
Kereta bawah tanah yang Sanubari tumpangi bersama Canda dan Zunta ternyata terhubung dengan rumah utama yang sering Canda kunjungi. Yaitu, tempat dimana Narti dan keluarganya berada. Sanubari terkagum-kagum dengan rumah Canda. Rumahnya tidak hanya mewah tetapi juga dilengkapi dengan teknologi modern yang menurut Sanubari keren.
Seperti janjinya, Canda memberikan sesuatu mirip dengan ponsel lipat kepada Sanubari. Ia menjelaskan kegunaan alat tersebut. Bagian layar bisa dilepas untuk mengumpulkan silet yang tersebar.
Alat tersebut dilapisi serat kaca yang sangat kokoh. Digilas truk pun alat tersebut tidak akan pecah. Canda mencoba membanting dan menginjak-injaknya. Hasilnya alat tersebut tetap utuh tanpa tergores karena juga dilapisi anti gores.
Alat tersebut berfungsi layaknya pistol. Perbedaannya hanya pada amunisi dan alat tersebut juga bisa berfungsi layaknya ponsel yang memiliki media penyimpanan. Seluruh panduan penggunaan pun sudah ada pada alat tersebut. Sanubari menyimpan satu set lengkap alat yang dinamainya baksil karena Canda tidak menamainya. Canda hanya menyebutnya pencukur jenggot yang menurut Sanubari terdengar tidak keren.
Secara umum, baksil memiliki fungsi-fungsi yang mirip dengan Aifka. Hanya saja, ukurannya yang lebih kecil dan sebesar ponsel lipat membuatnya terlihat praktis untuk dibawa kemana-mana. Kedua benda tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Tiga tahun lamanya Sanubari menjalani terapi sekaligus pelatihan di bawah Canda. Akhirnya Sanubari menunjukkan perkembangan yang signifikan baik dari segi mentalitas maupun vitalitas. Sanubari sudah bisa mendengar bunyi mobil. Hanya saja, perasaan was-wasnya belum bisa dihilangkan seratus persen. Headphone pun terkadang masih sering ia pakai ketika ingin mendapatkan ketenangan ketika berkendara.
"SANu, ini kenang-kenangan dariku," kata Zunta menyerahkan sebuah bingkisan.
"Terimakasih. Jika besar nanti, datanglah ke danau Garda! Kunjungi kafe Singkong keju Sanubari! Rumahku di sana."
"SANu juga sering-seringlah kemari!"
"Doakan saja!"
"SANu, bisa rendahkan kepalamu sebentar," pinta Zunta sambil menggerakkan tangan, mengisyaratkan supaya Sanubari menyejajarkan tinggi dengannya.
Sanubari membungkukkan badannya lalu bertanya, "Untuk apa?"
Zunta mencium pipi Sanubari lalu berkata, "Sampai jumpa lagi!"
Sanubari sedikit terkejut dengan tindakan Zunta. Ia tersenyum kemudian menegakkan badannya kembali, diusapnya kepala Zunta penuh kasih sayang. Mungkin seperti inilah rasanya andaikan Sanubari memiliki seorang adik. Zunta terlihat seperti sosok adik yang sempurna bagi Sanubari.
Selanjutnya Sanubari berpamitan kepada yang lain dan menuju bandara di antar suami Narti.
*****
Di danau Garda, Italia.
"Kudengar hari ini Aeneas akan pulang," kata Matilda sambil menurunkan bayi ke ranjang bayi.
"Benarkah? Apakah sudah ada kabar tentang Sanubari?" tanya Sanum.
"Um, sayangnya aku belum mendengar apa pun," jawab Matilda menggeleng.
"Oh," respons Sanum nampak lesu.
__ADS_1
Sudah lima tahun semenjak hilangnya Sanubari, setitik kabar tentangnya sedikit pun belum ia dengar. Ia sangat mengkhawatirkan Sanubari. Sehari-hari Sanum tidak bisa tidur tanpa memikirkan Sanubari.
"Apa kau merindukan Sanubari?" ucap Matilda mengiba.
"Aku sangat merindukannya. Aku takut tidak bisa bertemu dengannya lagi untuk selamanya."
"Oh, apa siKecil sudah tidur? Sini biar kutempatkan dia ke ranjangnya!"
"Tidak perlu. Nanti aku sendiri yang akan menidurkannya."
Seseorang mengetuk pintu sambil berkata, "Permisi, Nyonya!"
Dari dalam, Sanum menjawab, "Masuk!"
Natasya memasuki ruangan. "Maaf, Nyonya. Saya kemari untuk mengganti sprei dan mengambil cucian kotor."
"Oh, silakan! Maaf sudah banyak merepotkan." Sanum berpindah duduk ke sofa.
"Sudah tugas saya untuk membantu pekerjaan Anda."
Natasya mulai mengerjakan tugasnya. Setiap sore merupakan jadwalnya mengambil pakaian kotor dari kamar majikannya itu. Semenjak kelahiran si Kembar, cucian semakin banyak. Sehingga Natasya selalu mencuci dua kali sehari.
