Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pekerjaan Selesai


__ADS_3

Sekitar pukul sepuluh pagi, Renji berbaring di sofa. Walau dia bukan otak dari pekerjaan ini, tetapi begadang membuat kepalanya cukup pening. Tenaganya telah habis diforsir untuk mempertahankan fokus tinggi sejak kemarin.


"Jika boleh memilih, sebenarnya aku lebih suka kerja fisik. Tidak terlalu memakan tenaga dibandingkan kerja dengan otak dalam waktu bersamaan," gerutunya memejamkan mata.


Dia berharap Eiji tidak akan mengganggunya untuk sementara waktu. Kendati sudah tahunan bekerja bersama Eiji, Renji tetap tidak bisa mengimbangi tuntutan kerja si ketua perfeksionis yang menurutnya super berat.


Di luar kamar, Sai berdiri bersama Eiji. Mereka menguji perangkat keamanan yang sudah terpasang sempurna. Mulai dari deteksi sidik jari, wajah, suara, kata sandi, dan fitur lainnya. Semua bekerja dengan baik.


"Sanu, coba keluarkan alatmu!" perintah Eiji.


"Oke." Sanubari mengangguk. Dia mengeluarkan baksil dari saku celana.


Pagi ini pukul setengah sepuluh, Eiji menelepon, menyuruhnya untuk datang membawa alat. Sanubari SEmpat kebingungan. Dia baru paham yang dimaksud Eiji setelah Eiji menyebut alat pemotong atap (alat yang digunakan Sanubari ketika menyelamatkan Kouhei). Oleh karena itu, Sanubari ada di sini.


"Apa yang harus kulakukan dengan ini?" tanya Sanubari sambil mengangkat baksilnya.


"Potong pintunya!" perintah Eiji tanpa ragu.


"Apa? Bukankah kalian baru saja mengganti pintu ini dengan yang baru? Sayang kalau dirusak, kan?" Sanubari menoleh pada Sai dan Eiji SEcara bergantian.


"Lakukan saja supaya ini cepat selesai!" perintah Eiji lagi.


Lelaki itu juga sudah lelah. Matanya juga sedikit merah karena menahan kantuk. Biasanya, Eiji tidak akan memaksakan diri untuk terus bekerja melewati batas tubuh ya. Dia paham bahwa bekerja dalam kondisi lelah hasilnya tidak akan maksimal.


Meskipun begitu, hari ini, dia berhasil menyelesaikan tugasnya tanpa cacat. Dia mengeluarkan kemampuan terbaiknya supaya bisa bekerja efektif dalam tekanan letih.


Tiba-tiba saja, tulisan merah muncul pada daun pintu ketika Sanubari mencoba mendekatkan baksilnya. Tulisan tersebut berisi peringatan yang berbunyi—


-


Logam berbahaya terdeteksi!


Jauhkan senjata Anda jika tidak ingin terluka!


+


"Apa yang terjadi?" Sanubari bingung. Dia bahkan belum menyentuh pintunya. Ada suatu daya tolak yang sepertinya memperlambat gerakannya. Sanubari tidak mengerti, dia sama sekali tidak bisa memajukan baksilnya jika tidak menambah tenaga besar. Setiap kali dia mencoba memajukan senjata, tangannya seolah didorong mundur oleh sesuatu yang tak terlihat. Itu membuat permukaan baksil Sanubari tidak bisa mencapai permukaan.


Eiji tersenyum puas. Kemudian, dia kembali berkata, "Sekarang, coba kau tinju sekuat tenaga!"


Sanubari melakukannya. Tulisan merah pada pintu berubah—


+

__ADS_1


Peringatan kedua!


Usaha perusakan properti terdeteksi.


Hentikan usaha Anda!


+


"Pukul lagi!" Eiji mengangguk senang. Jika terus seperti ini, dapat dipastikan dirinya tidak perlu kerja dua kali. Itu artinya, dia bisa segera pulang ke Nagoya dan bertemu adiknya.


Sanubari melaksanakan perintah Eiji lagi. Setelah satu pukulan, Eiji buru-buru berseru, "Cukup! Sanu, mundur!"


Bersamaan dengan itu, tulisan di pintu berubah kembali disertai suara sintesis wanita yang berkata, "Penyusup terdeteksi. Sistem pertahanan dalam mode siaga."


Langit-langit terbuka. Beberapa senpi terarah pada Sanubari dan yang lain yang sedang berdiri di depan pintu. Sanubari menoleh pada Sai. Lelaki itu mendongak. Sanubari pun ikut mendongak. Matanya terbelalak ketika mendapat lebih dari lima Laras mengarah padanya.


"Apa kita akan mati?" Sanubari tergagap.


Suara sintesis wanita masih berlanjut, "Siapa pun Anda, hentikan usaha perusakan dan segera tinggalkan tempat ini! Sekali lagi Anda mencoba merusak properti, maka mode eksekusi akan diaktifkan secara otomatis."


"Kau dengar itu, Sanu?" jawab Eiji pada Sanubari. Dia menunggu suara sintesis itu berhenti sebelum melanjutkan, "Senjata-senjata itu tidak akan menembak selama kita tidak menyentuh pintunya lagi. Senjata-senjata itu akan kembali tersembunyi selama tidak ada gerakan mencurigakan selama lima menit. Sistem peringatan pun akan direset secara otomatis."


