Santri Famiglia

Santri Famiglia
Membekukan Api


__ADS_3

"Anda tidak sedang menipu dengan berpura-pura sebagai tuan Damiyan, Kan?"


"Ini benar-benar aku. YA original. YA pozabochus' o tom, chtoby ty poteryal rabotu pryamo seychas, yesli ne poverish' mne." Damiyan sedikit mengancam. Mudah baginya memberhentikan siapa pun yang dia kehendaki dari pekerjaannya.


"Baiklah, apa yang bisa kami bantu?"


"Kirim pasukan yang bisa memadamkan kebakaran di tengah lautan! Aku ingin selambat-lambatnya, mereka harus tiba lima belas menit dari sekarang!"


"Dimengerti. Untuk mempercepat tindakan, mohon kirim lokasi ke ...."


"Oke."


Damiyan membagikan lokasi Sanubari. Jet tempur L50 telah berhenti di udara.


"Pak, kita sudah ada di atas kapal yang dimaksud. Kapalnya benar-benar terbakar."


Kamera yang berada di bagian bawah badan pesawat memperjelas pemandangan jauh di permukaan air. Gambar tersebut ditampilkan di layar kecil yang terdapat di kokpit.


"Kebakarannya sudah sangat parah. Apa orang itu masih selamat dalam kondisi seperti itu?" Suara Wallsky bergetar saat mengatakannya.


Lautan di sekitar kapal terbakar. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan diri dengan melompat ke laut. Nekad melompat sama saja dengan menyerahkan tubuh untuk dilahap api. Geladak pun masih berapi-api, membuatnya tampak seperti api unggun di tengah lautan.


"Turunkan ketinggiannya sampai aman untuk melompat!" perintah Damiyan Sambil memainkan ponselnya. Dia memasang kembali headset. Dia mengaktifkan panduan suara terdetail.


"Baik!" jawab kedua orang yang berada di kokpit.


Pilot mengendalikan tuasnya dengan sangat hati-hati. Dia memperkirakan ketinggian yang aman dari jilatan api. Jika salah perhitungan, mereka bisa ikut meledak tersambar api.


"Tuan Wallsky, di mana alat pemadam kebakarannya? Siapkan juga tali penerjunan!"


"Kau akan melompat ke kobaran itu?"


"Iya."


"Bagaimana jika orang itu sudah menyelamatkan diri ke laut dengan sekoci, atau meninggal terjebak api? Tindakanmu itu akan sia-sia."


"Dia memang terjebak api, tetapi masih hidup."


Sekali lagi, Damiyan mengarahkan layar ponselnya kepada Wallsky. Kali ini, setengah layar itu tidak lagi gelap. Sudut pandang kamera menampilkan gambar cukup luas, tampak anak-anak manusia sedang berjuang mempertahankan hidup.

__ADS_1


Hanan memejamkan mata rapat-rapat, tidak berani melihat ke bawah. Panggangan di bawah siap menangkap dan memasaknya kapan pun.


"Tolong! Aku tidak mau jatuh! Tidak mau!"


Remaja yang baru lulus sekolah menengah atas itu meraung-raung. Dia menggeleng. Kakinya menggantung.


"Jangan banyak bergerak! Kau akan membuat kita semua benar-benar jatuh." Ucapan Eiji terdengar tersendat. Susah payah dia mengatakannya.


Dua belikat Eiji terasa seperti mau copot. Tangan kanannya mempertahankan Hanan. Sementara tangan kirinya ditarik Sai.


Sai memegang Eiji dengan kedua tangannya. Dibelakangnya, ada Fukai yang memegangi tubuhnya. Sementara di belakang Fukai ada Abrizar yang memegang perut Fukai.


Mereka saling menjaga dan menarik mundur supaya Eiji bisa kembali ke atas dan tidak jatuh.


Masing-masing dari mereka berkeringat, seakan terpanggang ruangan yang kian memanas. Sekuat tenaga Sai terus berusaha menaikkan kedua orang yang bergelantungan. Sampai akhirnya, mereka berhasil.


"Kita tidak bisa beristirahat di sini! Ayo cepat! Kita harus mencari pintu keluar!" Fukai mengambil kembali tasnya.


Fukai memimpin. Sai berjalan paling belakang, mengawasi Eiiji dan Hanan yang tertatih. Kaki Hanan terasa sakit. Dia berjalan terpincang-pincang sambil menahan perih yang berdenyut nyeri.


Langkah-langkah mereka terhenti beberapa saat kemudian. Melihat ke mana pun sama saja.


"Sial, jalan buntu!" Fukai menggeram.


Dari salah satu lorong api yang memerangkap mereka, sesosok berlari. Tubuhnya sama sekali tidak terbakar, meski api menyambar-nyambar tubuhnya.


"Ada orang dalam api?" Fukai menajamkan visinya, seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.


"Apa aku mulai berhalusinasi karena terlalu panas?" Renji tersengal-sengal. Dia melihat hal yang sama dengan Fukai.


"Syukurlah, kalian masih hidup!" Sosok itu keluar dari api, berdiri di hadapan mereka.


