depan gerbang rumah Abrizar.


Rumahnya berhadapan dengan rumah Abrizar. Dia bisa melihat dengan jelas pemandangan itu dalam keremangan. Kelima orang itu memasuki gerbang. Tak ada satu pun dari mereka yang membawa tongkat.


"Tidak mungkin Abrizar pulang." Pria itu kian bertambah curiga.


Pasalnya, Abrizar tidak pernah meninggalkan tongkatnya ke mana pun dia pergi. Lelaki tua itu pun meninggalkan jendela, masuk kamar, mengambil ponsel, lalu menelepon Abrizar.


"Assalamualaikum, Abi Jun!"


Saat mengangkat telepon, Abrizar baru saja memutus sambungan sementara dengan Sanubari. Waktu menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit pagi, tanggal dua Mei,Sanubari akan segera tiba di Tokyo. Dia sudah memberi tahu Sanubari apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Jadi, dia bisa berganti saluran dengan tenang. Abrizar mengurangi volume laptopnya supaya tidak mengganggu.


"Waalaikum salam. Kau di mana?" jawab Al Junaidi.


"Masih di Jepang. Memangnya ada apa?"


Balasan itu membuktikan dugaan Aljunaidi. Orang-orang itu memang bukan rombongan Abrizar. Dia pun kembali melangkah ke dekat jendela dan mengintai.


Satu orang berjas hitam berjaga di depan pintu. Sementara yang lainnya sudah tidak ada. Sepertinya, mereka masuk ke dalam.


Percakapan hening cukup lama. Abrizar pun memanggil, "Abi Jun?"


"ABRI, sepertinya ada pencuri masuk rumahmu," ucap Aljunaidi ragu-ragu.


Orang-orang itu terlalu rapi untuk dipanggil pencuri. Penampilan mereka bahkan lebih seperti pegawai kantoran daripada oknum penyatron rumah orang.


Namun, orang-orang itu memiliki kemampuan membuka gerbang dan pintu yang jelas-jelas terkunci. Aljunaidi tidak memiliki tebakan selain pencuri. Ini kasus langka.

__ADS_1


"Apa?"


"Akan kuteleponkan polisi setelah ini. Aku menghubungimu hanya untuk memastikan."


"Terima kasih, Abi."


Obrolan mereka berakhir. Aljunaidi benar-benar menghubungi aparat yang berwenang. Dirinya sendiri tidak berani keluar rumah.


Sementara itu, dalam rumah Abrizar, tiga orang menggeledah dengan sangat teliti. Mereka berusaha sebaik mungkin untuk tidak membuat rumah berantakan. Semua yang mereka pegang dan pindahkan, selalu dikembalikan ke tempat semula. Entah apa yang mereka cari.


Pria berkemeja ikut berkeliling. Dia memasuki sebuah kamar. Sepasang benda di atas meja sebelah ranjang membuat pria berkemeja itu teringat sesuatu.


"Ternyata, dia memang pernah tinggal di sini."


Dia berjalan mendekati dua Kelinci beda ukuran yang duduk manis. Diambilnya boneka kelinci yang hanya sekepalan orang dewasa, lalu dipandangnya jam pada kelinci yang berdetak. Sentuhan itu membawanya pada kilas balik ketika pemilik dua kelinci itu baru tinggal bersamanya.


"Papa, belikan aku ini!" Seorang gadis tiba-tiba berteriak menghampirinya ketika dia sedang membaca buku psikologi.


Gadis itu menunjukkan video iklan di sebuah media sosial, meletakkannya tepat di atas buku sehingga menghalangi pandangan. Boneka kelinci dengan tinggi dua kali lipat manusia rata-rata ditampilkan. Harganya sepuluh ribu Euro. Sungguh harga yang tidak masuk akal.


Permintaan tiba-tiba Embara itu membuatnya mengernyit. Embara yang selalu menginginkan apa yang dimiliki Kumbara, mendadak berubah selera. Itu membuat sang ayah tidak bisa mengalihkan pandangan.


"Bukan untukku, tapi aku ingin menghadiahkannya kepada Sanu."


Kelana terbatuk mendengarnya. "Em, itu terlalu imut untuk seorang pria. Bagaimana bisa kau memberikannya pada Sanu?"