"Hebat! Pantas saja dijuluki Eiji si Teknisi Jenius. Kemampuan Anda memang luar biasa," puji Satsuki sambil bertepuk tangan, berjalan mendekat.


Dia pun menyapa, "Nona Satsuki."


"Kenapa tidak membuat alat keamanan yang akan langsung menyerang saja sekali diusik?" Wanita itu melihat jajaran senpi yang menggantung di langit-langit.


Eiji tertawa. "Kasihan mereka yang harus meninggal bila mencoba membuka paksa pintu ini untuk pertama kali jika begitu. Aku hanya memberi kesempatan pada mereka untuk berpikir ulang."


"Hati Anda baik sekali, Tuan Eiji."


"Ngomong-ngomong Nona Satsuki, apakah Anda memiliki animatronik AI di sini?"


"Saya kurang tahu, memangnya untuk apa?"


"Menguji fungsi berikutnya," Eiji menunjuk ke atas, "manusia akan langsung meninggal bila mencobanya. Tidak apa-apa jika tidak ada. Tapi, kusarankan untuk membawa AI ke sini jika Nona ingin melihat kinerja sistem keamanan ini sampai akhir."


"Kurasa tidak perlu melakukan uji coba sejauh itu. Saya percaya dengan hasil karya Tuan Eiji. Tapi, bagaimana dengan sistem dalamnya? Apakah mungkin dimatikan dengan peretasan?" tanya Satsuki.


"Sebelum itu, mari kuajari cara mengganti sandi. Jika tidak, kita semua yang akan tinggal nama di sini," kekeh Eiji.


"Jangan sampai itu terjadi," balas Satsuki.

__ADS_1


"Sai!"


Panggilan Eiji itu langsung direspons Sai. Sai mendekati pemindai sidik jari. Ketika Sai menempelkan jarinya ke sana, pemindai lain mulai aktif satu persatu. Sistem keamanan pun kembali seperti semula.


Tidak ada lagi tulisan peringatan merah di pintu. Langit-langit pun rata kembali.


"Perhatikan baik-baik yang dilakukan Sai! Sandi hanya bisa dialihkan kepada orang lain ketika pemegang sandi pertama mengkonfirmasi pemilik sandi baru," jelas Eiji.


Sai mengucapkan sandi untuk peresetan kode baru. Sistem pun memandu untuk mengganti sidik jari, suara, serta kelengkapan baru lainnya. Satsuki yang menggantikannya.


Begitu proses selesai, suara sintesis terdengar. "Tuan Motohira Saiyuki, apakah Anda yakin ingin menyerahkan hak akses Anda kepada nona Satsuki Moriyama?"


"Ya."


"Nona Satsuki, silakan ucapkan sesuatu dan letakkan jari Anda untuk melakukan konfirmasi akhir!"


"Baik." Satsuki menempelkan telunjuknya.


"Suara yang diterima benar. Sidik jari sesuai. Memindai wajah .... Konfirmasi selesai. Menghapus hak akses lama. Sandi baru berlaku mulai sekarang. Pemilik akses saat ini : Nona Satsuki Moriyama."


Selesai mengajari Satsuki cara mengubah bahasa dan sandi, mereka masuk. Eiji menyuruh Sanubari menembakkan senjatanya ke atas. Tak sampai menyentuh permukaan, silet terbang itu jatuh ke lantai. Peringatan seperti sebelumnya terdengar. Itu terjadi pula ketika Sanubari mencoba memukul tembok dan dinding kaca.


Percobaan terakhir adalah mematikan sistem secara ilegal. Semua senjata tersembunyi langsung muncul ketika Eiji mencoba mengotak-atik sistem aktif tanpa persetujuan pemilik akses.


"Sanga memuaskan," ujar Satsuki.


"Apa ada yang perlu kuperbaiki lagi?" tanya Eiji.


"Saya rasa tidak."


"Jika sudah tidak ada urusan lagi, kami akan kembali ke Nagoya setelah ini."


"Mengapa terburu-buru? Beristirahatlah terlebih dahulu di kamar yang telah saya siapkan. Mari kita makan siang bersama sebelum kalian kembali ke kantor pusat," ajak Satsuki.


Eiji ingin menolak, tetapi Sanubari mengusulkan untuk menerimanya. Eiji pun setuju. Dia membangunkan Renji yang tiduran di sofa. Satsuki mengantar mereka ke kamar yang disediakan.


Selepas mengantar mereka, Satsuki menelepon seseorang. Tiga puluh menit kemudian, dia kembali ke kamar yang sistem keamanannya telah dimodifikasi, berkumpul dengan beberapa orang lain.


" .... Pemilik akses saat ini : Kim Jong Hyun."


Pria itu tersenyum, lalu berkata, "Hyun Jo, i siseutem-eul sujeonghal su issseubnikka?"


Yang artinya, 'Hyun Jo, kau bisa memodifikasi sistem ini?'. Dia masih belum yakin Eiji tidak akan menggunakan kemampuannya untuk membobol sistemnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2