Santri Famiglia

Santri Famiglia
Penangguhan


__ADS_3

Di pinggir Teluk Bari, tersembunyi di balik jalan-jalan berbatu kuno, terdapat sebuah restoran mewah yang melebur dengan keindahan kota tua. Restoran ini bukan sekadar tempat makan, melainkan sebuah oase rahasia yang mengundang para pelancong petualang dan pencinta kuliner untuk memasuki dunia baru yang memikat.


Pintu masuknya bak gerbang ke masa lalu. Sebuah pintu kayu tua dengan sentuhan ornamen klasik menyambut setiap tamu dengan hangat. Begitu melangkah masuk, aroma rempah-rempah segar dan bau wangi masakan Italia menggoda indera penciuman, mengajak para tamu untuk memasuki petualangan kuliner yang tak terlupakan.


Ruangan-ruangan di dalamnya menghadirkan sentuhan elegan. Dinding-dinding berwarna krem terbuka ke langit-langit tinggi yang dihiasi dengan lukisan-lukisan klasik. Lampu-lampu kristal bergantung dengan anggun, menciptakan atmosfer yang penuh kemewahan. Di sudut-sudut ruangan, terdapat pameran anggur dari kawasan-kawasan terkenal di sekitar Bari, mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi enologi Italia.


Di meja-meja yang diatur dengan rapi, pasangan-pasangan yang merayakan cinta, dan keluarga-keluarga yang merayakan hari istimewa, menikmati hidangan-hidangan istimewa yang disajikan dengan penuh keahlian dan kasih sayang. Pelayan-pelayan dengan seragam rapi dan senyuman ramah menyajikan hidangan-hidangan lezat secara penuh sopan santun, menjadikan setiap pengalaman makan malam layaknya pesta kerajaan.


Latar belakangnya, dengan jendela-jendela terbuka yang memperlihatkan pemandangan teluk yang memukau, menambahkan nuansa romantis pada setiap momen yang dihabiskan di sana. Itu pula yang diharapkan Queenza. Sayanng, kenyataan tidak semanis angannya.


Kota pelabuhan tersebut justru menjadi saksi dari pertemuan yang tegang antara Aeneas dan Queenza. Dalam ruangan pribadi, wajah Aeneas mencerminkan ketidaknyamanan, sementara Queenza tampak percaya diri, memancarkan pesona yang sulit diabaikan.


"Kembali ke tempatmu!" tegur Aeneas dengan tegas, mencoba melepaskan diri dari rangkulan Queenza.


Namun, Queenza hanya mempererat pelukannya, tangan lembutnya menempel pada pipi Aeneas. "Ini tempatku," kata Queenza dengan nada penuh keyakinan, sambil tertawa ganjen.


Aeneas mencoba menegaskan batas, "Kursimu di seberang." Dia menghalangi wajah Queenza dengan tangan kokohnya saat wanita itu semakin mendekati.


"Istrimu sudah cukup lama meninggal. Aku sangat siap untuk menjadi pendampingmu selanjutnya, Gafrillo," bisik Queenza dengan penuh godaan.


"Tidak minat," balas Aeneas datar, mencoba menahan kekesalannya.


Queenza mendesah manja, mencoba memikat hati Aeneas. "Kenapa kau selalu saja menolakku?"


Namun, suara tajam dari seberang ruangan membuat mereka berdua berpaling. Kelana, seorang sahabat Aeneas yang setia, telah berdiri dengan sikap lugasnya. "Nona Queenza, sebaiknya Anda duduk dengan benar sebelum Tuan Gafrillo berubah pikiran."


Tatapan Aeneas memandang Queenza dengan tegas, memperingatkannya untuk tidak menggoda batas kesabarannya. Queenza sudah kesal dengan respons Aeneas. Sekarang, dia dibuat lebih kesal lagi dengan kehadiran Kelana yang tiba-tiba.


Akan tetapi, Queenza mencoba berkompromi dengan keadaan, mengabaikan keberadaan Kelana. Mengingat sulitnya menemui Aeneas, Queenza mau tidak mau harus menerima sedikit kepuasan yanh sama sekali tidak memuaskannya.


Cahaya lilin memantulkan kilauan di wajah Aeneas yang tegar, sementara mata Queenza bersinar penuh hasrat. Tanpa sepatah kata pun, Aeneas meninggalkan meja itu, mencoba menghindari konfrontasi yang tak diinginkannya. Namun, Queenza tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dia mencekal lengan Aeneas dengan lembut namun penuh ketegasan.


"Mau ke mana?" tanya Queenza dengan suara yang lembut.

