
"Aku yakin ada orang lain yang melakukan pembunuhan itu. Dan orangnya bukanlah bibi Sanum," jawab Jin dengan mantap.
Jin sangat yakin dengan hasil analisisnya sendiri. Dia tahu alat yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya. Berdasarkan pengamatannya selama beberapa hari, keluarga Sanubari bukanlah orang yang berkemampuan untuk memiliki alat tersebut.
Kehadiran Aeneas di tengah keluarga Sanubari mungkin bisa saja melemahkan teorinya. Bila itu Aeneas, maka bisa saja dia yang menghabisi nyawa wanita tadi karena merasa kesal dengan perlakuan korban terhadap putranya. Namun, Aeneas bukanlah orang yang akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan matang.
Kerelaannya menjemput Sanubari ke Indonesia secara langsung sudah cukup membuktikan bahwa Aeneas menyayangi bocah itu. Dia juga memperlakukan Sanum dengan baik. Tidak mungkin Aeneas mengorbankan Sanum untuk mewujudkan niatnya. Yang jelas itu bisa saja melukai hati Sanubari bila benar-benar dilakukan.
"Jangan konyol! Kau pikir manusia bisa bergerak tanpa dilihat manusia lainnya dan tidak terekam kamera?" tanya salah seorang polisi.
Dengan ringannya Jin menjawab, "Tentu bisa."
"Kau pikir ini zaman ilmu kanuragan yang mana ilmu menghilang serta teleportasi instan bisa dipelajari?"
"Aku tidak bilang manusia bisa menghilang atau berteleportasi seperti dalam karya fiksi. Tapi manusia bisa tak terekam kamera. Atau lebih tepatnya keberadaannya dihapuskan dari rekam digital tersebut."
"Tidak ada bagian yang terpotong dari rekaman CCTV."
"Aku tahu itu. Itu artinya kalian juga tidak bisa menangkap bibi Sanum tanpa barang bukti. Bukankah bibi Sanum tidak melakukan pergerakan yang mencurigakan dalam video tersebut? Kalian bisa dikenai pasal pencemaran nama baik loh bila memberikan tuduhan buta tak berdasar."
Perkataan Jin itu menusuk harga diri para polisi selaku penyidik. Tidak disangka mereka akan bertemu dengan pemuda sekritis Jin dari sekian banyak pengunjung yang hadir. Pemuda itu bahkan mengetahui garis besar isi pembicaraan mereka.
Sebagai aparat penegak hukum, mereka tidak boleh tersulut emosi. Pengendalian emosi dan etika adalah syarat wajib bagi mereka. Mereka harus tetap menghadapi Jin dengan kepala dingin supaya tidak mempermalukan diri sendiri.
"Katamu manusia bisa tidak terekam kamera. Bukankah pernyataanmu itu juga sudah cukup membuktikan bahwa saudari Sanum ini kemungkinan adalah pelakunya?" Seorang penyidik berusaha membalikkan keadaan.
"Aaaah! Pembicaraan ini berputar-putar. Bisakah Pak Polisi pinjamkan pisau yang menjadi barang bukti sebentar?" Jin mengulurkan tangannya.
"Untuk apa?"
"Pinjamkan saja! Kalian tidak ingin turun pangkat karena salah tangkap, bukan? Aku akan tahu pelakunya setelah melihat benda itu." Jin masih menengadahkan tangan kanannya.
__ADS_1
Para polisi tentunya meragukan pemuda seperti Jin. Mereka tidak memiliki alasan sedikit pun untuk mempercayai pemuda tidak dikenal tersebut. Sejenak terjadi diskusi di antara para polisi.
"Cepatlah!" pinta Jin, "apa susahnya meminjamkan sebentar? Lihatlah! Para penonton sudah mulai mengantuk. Perlihatkan saja pisaunya dan aku akqn segera memberitahu bagaimana pembunuhan ini bisa terjadi."
Setelah sepakat, akhirnya salah seorang dari pihak berwajib itu mendekati Jin dan memberikan pisau yang telah dibungkus plastik. "Mata pisaunya sangat tajam. Jadi, kami membuntalnya dengan lakban."
Jin mengamati pisau di tangannya. Sebagian dari pisau memang tertutup sehingga hanya terlihat gagangnya saja. Namun, itu sudah cukup menjadi sedikit petunjuk baginya.
Mendadak ia berlari ke arah Kelana. Diserahkannya pisau tersebut lalu ia membisikkan sesuatu. Setelah itu, dia kembali menghadap ke para polisi dengan tersenyum santai.
"Kenapa kau berikan padanya? Itu barang bukti yang penting."
"Pinjam sebentar. Nanti kami kembalikan beserta barang bukti lainnya," jawab Jin dengan Santai.
"Tidak ada bukti lain. Kami sudah menyusuri TKP."
"Ada. Masih ada barang bukti lain yang belum kalian ambil. Dan itulah yang akan memberi tahu siapa pelakunya."
