
Kouhei terjengkang akibat serangan yang tiba-tiba. Seorang pria bercelana training berdiri di dekatnya, memandang penuh intimidasi. Perhatian semua orang tertuju pada pria yang baru masuk. Tidak terkecuali Sanubari yang terkejut.
"Dasar Anak Bodoh! Berkeliaran tanpa pengawal di wilayah musuh, berbuat onar, apa yang kau lakukan, hah?" Lelaki bercelana training itu berjongkok, sedikit mengangkat kerah Kouhei dengan ekspresi murka.
Dialah Akamizu Shima sang Pemimpin Utama Onyoudan. Ayah Kouhei tersebut merupakan menteri ekonomi dan perdagangan yang sedang menjabat. Dia mencengkeram erat kerah baju Kouhei sambil terus menampar pelipisnya.
"Ampun, Otou san!" Kouhei berusaha melindungi kepalanya.
"Ulahmu kali ini cukup serius. Aku sampai membuat jadwal perjalanan bisnis palsu gara-gara kau!"
"Otou san tidak perlu melakukan itu jika tidak mau."
"Kau ini ...," Shima terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas dan mendorong Kouhei, "tidak bisakah kau bersikap lebih tenang seperti saudaramu?"
"Aku bukan dia, dan aku tidak ingin menjadi dia." Suara Kouhei melemah. Pembahasan ini selalu memicu suatu rasa dalam hatinya. Ekspresinya mendadak tak sedap dipandang.
Sanubari memandang bingung pada pertengkaran ayah dan anak di hadapannya. Orang yang diselamatkannya seharusnya atasannya karena orang-orang memanggilnya tuan muda.
Sanubari pernah dipanggil seperti itu juga. Persis seperti bagaimana Kelana dan anak buah Aeneas memanggilnya waktu dia masih kecil. Terakhir kali bertemu pun para bawahan masih memanggilnya tuan muda. Padahal, bertahun-tahun mereka tidak pernah berjumpa.
Pemandangan di depan mata Sanubari tampak begitu rumit baginya. Dia tidak mengerti mengapa seorang ayah bisa memukul anaknya. Mulut Sanubari tertutup rapat.
Mendadak Sanubari teringat tentang Aeneas. Sanubari menjatuhkan pandangan ke lantai. Kedua tangan di atas paha terkepal erat.
"Jika dipikir-pikir, papa tidak pernah memukulku seperti itu. Dia juga tidak pernah memarahiku." Hati Sanubari mulai bersuara dalam benaknya.
__ADS_1
Sosok Aeneas tersenyum dalam angannya. Lelaki itu selalu bersikap hangat padanya, membebaskan apa pun yang ingin dia lakukan. Keinginannya pun selalu dituruti.
Namun, pemandangan ayah hangat itu mendadak terdistorsi. Peristiwa berdarah menghapus kehangatan yang ada. Pikiran Sanubari pun selalu menganggap itu sebagai fakta keji yang sangat dia benci.
"Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Papa memegang pisau ...," batin Sanubari menguatkan prasangkanya sendiri.
Lamunan Sanubari menyeretnya pada kejadian masa lampau. Masa lalu yang Terbentuk belum lama ini berputar kembali. Di hadapannya, seorang wanita bergetar ketakutan.
Raut muka wanita itu tampak kacau. Dia meremas kemejanya. Dengan sangat gelisah, wanita itu mengadu, "Kau tahu? Semenjak kepergianmu, Aeneas sering menyiksa Sanum. Sampai akhirnya, malam itu dia membunuhnya. Aeneas Takut aku akan bersaksi pada kepolisian dan memberatkannya. Karena itu, dia ingin melenyapkanku dan semua pekerja di vila."
Ekspresinya begitu serius. Sanubari tidak bisa menemukan kebohongan dari sorot matanya yang sesekali terdongak kala itu. Itu adalah awal kepercayaan yang membuatnya kian kecewa pada sang ayah.
Dia bahkan ingin melindungi wanita yang terlihat lemah dari kekejaman sang ayah. Namun kemudian, wanita itu menusuknya dari belakang. Bukan sekadar ungkapan—pisau beracun benar-benar menembus kulit dan dagingnya.
Sekali lagi, dia tidak mengerti. Sanubari tidak tahu apa-apa, tetapi dia menjadi target balas dendam korban kekejaman sang ayah. Sampaisaat itu, dia masih yakin Aeneas merupakan iblis dunia yang tak pantas dimaafkan.