__ADS_1


"Pulang," jawab Aeneas singkat, mencoba menyingkirkan tangan Queenza dari lengannya.


"Makanan terlanjur dipesan. Kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja," ujar Queenza, mencoba merayu.


Aeneas menghela napas dalam. "Kelana akan membayarnya. Kau bisa menghabiskannya sendiri semua."


Namun, Queenza tidak menyerah begitu saja. Dia masih berusaha mencegah Aeneas pergi, mempertahankan momen berharga ini. Baginya, bertemu dan duduk bersama Aeneas adalah kesempatan langka. Selama ini, Queenza hanya dihadapkan dengan bawahan Aeneas dalam setiap pertemuan yang dipenuhi formalitas bisnis, kecuali setelah satu kejadian tragis beberapa tahun silam.


Pada saat itu, Aeneas menemunya langsung secara pribadi meski kedatanganmya hanya untuk mengancam. Itu adalah kali kedua Queenza bisa berada di dekat Aeneas. Sekarang, dia bisa duduk semeja dengan Aeneas, dan dia takkan melewatkan kesempatan ini dengan sia-sia.


Sesaat hening menyelimuti ruangan, tetapi ketegangan di udara terasa begitu nyata. Aeneas menatap Queenza dengan mata tajam, ekspresi wajahnya tak berubah meski terdengar suara lembut dari Queenza yang mencoba meredam situasi. "Tidak ada pembicaraan untuk basa-basi," ucap Aeneas dengan suara dingin dan tegas.


"Oke-oke. Duduklah kembali, Sayang! Kali ini, aku akan serius. Mari kita lanjutkan urusan bisnis kita!" Queenza mencoba tersenyum manis, namun matanya menyimpan kilatan ketidakpuasan yang sulit disembunyikan.


"Katakan!" perintah Aeneas, tetap berdiri tegak dengan sikap yang tak dapat ditembus oleh rayuan manis.


"Tidak duduk dulu?" Queenza mencoba merayu, tetapi tatapannya tetap tajam.


"Tetap di sini atau pergi, akan kupertimbangkan setelah mendengar apa yang ingin kau bicarakan," sahut Aeneas dengan mantap, menunjukkan ketegasannya.


"Jika itu yang ingin kau bicarakan, jawabannya tetap," balas Aeneas dengan dingin, melepaskan paksa tangan Queenza yang masih mencengkeram erat.


"Hei, tunggu, Gafrillo!" teriak Queenza, mencoba menahan Aeneas.


"Maaf, Nona Queenza," ujar Kelana, mewakili penjelasan yang malas Aeneas lakukan. "Kami tidak memasukkan Anda ke daftar hitam, tapi kami tidak bisa melayani permintaan Anda untuk sementara waktu. Seperti kata Tuan Gafrillo, saya akan melunasi tagihan malam ini atas nama beliau. Selamat menikmati malam Anda! Permisi."


Dengan itu, Kelana meninggalkan Qruangan, lekas memyusul Aeneas. Queenza dibiarkan sendirian, dalam keheningan yang penuh kekecewaan. Kelana mengikuti langkah Aeneas, membuktikan kesetiaannya pada sahabatnya.


Queenza merasa geram, rasa kecewa yang dalam memenuhi hatinya. Tanpa sadar, dia menggebrak meja. Namun, lekas berhenti. Tangannya terkepal di atas meja.


"Dasar pria! Mereka selalu saja menyebalkan, terutama dia. Sulit sekali didekati. Huh! Apa dia ini anti-wanita, tapi kenapa bisa sampai punya anak kandung? Aneh sekali. Jelas-jelas aku ini lebih cantik, lebih seksi, lebih cerdas daripada mendiang istrinya. Jangankan tertarik, melihatku sebagai perempuan pun tidak. Dasar Gafrillo kelainan!" gerutu Queenza, mencoba meredam rasa frustasinya dengan caci maki yang keluar dari bibirnya.


Meskipun Aeneas telah pergi, keluh kesah Queenza tidak berhenti. Dia terdiam, menatap ke luar jendela kaca dengan tatapan kosong, terhanyut dalam pemikiran yang mendalam.

__ADS_1


Di tempat yang lain, Kelana mencoba membuka pembicaraan yang sulit dengan Aeneas. "Tuan Aeneas, apa Anda tidak sedikit pun memiliki niat untuk menikah lagi?" tanya Kelana dengan lembut, mencoba menggali lebih dalam ke dalam hati temannya.


Aeneas menatap Kelana dengan ekspresi serius. "Bersiaplah mengundurkan diri!" jawabnya dingin, meskipun ada kilatan kesedihan di balik matanya yang tajam.


