Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kilas Balik Muktar 3


__ADS_3

Setiap hari, Muktar datang ke rumah Kyai Samad untuk membantu berbagai hal—merawat bunga, memelihara ikan, mengantar makanan pada Irsyad, serta pekerjaan serabutan lainnya. Ketika sekolah dan pesantren mulai aktif kembali, Muktar mengurangi kegiatan di area dalem.


Pagi hari, dia harus mengajar ekonomi di sekolah. Sementara sore harinya mengajar agama. Dia juga mengisi kajian yang rutin diadakan di hari Jumat. Pematerinya selalu digilir. Itu merupakan pertemuan yang tidak dibedakan kelas.


Semua melebur menjadi satu. Baik yang baru mendaftar menjadi santri maupun yang sudah lama dan mengkhatamkan banyak kitab—mereka semua duduk dalam satu ruangan dipisahkan dengan sekat papan kayu antara perempuan dan lelaki. Terkadang, kegiatan tersebut diadakan di masjid.


Aini yang Muktar kenal sebagai abdi dalem ternyata adalah salah satu murid di kelas yang dia ampu. Gadis itu tergolong murid sekaligus santriwati yang aktif dan tekun. Dia sering bertanya baik saat di sekolah maupun saat sedang mengaji.


Semua berjalan lancar. Muktar akrab dengan murid-muridnya. Hingga suatu hari, Muktar tampak kebingungan. Dia membongkar kasur, mengangkat bantal, membuka laci, bahkan mengintip kolong dipan.


"Apa yang kamu cari? Dari tadi pagi, kamu tampak gelisah," tanya Hudi yang baru masuk ruangan.


"Arloji saya hilang."


"Bukannya kamu selalu memakainya? Kok bisa hilang? Hudi meletakkan senter ke meja, lalu merebahkan tubuh ke kasur.


"Memang, tapi saya selalu melepasnya saat salat atau tidur. Seingat saya, semalam sebelum tidur, saya letakkan di meja. Tapi, pagi tadi sepulang dari masjid, sudah tidak ada." Muktar menghela napas, lalu duduk ke kasur.


"Hm, kamu lupa kali. Mungkin tertinggal di masjid waktu wudu, atau tertinggal di rumah Kyai waktu bantu-bantu."


"Apa iya, ya?"


Muktar merasa ingatannya tidak salah, tetapi perkataan Hudi membuatnya meragu pada diri sendiri. Dia mencoba mengingat ulang kejadian demi kejadian. Namun, dia tidak bisa mengingat seluruh kejadian secara utuh.

__ADS_1


"Sudah, tidur saja! Sudah jam sebelas. Ingat besok giliranmu patroli malam! Jangan sampai kurang tidur! Kepala bisa Pening." Hudi menguap.


Malam itu, Muktar menghentikan pencarian. Keesokan harinya, ketika henda mengantarkan makanan pada Irsyad, Muktar bertanya, "Aini, lihat arloji ketinggalan, tidak?"


"Tidak, Ustaz."


Panggilan Aini terhadap Muktar berubah sejak mengetahui bahwa Muktar adalah gurunya. Sejak hari efektif dimulai pula ada santriwati lain yang membantu Aini. Raisha namanya.


"Ustaz kehilangan jam tangan, ya? Nanti saya bantu Carikan di sekitar sekolah. Saya 'kan tidak sekolah seperti Aini. Jadi, punya lebih banyak waktu luang."


Raisha menyahut. Dia selalu tersenyum dan banyak bicara.


"Selesaikan dulu itu ngulek sambalnya, Mbak!"


"Iya-iya, Ni! Tentu aku mana yang harus kuprioritaskan."


Irsyad duduk di pinggir dipan menghadap jendela. Gorden terbuka. Namun, jendela itu tertutup, tidak bisa dibuka dari dalam. Kyai Samat telah menambahkan palang kecil untuk mengunci dari luar.


"Saraapan dulu, Mas!" kata Muktar, meletakkan nampan ke atas meja.


Dia tidak langsung keluar setelahnya. Muktar masih memiliki waktu dua jam sampai waktu mengajar. Walau hanya sebentar, Muktar ingin mencoba berbicara dengan Irsyad. Hatinya tergerak untuk membantu Irsyad.


Muktar duduk di kursi. Dia bingung harus mulai dari mana. Dia merasa kurang sopan kalau menanyakan langsung ke inti masalah.

__ADS_1


"Adakah ganjalan hati yang ingin Mas sampaikan? Bila ada, saya siap mendengar. Mungkin dengan berbagi bisa meringankan beban pikiran mas." Muktar mengayakannya dengan sangat hati-hati.


Akan tetapi, Irsyad bergeming. Muktar ikut diam beberapa saat. Dia kembali bingung.


"Saya akan selalu menjadi teman mas. Saya juga siap mendengar andaikata Mas butuh teman curhat," kata Muktar lagi setelah terdiam beberapa menit.


Irsyad menoleh. Matanya melotot lebar. Tanpa diduga, dia melompat ke kasur, lalu ke Muktar.


Mutar jatuh bersama kursi yang terguling. Bunyinya sangat keras. Irsyad mencekik Muktar. Dia duduk di atasnya.


"Sadar, Mas! Sadar! Nyebut, eling Gusti Allah!"


Muktar kesulitan bicara. Suaranya serak karena kerongkongannya ditekan. Muktar mencoba lepaskan diri, tetapi tenaga Irsyad terlalu kuat.


Bunyi keras tadi pastilah terdengar siapa pun yang ada di rumah. Muktar tidak menutup rapat pintu sehingga suara tidak teredam. Sesaat kemudian, bunyi tapak kaki terdengar mendekat.


"Masyallah, Ustaz Muktar!"


Aini terpekik. Gadis itu tidak masuk kamar. Dia langsung pergi lagi.


Sementara Muktar masih terbaring. Dia sampai terpicing-picing menahan cekikan.


"Pergi!"

__ADS_1


Suara Irsyad terdengar setengah menggeram. Itu membuatnya terkesan sedang marah. Ditambah lagi dengan ekspresinya yang tampak bengis, semakin menunjukkan bahwa kehadiran Muktar tidak diinginkan.


Muktar menyesali tindakannya. Dia sepertinya telah tanpa sengaja menyinggung.


__ADS_2