Matilda berpamitan keluar sejenak. Kaki jenjangnya ia langkahkan menuju dapur. Di sana ia melihat Bella yang sedang menyiapkan makanan dan menyeduh susu.
"Benar, Nona Ilda," jawab Bella yang meletakkan segelas susu ke atas nampan.
"Biar aku yang membawa ini ke kamar Sanum. Kau kerjakan yang lain saja!"
Matilda membawa makanan ke lantai atas. Di tangga, ia berpapasan dengan Natasya yang baru saja keluar dari kamar Sanum. Mereka hanya bertegur sapa singkat lalu Matilda melanjutkan langkahnya.
Matilda berhenti sejenak di depan pintu sebelum akhirnya mengetuk dan dipersilakan masuk. Sanum baru saja selesai menyusui salah satu bayinya ketika Matilda datang. Kini ia sedang meletakkan bayinya yang sudah tertidur pulas ke ranjang bayi.
"Ibu menyusui harus banyak makan. Apa kau mau dibuatkan jus buah juga sekarang?" tawar Matilda.
"Nanti saja. Ini sudah terlalu banyak. Perutku tak akan muat," tolak Sanum.
*****
"Selamat datang kembali, Tuan Aeneas! Apakah Anda ingin saya siapkan makan malam?" sambut Natasya.
"Tidak," jawab singkat Aeneas yang kemudian berjalan melewatinya.
__ADS_1
Di tengah jalan, ia melihat Bella yang menuruni tangga dengan membawa segelas jus yang sepertinya belum diminum sama sekali. Bella segera berhenti dan memberi hormat ketika menyadari kedatangan Aeneas.
"Kenapa jusnya dibawa naik turun?" tanya Aeneas yang memperhatikannya.
"Ini untuk nyonya tetapi nyonya bilang nanti saja. Jadi, saya bawa turun lagi."
"Hm."
Aeneas tidak lagi bertanya. Baru saja ia menginjak anak tangga pertama, seseorang memeluknya. Langkahnya pun tertunda.
"Aeneas, aku merindukanmu!" Matilda bergelayut manja kepada Aeneas.
Aeneas langsung melepaskan pelukan Matilda. Ia risih dengan kelakuan wanita itu. Matilda selalu bertingkah seenaknya ketika Sanum tidak terlihat.
Sebenarnya, Aeneas lebih mengharapkan jika Sanum yang menyambutnya seperti itu. Namun, itu bukan kepribadian Sanum sama sekali. Sanum lebih tenang dan berinteraksi fisik sekadarnya saja. Aeneas menyukai kesederhanaan Sanum.
Sudah satu bulan ini ia tidak menemui istrinya itu, membuatnya tidak sabar untuk memeluknya. Aeneas mengabaikan Matilda lalu meninggalkannya begitu saja.
Matilda hanya bisa mendengus kesal memandang punggung Aeneas yang semakin menjauh. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum penuh arti lalu melangkah ke dapur. Natasya dan Bella sudah meninggalkan dapur. Matilda baru saja menuangkan air putih ketika bunyi pintu diketuk terdengar.
"Siapa sih malam-malam bertamu kok lewat pintu belakang?" gumam Matilda sambil menuju pintu belakang.
Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sosok Aeneas muda begitu pintu terbuka. Mulut dan matanya membulat sempurna. Lisannya tanpa bisa dikontrol berkata, "Aeneas?"
"Ini aku Sanubari, Zia Ilda!" Sanubari tersenyum memeluk Matilda.
Sanubari baru saja menyapa pepohonan singkongnya. Sudah lama ia tidak mengurusi tanamannya itu. Jadi, ia memutuskan untuk melihat-lihat sebelum masuk rumah.
Ternyata semua terawat dengan baik. Sepertinya orang-orang rumahnya melanjutkan pengurusan perkebunan singkongnya. Sanubari bersyukur kebun kecilnya tidak terbengkalai sepeninggalnya.
Sementara itu, Matilda sedikit canggung dengan kehadiran Sanubari. Tidak disangka bocah ini akan kembali setelah sekian lama.
Tampangnya semakin mirip dengan Aeneas. Tingginya pun sudah melebihi tingginya. Matilda sampai pangling.
"Sa-sanu? Kemana saja kamu selama ini?"
"Ceritanya panjang. Nanti kuceritakan. Sekarang aku mau bertemu mamak dulu. Dimana mamak?"
"Ada di kamar," jawab Matilda.
Sanubari langsung menerobos masuk. Ia berlari menaiki tangga menuju kamar ibunya. Tanpa salam, ia langsung masuk sambil dengan ceria berseru, "Mamak, aku pulang!"
__ADS_1
Namun, keceriaan Sanubari luntur seketika kala melihat sang ayah menyentuh ibunya berlumuran darah. Jantungnya seperti baru saja mendapatkan serangan dadakan, dadanya sekejap terasa sesak kala menyaksikan raga pucat sang Ibu dengan pisau masih tertancap di dada.
Aeneas yang mendengar suara pria asing pun menoleh. Matanya terbelalak ketika melihat Sanubari berdiri tidak jauh darinya. "SANu?"