"Sanu suka boneka kelinci. Buktinya, dia menyimpan boneka pemberian perempuan itu di kamarnya," ucap Embara cemberut.


Dari ekspresinya, Kelana tahu sang putri sedang cemburu. Gadis itu ingin menandingi saingannya. Kelana tersenyum.


"Kurasa, Sanu menyimpannya untuk menghargai pemberinya. Aku yakin, Sanu tidak benar-benar menyukai benda feminin seperti itu. Kelana menutup bukunya. Dia mengambil ponsel Embara.


"Papa sok tahu." Embara bersedekap. "Bilang saja bila tidak mau membelikan!"


"Bila ingin memberi kelinci, setidaknya berikanlah yang berkesan maskulin!" Kelana mengetik di ponsel Embara, lalu menunjukkan hasil telusuran pada Embara. "Misalnya, seperti ini!"

__ADS_1


Terpampang sepasang kelinci pada ponsel. Satu ber-tuxedo serba hitam, dan satunya lagi bergaun Hitam elegan. Masing-masing dari mereka memegang jam antik yang berada di antara tangan dan kaki.


"Supaya lebih bermakna, kau harus membeli dengan usahamu sendiri," lanjutnya.


Siapa sangka, kelinci ber-tuxedo akan benar-benar bersandingan dengan kelinci pirus dengan ujung telinga berwarna hitam. Kelinci tersebut berkalung pita dengan liontin. Tangannya memegang kotak balok kayu.


Dia sudah tahu asal boneka tersebut dari keterangan Embara. Namun, ketika berada di kamar Sanubari, Kelana tetap bertanya, "Kau suka kelinci, Sanu?"


Sanubari yang sedang mengerjakan soal latihan pun mengangkat kepala, melihat Kelana yang memegang kelinci toskanya. "Tidak, itu pemberian Zunta—cucu kakek Canda yang menyelamatkanku. Jadi, aku menyimpannya."


Seperti dugaan Kelana, Sanubari memang bukan anak yang suka menyia-nyiakan pemberian. Kelana meletakkan kembali boneka berbulu halus tersebut.


"Dalam kotak itu ada kenangan pertemuan kami. Katanya, benda itu yang menyebabkan mobil yang membawaku terperosok ke jurang. Mengerikan, tetapi aku tidak akan pernah bisa bertemu kakek Canda dan Zunta jika bukan karena itu." Sanubari tertawa.


Namun, tangannya gemetaran. Kelana bisa melihat itu. Dia tidak tahu seberapa buruk kecelakaan kala itu. Akan tetapi, dari reaksi Sanubari ketika bercerita, dia tahu insiden itu meninggalkan trauma mendalam.


Kalimat itu berputar-putar di kepala Kelana. Tidak pernah terpikir sebelumnya untuk mengambil kotak itu. Lelaki itu kembali ke masa kini.


Dia meletakkan kelinci kecil di tangannya kembali ke atas meja. Kemudian, mengambil kotak dari tangan kelinci yang lebih besar. Dibukanya kotak tersebut. Matanya langsung terbelalak ketika melihat isi kotak.


"Pisau aifka ...."


Dia mengamati benda itu sesaat. Benda hitam legam yang tergeletak di atas kertas itu benar-benar amunisi aifka. Kelana sangat yakin. Dia pun bergegas keluar, mencari salah satu bawahannya.


Dengan petunjuk baru ini, mungkin penyelidikan tentang mengincar Sanubari bisa sedikit Tercerahkan. Sejauh ini, masih banyak misteri yang belum terkuak. Tentang siapa saja yang berusaha meracuni Sanum selain Matilda, tentang siapa sajakah penculik Sanubari yang belum tertangkap.


Penyelidikan tentang semua itu masih berlanjut sampai sekarang. Frosty Sky pun menjadi daftar tambahan dalam kasus yang melibatkan Sanubari. Peretas itu telah berani memanfaatkan nama Sanubari pada aksi terbarunya.


"Kau, periksa ini milik siapa!" katanya begitu dia berpapasan dengan salah satu dari mereka.


"Siap!"


Orang itu menerima pisau dari Kelana. Dia memindainya. Tak lama, hasil pencocokan data pun keluar.


"Seri ini milik Kim Jong Hyun ...," lapor pria itu

__ADS_1


__ADS_2