"Sanu, kau harus percaya ini! Tuan Aeneas tidak pernah melukai ibumu. Kau dan ibumu sangat berharga baginya. Tuan Aeneas sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan ibumu. Itu adalah pembunuhan berencana yang didalangi Matilda—wanita yang menusukmu."
"Pembohong!" Sanubari yang keras hati memalingkan wajah.
"Memang tidak ada bukti nyata karena dia sudah melenyapkan semuanya. Tapi, kau juga perlu tahu ini. Dia pulalah yang menculikmu sampai terpisah selama ini, dan kau tahu mengapa Matilda langsung ditembak mati pagi itu?"
"Untuk menutupi kebusukan papa." Di mata Sanubari, Aeneaslah yang tetap terlihat buruk. Hatinya sedikit bergetar, menolak untuk mempercayai kata-kata Kelana.
"Itu karena Matilda mencelakaimu. Dia juga hampir membunuh adikmu. Karena itulah, orang-orang itu mengejarnya."
__ADS_1
"Penipu. Aku melihatnya sendiri. Papa yang ada di kamar, berlumuran darah. Papa membunuh mamak. Adikku sudah lama mati karena penembakan liar. Bukan salah zia Ilda." Air mata Sanubari mulai menggenang di kelopak mata.
Dua orang berharga baginya direnggut dalam peristiwa berdarah. Dia merasa sendiri. Keberadaan Aeneas tidak lagi dia anggap sebagai ayah.
"Apa kau melihat ayahmu yang menikamnya hingga meninggal kehabisan darah?"
Sanubari bergeming. Dia memang menyaksikan sang ayah merengkuh ibunyA sambil memegang pisau. Seperti itulah kondisi mereka saat dia masuk kamar. Dia tidak tahu apakah ayahnya hanya ingin mencabut pisau yang sudah tertancap atau memang baru menusuknya.
"Asal kau tahu saja, nyonya muda Sanum tidak hanya meninggal karena ditusuk. Matilda meracunya sebelum menancapkan pisau ke dada ibumu. Racun ditemukan dalam gelas susu yang diminum ibumu"
Sanubari tidak tahu kebenarannya, tetapi dia tetap menyangkal, "Bohong!"
"Ini kebenaran. Aku tidak tahu apa yang Matilda katakan padamu, tapi kurasa dia menipumu. Mungkin kau butuh waktu untuk memikirkannya. Renungkan lah ini baik-baik! Aku akan terus mengulang ini sampai kau bisa memahami kenyataan. Satu hal yang perlu kau ingat, tuan Aeneas selalu menyayangimu. Itu tidak akan pernah berubah. Sekarang, istirahatlah!" Kelana mengusap kening Sanubari sebelum pergi.
"Apa papa benar-benar peduli padaku?" batin Sanubari menggigit bibir bawah.
Kemudian, dia teringat akan para mafioso yang mengejarnya di Italia. Awalnya, dia mengira Aeneas ingin melenyapkannya dengan mengirimkan orang-orang itu. Setidaknya, itu yang dipikirkan Sanubari ketika menemukan fakta bahwa sang ayah merupakan bos besar L'eterna Volunta.
Melihat interaksi Shima dan Kouhei membuat sudut pandang lain Sanubari terbuka. Shima meminta mereka untuk menyelamatkan Kouhei, tetapi dia juga memarahi dan memukul Kouhei atas kesalahan yang dilakukannya.
"Mungkinkah papa hanya ingin membawa dan melindungiku dengan mengirim mereka?" pikiran Sanubari bergetar kuat.
Selama ini, dia hanya terus lari sambil berpura-pura sudah memaafkan Aeneas, berpura-pura sudah bisa menerima keadaan. Kenyataannya, dia hanya bisa bersikap biasa bersama Kelana. Gejolak perasaan masih sering terjadi kala dia mengingat, melihat, atau memikirkan Aeneas.
Shima bersedekap, duduk bersila tidak jauh dari Kouhei. Dia beralih memperhatikan empat pria yang ada di hadapannya. Tiga di antaranya tidak asing baginya. Mata tajam itu terhenti sejenak pada wajah baru yang terpekur.
__ADS_1
Namun, hal pertama yang dia ucapkan pada mereka berempat adalah, "Terima kasih sudah menyelamatkan putra cerobohku. Kalian memang yang paling bisa diandalkan."