"Itu trik yang mudah. Pastinya kalian pernah melihat adegan tokoh terbang dalam film laga, bukan?"
"Apa hubungannya menonton film dengan pisau yang tak terekam kamera pergerakannya?"
"Kalian pikir kenapa pisau yang digunakan untuk membunuh korban didesain hitam legam seperti itu?"
Semua diam. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Jin. Ada yang beranggapan Jin hanya omong kosong saja karena perkataannya tidak nyambung. Setelah membicarakan film, mendadak dia membahas desain pisau. Jelas itu informasi yang tidak penting untuk mengungkap kasus pembunuhan ini bagi beberapa penyidik.
"Sudahlah, Nak! Bila kau ingin bermain detektif-detektifan, lakukan di tempat lain dengan orang lain! Kami di sini bekerja. bukan untuk main-main," kata seorang penyidik menepuk bahu Jin.
"Aku tidak bermain," sangkal Jin.
"Aku punya anak laki-laki. Kurasa usianya tidak jauh beda denganmu. Dia sering berpura-pura menjadi detektif dan mengajakku bermain ketika di rumah. Jadi, aku mengerti ambisi pemuda sepertimu."
__ADS_1
Jin tersenyum jahil. "Bagaimana bila Pak Polisi berhenti dari pekerjaan Bapak andaikan aku berhasil mengungkap kasus ini?"
Penyidik itu tertawa. "Jangan bercanda! Kasus ini sudah terselesaikan. Kami sudah menangkap pembunuhnya."
Jin memandang Sanum yang didampingi polisi. Mimik wanita itu sayu, begitu pasrah dengan keadaan yang membelitnya.
Jin kembali memandang penyidik itu lalu berkata, "Aku serius tetapi aku tidak cukup kejam untuk menghilangkan pekerjaan Pak Polisi. Bapak bisa tetap bekerja setelah kasus ini terkuak."
"Oke, KAmi beri kau kesempatan."
"Pisau didesain hitam legam untuk memudahkan menghilangkan keberadaannya dari rekaman kamera, memberi evek visual khusus dengan sentuhan CGI atau semacamnya. Dalam adegan di balik layar, pemeran terbang biasanya karena diangkat dengan tali, berbaring di sebuah papan berlapis greenscreen atau diangkat oleh orang yang memakai greenscreen. Pada hasil akhirnya, staff pembantu yang memakai greenscreen atau tali yang mengikat pemeran tidak akan terlihat dalam rekaman sehingga adegan melayang terlihat alami dan estetis."
"Maksudmu ini hanyalah syuting dan semua orang di gedung ini adalah pemerannya? Syuting film macam apa yang sampai mengorbankan orang sungguhan? Dunia perfilm-an akan kehabisan artis bila setiap kali ada adegan kematian, pemerannya benar-benar mati."
"Tidak, tentu tidak begitu. Pembunuhan ini nyata. Hanya saja, seperti itulah trik yang digunakan pelaku. Pisau hitam dengan dua sisi tajam itu seperti bluescreen atau greenscreen yang dimanfaatkan dalam pembuatan film. Kesimpulannya, bukan bibi Sanum yang melakukan gerak cepat untuk menikam korban supaya tidak terdeteksi kamera. Melainkan ada pelaku lain yang sengaja melempar pisau tersebut kepada korban. Dan, pelaku itu tidak berada dalam studio tiga ketika pembunuhan berlangsung. Atau mungkin dia juga berada di studio tiga? Ah, bagian ini masih belum jelas."
"Maksudmu ada ninja yang merayap di dinding seperti cicak, memakai kain tak terlihat lalu melempar pisau kepada korban dan kabur setelah beraksi?"
Semua orang menertawakan hasil analisa Jin. Banyak yang beranggapan bahwa spekulasi Jin itu kekananak-kanakan.
Berbeda dengan mereka, Sanubari yang mendengarnya percaya pada perkataan Gin. Anak itu berimajinasi liar. Ia teringat dengan anime yang masih banyak diminati walauebih dari setengah abad telah berlalu semenjak anime tersebut pertama kali ditayangkan.
"Wow, ternyata ada ya, orang di dunia nyata yang memiliki kemampuan ninja seperti itu? batin Sanubari terkagum-kagum.
Sejak awal kasus pembunuhan ini memang sudah aneh. Namun, keterangan Jin lebih aneh lagi. Di mata banyak orang, pemuda itu hanya terlihat seperti maniak yang terobsesi dengan serial fiksi. Pergunjingan pun mulai ramai.
"Makanya jangan kebanyakan nonton kartun! Nanti otakmu jadi kayak cowok itu tuh. Enggak bisa bedain mana fakta dan fiktif." Seorang wanita mewanti-wanti pacarnya.
"Kau sendiri kebanyakan baca novel jadi tukang halu."
"Dia mau sok keren jadi detektif tapi gagal. Kasihan."
__ADS_1