Pakaian anti terbakar berwarna jingga pekat menutupi sekujur tubuhnya. Kecuali, bagian mata. Bagian mata ditutupi kaca anti panas transparan yang memudahkannya untuk melihat. Dia menurunkan tabung-tabung halotron yang telah dirangkai dengan tali, diturunkannya. Dia mengambil satu, lalu menatap mereka. "Salah satu dari kalian, bawakan ini!"


Kemudian, dia berbalik, menyemprotkan tabung ke api. Gas keluar, menyelubungi kobaran, melenyapkan oksigen, hingga membuat api padam seketika. Dia terus berjalan maju sambil menyemprot, membuka jalan untuk mereka.


Sai membawakan tiga tabung yang tersisa. Mereka berjalan mengikuti. Harapan bersemai di hati mereka. Seorang penyelamat telah datang.


Sayangnya, apar yang mereka bawa hanya mampu mengantar mereka sampai setengah jalan saja. Keempatnya telah habis, dan masih ada api tebal yang cukup panjang menghadang di depan mata.

__ADS_1


Keputus asaan kembali menyelimuti mereka. Harapan yang mekar, perlahan Melayu. Sementara napas mereka mulai sesak.


Namun, bantuan tidak terduga datang tepat waktu. Hawa dingin mendadak berembus, membuat mereka sesaat merinding. Api di hadapan mereka mendadak berubah menjadi bunga es.


Anki dan Hana terperangah sekaligus terpukau. Mereka belum pernah menyaksikan pemandangan menakjubkan seperti itu. Mereka seumpama hidup di negeri dongeng penuh sihir.


Tidak jauh dari mereka, ada bola putih sebesar bola basket yang melayang. Bola itu adalah alat pemadam kebakaran cerdas. Dia mengembuskan suhu dingin ke segala arah dengan kekuatan maksimal.


Bahan kimia dan suhu yang rendah memadamkan api dengan cepat. Namun, kekuatannya diturunkan ketika mendeteksi manusia di dekatnya. Jika tidak, maka kemungkinan manusia bisa mati terkena embusannya.


Ketika api di dekat manusia padam, penonaktifan otomatis pun menyala. Bola itu jatuh menggelinding. Akan aktif kembali ketika manusia sudah menjauh, kembali menyusuri jejak-jejak api yang tersisa.


Berderap-derap terdengar mendekat. Mereka memecahkan es-es yang mengeras dan menghalangi jalan. Sampai akhirnya, mereka tiba di titik berkumpulnya para korban.


Salah satu dari tentara itu mengambil bola yang tergeletak. Dia mematikannya secara permanen.


Tentara yang membawa alat navigasi itu mengamati semua orang. Tidak ada yang dikenalinya. Namun, alat navigasi itu memberitahukan bahwa seseorang bersama mereka. Pandangannya terkunci pada satu sosok memakai kostum serba jingga.


"Anda pasti Tuan Vladimirov. Mohon maaf atas keterlambatan kami!" katanya memberikan penghormatan, diikuti ketiga tentara udara lainnya.


Lelaki berpakaian jingga itu mengangkat telunjuk ke depan bibirnya sendiri, lalu mengucapkan, "Cepat selamatkan mereka!"


Tanpa banyak bicara, mereka mengevakuasi Sanubari dan lainnya. Para tentara itu menaikkan mereka ke pesawat yang membeku di langit dengan seutas tali. Selepasnya, jet tempur R21 berkecepatan maksimal dua puluh ribu kilometer per jam itu langsung menuju Italia.


Pria berkostum jingga menaiki jet yang berbeda. Pesawat itu menuju ke arah yang sama.


Di bawah, awak kapal yang terombang-ambing di tengah lautan mendongak. Mereka berteriak, berharap dua pesawat yang melintas itu menyadari keberadaan mereka.


Namun, dua jet itu pergi begitu saja, seakan mengabaikan mereka. Dari jauh, mereka bisa melihat bahwa jet yang datang tadi menyelamatkan beberapa orang dari kapal. Mereka tidak tahu itu siapa saja. Akan tetapi, hal itu membuat mereka berandai-andai bisa bersama orang-orang itu ketika bantuan datang.


Sayang, bantuan telah pergi. Kini, mereka harus berjuang sendiri-sendiri, berenang sampai ke pulau seberang, atau sampai bantuan lain datang.


Memakai pakaian anti api ternyata cukup membuat gerah. Dia melepas satu per satu perlengkapan yang melekat padanya.


"Argh, rasanya seperti sauna!"


Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Kaos yang dipakainya sampai basah kuyup dan lengket. Rambut putihnya pun sampai lepek.


"Kalian harus meningkatkan kualitas baju ini!" Dia melemparnya ke lantai begitu saja, lalu duduk.

__ADS_1


"Terima kasih atas sarannya. Ngomong-ngomong, apa masih ada korban lain di sana?"


"Entahlah. Tugas kita sudah selesai. Sisanya, biar diurus pemerintah sekitar." Dia menenggak air mineral yang telah disediakan.


__ADS_2