Namun, Kelana tidak menyerah begitu saja. "Bukan begitu. Saya tidak ingin menjodohkan Anda dengan Nona Queenza atau wanita lain, tapi bukankah anak-anak butuh sosok ibu? Saya tahu, ada Nyonya Asia dan istri Elfata yang bisa memberikan kasih sayang itu pada mereka, tapi ...." ujarnya, mencoba mencari jalan tengah untuk mengatasi situasi sulit ini.


Mereka berjalan mencapai pelataran parkir. Kelana membuka pintu untuk Aeneas.


"Aku tidak ingin mendua," kata Aeneas dengan keras, suaranya penuh ketegasan.


"Namanya bukan mendua kalau istri Anda saja sudah meninggal, Tuan," sahut Kelana, mencoba membuka hati Aeneas. Dia menutup pintu kembali setelah Aeneas masuk, lalu duduk di kursi kemudi.


"Sama saja. Pada akhirnya, semua manusia juga akan meninggal, mau beristrikan berapapun itu, menjadi istri ke berapa pun itu. Apa kau akan terus menyarankan padaku untuk menikah lagi setiap kali istriku meninggal lebih dahulu dariku?"


"Itu ...."


"Bagiku cukup satu kali. Aku di sini hanya menanti giliran menyelesaikan peran, sampai menyatu dengannya kembali. Jika aku mencari wanita lain, aku mungkin tidak akan memiliki muka untuk berhadapan dengannya di kehidupan berikutnya, kami mungkin tidak akan pernah bisa menyatu lagi," ungkap Aeneas dengan suara pelan, tapi penuh keputusan.


Kelana terdiam, terkesan oleh kedalaman cinta yang dimiliki Aeneas pada mendiang istrinya, Sanum. Dia tak pernah menduga bahwa perasaan Aeneas begitu dalam dan abadi. Hening menyelimuti mereka, membiarkan kata-kata yang terucap meresap dalam hati mereka, menciptakan pemahaman yang mendalam tentang perasaan manusia yang tulus dan abadi.


Angin malam berbisik lembut di luar jendela, menyejukkan mobil mewah di mana Aeneas duduk dengan perasaan campur aduk. Dia teringat Sanubari kecil yang lebih suka membuka jendela ketika naik mobil daripada menyalakan AC. Karena itu, kaca jendela diturunkannya.


"Dia masih di sana?" tanyanya dengan suara yang penuh kekhawatiran, memikirkan putranya yang berada di negara yang jauh, terpisah oleh jarak dan waktu.


Pendampingnya, Kelana, menundukkan kepala. "Iya, aman bersama Kakek Fang. Sesuai instruksi Anda, kami menangguhkan transaksi senjata dan produk berpotensi bahaya dari mana pun itu selama Tuan Muda masih di tempat tersebut. Tapi, Tuan, belakangan saya mendapatkan laporan bahwa mereka bekerja sama dengan kartel negara lain sebagai perantara memperoleh barang dari kita."


Aeneas mengernyitkan kening, merasakan ketidakpuasan mendalam. "Selidiki dan putus alirannya!" perintahnya tegas, suaranya penuh dengan otoritas.


"Dalam proses, Tuan," jawab Kelana dengan hormat.


"Sebaiknya, kau bisa menuntaskan ini dengan cepat. Aku tidak ingin insiden di Indonesia kembali terjadi pada Sanu di negara lain," ujar Aeneas dengan nada serius, mengingat tragedi masa lalu yang hampir merenggut nyawa putranya.


Hidup sungguh ironis, pikir Aeneas. Putranya nyaris saja terbunuh dengan teknologi besutan perusahaannya sendiri. Sejak saat itu, Aeneas memerintahkan anak buahnya untuk memperketat transaksi, meskipun itu berarti harus kehilangan klien-klien berharga. Yang terpenting adalah keselamatan sang putra.

__ADS_1


Muncul sebuah saran dari Kelana, "Apa perlu Damiyan kita suruh kembali ke sisinya? Kakek Anselmus sungguh licin. Daripada melakukan pengejaran panjang yang belum juga membuahkan hasil ... lagipula, ada Abrizar dan teman-temannya yang juga sedang bergerak menyelidiki kasus ini."


Aeneas merenung sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Lakukan itu. Kita tidak boleh meremehkan ancaman apa pun. Sangat penting bahwa Sanu tetap aman dan dalam perlindungan yang ketat." Suaranya penuh dengan tekad, memastikan bahwa segala langkah yang diambilnya akan melindungi putranya dari bahaya yang mengancam. Sampai kapan pun, keselamatan Sanu adalah prioritas utama yang tak akan pernah tergantikan.


__ADS_2